Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Minggu, 06 September 2009

“Ilmu-Ilmu Alquran : Pengertian, Pertumbuhan, dan Perkembangannya”

9/06/2009 09:49:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Alquran adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. untuk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah saw. menyampaikan Alquran kepada para sahabatnya, orang Arab asli, sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Bila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakannya kepada Rasulullah saw.

Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang berkata, "Ketika ayat yang artinya, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman"
diturunkan, banyak orang yang merasa resah. Mereka kemudian menanyakannya kepada Rasulullah saw., "Ya Rasulullah saw. siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya?" Nabi menjawab, "Kezaliman di sini bukan seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba Allah yang shalih, "Sesungguhnya kemusyrikan adalah kedzaliman yang besar."
(Luqman: 13). Jadi yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah kemusyrikan."

Disamping itu, Rasulullah saw. juga menafsirkan untuk mereka beberapa ayat. Dalam riwayat Muslim dan yang lainnya dari Uqbah bin Amir berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar yang artinya, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi." (Al-Anfal: 60) Ingatlah bahwa kekuatan di sini adalah memanah."

Para sahabat sangat antusias untuk menerima Alquran dari Rasulullah saw., menghafal dan memahaminya. Ini merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Anas r.a. berkata, "Seseorang di antara kami bila telah membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran, orang itu menjadi besar dalam pandangan kami." Begitu pula mereka selalu berusha mengamalkan Alquran dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami yang mengatakan, "Mereka yang membacakan Alquran kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud serta yang lain menceritakan bahwa bila mereka belajar dari Nabi sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: "Kami mempelajari Alquran berikut ilmu dan amalnya sekaligus"

Rasulullah saw. tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dirinya selain Alquran, karena beliau khawatir akan tercampur dengan yang lain.

Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu tulis dari aku. Barang siapa menulis dari aku selain Alquran, hendaklah dihapus. Dan, ceritakan apa yang dariku, dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia menempati tempatnya di api neraka."

Sekalipun setelah itu Rasulullah saw. mengizinkan kepada sebagian sahabat untuk menulis hadis, tetapi hal yang berhubungan dengan Alquran tetap didasarkan pada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah saw. di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. dan keadaan menghendaki, seperti yang akan kami jelaskan nanti, untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana. Mushaf itu disebut mushaf imam. Salinan-salinan mushaf itu juga dikirimkan ke beberapa propinsi. Penulisan mushaf tersebut disebut Ar-Rasmu al-Utsmani yaitu dinisbatkan kepada Utsman. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasmil quran.

Kemudian datang masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. dan atas perintahnya, Abul Aswad ad-Du'ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku serta memberikan ketentuan-ketentuan harakat pada Alquran. Ini juga dianggap sebagai permulaan i'rabil quran.

Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Alquran dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda di antara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw. hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka yaitu para tabi'in.

Di antara para mufassir (ahli tafsir) yang termasyhur dari kalangan sahabat adalah empat orang khalifah, kemudian Ibnu Mas'ud, Ibn Abbas, Ubai bin Ka'ab, Abdurrahman bin Auf , Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asyari dan Abdullah bin Zubair.

Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin Abbas dan Ubai bin Ka'ab. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir Alquran yang sempurna, tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi'in, di antara mereka ada satu kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Di antara murid-murid Ibnu Abbas di Mekah yang terkenal ialah Sa'id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, bekas sahaya (maula) Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al-Yamani dan Atha' bin Abi Rabah.

Sementara di antara murid-murid Ubay bin Ka'ab yang terkenal di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka'ab al-Qurazi.

Diantara murid-murid Abdullah bin Mas'ud di Irak yang terkenal adalah al-Qamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya'bi, Hasan al-Basri, dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi.

Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun mengenai ilmu tafsir, orang yang paling tahu adalah penduduk Mekah, karena mereka sahabat Ibnu Abbas, seperti Mujahid, Atha' bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibnu Abbas lainnya seperti Thawus, Abusy-Sya'sa, Said bin Jubair dan lain-lainnya. Begitu pula penduduk Kufah dari sahabat Ibnu Mas'ud dan mereka itu mempunyai kelebihan dalam ilmu tafsir diantaranya adalah Zubair bin Aslam; Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb, mereka berguru kepadanya.

