Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Senin, 31 Agustus 2009

“PUASA” (1)

8/31/2009 08:25:00 PM Posted by Ady'S No comments

MARHABAN YA RAMADHAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "marhaban" diartikan sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang)." Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan "selamat datang." Walaupun keduanya berarti "selamat datang" tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan "marhaban ya Ramadhan".

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti "keluarga", sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran rendah" karena mudah dilalui, tidak seperti "jalan mendaki". Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, "(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah." 

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan "marhaban", terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan." Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat datang Ramadhan" mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara.

Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.

 
 

PUASA MENURUT AL-QURAN

Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sesekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara.

"Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun." (QS Maryam [19]: 26).

Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada "menahan" dan "berhenti atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim.

Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas –apapun aktivitas itu-- dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari".

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

Betapa pun, shiyam atau shaum --bagi manusia-- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

Hadits qudsi yang menyatakan antara lain bahwa, "Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."


 

Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Ada beberapa macam puasa dalam pengertian syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas.

1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.

2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.

3. Puasa sunnah.

Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal yang berkisar pada puasa bulan Ramadhan.

 
 

PUASA RAMADHAN

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya'ban tahun kedua Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahNya, maka agaknya kewajiban berpuasapun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyamam ma'dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:

"Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya."

Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Quran, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalanpun.

Perhatikan surat Al-Baqarah (2): 185. Ia dimulai dengan panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa." Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, "sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu." Jika demikian, maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)."

Kemudian Al-Quran dalam surat Al-Baqarah (2): 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya "beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga "barangsiapa sakit atau dalam perjalanan," maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain. "Sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin."

Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa "berpuasa adalah baik."

Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur.

Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa "Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa."

Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa.

Berikut akan dikemukakan sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum maupun hikmahnya, dengan menggarisbawahi kata atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.


 

BEBERAPA ASPEK HUKUM BERKAITAN DENGAN PUASA

a. Faman kana minkum maridha (Siapa di antara kamu yang menderita sakit)

Maridh berarti sakit. Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa secara garis besar dapat dibagi dua :

1.     Penderita tidak dapat berpuasa; dalam hal ini ia wajib berbuka; dan

2.    Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat kesulitan atau keterlambatan penyembuhan, maka ia dianjurkan tidak berpuasa.

Sebagian ulama menyatakan bahwa penyakit apa pun yang diderita oleh seseorang, membolehkannya untuk berbuka. Ulama besar Ibnu Sirin, pernah ditemui makan di siang hari bulan Ramadhan, dengan alasan jari telunjuknya sakit. Betapa pun, harus dicatat, bahwa Al-Quran tidak merinci persolan ini. Teks ayat mencakup pemahaman Ibnu Sirin tersebut. Namun demikian agaknya kita dapat berkata bahwa Allah Swt. sengaja memilih redaksi demikian, guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing untuk menentukan sendiri apakah ia berpuasa atau tidak. Di sisi lain harus diingat bahwa orang yang tidak berpuasa dengan alasan sakit atau dalam perjalanan tetap harus menggantikan hari-hari ketika ia tidak berpuasa dalam kesempatan yang lain.


 

b. Aw'ala safarin (atau dalam perjalanan)

Ulama-ulama berbeda pendapat tentang bolehnya berbuka puasa bagi orang yang sedang musafir. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jarak perjalanan. Secara umum dapat dikatakan bahwa jarak perjalanan tersebut sekitar 90 kilometer, tetapi ada juga yang tidak menetapkan jarak tertentu, sehingga seberapapun jarak yang ditempuh selama dinamai safar atau perjalanan, maka hal itu merupakan izin untuk memperoleh kemudahan (rukhshah).

Perbedaan lain berkaitan dengan 'illat (sebab) izin ini. Apakah karena adanya unsur safar (perjalanan) atau unsur keletihan akibat perjalanan. Di sini, dipermasalahkan misalnya jarak antara Jakarta-Yogya yang ditempuh dengan pesawat kurang dari satu jam, serta tidak meletihkan, apakah ini dapat dijadikan alasan untuk berbuka atau meng-qashar shalat atau tidak. Ini antara lain berpulang kepada tinjauan sebab izin ini. Selanjutnya mereka juga memperselisihkan tujuan perjalanan yang membolehkan berbuka (demikian juga qashar dan menjamak shalat). Apakah perjalanan tersebut harus bertujuan dalam kerangka ketaatan kepada Allah, misalnya perjalanan haji, silaturahmi, belajar, atau termasuk juga perjalanan bisnis dan mubah (yang dibolehkan) seperti wisata dan sebagainya? Agaknya alasan yang memasukkan hal-hal di atas sebagai membolehkan berbuka, lebih kuat, kecuali jika perjalanan tersebut untuk perbuatan maksiat, maka tentu yang bersangkutan tidak memperoleh izin untuk berbuka dan atau menjamak shalatnya.

Bagaimana mungkin orang yang durhaka memperoleh rahmat kemudahan dari Allah Swt.? Juga diperselisihkan apakah yang lebih utama bagi seorang musafir, berpuasa atau berbuka? Imam Malik dan Imam Syafi'I menilai bahwa berpuasa lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu, tetapi sebagian besar ulama bermazhab Maliki dan Syafi'i menilai bahwa hal ini sebaiknya diserahkan kepada masing-masing pribadi, dalam arti apa pun pilihannya, maka itulah yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat dari imam Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik yang menyatakan bahwa, "Kami berada dalam perjalanan di bulan Ramadhan, ada yang berpuasa dan adapula yang tidak berpuasa. Nabi tidak mencela yang berpuasa, dan tidak juga (mereka) yang tidak berpuasa."

Memang ada juga ulama yang beranggapan bahwa berpuasa lebih baik bagi orang yang mampu. Tetapi, sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa berbuka lebih baik dengan alasan, ini adalah izin Allah. Tidak baik menolak izin dan seperti penegasan Al-Quran sendiri dalam konteks puasa, "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan."


 

Bahkan ulama-ulama Zhahiriyah dan Syi'ah mewajibkan berbuka, antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat di atas, yaitu:

 
 

c. Fa 'iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain).

Ulama keempat mazhab Sunnah menyisipkan kalimat untuk meluruskan redaksi di atas, sehingga terjemahannya lebih kurang berbunyi, "Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (dan ia tidak berpuasa), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

Kalimat "lalu ia tidak berpuasa" adalah sisipan yang oleh ulama perlu adanya, karena terdapat sekian banyak hadis yang membolehkan berpuasa dalam perjalanan, sehingga kewajiban mengganti itu, hanya ditujukan kepada para musafir dan orang yang sakit tetapi tidak berpuasa.

Sisipan semacam ini ditolak oleh ulama Syi'ah dan Zhahiriyah, sehingga dengan demikian --buat mereka-- menjadi wajib bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan wajib pula menggantinya pada hari-hari yang lain seperti bunyi harfiah ayat di atas.

Apakah membayar puasa yang ditinggalkan itu harus berturut-turut? Ada sebuah hadis --tetapi dinilai lemah— yang menyatakan demikian. Tetapi ada riwayat lain melalui Aisyah r.a. yang menginformasikan bahwa memang awalnya ada kata pada ayat puasa yang berbunyi mutatabi'at, yang maksudnya memerintahkan penggantian (qadha') itu harus dilakukan bersinambung tanpa sehari pun berbuka sampai selesainya jumlah yang diwajibkan. Tetapi kata mutatabi'at dalam fa 'iddatun min ayyamin ukhar mutatabi'at yang berarti berurut atau bersinambung itu, kemudian dihapus oleh Allah Swt. Sehingga akhirnya ayat tersebut tanpa kata ini, sebagaimana yang tercantum dalam Mushaf sekarang.

Meng-qadha' (mengganti) puasa, apakah harus segera, dalam arti harus dilakukannya pada awal Syawal, ataukah dapat ditangguhkan sampai sebelum datangnya Ramadhan berikut? Hanya segelintir kecil ulama yang mengharuskan sesegera mungkin, namun umumnya tidak mengharuskan ketergesaan itu, walaupun diakui bahwa semakin cepat semakin baik. Nah, bagaimana kalau Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian kita tidak sempat menggantinya, apakah ada kaffarat akibat keterlambatan itu?

Imam Malik, Syafi'i, dan Ahmad, berpendapat bahwa di samping berpuasa, ia harus membayar kaffarat berupa memberi makan seorang miskin; sedangkan imam Abu Hanifah tidak mewajibkan kaffarat dengan alasan tidak dicakup oleh redaksi ayat di atas.


 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan)

“Gejolak Nafsu”

8/31/2009 06:40:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Puasa (shiyaam) secara bahasa adalah menahan (imsaak). Shiyaam berasal dari kata shaama yang artinya amsaka (menahan). Puasa secara istilah adalah menahan dari sesuatu yang khusus (misalnya menahan makan, minum, dan berhubungan badan) dan dilakukan dengan niat.

Jika seorang menahan diri dari berbicara, maka diapun dikatakan sebagai 'orang yang berpuasa' (shaim). Bacalah firman Allah, "jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari itu'." (QS 19:26)

Artinya, apabila Maryam melihat seseorang dan orang itu bertanya kepadanya tentang anak yang dilahirkan, maka diamlah dan jangan berbicara sama sekali. Ini adalah puasa secara bahasa.

Akan tetapi, puasa secara istilah sebagaimana telah kami katakan, adalah "Menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan." Puasa menurut orang-orang Nasrani adalah puasa dari makanan-makanan tertentu. Dengan demikian, ibadah puasa itu tidak berubah dengan perubahan zaman, hanya saja tata cara puasanya yang berubahn dengan perubahan zaman.