Dan yang diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu tafsir, ilmu gharibil quran, ilmu makki wal madani dan ilmu nasikh dan mansukh. Tetapi semua ini didasarkan pada riwayat dengan cara di diktekan.

Pada abad kedua hijriyah tiba masa pembukuan (tadwin) yang yang dimulai dengan pembukuan hadis dengan segala babnya yang bermacam-macam dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir quran yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para sahabat atau dari para tabi'in.

Di antara mereka itu, yang terkenal adalah Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117 H), Syu'bah bin Hajjaj (wafat 160 H), Waki' bin Jarrah (wafat 197H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198) dan Abdurrazaq bin Hammam wafat 112)

Mereka semua adalah para ahli hadits. Sedang tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ketangan kita.

Kemudian langkah mereka itu diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Alquran yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal di antara mereka ada Ibn Jarir at-Thabari (wafat 310 H)

Demikianlah, tafsir pada mulanya dinukil (dipindahkan) melalui penerimaan (dari mulut ke mulut) dari riwayat; kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis; selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran tafsir bil ma'tsur(tafsir berdasarkan riwayat), lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra'yi (tafsir berdasarkan penalaran)

Disamping ilmu tafsir, lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan Alquran, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufassir (ahli tafsir).

Ali bin al-Madini (wafat 234 H) yang merupakan guru Bukhari menyusun karangan tentang asbaabun-nuzuul. Abul Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224) menulis tentang naasikh wal mansuukh dan qira-at.

Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika quran (musykilaatul quraan). Mereka semua termasuk ulama abad ke tiga hijriah.

Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun al-Haawi wa uluumil quraan.

Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 751 H) juga menulis tentang ilmu-ilmu quran.

Abu Bakar as-Sijistani (wafat 330 H) menyusun Ghariibul quraan.

Muhammad bin Ali al-Adfawi (wafat 388 H) menyusun al-Istighna' fii 'uluumil quraan.

Mereka ini adalah ulama-ulama abad keempat hijri.

Dan, sesudah itu kegiatan karang-mengarang dalam ilmu quran terus berlangsung.

Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403 H) menyusun I'jaazul quraan, dan Ali Ibrahim bin Said al-Hufi (wafat 430 H) menulis mengenai i'rabul quraan. Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil tamsil dalam quran (amtsaalul quraan). Al Izz bin Abdussalam (wafat 660 H) tentang majaz dalam alquran. Alamudin as-Sakhawi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qiraat (cara membaca alquran), dan Aqsaamul quraan. Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu quran.

Syaikh Muhammad Abdul Aziz az-Zarqani menyebutkan dalam kitabnya Manaahilul 'Irfaan fii Uluumil Quraan bahwa ia telah menemukan dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Said yang terkenal dengan Al-Hufi, judulnya al-Burhaan fii Uluumil Quraan yang terdiri dari tiga puluh jilid. Dari ketiga puluh jilid itu ada lima belas jilid yang tidak tersusun dan tidak baerurutan. Pengarang membicarakan ayat-ayat Alquran menurut tertib mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu Alquran yang terkandung ayat itu secara sendiri, masing-masing diberi judul sendiri pula, dan judul yang umum disebutkan dalam ayat, dengan menuliskan Alqaul fii qaulihi 'Azza wa Jalla (pendapat mengenai firman Allah ), lalu disebutnya ayat itu. Kemudian di bawah judul ini dicantumkan Alqaul fii al-Ii'rab (pendapat mengenai morfologi). Di bagian ini ia membicarakan ayat dari sisi nahwu dan bahasa. Selanjutnya Al-qaul fil ma'na wat tafsiir (pendapat mengenai makna dan tafsirnya). Di sini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat (hadis) dan penalaran. Setelah itu Al-qaul fil waqfi wal tamam (pendapat mengenai tanda berhenti dan tidak). Disini ia menjelaskan tentang waqaf yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Terkadang qira'at diletakkan dalam judul tersendiri, yang disebutnya dengan Al-qaul fil qira'at (pendapat mengenai qira'at). Kadang ia berbicara tentang hukum-hukum yang diambil dari ayat ketika ayat dibacakan.

Dengan metode seperti ini, al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan Ulumul Quran(ilmu-ilmu quran), meskipun pembukuannya memakai cara tertentu seperti disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 330 Hijriyah.

Kemudian Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikutinya dengan menulis sebuah kitab berjudul Fununul Afnan fi Ajaa'ibi Uluumil Quran.

Lalu tampil Badrudin az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis sebuah kitab dengan judul al-Burhan fi Uluumil Quran Jalaaludin al-Baqini (wafat 824 H) memberikan tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi'ul Uluum min Maawaqi'in Nujum, Jalaludin as-Suyuti (wafat 911 H) juga kemudian menyusun kitab yang terkenal al-Itqan fi Uluumil Quraan.

Kepustakaan ilmu-ilmu Quran pada masa kebangkitan modern tidaklah lebih kecil daripada nasib ilmu-ilmu yang lain. Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yang positif dalam membahas kandungan Quran dengan metode baru pula, seperti I'jaazul Quraan yang ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi'i, kitab at-Taswiirul Fanni fil Quran dan Masyaahidul Qiyamah fil Quran oleh Sayyid Qutb, Tarjamatul Quran oleh Syekh Mustafa al-Maraghi yang salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibuddin al-khatib, Mas'alatu Tarjaamatil Quran oleh Mustafa Sabri, an-Naba'ul Azim oleh Dr. Muhammad Abdullah Daraz dan Mukadimah Tafsir Mahasinut Ta'wil oleh Jalaaludin al-Qasimi.

Syekh Tahir al-Jazairi menyusun sebuah kitab dengan judul at-Tibyaan fii Uluumil Quran. Syekh Muhammad Ali Salamah menulis pula Manhaajul Furqaan fii Uluumil Quran; yang berisi pembahasan yang sudah ditentukan untuk fakultas ushuludin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan masyarakat. Kemudian hal itu juga diikkuti oleh muridnya, Muhammad Abdul Azim az-Zarqani yang menyusun Manaahilul 'Irfaan fi Uluumil Quran. Kemudian Syekh Ahmad Ali menyusun Muzakkirat Uluumil Quran yang disampaikan kepada para mahasiswanya di fakultas usuludin jurusan dakwah dan bimbingan masyarakat.

Akhirnya muncul Mabaahits fii Uluumil Quran oleh Dr. Subhi as-Shaleh. Juga ustadz Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah ma'idah dalam quran .

Pembahasan-pembahasan tersebut dikenal dengan sebutan uluumul quran dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.

Kata ulum jamak dari kata ilmu. Ilmu berarti al-fahmu wal idrak (paham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiyah.

Jadi, yang dimaksud dengan ulumul quran ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan quran dari segi asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya Quran), pengumpulan dan penertiban Quran, pengetahuan tentang surah-surah Makkah dan Madinah, an-Nasikh wal Mansukh, al-Muhkam wal Mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Alquran. Terkadang ilmu ini juga dinamakan usuulut tafsir (dasar-dasar tafsir), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan Alquran.

(Sumber: Mabaahits fii 'Uluumil Quraan, Manna' Khaliil al-Qattaan, (Buku Mabaahits fii 'Uluumil Quraan telah diterjemahkan dengan judul Studi Ilmu-Ilmu Quran oleh Drs. Mudzakkir AS dan diterbitkan oleh PT Pustaka Litera AntarNusa, Jakarta.)

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

“Ramadan dan Mukjizat Alquran”

9/06/2009 09:28:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Wahai kaum muslimin yang berbahagia!

Bertakwalah kalian kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah sebaik-baik yang kalian upayakan, dan sebaik-baik yang kalian simpan. Dengan takwa, amalan kalian bisa suci, dan derajat kalian bisa bertambah tinggi. Dan, ketahuilah bahwa nikmat yang paling agung adalah nikmat iman dan Alquran.

Iman adalah cahaya hati, dan penerang pandangan, dan merupakan jiwa, eksistensi, keutamaan, kewibawaan seorang manusia. Tidak ada kebaikan pada diri seseorang tanpa keimanan.