Tujuan mengerjakan ibadah puasa Ramadhan adalah agar kita mencapai derajat takwa. Dalam surat Al Baqoroh ayat 183, setelah perintah kepada kita untuk mengerjakan puasa, Allah menutup kalimat perintahNya di surat itu dengan, "Agar kamu bertakwa."

Takwa artinya wiqayah (melindungi diri). Kita bertakwa kepada Allah, artinya kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhkan apa yang dilarang. Apabila kita telah memasukkan nilai-nilai ketakwaan dalam diri kita dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya, maka kita telah melindungi diri kita dari api neraka.

Puasa itu sendiri dapat melindungi diri kita dari api neraka. Sebab, segala kemaksiatan itu timbul dari kejahatan hawa nafsu. Sedangkan puasa itu dapat melemahkan atau meminimalisir 'ruang gerak' hawa nafsu dalam diri manusia.

Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada para pemuda. "Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu di antara kalian untuk menikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa karena puasa itu dapat mengekang hawa nafsu." (HR Bukhori dan Muslim)

Artinya, puasa itu dapat mengekang gejolak hawa nafsu dalam diri remaja. Karena dengan sedikitnya mengonsumsi makanan, maka gejolak hawa nafsu dan keinginan untuk melakukan kemaksiatan dapat berkurang.

Puasa pada bulan Ramadhan melatih manusia untuk istiqomah selama satu bulan. Kemudian, setelah merasakan kenikmatan istiqomah, mereka akan melanjutkannya pada bulan-bulan berikutnya. Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk istiqomah selama bulan Ramadhan saja. Allah jadikan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk melatih diri agar orang yang istriqomah dapat terus melanjutkannya sepanjang hidup.

Begitulah, sesungguhnya Allah memilih waktu-waktu tertentu yang mulia atau tempat-tempat tertentu yang mulia atau juga manusia. Tidak hanya untuk mengistimewakan tempat, waktu, atau orang tersebut, melainkan Allah memilih seseorang menjadi Rasul agar manusia dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasul itu.

Begitu pula Allah memilih waktu-waktu tertentu, bukan untuk mengistimewakan waktu tersebut dari waktu-waktu yang lain. Akan tetapi, agar setiap orang dapat memanfaatkan waktu-waktu yang lain seperti pada waktu yang dipilih Allah.

Misalnya, dalam bulan Ramadhan Allah memerintahkan manusia untuk meningkatkan ibadah pada bulan itu dan berpuasa. Tujuannya agar pada bulan-bulan yang lain kita dapat melakukan ibadah seperti pada bulan Ramadhan.

Begitu pula Allah memilih tempat-tempat tertentu seperti Makkah dan Madinah, agar orang-orang berusaha meningkatkan ibadah di tempat-tempat lain, seperti halnya ketika dia beribadah di Makkah dan Madinah.


 

(sumber : Tausiyah ustadz Jefri Al Bukhari
yang dimuat di harian TP tgl. 3 Ramadhan 1430H/24 Agustus 2009M)

Rabu, 05 November 2008

Keutamaan Haji dan Umroh

11/05/2008 04:15:00 AM Posted by Ady'S No comments

(Diposting dalam nuansa memasuki musim haji 2008)


 

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Umrah ke umrah selanjutnya adalah sebagai penebus dosa antara keduanya; dan haji mabrur tidak mempunyai balasannya kecuali ke surga." (Muttafaqun'alaih: Fathul Bari III: 697 no: 1773, Muslim II: 983 no: 1349, Tirmidzi II: 206 no:937, Ibnu Majah II: 964 No: 2888 dan Nasa'I V: 115).

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ikutilah pekerjaan haji dengan melaksanakan umrah; karena sesungguhnya keduanya dapat menghapus dosa dan kekafiran, sebagaimana ubupan tukang besi dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak; dan tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga semata." (Shahih: Shahihul Jami'us Shaghir no: 2901, Tirmidzi II: 153 no:807 dan Nasa'I V:115).

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, "Barangsiapa menunaikan ibadah haji karena Allah saw lalu ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan maksiat niscaya ia kembali ( ke negerinya) seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya." (Muttafaqun'alaih: Fathul Bari III:382 no:1521, Muslim II:983 no. 1350, Ibnu Majah II :964 no:2889, Nasa'I V:114 no: dan Tirmidzi II: 153 no:808 hanya sajka dalam Sunan Tirmidzi disebutkan, "Ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbih (niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu)".

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda, "Orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menunaikan ibadah haji serta umrah adalah tamu Allah. Mereka dipanggil oleh-Nya, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya dan mereka memohon kepada-Nya, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya, dan mereka memohon kepada-Nya, maka Dia memenuhi permohonan mereka." (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 2339 dan Ibnu Majah II: 966 no:2893).


 

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 456–457.

Rabu, 29 Oktober 2008

“RAHASIA HIDUP SEHAT CARA ISLAM” (bag. 3-selesai)

10/29/2008 05:12:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

KETIGA : HIDUP AKTIF SELALU

Kesehatan tidak bisa diperoleh kecuali kalau kita senantiasa aktif bergerak. Diantara ciri mutlak hidup biologis adalah bergerak. Tidak satu komponenpun di dalam tubuh kita yang tidak bergerak harta benda padat seperti tulang sekalipun mengalami dinamisasi internal proses bongkar pasang elemen-elemen selulernya. Dari sejumlah perintah syari'at dalam Islam, sholat merupakan ibadah yang merangkaikan aspek gerak fisik yang layak dikaji untuk mengetahui seberapa jauh pengaruhnya gerak-gerak tersebut dalam kehidupan kita? Adakah perbedaan antara orang yang melakukan sholat secara benar dengan yang tidak? Logikanya orang yang memiliki kebiasaan-kebiasaan rutin tertentu seharusnya memiliki keunikan dari pengaruh pembiasaan yang ia lakukan dalam hidupnya. Atlet pelaku aerobik misalnya akan memiliki frekwensi denyut nadi yang lebih rendah dibanding orang biasanya, para perenang memiliki kapasitas pernafasan yang lebih baik dan pelari pasti memiliki otot yang elastis dan jantung yang kuat. Sholat, jika dilakukan secara baik dan benar sesuai cara dan tatacara yang dicontohkan Nabi mestinya meninggalkan atsar (jejak) terhadap diri dan kehidupan kita (QS 29:45). Namun Nabi memprediksi bahwa kelak banyak dari umatnya melakukan sholat tapi sesungguhnya tidak menegakkan sholat. "Akan datang suatu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakekatnya mereka tidak sholat" (Al-Hadish).

Sholat; sebagai Olah Rasa, Olah Rasio sekaligus Olah Raga

Ibadah sholat merupakan simbol total ketundukan seorang hamba kepada Khalik-Nya yang di-ekspresi-kan dengan ketundukan seluruh dimensi diri (hati, akal dan raga). Konsentrasi terhadap dan apresiasi terhadap makna bacaan sholat, merasakan kehadiran Allah ketika tengah ber-audiensi denganNya mengaktifkan fakultas berfikir dan berdzikir (otak dan hati). Sedangkan gerakan-gerakan seperti: berdiri, rukuk, duduk iftirosy, sujud, tahiyyat dan salam mengaktifkan anggota tubuh (melibatkan : mengaktifkan sistem otot dan rangka, mempengaruhi  kardiovaskuler dan aliran getah bening, menggerakkan saluran pencernaan, paru-paru sistem kemih). Gerakan-gerakan sholat wajib sehari 17 rakaat yang memberikan format 119 postur fisik, atau 3570 postur setiap bulannya atau 42.840 postur setiap tahunnya. Tentunya gerakan ini bertambah lagi jika seorang muslim melakukan sholat sunnat tambahan lainnya seperti tahiyyatul masjid, rawatib, tahajjud, dhuha (35-40 rakaat), maka minimal ia melakukan 400 gerakan postur fisik setiap harinya. Gerakan sholat proporsional bagi tubuh, semua format gerakan terasa ringan dan mudah dilakukan, tidak ada hambatan bagi segala lapis usia. Dalam bahasa medis gerakan-gerakan tersebut merupakan gerakan fisiologis yang mengikuti format anatomi tubuh. Dalam gerakan-gerakan tersebut, ada semacam "olahraga rutin berintensitas rendah", yang kini sangat direkomendasikan oleh pakar aerobic karena sangat baik khususnya untuk kesehatan jantung. Diketahui kini, olahraga yang berat memberikan beban stress yang berlebih bagi tubuh akan menciptakan efek-efek merugikan diantaranya kemunculan radikal bebas. Dr. Shahid Athar menghitung bahwa sholat mampu membakar 10 kalori, sedangkan sholat sunat Ramadhan mampu membakar sekitar 200 kalori per-harinya. Dengan jumlah pembakaran kalori demikian, maka gerakan sholat analog dengan olahraga berintensitas rendah yang sangat penting dalam maintenance kesehatan.

Performance sholat membuat banyak organ tubuh kita beraksi, terutama sistem otot, tulang rangka dan persendian. Manuver gerakan dan perubahan-perubahan posisi yang dilakukan seperti sujud  memanipulasi secara fisiologis sistem jantung & peredaran darah dengan menambah suply darah ke otak. Pasokan yang meningkat akibat sujud memberikan pressure pada pembuluh darah yang akan "melatih pembuluh darah dikepala" lebih adaptif menghadapi tekanan sehingga relatif menjadi lebih kuat apabila menghadapi suatu trauma. Takbir merupakan abduksi dan bersedekap adalah adduksi yang mempengaruhi pengembangan dan pengempisan rongga dada ketika bernafas dan format itu juga menggerakkan sistem limfatik dilengan bergerak menuju leher. Formasi berdiri, rukuk, sujud duduk dan sujud 85 kali sehari melancarkan gerak peristaltik saluran cerna (pemijatan), memperkuat dinding abdomen dengan kontraksi rutin, mengosongkan kandung kemih. Sebuah penelitian sederhana dilakukan dr.Sagiran menyimpulkan penekukan formasi duduk iftirosy menyebabkan penjepitan pembuluh darah utama dikaki, yang dibuktikan dengan pengukuran saturasi oksigen dengan pulse oxymetry ke titik nol (0), sehingga formasi duduk iftirosy melatih sirkulasi kolateral untuk menyuplai oksigen di area bawah tersebut.

Dr Muhammad Sholeh (sarjana IAIN orang di luar medis), melakukan terobosan yang agak ganjil bagi komunitas medis . Ia menyusun tesisnya dalam Program Pasca Kedokteran UNAIR Surabaya, berjudul "Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi". ia menyimpulkan bahwa jika sholat Tahajud dilakukan secara kontinyu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, maka secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonologis), khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi. (sebuah upaya yang layak diapresiasi) .

            Selain sholat mungkin relevan juga bila meneladani cara jalan Nabi yang cepat, yang tentunya mirip dengan olahraga aerobik yang baik untuk kesehatan jantung.


 

KEEMPAT :MENGELOLA FIKIRAN DAN JIWA DENGAN BENAR.

Sehat meliputi dimensi yang holistik, WHO mendefenisikan bahwa kesehatan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, sosial tanpa ada keluhan sama sekali. Dr. Robert Benson, MD spesialis pembahas keterkaitan antara kesehatan dengan pikiran mengatakan: "Lebih dari separuh penyakit-penyakit yang ada didunia ini bersumber dari gangguan kejiwaan". Ajaran Qur'an dan perilaku Nabi Muhammad sangat kaya untuk menjadi referensi dalam mengelola kesehatan jiwa ini. Qur'an mengajarkan untuk hidup berfikir posiif optimis dan menjauhi perasaan putus asa (QS 12: 87, QS 15: 56), meluruskan persepsi terhadap segala ujian & musibah (QS 2:155), bersabar (QS 2:45), menjauhi amarah (QS 3: 134, QS 42: 37), menjauhi sikap boros(QS 17:26), berdisiplin (QS 4:103) dan banyak lagi yang kesemuanya sangat relevan dengan hidup sehat.

Pembentukan ahklak yang mulia adalah muara dari seluruh amalan Islam, orang yang memiliki budipekerti yang mulia pasti akan mewarisi hidup penuh ketenangan dan mengundang keridhaan Ilahi. Dan hidup penuh ketenangan dan kedamaian adalah syarat mutlak jika kita mau hidup sehat. Hanya jiwa-jiwa yang tenang yang kelak akan dipanggil Tuhan dengan mesra. "wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati puas dan diridhai, masuklah ke dalam kelompok hamba-hambaKu dan masuklah kedalam syurga-Ku".

Wallaa'hu a'lam bish-shawab.


 

Oleh : dr. Ade Hashman

Selasa, 28 Oktober 2008

“RAHASIA HIDUP SEHAT CARA ISLAM” (bag. 2)

10/28/2008 05:13:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

KEDUA : MEMANAJEMEN MAKANAN

Status kesehatan seseorang sangat bergantung dan dipengaruhi faktor makanan. Faktor makanan menjadi penting karena ia merupakan variabel yang bisa dikendalikan. Porsi makan yang berlebihan, tidak selektif dalam memilih menu, makan dengan frekwensi yang tidak teratur, atau mengkonsumsi makanan yang toksik  memicu berbagai penyakit a.l bisa disebutkan: diabetes mellitus (gula), jantung koroner, Hipertensi, Gout (asam urat), Neoplasma (kanker), peracunan, gastritis dan penuaan dini. Disepakati para ahli kesehatan, terdapat korelasi signifikan antara penambahan berat badan dari ukuran normal dengan peningkatan resiko kematian.

Saluran pencernaan manusia tempat menampung dan mencerna makanan, merupakan organ dalam yang terbesar dan terberat di dalam tubuh manusia. Sistem pencernaan tersebut  tidak pernah berhenti bekerja selama 24 jam dalam sehari. Pernahkah anda membayangkan apa saja yang sudah kita masukkan dalam sistem saluran pencernaan kita? Mulai dari yang lembek, liat, alot, hingga keras, mulai dari gula manis, garam asin, salak sepet, jamu yang pahit, buah yang asem, hidangan sejak dari yang panas, suam-suam kuku, hingga yang dingin. Kadang tanpa seleksi, kita memasukkan apa saja kedalam saluran pencernaan yang kita anggap enak untuk dimakan. Tanpa disadari seringkali sebetulnya kita juga memasukkan racun dan limbah berbahaya kedalam tubuh kita bersama makanan yang kita santap atau air yang kita teguk, apalagi kalau kita tengah menelan obat-obatan.

Dalam tubuh manusia, ada dua sistem organ yang langsung kontak dengan dunia luar, yaitu sistem pernafasan dan saluran pencernaan, sehingga kedua organ tersebut merupakan bagian yang sangat rentan untuk terserang penyakit. Saluran pencernaan manusia sejak dari mulut hingga anus bisa diibaratkan seperti sebuah selang yang terbuka begitu saja, sehingga logis organ ini mudah menjadi pintu masuk (port d'entry) bagi segala penyakit sehingga Nabi mengatakan "perut itu gudang penyakit".

            Urusan makanan ini sangat diatur oleh agama, secara alegoris dikisahkan kesalahan manusia pertama sekali adalah tidak mampu menahan diri memakan buah (dalam melodrama Adam). Nabi mengilustrasikan gaya makan orang beriman seperti lebah, yakni  sangat "selektif". Lebah tidak mengkonsumsi sembarangan kecuali yang baik-baik yakni nectar (sari bunga) dan kelak lebah menghasilkan output yang bermanfaat buat kehidupan yakni madu.

Al-Qur'an memberikan patron dalam soal konsumsi yakni makanlah yang halal (bukan hasil korupsi) dan thayib (sesuai standard gizi) (QS 2 :168). Janganlah makan secara berlebih-lebihan (QS 7:31). Nabi menyampaikan kepada umatnya "Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang", "Isilah perut kalian dengan 1/3 makanan, 1/3 minuman dan 1/3 udara.  "Orang yang paling disukai Allah diantara kalian adalah yang paling sedikit makannya dan paling ringan badannya" (HR Ibnu Abbas). Falsafah yang dipakai "makanlah untuk hidup, jangan hidup untuk makan!" Do'a yang senantiasa Nabi panjatkan "Ya Allah jadikan rezeki bagi keluarga Muhammad sebagai kekuatan". Tuntunan tentang kwalitas makanan juga ditegaskan Allah untuk memilah jenis makanan yang terbaik (QS 18:19, QS 7:160). Nabi juga mengajarkan untuk mengkonsumsi makanan yang bervariasi "Makanlah kalian berbagai macam makanan. Karena sesungguhnya bila makanan yang satu panas maka bisa dipadamkan oleh makanan lain yang dingin" (Hadish) Variasi jenis-jenis makanan baik sumber nabati atau hewani disebutkan dalam banyak ayat dalam Qur'an. Menariknya lagi, dalam sirah Nabi diceritakan bahwa rumah tangga Nabi tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok, hal ini dapat ditafsirkan Nabi selalu mengkonsumsi makanan yang segar dan baru.

Sehatnya ber-Puasa

Dalam memanage makanan, secara khusus kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah puasa selama 1 bulan saat Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi sendiri "puasalah kamu supaya kamu sehat". Kini semakin banyak penelitian yang memapaparkan bahwa Puasa merupakan kegiatan yang sangat menyehatkan. Resume hasil-hasil riset tentang manfaat Puasa bagi kesehatan dapat disarikan a.l : memberikan istirahat fisiologis menyeluruh bagi sistem pencernaan dan sistem syaraf pusat,  menormalisasi metabolisme tubuh, menurunkan kadar gula darah, mengikis lipid "jahat" (cholesterol, trigliserid LDL), detoksifikasi, eradikasi kuman di lambung dan bila benar-benar dilakukan dapat menurunkan berat badan sekitar 3%-4%, dan efek-efek bermanfaat lainnya yang begitu panjang jika diuraikan. Disamping puasa Ramadhan kita juga bisa melaksanakan sunnah puasa senin kamis atau Puasa Daud bila memang mampu.

Bahaya Medis Makanan Haram

Pelarangan beberapa jenis makanan (QS 5:3) diluar aspek hukum yang harus dipatuhi, ternyata makanan haram juga berbahaya untuk kesehatan. Bangkai jelas mengandung banyak bakteri patogen mematikan. Darah yang secara faali merupakan media transportasi; mengandung banyak senyawa yang berbahaya untuk dikonsumsi seperti urea, amoniak, kreatinin, asam urat, asam suksinat, asam asetoasetat, asam laktat, asam piruvat, berbagai lipoprotein, serta semua hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar endokrin, darah juga membawa sel darah putih  dan antibodi yang berfungsi dalam memerangi bakteri dan virus akibatnya memakan darah dapat berarti makan bebagai sumber penyakit. Daging babi mengandung parasit yang berbahaya diantaranya cacing taenia soleum yang memiliki pengait, cacing trichinella spiralis dan bakteri salmonella. Dalam hal tingginya kandungan kholesterol tidak ada yang mampu menyamai babi. Khamar (minuman memabukkan) misalnya Alkohol sangat toksik terhadap otak, membuat luka lambung (ulkus peptik hingga menimbulkan keganasan 'kanker'), menyebabkan pankreatitis, mengganti jaringan liver yang sehat dengan perlemakan hingga akhirnya sirosis yang tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu menghindari semua menu yang diharamkan (termasuk yang syubhat) merupakan sikap pemeliharaan hidup sehat.