Alquran adalah petunjuk dan cahaya, penyeru kepada kebaikan, pencegah semua kejahatan, dan sebagai nutrisi bagi jiwa. Di dalamnya jelas diterangkan tentang yang halal dan yang haram, dan perundang-undangan hukum dunia maupun akhirat. Barang siapa berpegang teguh dengannya, maka Allah akan menunjukinya kepada jalan yang lurus, dan barang siapa yang mengabaikannya pasti dia akan binasa. Allah berfirman, "Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (Isra: 9).

"… lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan, barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaahaa: 123--124).

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Allah menjamin bagi orang yang mengamalkan Alquran, bahwa mereka tidak akan sesat di dunia, dan mereka tidak akan celaka di akhirat." (At-Thabari).

Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang tersisa dan yang kekal, yang relevan dan diperuntukkan bagi semua generasi sampai hari kiamat, sehingga akal manusia akan merasa puas dengan bukti-bukti yang banyak untuk menundukkan manusia sehingga dia akan berserah diri kepada Allah atau sebaliknya, akan berpaling dari kebenaran dalam keadaan ingkar dan sombong setelah dia mengetahui kebenaran itu. Tetapi, hujah sudah tegak bagi Allah dan tidak ada alasan lagi bagi manusia.

Alquran ini adalah mukjizat yang kekal, yang manusia dan jin tidak mampu untuk mendatangkan suatu kitab yang serupa dengannya pada waktu Alquran tersebut diturunkan. Bahkan, jika mereka semua berkumpul untuk membuat sesuatu yang serupa, niscaya mereka tidak akan mampu.

Allah berfirman, "Katakanlah, 'sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'." (Isra: 88).

Bahkan, Allah menantang manusia dan jin untuk membuat sepuluh surat saja yang serupa dengannya, mereka semua tidak mampu. Allah berfirman, "Bahkan mereka mengatakan, 'Muhammad telah membuat-buat Alquran itu.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggilah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar'." (Huud: 13).

Dan yang terakhir, Allah menyuruh mereka untuk mendatangkan satu surah saja kalau mereka masih ragu, tetapi mereka tetap tidak mampu. Allah berfirman, "Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Alquran yang telah Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka, jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 23--24).

Allah menurunkan Alquran sebagai mukjizat dan bukti kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengetahui bahwa Alquran ini adalah benar-benar kalam (firman) Allah, dan agar mereka mengerti bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dan Muhammad saw. adalah benar-benar utusannya. Dan Alquran telah memberitahukan kita tentang sifat-sifat Allah yang sempurna, dan Allah Maha Suci dan terhindar dari setiap sifat kekurangan yang tidak layak bagi ketinggian dan keagungan-Nya.

Allah berfirman, "Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 252).

Barang siapa yang tidak yakin terhadap Alquran dan mukjizat yang terkandung di dalamnya, tidak akan bermanfaat baginya tanda-tanda dan kejadian-kejadian luar biasa.

Mukjizat Alquran terletak pada kesusastraannya, pada undang-undang hukumnya yang sangat adil dan bijaksana, pada bukti-bukti tentang alam semesta dan rahasia-rahasia alam yang diterangkannya, pada kesempurnaan ajarannya, dan pada kebenaran kabarnya baik tentang suatu yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, serta pada ketinggian maksud dan sasarannya. Selain itu, mukjizat Alquran juga terdapat pada bimbingan yang sempurna dan lengkap pada semua aspek kehidupan manusia. Alquran telah menghasilkan umat Islam untuk manusia, karena hanya dengan Alquran mereka bisa menjadi sebaik-baik umat. Sebagaimana firman Allah, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).

Oleh karena itu, engkau tidak mendapati dalam sejarah umat manusia, suatu umat yang lebih adil, lebih kasih, lebih lapang, dan lebih mulia dari pada umat Islam.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya kalian sangatlah butuh untuk berakhlak dengan sifat-sifat yang telah digariskan Alquran, yaitu dengan mengamalkan perintah-perintahnya, menjauhi apa-apa yang dilarangnya, mematuhinya dalam hal halal dan haram, dan harus mengamalkan hukumnya, dan mengimaninya secara keseluruhan. Alquran tidak akan ada faedahnya bagi kehidupan manusia, kecuali apabila jiwanya siap menerima, hatinya terbuka, dan seluruh anggota tubuhnya tunduk dan patuh terhadap janji, ancaman, dan kabar gembira yang ada di dalamnya. Seperti, firman Allah, "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu, Dia menunjuki siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang di sesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya." (Az-Zumar: 23).