Oleh : dr. Ade Hashman

Senin, 27 Oktober 2008

“RAHASIA HIDUP SEHAT CARA ISLAM” (bag. 1)

10/27/2008 05:48:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

                         
 

Tujuan dasar ibadah dalam Islam memang bukan dilakukan untuk mencari kemanfaatan praktis, tapi bertujuan altruist yakni mengharap ridha Ilahi. Orang berpuasa misalnya, target utamanya meraih predikat taqwa meski kemudian terbukti bahwa puasa bermanfaat untuk kesehatan. Demikian pula dengan praktek ibadah-ibadah lainnya, jika dikajii ternyata memberi manfaat yang bersifat praktis duniawi. Ajaran Islam diistilahkan dienul fitrah yakni ajaran yang sama dan sebangun dengan kodrat kemanusiaan. Meminjam istilah cendekiawan muslim bahwa; Islam itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari desain dasar kemanusiaan itu sendiri. Dengan kata lain hubungan agama dengan pemeluknya adalah hubungan yang bersifat kebutuhan bukan semata–semata kewajiban, setiap perintah dan larangan kemanfaatannya akan terpulang kembali pada pelakunya itu sendiri. Tuhan yang menurunkan risalah ini adalah Dia Yang Maha Kaya lagi tumpuan puji, Yang kepadaNya segala bergantung. Dia tidak membutuhkan apapun dan siapapun. Pada hakekatnya Tuhan tidak bertambah mulia dengan ibadah hambaNya dan tidak akan terluka oleh kedurhakaan hambaNya, sesuatu yang Dia perintahkan bagi hambaNya berarti penting bagi kita, sehingga Dia mewajibkanNya, karena Dia mencintai hamba-hambaNya.

RASULULLAH SEBAGAI TELADAN HIDUP SEHAT

Rasulullah Muhammad saw berusia 64 tahun, dan diantara keistimewaan hidup beliau yang mungkin jarang dibahas adalah kondisi fisiknya yang prima. Dari biografi kehidupan Nabi disebutkan bahwa sepanjang hidupnya Nabi hanya sakit 2 kali saja. Ini fakta prestasi kebugaran fisik yang sangat luar biasa. Betapa tidak, Rasulullah Muhammad saw itu, hidup dengan beban pekerjaan yang besar dan memikul amanat yang berat. Ia menjalani hidupnya dengan episode "penderitaan demi penderitaan"; lahir berpredikat yatim, beranjak enam tahun menjadi piatu, muda belia menjadi pekerja keras, beranjak dewasa predikat yang diembannya semakin bertambah kompleks; selain sebagai seorang suami dan ayah bagi keluarganya, ia adalah Nabi bagi umatnya, Rasul yang diutus bagi seluruh umat manusia, kepala pemerintahan di jazirah arabia, komandan di banyak medan peperangan,  pelindung kaum yang lemah & tertindas.

Kehidupannya amat bersahaja, ketika datang tawaran kepada Nabi yang mulia ini segala bentuk kesenangan duniawi berupa harta yang melimpah, kekuasaan luas untuk menjadi Nabi yang Raja, tapi ia lebih memilih hidup menjadi seorang Nabi yang Rakyat Jelata.  Berbeda dengan banyak pemimpin-pemimpin dunia, menurut Emha Ainun Nadjib, rumah Nabi luasnya hanya 4,80 cm X 4,62 cm, meski kelak ditangannya telah terbayang kunci masyriq dan maghrib (kelak Persia & Konstantinopel jatuh dalam Islam) tapi ia tidur hanya beralaskan dipan tikar yang kasar. Nabi tidak pernah kenyang selama dua hari berturut-turut, menu sehari-hari yang ia konsumsi adalah roti gandum yang keras, dalam rumahnya tidak pernah tersimpan makanan untuk hari esok, waktu tidurnya sangat sedikit. Ketika beliau wafat, harta kekayaan yang diwariskan hanyalah uang sebanyak 7 (tujuh) dinar saja. Meski kelak beberapa tahun setelah beliau meninggal dunia, Islam terentang luas sejak dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, membentuk sebuah imperium keimanan yang paling besar yang pernah dikenal umat manusia !

Muhammad lahir di tahun 570 M, di suatu tempat yang jauh dari pusat peradaban dunia yang berkultur tinggi. Jazirah arabia saat itu adalah tempat yang paling terbelakang di dunia, jauh dari seni dan ilmu pengetahuan dengan tradisi masyarakat jahiliyah & tribalisme. Kota Mekkah saat kelahiran Nabi hanya "dipandang sebelah mata" karena tidak ada yang dapat dibanggakan sebagai suatu peradaban, apatah lagi membincangkan sistem kesehatan saat itu ? Dunia ilmu kedokteran ketika Nabi lahir didominasi takhayul, mitos dan khurafat. Namun alangkah aneh, bila Rasulullah Muhammad saw hanya sakit dua kali saja seumur hidupnya ?

Lalu kira-kira apa rahasianya yang menyebabkan beliau memiliki stamina fisik yang mengagumkan itu ? jawaban atas "pencerahan hidup" yang dialami Nabi tentu bersumber dari Al-Qur'an yang memang ditujukan Tuhan untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia untuk meraih kesejahteraan hidup didunia dan akhirat. Dan Muhammad di setting Tuhan sebagai suri teladan manusia (QS 33: 21), ia merupakan wujud operasional Qur'an sehingga Nabi sering dijuluki sebagai "Qur'an yang berjalan" (the living qur'an). Sebagai sumber keteladanan, perilaku kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad saw adalah perilaku kehidupan manusia biasa; yang dapat ditiru (QS. 18: 110).

Ternyata jika kita kaji lebih dalam, konsep pemeliharaan kesehatan dalam Islam itu terintegrasi dalam perintah-perintah agama itu sendiri, murah dan mudah dilakukan. Bersama akan kita bahas apa saja bagian kandungan Qur'an dan perilaku Rasulullah (Sunnah Nabi) yang memberikan kontribusi untuk memelihara kesehatan itu.

PERTAMA : MENJAGA KEBERSIHAN

Sebagaimana motto kedokteran modern bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan, maka Islam punya semboyan yang lebih tinggi maknanya "kebersihan bagian dari keimanan". Seolah-olah perilaku hidup yang tidak bersih adalah cermin dari kurangnya nilai iman dalam diri seseorang. Bahwa hidup yang bersih (bersih; jasmani, pakaian, makanan minuman & lingkungan) merupakan syarat mutlak untuk 'hidup yang sehat' tidak perlu diperdebatkan lagi. Terlalu banyak penyakit yang bisa ditimbulkan akibat lingkungan yang tidak hygienis, khususnya penyakit-penyakit dalam kategori infeksi menular.

Kebersihan jasmani merupakan syarat mutlak pertama kali bagi seorang muslim jika ia hendak melakukan sholat menghadap Allah swt. Kebersihan dipandang sentral dalam yurisprudensi (fiqh) Islam, kajian tentang kebersihan merupakan tema yang pertama ada dalam kitab fiqh, dengan spektrum pembahasan yang sangat luas. Kita akan mendapati berjilid-jilid buku-buku fiqh tentang thaharah (bersuci) yang membahas tema-tema : seputar najis (dengan klasifikasi ringan, sedang, berat), jenis-jenis air, mandi (junub, jum'at), wudhu, istinjak (pembersihan dua jalur eksresi), haid, nifas, bersugi (sikat gigi), memotong kuku, memotong janggut, larangan merajah tubuh (membuat tatto), tayamum, khitan, memandikan jenazah, menyegerakan pemakaman atau  tema-tema yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan yang dikaji dengan sangat rinci. Kajian yang lengkap mengenai hidup bersih seperti itu rasanya tidak akan pernah ditemukan secara tekstual normatif dalam ajaran-ajaran lain. Alm. K.H Efendy Zarkasy dalam kesempatannya mengelilingi eropa menemukan hal yang unik tentang kebersihan, ternyata diantara semua negara eropa hanya di Spanyol yang toiletnya terdapat penampungan air, mengapa? Toilet-toilet dengan bak air itu merupakan warisan tradisi kaum muslimin dahulu, karena orang Islam sangat memerlukan tempat untuk bersuci & mandi. Di banyak negara Eropa lainnya atau disuatu gedung yang arsitekturnya mengacu pada gaya dunia barat "modern", misalnya seperti di hotel-hotel berbintang, kita akan temukan toilet yang hanya disediakan kertas tissue untuk istinjak atau jikapun ada sumber air di toilet tersebut, maka biasanya hanya dari selang kecil saja.

Hidup Hygienis dengan wudhu

Orang muslim paling tidak membasuh 7 anggota tubuhnya yang terpapar dunia luar 5 kali sehari dalam wudhunya dengan air bersih lagi mensucikan. Prosesi wudhu sendiri sangat hygienis untuk pemeliharaan kesehatan. Cuci tangan memutus penularan rantai infeksi. Menjaga kebersihan tangan juga diajar Nabi diluar wudhu terutama ketika tangan dipakai untuk makan. Rasulullah saw mengatakan : "Jika seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah memasukkan tangannya ke sebuah tempat makanan sehingga membasuh tangan tersebut tiga kali,..". Berkumur-kumur melindungi mulut dan tenggorokan dari inflamasi. Satu diantara kebiasaan Nabi adalah bersugi (menyikat gigi), bahkan dalam hadishnya dikatakan " Seandainya tidak  memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka bersugi yaitu meyikati gigi setiap akan sholat" (HR Bukhari). Menyikat gigi melindungi gigi dari kerusakan akibat pembusukan makanan, disamping itu membersihkan area mulut yang dihuni jutaan mikroorganisme, juga mencegah resiko infeksi oportunistik bila daya tahan tubuh kita menurun. Istinsyaq yakni menghirup air ke dalam hidung, merupakan suatu perbuatan yang mungkin tidak akan pernah dilakukan orang (apalagi secara rutin) kecuali jika ia berwudhu. Menurut ahli bedah tumor Dr. Bahar Azwar, Sp.B.Onk, jika terdapat tumor yang letaknya tersembunyi didalam hidung maka aliran air yang melintasi dan menyapu area nasopharyng akan menimbulkan perdarahan sehingga istinsyaq dapat sebagai deteksi dini tumor didaerah yang tersembunyi tersebut. Membasuh wajah membersihkan kotoran sisa sekret kelenjar kulit dan menjadi tabir surya yang melindungi kulit wajah dari efek buruk ultra violet yang diantaranya memicu kanker kulit. Membasuh kedua tangan dan kaki dengan melakukan pemijatan pada ujung-ujung jari dan telapaknya memperkuat pembuluh darah perifer, menambah vitalitas dan aktivitas tubuh.

Di samping itu ada paket pemeliharaan kebersihan lainnya yang secara inheren wajib dilakukan bagi tiap muslim ; yakni membebaskan diri dari najis; ajaran istinjak dengan air bersih dan khitan (circumsitio)  merupakan bagian kebiasaan yang sehat. Khusus bagi wanita terkait struktur anatomi, istinjak saat miksi mencegah infeksi saluran kencing dan bagi pria; khitan melindungi dari resiko keganasan akibat akumulasi smegma yang iritatif yang terdepo di kulit dalam penis. Nabi menganjurkan memakai alas kaki bila masuk jamban, melakukan bagian fitrah diri yaitu mandi, memotong kuku, merapikan rambut, janggut, kumis secara rutin.

Oleh : dr. Ade Hashman

 
 


 

Minggu, 26 Oktober 2008

“Jadilah Dermawan”

10/26/2008 06:03:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dijelaskan bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah saw. lebih dermawan dengan kebajikan dari angin yang diutus.

Puasa menyeru memberi makanan kepada orang yang sedang lapar, memberi si miskin dan menolong si fakir. Ramadhan adalah musim bersedekah dan peluang emas untuk orang yang memberi hartanya kepada orang lain.

Sebuah syair mengatakan : "Allah swt. telah memberimu, berikanlah sebagian pemberian-Nya kepada orang lain. Karena harta akan sirna dan umur pun akan pergi. Harta ibarat air, bila disumbat alirannya air akan kotor, dan bila dialirkan darinya akan mengalir air yang dingin dan segar."

Betapa indah memberi harta kepada orang lain, betapa baiknya shodaqoh itu. Setiap kali orang membelanjakan hartanya di jalan Allah swt., Allah swt. memberinya kesehatan tubuh, ketenangan hati dan keluasan rezeki. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw. bersabda : "Shodaqoh memadamkan panasnya dosa, sebagaimana air memadamkan api."

Dosa-dosa mempunyai daya panas dalam hati, bara dalam jiwa, dan api yang menyala dalam kehidupan. Tak ada yang dapat memadamkan panas dan bara ini kecuali shodaqoh.

Utsman bin Affan ra. adalah sahabat yang kaya. Dia menjadikan harta dan kekayaannya sebagai alat untuk mencari ridha Allah swt. Dia beri dana khusus untuk mempersiapkan tentara yang akan berangkat ke Tabuk, membeli sumur Roumah untuk kaum muslimin.

Wahai orang yang berpuasa, dengan memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan, sungguh anda telah meminjamkannya kepada Tuhanmu. Dan shodaqoh itu seluruhnya akan kembali kepada Anda, di hari di mana Anda menjadi fakir, membutuhkan, hari kritis, hari kefakiran dan kemiskinan, yaitu hari kiamat.

Wahai orang yang berpuasa, seteguk air putih, seteguk air susu, sebiji kurma, sedikit makanan, harta, pakaian dan buah-buahan yang Anda berikan kepada orang yang membutuhkan adalah jalan Anda menuju surga.

Wahai orang yang berpuasa, demi Allah tidak ada yang mampu menjaga seperti shodaqoh, tak ada yang kuasa mensucikan harta seperti shodaqoh. Banyak orang kaya meninggal dunia meninggalkan harta, simpanan, rumah dan istana yang hanya Allah yang mengetahui. Tetapi, semua berakhir menjadi rugi dan penyesalan karena mereka tidak mengarahkannya pada jalur yang benar.


 


 

(Tausiah Ustadz Jefri Al Bukhari,dikutip dari harian TP tgl. 9 September 2008M/9 Ramadhan 1429H)

Jumat, 24 Oktober 2008

Nasib Islam Liberal Pasca Muktamar Muhammadiyah

10/24/2008 06:32:00 PM Posted by Ady'S No comments

Sebuah catatan lama, namun menarik untuk disimak…


 

"Islam Liberal terpental dari Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang. Apa sikap Din Syamsuddin pasca Muktamar?"

Kaum Islam Liberal di tubuh Muhammadiyah menjerit, karena misi mereka gagal. Semula, mereka berharap, Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang akan menjadi momentum penting untuk semakin leluasa menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan penyebaran ide-ide liberal ke umat Islam Indonesia.

Sukidi Mulyadi, aktivis Islam Liberal di Muhammadiyah yang juga mahasiswa Teologi di Harvard University, menulis di majalah TEMPO edisi 17 Juli 2005, bahwa "Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dari formatur 13 juga dapat dibaca sebagai kemenangan anti-liberalisme dalam muktamar."

Di akhir tulisannya Sukidi berharap, sebagai nakhoda baru di Muhammadiyah, Din Syamsuddin tidak akan melakukan represi terhadap paham liberalisasi Islam, yang dia katakan makin bersinar terang di bawah kepemimpinan Syafii Ma'arif.

Ia berharap, Din Syamsuddin akan bersikap bijaksana dalam mengelola sayap liberal dan anti-liberal di tubuh Muhammadiyah."Kedua sayap itu justru menandakan terjadinya dinamika pluralisme internal dalam tubuh Muhammadiyah. Jika Din sukses mengelola pluralisme internal ini, Muhammadiyah akan menjadi kekuatan luar biasa sebagai "laboratorium pemikiran" yang mencerahkan umat dan bangsa," begitu tulis Sukidi, aktivis penyebar paham Pluralisme Agama di Muhammadiyah.

Harapan kaum liberal untuk tetap diakui sebagai bagian yang sah dari Muhammadiyah masih tersisa, mengingat – tidak seperti Muktamar NU – Muktamar Muhammadiyah ke-45 memang tidak secara formal melarang ajaran liberalisme dikembangkan di Muhammadiyah.

Merasa diri mereka tersudut, mereka sekarang berjuang untuk mendapatkan pengakuan, bahwa liberalisme adalah bagian yang sah dari Muhammadiyah. Bahkan, dibuat berbagai tulisan yang menggambarkan, bahwa pendiri Muhammadiyah adalah juga seorang penganut paham liberalisme.

Din Syamsuddin sendiri masih dinilai oleh kaum Liberal belum jelas benar sikapnya, karena dalam berbagai kesempatan, dia banyak mengkritik paham Islam Liberal. Dalam buku berjudul "Pemikiran Muhammadiyah: Respons Terhadap Liberalisasi Islam, (Surakarta: UMS, 2005), Din  menyatakan, bahwa Muhammadiyah "tidak sejalan dengan paham ekstrem rasional dikembangkan Islam Liberal, meski beberapa oknum terutama di kalangan muda atau yang merasa muda ikut-ikut berkubang di jurang "liberalisme Islam".

Dalam buku ini disebutkan, bahwa Din menegaskan sikap Muhammadiyah yang ingin mengambil "posisi tengahan" yang secara teologis merujuk kepada al-Aqidah al-Wasithiyah. Secara tegas, Din mengkritik penjiplakan membabi buta terhadap paham rasionalisme dan liberalisme, termasuk di kalangan Muhammadiyah.

Din menyatakan: "Begitu juga ketika datang tawaran pemikiran rasionalisme dan liberalisme, tidak sedikit generasi muda Muhammadiyah, dan mereka yang masih merasa muda, terseret dalam arus liberalisme dan rasionalisme tersebut.

Muncul di sementara generasi Muhammadiyah yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah produk budaya lokal (Arab), sehingga seluruh isinya adalah zhanni.

Dakwah Islam, menurut mereka, bukanlah mengajak manusia untuk ber-Islam, baik kepada yang sudah muslim apalagi yang belum muslim, dakwah tidak mengurusi keyakinan dan iman seseorang, tetapi hanya menata kehidupan yang harmonis diantara berbagai keyakinan dan mengatasi berbagai problem kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya.