Ramadan adalah saat yang tepat yang mampu memberikan pengaruh Alquran pada jiwa manusia, dan dapat menambah hidayah dan cahaya bagi seorang muslim. Ramadan adalah sebaik-baik waktu untuk membaca Alquran dan menghayatinya, karena Alquran adalah merupakan siraman rohani. Di bulan Ramadan, berlipat ganda pengendalian diri terhadap kejahatan, sehingga jiwa dan takwa meningkat dengan siraman gizi dari Alquran, dan seorang muslim bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari kalamullah tersebut, dan bersenang-senang dengan membaca Alquran karena ia merupakan konsumsi bagi jiwa dan kehidupannya. Alquran ibarat hujan yang bermanfaat, dan jiwa bagaikan bumi, sedang Ramadan seperti masa yang tepat untuk turunnya hujan sehingga akan tumbuh subur semua tanaman indah di muka bumi.

Dari Abu Musa al-Asy'ary, r.a. berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagaikan hujan yang menimpa bumi, ada bagian bumi yang baik, yang menampung air sehingga bisa menumbuhkan rerumputan yang lebat. Ada juga bagian bumi berupa tanah gundul (tidak bertumbuhan) tetapi mampu menampung air, sehingga Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia, mereka minum darinya, dan bercocok tanam. Dan ada bagian bumi yang lain lagi yaitu lembah, yang tidak mampu menampung air dan tidak dapat menumbuhkan rerumputan. Demikian itu adalah permisalan orang yang mendalami ilmu din, sehingga bisa bermanfaat baginya apa-apa yang Allah mengutusku dengannya, maka dia berilmu dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya, dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya'." (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah!

Manfaatkanlah sisa waktu Ramadan, perbanyaklah membaca Alquran dengan menghayati dan memahami maknanya, bahkan mengamalkannya. Pada bulan ini para ulama salaf mengonsentrasikan diri untuk membaca Alquran, mulut mereka basah dengan zikir kepada Allah. Di antara mereka ada yang khatam setiap tujuh hari sekali, ada yang setiap tiga hari sekali, dan ada yang khatam setiap malam.

Barang siapa beramal sesuai Alquran, berarti dia adalah ahli (golongan)nya meskipun tidak hafal. Dan barang siapa yang tidak beramal sesuai Alquran, berarti dia bukan ahlinya walaupun dia hafal. Dan barang siapa yang tidak hafal kecuali sebagian saja, hendaknya dia membaca yang dia hafal dan mengulang-ulangnya.

Bersegeralah untuk bertobat dari dosa-dosa dengan taubatan nashuha, karena tidak ada keberuntungan melainkan dengan tobat. Isilah waktu-waktu yang ada dengan amal-amal saleh, dan janganlah kalian memutus hubungan silaturahmi, karena hal itu adalah merupakan kejahatan, keputusasaan, dan dosa besar di sisi Allah.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Perbanyaklah beramal kebaikan di bulan yang mulia ini, berbuat baiklah kalian kepada para fakir miskin yang membutuhkan, demi mencontoh pribadi yang paling dermawan, yaitu Rasulullah saw.

Rajin-rajinlah kalian salat tarawih pada bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berdiri salat bersama imam hingga selesai, dicatat baginya pahala salat semalam penuh." (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmizi, dan Nasai).

Dalam hadis lain beliau bersabda, "Barang siapa yang bangun salat pada bulan Ramadan dengan keimanan dan penuh pengharapan, diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah!

Salatlah kalian, salatlah! karena salat adalah tiang agama Islam, yang mencegah dari perbuatan keji dan dosa. Barang siapa yang menjaga salatnya, berarti dia menjaga agama dan jiwanya, dan barang siapa yang meremehkannya, dirinya akan merugi dan dia telah mencampakkan agamanya. Sesuatu yang ditanyakan kepada setiap hamba pertama kali di hari kiamat adalah salat. Apabila salat diterima, diterima pula seluruh amalnya, dan apabila salatnya ditolak, ditolak pula seluruh amalnya. Dan akan dikatakan kepada orang yang meninggalkan salat, masuklah kalian ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka. Dan, ketahuilah bahwa salat jamaah adalah kewajiban yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan, bayarlah zakat harta kalian sebelum diazab karenanya. Disebutkan dalam sebuah hadis, "Barang siapa dikaruniai harta oleh Allah tetapi tidak mau membayar zakatnya, niscaya pada hari kiamat nanti hartanya akan diwujudkan sebagai ular ganas yang memiliki dua taring bisa. Ular itu melilitnya dan mencabik-cabiknya dengan kedua mulutnya sambil berkata, 'Aku adalah hartamu, aku adalah perbendaharaanmu'." (HR Bukhari).

Tutuplah bulan Ramadan dengan sebaik-baik amal yang kamu mampu, karena sesungguhnya amal perbuatan itu dilihat akhirnya. Barang siapa yang baik pada awal-awal hari puasanya, hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan menjaganya terus-menerus. Barang siapa yang kurang baik, hendaknya ia bersungguh-sungguh agar bisa menutupi kekurangannya, dan hendaknya ia bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir. Jagalah puasa kalian dengan menundukkan pandangan, dan menjaga lesan. Allah berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'." (An-Nur: 30).

Selain itu, cegahlah kejahatan dan berbanyaklah kebaikan, sebagaimana yang diwajibkan oleh Allah. Perbanyaklah zikir, karena zikir adalah amalan yang paling mulia dan paling suci di sisi Allah.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Perbanyaklah doa pada siang maupun malam hari. Perbanyaklah doa untuk kaum muslimin, pemimpin, dan ulama mereka. Malapetaka turun bertubi-tubi atas kaum muslimin disebabkan banyaknya dosa, dan tidak ada yang mampu mengangkat bala, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari bencana dan kesusahan, melainkan hanya Allah. Oleh karena itu, segeralah menuju Allah, mohonlah kepada-Nya karena Dia Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa.

"Dan, bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Ali Imran: 133--136).


(sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Sabtu, 05 September 2009

“Ulama Su', Petaka Dan Fitnah”

9/05/2009 03:08:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir." (QS. Al-Baqarah : 44)

Rasulullah SAW bersabda :

"Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah SWT berfirman : 'Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi diriku, Aku bersumpah, Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya." (HR. Tirmidzi).


 

Namanya saja ulama su' (buruk), tentu pekerjaannya merusak, mangacau, dan menyesatkan. Disebut ulama karena baju dan lisannya seperti ulama, disebut su' karena perbuatan, ajakan, dan hatinya jahat. Karena itu, ulama su' termasuk jenis manusia yang berbulu domba namun berhati serigala.

Ulama su' sekarang ini adalah generasi penerus dari ulama su' zaman dahulu. Ulama su' mengajarkan tipu daya untuk mencari celah-celah hukum Allah, sehingga mereka bisa memakan harta secara batil seperti kisah orang-orang Bani Israil yang diharamkan mencari ikan pada hari Sabtu, namun mereka halalkan dengan tipu darya yang culup terkenal itu, atau menghalalkan bangkai dengan cara menccirkannya menjadi minyak lalu dijual dan dimakan harganya.

Ulama su' adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Ia adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada katlanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, pernghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga ang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka buni ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Diantara ulama su' ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan.

Karena itu, ibnul Qayyim berkata : "Ulama su' duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia : 'Kemarilah! Kemarilah!' Sedangkan perbuatan mereka berkata : Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu." (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

Diriwayatkan bahwa Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Dawud AS : "Wahai Dawud jangan engkau jadikan antara Aku dan antara dirimu seorang alim yang sudah tergoda oleh dunia, sehingga ia bisa menghalangimu dari jalan mahabbahku. Karena sesungguhnya mereka adalah para begal yang membegal jalannya hamba-hambaKu. Sesungguhnya hukuman terkecil yang Aku kenakan untuk mereka adalah Aku cabut kelezatan bermunajat dari hati mereka." (Jami' Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Bar, I/193).