Persoalan iman adalah masalah individu sehingga isu kristenisasi seharusnya tidak menjadi masalah lagi bagi Muhammadiyah. Bahkan, ada yang lebih ekstrem dengan mengatakan, bahwa Muhammadiyah hendak diubah paradigmanya, dari gerakan amal saleh dan gerakan ibadah menjadi gerakan praksis sosial yang netral dari kepentingan keagamaan."

Itulah sebagian kritik yang pernah disampaikan oleh Din Syamsuddin terhadap ide-ide liberalisme yang berkembang di tubuh Muhammadiyah.

Namun, Din juga menginginkan, bahwa jalan yang ditempuh untuk menyelesaikan masalah pemikiran adalah dialog pemikiran. Dia pernah mengutarakan keinginannya agar semua aliran pemikiran itu ditampung dan didialogkan dengan serius dalam suasana kekeluargaan.

Ketika menemui Nurcholish Madjid, yang masih bergelut dengan penyakit hatinya, Rabu (13/7/2005), Din mengatakan, pada kurun waktu terakhir ini, di Muhammadiyah telah berkembang dialektika pemikiran dalam spektrum yang sejalan dengan ide-ide pembaruan seperti modernitas, pluralisme, dan inklusivisme yang memadukan cita-cita liberal dan progresif dengan keimanan yang saleh.

Disamping itu, di kalangan warga Muhammadiyah, juga masih kuat berkembang bentuk-bentuk pemikiran yang 'puritan'. Untuk menghindari kesenjangan dialektika dua arus pemikiran ini, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan berusaha mendekatkan kedua pihak melalui dialog yang intensif dan kontinyu. (Republika, 14/7/2005)

Dialog pemikiran adalah bentuk yang sangat ideal. Dan hal itu harus dikaji dengan serius dan mendalam. Tidak bisa tidak, Muhammadiyah harus menghidupkan tradisi ilmu dan melengkapi dirinya dengan literatur-literatur Islam dan Barat – termasuk studi Kristen, Yahudi, dan agama-agama lain – yang memadai. Dalam hal ini, memang Muhammadiyah masih  jauh ketinggalan.

Untuk menilai ide mana yang baik dan ide mana yang buruk, dibutuhkan ilmu yang cukup. Hingga kini, misalnya, sebagai satu institusi keagamaan, Muhammadiyah belum melakukan kajian yang serius dan sikap resmi tentang paham Pluralisme Agama, metode interpretasi hermeneutika untuk tafsir al-Quran, dan isu-isu penting lainnya dalam liberalisasi Islam.

Adalah sangat berbahaya jika dialog dilakukan tanpa persiapan yang matang dalam keilmuan dan informasi yang memadai tentang pemikiran tersebut. Yang salah bisa dilihat sebagai kebenaran, sedangkan yang benar bisa dikatakan sebagai kesalahan, hanya karena kurang pandai dalam 'mengemas' dan 'menjual'.

Sudah lazim diketahui, liberalisme dijajakan kepada masyarakat dengan kemasan yang menarik dan teknik-teknik pemasaran yang piawai, serta biaya promosi yang 'gila-gilaan'. Untuk mengiklankan paham liberal di media massa saja, disiapkan dana milyaran rupiah.

Meskipun sifatnya racun dan sebenarnya patologis (seperti iklan bir bintang dan makanan anak-anak jenis tertentu), karena ditampilkan dengan iklan yang menarik, maka akan banyak peminatnya. 

Disamping itu, sejak awal perlu disepakati, bahwa ada hal-hal yang tidak mungkin dikompromikan, karena secara substansial dan fundamental memang berbeda.

Antara iman dengan syirik tidak mungkin bertemu. Antara paham Tauhid Islam dengan paham Pluralisme Agama tidak mungkin bertemu, sebab paham Pluralisme Agama jelas-jelas mengajarkan syirik. Mustahil dua paham ini bisa disatukan dalam satu tubuh, sebab satu sama lain, saling menegasikan.

Yang satu mengakui eksklusivitas Ke-Esaan Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad saw sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan keselamatan, sedangkan yang lain mengakui kebenaran dan validitas semua agama. Syirik adalah kezaliman yang besar (zhulmun azhim), sedangkan salah satu dosa yang cepat mendatangkan azab Allah adalah dosa kezaliman.

Karena itu aneh sekali jika kaum Islam Liberal menginginkan paham syirik semacam ini hidup berdampingan secara damai dengan paham Tauhid di tubuh Muhammadiyah. Seharusnya penyebar paham ini bertobat dan menyadari kekeliruannya, mengaji Islam lagi dengan baik, dan berpikir dengan lebih jernih dan ikhlas. Tidak perlu terlalu silau dengan kemajuan Barat.

Kita sungguh kasihan pada penyebar dan penganut paham ini. Sebagai contoh, bisa dilihat kasus Sukidi. Sebagai propagandis pluralisme agama, Sukidi sendiri tidakmalu-malu lagi mengakui kebenaran semua agama, dengan membangga-banggakan pendapat Mahatma Gandhi, yang menyatakan: "Semua agama pada hakikatnya benar, tapi karena kebenaran tunggal itu diterima sekian banyak manusia dari beragam ras, agama, dan identitas, maka kebenaran yang tertangkap dari yang tunggal itu terfragmentasi, terpecah-pecah. Padahal, inti kebenaran itu satu jua."

Karena itu, kata Sukidi, semua agama pada hakikatnya benar, hanya cara mendekati kebenaran itu saja yang menggunakan sekian banyak jalan. Ia menilai, Islam yang dulu dipelajarinya penuh dengan indoktrinasi, klaim-klaim kebenaran dan keselamatan, serta meletakkan Islam seolah-olah sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan.

Karena itu, ia mengaku menemukan Islam di Harvard, yakni Islam yang diletakkan dalam koteks studi agama-agama lain memberi inspirasi bahwa Islam hanyalah salah satu jalan di antara sekian banyak jalan menuju hadirat Tuhan.

Namun, ia sendiri menyatakan belum menemukan kebenaran. Katanya, "Terus terang saya masih dalam tahap pencarian akan arti kebenaran itu sendiri, sehingga masih dalam proses yang tiada berujung."

Kita sungguh kasihan dengan anak muda pintar seperti Sukidi ini. Jauh-jauh belajar Islam ke Harvard hasilnya justru mengakui kebenaran semua agama, dan ragu akan kebenaran eksklusif agama Islam. Kasihan sekali, sungguh kasihan.

Namun, di sini kita juga mengakui, betapa hebatnya program cuci otak yang dilakukan terhadap para cendekiawan Muslim, sehingga entah sadar atau tidak, dia sudah menyebarkan virus pluralisme agama itu ke tubuh Muhammadiyah dan umat
Islam secara keseluruhan. 

Paham kebenaran semua agama ini sudah berabad-abad digagas. Berbagai tamsil dibuat. Ada hikayat tentang gajah dan orang buta, ada hikayat tentang Nathan yang bijaksana. Dan sebagainya.

Di kalangan Yahudi, pada abad ke-18 muncul nama Moses Mendelssohn (1729-1786) yang menolak klaim kebenaran eksklusif satu agama. Belakangan, populer buku Charles Kimball "When Religion Becomes Evil" yang menyebut, agama akan
menjadi jahat jika memiliki doktrin "absulute truth claims".
 
Jelas,  bagi Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya, paham Pluralisme Agama semacam itu adalah racun, sebab akan melemahkan semangat Muhammadiyah dalam melakukan dakwah, dan terlena dari serangan gerakan Kristenisasi atau evangelisasi yang semakin aktif disebarkan oleh kalangan Kristen kepada kaum Muslim Indonesia. 

Islam tegak diatas landasan syahadat: pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, Islam bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi juga mengakui kebenaran kerasulan Muhammad. Inilah yang ditolak keras oleh kaum Yahudi dan Nasrani sepanjang sejarah.

Kita setuju dengan rencana Din Syamsuddin untuk melakukan dialog pemikiran. Tetapi, dialog itu perlu  jelas pedoman, arah, batasan, dan landasannya.

Anak-anak muda Muhammadiyah yang terpukau kepada paham liberalisme perlu diajak dialog dan dijelaskan dengan cara-cara yang baik dan ilmiah. Sebab, banyak yang terpesona dengan "hal baru" tanpa mendalami hakekat dan dampaknya, karena miskinnya tradisi ilmu.

Kita berharap, Din Syamsuddin dapat mendudukkan masalah liberalisme ini dengan bijaksana. Janjinya untuk menegaskan jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tetap menjadi gerakan amar ma'ruf nahi munkar, mudah-mudahan bisa direalisasikan.

Kemungkaran terbesar adalah kemungkaran yang menghancurkan Tauhid Islam, seperti paham Pluralisme Agama ini – sebuah paham yang melegitimasi dan mendukung kekufuran dan kemusyrikan.

Padahal, Allah SWT sudah menegaskan (yang artinya): "Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya." (QS 98:6).

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS 4:48).

"Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak." (QS 19:88-91).

Jadi, dalam konsepsi Islam, sekedar menyatakan bahwa Allah mempunyai anak sudah disebut sebagai kemungkaran besar dan Allah sangat murka dengan hal itu.

Dengan Pluralisme Agama, semua kemungkaran ini dilegitimasi. Pluralisme Agama jelas membongkar Islam dari konsep dasarnya. Tidak ada lagi konsep mukmin, kafir, syirik, sorga, neraka, dan sebagainya. Karena itu, mustahil paham Pluralisme Agama bisa hidup berdampingan secara damai dengan Tauhid Islam.