Asy-Sya'bi berkata : "Akan ada sekelompok penduduk surga yang melongok, melihat sekelompok penduduk neraka. Lalu penduduk surga menyapa mereka dengan penuh keheranan, 'Apa yang membuat kalian masuk neraka, padahal kami masuk surga karena jasa didikan dan ajaranmu?' Mereka menjawab : Sesungguhnya kami memerintahkan kalian melakukan kebaikan namun kami sendiri melakukannya."

Allah SWT telah mencela orang-orang semacam ini sejak zaman Nabi Musa AS dan mengabadikan hinaan itu di dalam kitab suci sepanjang masa, seperti dalam QS. Al-Baqarah : 44, yang artinya :"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (Mukhtashar jami' Bayanul Ilmi, Ahmad bin Umar Al-Bairuti, hal. 163).


 

Contoh Nyata

Contohnya banyak sekali, seperti ulama yang dalam muktamar telah memutuskan keharaman musik, lalu setelah pulang ke pesantrennya ternyata di rumahnya terang-terangan memutas kaset-kaset nyanyian atau bahkan santrinya direstui membentuk group musik atau qasidah. Ada lagi ulama yang dengan manisnya mengatakan bahwa tugasnya adalah berdakwah demi kesejahteraan Islam, namun di waktu lain ia malah membolehkan bahkan mengajak untuk memilih orang-orang kafir sebagai pemimpin, dan lain sebagainya.

Satu lagi termasuk kelompok ulama su' yaitu ulama yang mengajak kepada kebaikan, tetapi dengan cara-cara kefasikan, seperti berdakwah dengan musik dan gendingan. Mulutnya mengajak ke surga sementara tangan dan kakinya mengajak orang lain untuk bergoyang mengikuti syetan. Atau berdakwah dengan menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh-contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin, pemirsa dan pendengar, dengan gelak tawa dan senyuman lebar sebanyak mungkin. Tema dan isi dakwah pun dipilih dan dikemas sesuai dengan selera para panitia dan pengunjung. Mulutnya mengajak kepada iman, namun lawakan dan kebanyolannya melupakan akhirat. Intinya adalah ia mencari "ridah manusia." Jenis ulama penghibur (pelawak dan pemusik) ini tidak mengikuti aturan dakwah dalam syariat Islam, tetapi mengikuti nafsu syetan demi mengejar ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah SAW : "Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia." (HR. Tirmidzi, no. 2419).

Alhasil ulama su' adalah perusak agama, pemadam sunnah, pelindung bid'ah, pelopor maksiat. Sesungguhnya tepat ungkapan ibnul Mubarak : "Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su', dan para rahibnya."

Hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya'). Jika mereka baik, manusia akan baik dan juka mereka rusak, pasti dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/462).

Umar berkata kepada Ziyad bin Hudair : "Apakah kamu mengerti apa yang merusak Islam?" Ziyad berkata : "Tidak." Umar berkata : "Tergelincirnya seorang alim, debatnya orang munafik -dengan ayat Al-Qur'an- dan (penetapan) hukumnya para imam yang menyesatkan." (Riwayat Ad-Darimi).

Ulama su' sejatinya adalah da'i-da'i neraka. Dalam hadits Hudzaifah ra, ketika dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Sesungguhnya kita dulu ada dalam kejahiliyahan lalu Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Beliau menjawab dalam ucapannya yang panjang sampai berkata : "ya, para da'i di ambang pintu Jahannam. Siapa yang mendatangi ajakannya pasti akan mereka lemparkan ke dalamnya." (HR. Al-Bukhari, 7084, dan lain-lain).

Ulama su' menjadi musuh Allah, mereka sebegitu buruknya karena memutar balikkan urusan, maka benar-benar terbalik. Mestinya salah seorang mereka bisa menjadi pengajak dan penyeru kepada jalan Allah, ternyata mereka sesat dan menyesatkan, mengajak kepada jalan syetan. (Dari ucapan Ali ra, Ad-Dakwatul Tammah, Abdullah Al-Hadrami. hal. 42).

Ulama su' adalah ulama fasik yang akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala, karena salahnya orang yang mengerti tidak sama dengan orang yang tidak mengerti. (Mukhtashar Jami' Bayanil Ilmi, 164).