Sebab keduanya bersifat saling menegasikan. Di mana pun juga, apakah di Muhammadiyah, di NU, MUI, DDII, atau yang lain.  Wallahu a'lam.

(Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini bekerjasama Radio Dakta FM dan Hidayatullah.com)

MEMAKNAI PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS.

10/24/2008 06:15:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Pada saat ini jutaan manusia beriman dari seantero dunia berkumpul di tanah suci makkah untuk menunaikan ibadah haji dengan ikhlash menjalani proses ibadah , dan ingatan kita kembali mengenang peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan khusus jamaah haji merefleksikan dengan ritual yang diajarkan oleh Allah dan rasulNya.

Terdengarlah gema suara talbiyah di mana-mana, bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah, kadang-kadang tanpa disadari menetes airmata melihat kebesaran Allah dan kembali diingatkan pengorbanan Nabi Ibrahim as, bersama anaknya Ismail dan isteri Siti Hajar. Peristiwa tersebut diabadikan Allah dalam surat Ash-Shofat ayat 104-107.

Ibadah qurban berawal mimpi Nabi Ibrahim as. Dalam mimpi beliau diperintah untuk menyembelih anak yang dicintainya Ismail as, Sejak itu Nabi Ibrahim sangat risau memikirkan , tetapi mimpi terus muncul , dan ketika hal tersebut disampaikan kepada anaknya Ismail justru berseia menjadi qurban disembelih oleh ayahnya demi memenuhi perintah Allah Swt.

Ibrahim dan Ismail diuji dengan ujian yang amat berat, karena ia harus menghadapi dilema pilihan yang sama-sama berat, yaitu antara iman dan eman. Memilih iman berarti ia harus menyembelih anak yang sangat dicintainya. Dan kalau memilih eman, maka berarti ia tidak tunduk kepada Allah. Begitu juga Ismail, jika ia memilih iman berarti ia harus merelakan jiwanya untuk disembelih, dan jika memilih eman tentu ia termasuk orang-orang yang ingkar terhadap Allah. Namun, keduanya telah memenangkan imannya di atas eman-eman yang menghantuinya. Mereka berdua pun dengan penuh keikhlasan dan kesabaran tunduk melaksanakan perintah Allah.

Namun, ketika mereka telah memulai melaksanakan perintah itu, Allah pun memanggilnya dan melarang pelaksanaan penyembelihan tersebut, dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Kemudian peristiwa ini diabadikan oleh Allah dengan disyariatkannya ibadah Qurban atau udhiyah.

Sesungguhnya apa yang dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itu adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan hidup manusia sampai sekarang ini. Ia menghendaki sebuah masyarakat ideal yang bersih; yang merupakan refleksi otentik interaksinya dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai luhur, dan tata aturan (syariat) yang telah menjadi dasar kehidupan bersama. Sebab keidealan dan kebersihan sebuah masyarakat hanya mungkin terjadi jika terdapat kesesuaian antara realitas aktual dengan keyakinan (aqidah), nilai-nilai luhur (akhlaq), dan tata aturan (syariat) yang diyakini.

Cerminannya: terbangunnya kehidupan yang seimbang dan tenteram; strkturnya yang stabilitas dan kokoh; dan produktifitasnya laksana kebun yang pohon-pohonnya rindang yang akar-akarnya kokoh menghunjam ke bumi, tertata dan terawat, enak dipandang, dan buah (kemanfaatan)-nya tidak mengenal musim, serta sekaligus menjadi tempat persemaian generasi mendatang.

Sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan tata kehidupan yang telah dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itulah yang terbukti melahirkan cita-cita ketenteraman dan kemakmuran hidup manusia. Itulah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan jelas. Tidak ada yang membencinya kecuali orang yang menzhalimi, memperbodoh, dan merendahkan diri sendiri.

Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. "Ketika Allah berfirman kepadanya, "Tunduk patuhlah (Islamlah)," maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan.

Ternyata keislaman Ibrahim tidak hanya untuk dirinya sendiri, ketundukannya kepada ajaran-ajaran dan syari'at Allah bukan hanya buat dirinya sendiri, bahkan tidak hanya untuk generasi sezamannya, melainkan untuk seluruh generasi ummat manusia. Atas dasar itulah beliau wariskan Islam dan sikap ketundukan kepadanya untuk anak cucu sepeninggalnya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa.


 

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".Wahai anak-anakku! Sesungguhnyaa Allah telah memilih agama ini bagimu!" (QS, al-Baqarah [2]: 132)

Apa yang diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'qub tersebut jelas mengisyaratkan agar anak cucu mereka, agar generasi sesudahnya menerima dan menegakkan Islam secara utuh serta konsisten dalam merealisasikan cita-cita kesejahteraan. Ketulusan dalam menerima dan menegakkan Islam serta konsistensi pada cita-cita luhur adalah jaminan untuk memperoleh kesejahteran hidup. Sebaliknya, ketidakpatuhan dan inkonsistensi kepada Islam dapat menjermuskan kehidupan kaum muslimin ke dalam lembah yang penuh nestapa dan akan menjerembabkan manusia ke dalam krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Fenomena sosial yang dikhawatirkan Rasulullah SAW pada kenyataannya telah bermunculan di tengah-tengah bangsa yang sedang dirundung krisis multi dimensi ini. Kita dapat menyaksikan lahirnya manusia-manusia yang secara zahir berpenampilan rapih, bersih, menarik, perlente, dengan gaya dan isi pembicaraan yang memukau seolah ingin menggambarkan tingginya kemampuan intelektual mereka dan keberpihakan kepada kebenaran dan keadilan. Padahal, kondisi sebenarnya adalah mereka membenci dan memusuhi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam kehidupan bahkan sekedar untuk dirinya sendiri. Orang-orang seperti itulah yang kemudian populer disebut politisi busuk dan birokrat tengik.

Celakanya, tampilan diri yang dapat menutupi dan mengelabui pandangan orang tentang kondisi bathin yang sesungguhnya sehingga menjalani hidup penuh dengan kepura-puraan telah menjadi realitas sosial yang membudaya. Akibatnya, terjadi pergeseran norma-norma sosial dan budaya yang pada akhirnya membiakkan berbagai perilaku menyimpang yang berpengaruh besar terhadap keamanan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.

Tentu saja gaya hidup seperti itulah yang mengobarkan kemunafiqan dan kepura-puraan di semua sektor kehidupan. Di sana ada politisi busuk, birokrat tengik, pemimpin yang tidak berkualitas yang kerjanya hanya mengeruk kekayaan buat dirinya sendiri, pedagang culas yang tidak mengindahkan norma-norma, para suami yang tidak berdaya, dan merebaknya dekadensi moral yang dilakukan masyarakat secara terang-terangan.

Dalam waktu yang sama ketidakberdayaan untuk memberantas berbagai jenis perilaku menyimpang itu telah menyerang semua lapisan masyarakat. Akibatnya persepsi dan pandangan orang menjadi berubah. Perilakunya telah melenceng jauh dari nita-nilai dan aturan agama. Salah satunya adalah pandangan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesucian diri dari segala perbuatan nista dan dari bahaya hubungan seksual di luar nikah (zina).

Beberapa tahun lalu kita merasakan adanya suatu pandangan yang sama di tengah masyarakat bahwa berhubungan seksual di luar nikah adalah sesuatu yang sangat aib dan merupakan dosa besar yang harus benar-benar dijauhi, baik oleh yang belum maupun yang sudah menikah. Pandangan ini diterima sebagai suatu norma yang berlaku di masyarakat, sehingga bila ada orang yang melanggarnya akan mendapat perlakuan yang seragam dari seluruh lapisan masyarakat di mana saja. Ia akan menerima sangsi sosial berupa penyingkiran dari pergaulan sosial, dimusuhi, tidak mendapatkan hak-haknya sebagai warga dsb. Akibatnya, ia akan teralienasi dari masyarakatnya, merasakan kehidupan yang sempit dan tersiksa, serta merasakan sebagai pihak yang 'terhukum' Hal ini akan melahirkan perasaan 'jera' yang efektif mengurangi frekuensi pengulangan.

Namun lihatlah kondisi masyarakat kita sekarang ini. Di televisi tampil tidak mempunyai malu , pakaian yang digunakantidak sesuai dengan jaran agama dan budaya kita Berbagai perilaku menyimpang terjadi di mana-mana. Dari mulai kejahatan politik sampai kejahatan moral. Akibatnya masyarakat merasa kesulitan untuk memilah dan membedakan mana perbuatan yang baik yang dapat membawa keamanan dan kebahagiaan hidup, dan mana perbuatan buruk yang dapat membawa kesengsaraan pada kehidupan.

Kita berdo'a semoga mereka sadar, dan takut kepada siksa Allah. Dan Allah sudah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanNya dengan beberapa peristiwa, mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Jokja, Banjir dan longsor di mana , dan tentu tangung jawab keluarga membina anak-anak mereka supaya tidak terjerumus kepada perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah Swt.

Kondisi seperti pasti akan mengobarkan dekadensi moral di mana-mana. Menurut data BKKBN: 1,6 juta orang melakukan aborsi. Penelitian lain dari Pusat Informasi Keluarga Berkualitas mencatat: di Indonesia terjadi 2,5 juta aborsi setiap tahunnya, sebagiannya dilakukan oleh remaja. Menurut PKBI Wonosobo,1/3 remaja puteri di Wonosobo telah hamil di luar nikah. Sedangkan di Yogyakarta setiap bulan ada 30 anak kos yang hamil. Di Palembang tercatat 20% mahasiswi melakukan hubungan seks pranikah. Di Surabaya, 6 dari 10 gadis tidak perawan lagi. Dalam catatan Dr. Boyke Dian Nugraha diperkirakan 20-15 persen remaja Indonesia pernah ngeseks sebelum nikah.

Kebejatan moral seperti itu masih diperparah oleh perilaku para pemimpin bangsa yang bobrok. Mereka terus melakukan korupsi dan manipulasi, penipuan dan penyalahgunaan jabatan. Pada hal seharusnya mereka bersyukur dan mau berkorbankan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibahim As, dan setiap tahun jumlah jamah haji terus bertambah, tetapi mengapa ya? Semakin banyak yang pulang haji perilaku justru tak dapat dicontoh.

Dan baru-baru ini terjadi lagi pada orang yang menjadi figuran ditayangan televisi terlibat narkoba, Roy Marten, Ahmad Albar, para tokoh-tokoh yang dimasukkan ke penjara , pertanyaannya siapakah yang pantas menjadi contoh di negara ini?

Kita hanya bisa menjaga anak-anak kita, serta berdo'a untukmereka supaya kembali kepada jalan yang benar.


 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.


 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.


 

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ

Kamis, 23 Oktober 2008

“Nun di London, Mereka Memilih Islam”

10/23/2008 05:51:00 AM Posted by Ady'S No comments

Dalam ruang tamu rumah teras di London Utara, Islington, dengan terbata-bata Tony, seorang pria Inggeris belajar mengaji dengan metode Iqro dibimbing Muhammad Hilaal Abubakar, pria kelahiran Singapura yang beribu asal Yogyakarta. Sore itu di tengah hujan rintik rintik, Tony yang baru masuk Islam beberapa bulan lalu bertekad untuk belajar dan mengetahui lebih banyak mengenai Islam.

Sejak kejadian pemboman di kota London, 7 Juli 2005, dan juga gencarnya media massa memojokan Muslim dan Islam tidak menyurut keinginan masyarakat Inggeris dan lainnya mencari tahu mengenai agama yang dianggap agama jahat dan teroris. Di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu, selain Tony dan Gaffar asal Inggris juga ada Ciraan dan Cullan, keduanya dari Irlandia, dan wanita semampai Aisya dari Ceko yang baru tamat belajar Iqra, buku kecil metode belajar Al Qur'an yang diterbitkan di Indonesia.

Buku Iqro yang biasa digunakan mereka yang baru belajar membaca Al Qur'an di tanah air itu digunakan Hilaal untuk mengenal dan membaca ayat ayat suci Al Qu'ran. Ahli hukum yang mendirikan komunitas pengajian yang "Step to Allah" itu khusus ditujukan bagi kaum muallaf yang multinatioanal dan warna itu untuk belajar dasar-dasar rukun agama Islam serta fondasi dengan Tauhid dan Aqidah.

Banyak pria lainnya seperti Lukman, pria Inggeris asal Lagos, dan James yang kini menjadi Jamal mengikuti pengajian setiap dua mingguan di ruang tamu rumah Hilaal yang bermula dari acara minum kopi kelompok Laywers muda di perusahaan Advokasi di kawasan Euston, London. Mereka adalah Mohammad Hilaal, Simon, Farhana, Yunus dan lainnya sering berkumpul untuk makan bersama atau sekedar minum kopi yang akhirnya membentuk kelompok pengajian.

Acara minum kopi memberikan inspirasi bagi Hilaal untuk membuat suatu pengajian kecil-kecilan yang kini berkembang dan bahkan mereka juga melakukan umroh bersama. Pengajian yang dimulai ba`da Asyar, Hilaal yang sebelumnya tidak pernah belajar bagaimana berdakwah memberikan ceramah mengenai Islam dan melakukan shalat bersama dan diakhiri makan malam.

Meskipun ia bukan seorang pendakwah, Hilaal yang merupakan seorang ahli hukum yang dulunya adalah seorang dokter gigi dengan mahirnya menyampaikan ajaran Muhammad kepada muallaf Inggris. Berkumpul bersama sambil mempelajari Islam dan yang telah melahirkan rasa persaudaraandan keakraban di antara mereka.

Dari Hukum ke Agama
Tidak pernah terfikir dibenak Hilaal di saat ia harus menterjemahkan bahasa agama dalam bahasa Inggris dari bahasa Melayu. Menurutnya cukup pening mempelajari bahasa-bahasa hukum yang tengah ia geluti saat itu. Karenanya, tak pernah terlintas bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang atau teman-temannya yang bertanya dan minat tentang agama Islam.

Hilaal, seperti kebanyakan kaum muda yang hari-harinya sibuk bekerja membina karir, rasa-rasanya tak mungkin melakukan kegiatan ekstra di akhir pekan sampai pada suatu hari ia dituntut oleh suatu keadaan. Simon teman seprofesi sering main ke rumah begitu tertarik tentang Islam. Buku-buku, leaflet, literature tentang Islam yang bertumpuk dirak buku atau meja kecil di ruang tamu itu menarik bagi Simon.

Konon Simon, pada saat itu tidak memiliki agama apapun, ia meminta izin pada Hilaal untuk membawa pulang beberapa literatur agama Islam dan ia juga banyak bertanya karena begitu minatnya dengan Islam.Hal ini membuat Hilaal terpaksa belajar istilah agama Islam dalam bahasa Inggris, yang membuatnya tertantang.

Selang beberapa pekan Simon begitu yakin dengan agama Islam, lalu ia meminta Hilaal untuk menemani dan mengantarnya untuk bersyahadat, pergilah mereka ke masjid besar Regent Park Mosque, di Park Road, London. Usai bersyahadat Imam masjid menyarankan untuk bergabung dengan "Islamic Circle" mendengarkan ceramah yang berlangsung setiap hari Sabtu diselenggarakan di mesjid raya London itu.

Hilaal pun merasa bertanggung jawab mendampingi Simon yang berganti nama menjadi Syaiful. Ia mengajarinya bagaimana berwudhu, shalat, melafazkan surat-surat pendek saat shalat serta doa-doa yang mudah. Di masjid, Hilaal banyak bertemu dengan para muallaf baik yang muda, setengah baya dan ia merasa banyak teman dan terasa bersaudaraan yang mendalam di antara mereka.

Seringnya mereka berteman dengan kelompok yang berjumlah enam orang ini, sambil berdiskusi dan belajar agama terbesitlah untuk membentuk sebuah peguyuban, "circle" atau pengajian untuk belajar agama. Di kelompok itu tidak semua muallaf, bahkan ada yang lahir Muslim, namun tidak mempraktikkan shalat dan puasa dengan ikut pengajian mereka mulai shalat dan belajar agama Islam.

Datanglah James, Jason, Peter, Gavin, Stewart dan sebagainya yang kini namanya berubah. Jamal adalah nama yang paling banyak disukai muallaf Inggris yang kebanyakan berasal dari James. Kelompok yang berjumlah enam orang membengkak dan kian membesar hingga mencapai 25-30 orang.

Akhirnya terbentuklah pengajian kecil yang diselenggarakan setiap hari Ahad atau Minggu yang juga kunjungan rutin ke masjid setiap hari Sabtu untuk mendengar ceramah dari para ustadz yang yang datang dari berbagai bangsa dan banyak memilki ilmu agama. Menurut Nizma Agustjik yang dari awal pembentukan pengajian ikut membantu penuh mengatakan tadinya mereka tidak berminat untuk diberi nama untuk kelompok pengajian.


Umroh Bersama

Mereka juga sepakat untuk memberi nama kelompok pengajian dengan nama "Langkah Menuju Allah" atau "Steps to Allah" dan sekaligus mereka mendirikan mailing list terbentuk di pekan ketiga Mei 2006. Saat ini menurut Nizma, "Steps to Allah" akan mencapai tiga tahun pada bulan Desember tahun ini dan anggotanya berjumlah 79 walaupun tidak selau datang semua. "Saya tidak perlu kuantitas, jamaah yang banyak, namun kualitas adalah yang saya tekankan," ujar Hilaal.

Keseharian Hilaal yang penuh dedikasi terhadap kegiatan dakwahnya yang cukup unik. Dia selalu berada di masjid usai bekerja untuk shalat maghrib lalu dilanjutkan mengajar Iqro dari buku Iqro Indonesia pada teman-teman muallaf hingga beberapa muridnya telah tamat dan bisa membaca Juz`ama. Ramadhan tahun lalu Hilaal memimpin rombongan kecil sejumlah 12 orang untuk melakukan umrah pada 10 hari terakhir dan dirasakan bagaimana indahnya melakukan umrah bersama mereka.

Mereka begitu bersemangat melakukan ibadah dan berupaya berada di garis terdepan pada saat shalat, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram, Mekkah. Yang lebih uniknya lagi di antara mereka ada yang baru pertama kali melakukan ibadah puasa. Rombongan ini terdiri dari empat orang Inggeris, dua asal Filipina dan masing masing seorang dari Afrika, Malaysia dan Indonesia serta Bangladesh.

Pada bulan Ramadhan tahun ini merupakan penyelenggaraan umroh kedua yang berjumlah 14 orang yang dipimpinnya yang juga dilakukan pada sepuluh hari terakhir, di antaranya Miya, wanita Indonesia dengan sang suami muallaf, Amin asal Belgia. (hidayatullah.com)


 

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.