Ya Allah, jadikanlah manfaat untuk kami apa yang telah engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah terus kepada kami apa yang bermanfaat untuk kami. (Abu Hamzah As-Sanuwi).

“Keraguan Orang-Orang yang Ingkar terhadap Wahyu” (2)

9/05/2009 10:00:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

  1. Orang-orang jahiliah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa Rasulullah saw. mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa, dan renunan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham (inspirasi), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Alquran itu tidak lain dari hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retorikanya.


 

Apakah yang sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran, dan perasaan di dalam Alquran itu?

Segi berita yang merupakan bagian terbesar dalam Alquran tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya didasarkan pada penerimaan dan pengajaran. Alquran telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu, golongan-golongan dan peristiwa sejarah dengan kejadiannya yang benar dan cemat, seperti halnya yang disebutkan oleh saksi mata, sekalipun masa yang dilampaui oleh sejarah itu amat jauh, bahkaaan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwa-peristiwa di atas dengan segala macam kurun waktunya, sehingga beliau dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu dan menyampaikan beritanya. Demikain pula, beliau tidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara terperinci dan kemudian menyampaikan beritanya.

"Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi sebelah barat lembah Tuwa ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi, kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul." (Al-Qashash: 44--45).

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak pula kaummu sebelum ini." (Hud: 49).

"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yusuf: 3).

"Padahal kamu tidak hadir beserta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam." (Ali Imran: 44).

Dan, di antaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angka hitungan yang tidak diketahui oleh orang yang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya.

"Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (Al-Ankabut: 14).

Hal ini sesuai apa yang terdapat dalam kitab kejadian di dalam Taurat. Dan, di dalam kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua), "Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi." (Al-Kahfi: 25).

Hitungan itu menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari. Sedang sembilan tahun yang disebutkan di atas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan tahun bulan. Dari manakah Muhammad memperolah angka-angka yang benar ini, seandainya bukan karena wahyu yang diberikan keapdanya, sebab dia adalah seorang buta huruf yang hidup di kalangan bangsa yang buta huruf pula, tidak tahu tulis-menulis dan berhitung. Orang-orang jahiliah lama lebih pintar dalam menentang Muhammad daripada orang-orang jahiliah modern. Sebab, orang jahiliah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapat berita ini dari kesadaran dirinya seperti dikatakan orang-orang jahiliah modern, tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad memperoleh berita ini dan kemudian dituliskan.

"Dan, mereka berkata, 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan-dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang'." (Al-Furqaan: 5).

Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun (akan kami jelaskan nanti), jadi dari manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika di waktu usianya telah empat puluh tahun?

"Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An-Najm: 4).

Itulah mengenai segi berita dalam Alquran, belum lagi ilmu-ilmu lain yang ada di dalamnya. Bagian akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terinci tentang permulaan makhluk dan kesudahannya, kehidupan akhirat dan apa yang ada di dalamnya, seperti surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala azabnya dan lain sebagainya, seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini semua tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.

"Dan, tidaklah Kami jadikan penjaga-penjaga neraka itu melainkan dari para malaikat, dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya ...." (Al-Muddatstsir: 31).

"Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat-buat selain Allah, akan tetapi Alquran itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah diterapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, diturunkan dari Rab semesta alam." (Yunus: 37).

Begitu pula ketentuan-ketentuan yang memberikan keputusan tentang berita-berita yang akan datang yang berlaku pada sunatullah yang bersifat sosial mengenai kekuatan dan kelemahan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat dalam Alquran.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku." (An-Nuur: 55).

"Allah pasti akan menolong orang yang membela agama-Nya, Allah benar-benar Maha Kuat Maha Perkasa. Yaitu, orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan." (Al-Hajj: 40--41).

"Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, kalau kaum itu tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Al-Anfaal: 53).

Dapat ditambahkan pula, bahwa Alquran Karim telah menceritakan tentang Rasulullah saw. bahwa dia hanyalah mengikuti wahyu.

"Dan, apabila kamu tidak membawa suatu ayat Alquran kepada mereka, mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Rabku kepadaku ...'."(Al-A'raaf: 203).

Dan, bahwa dia adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dan tidak pula berkuasa atas dirinya sedikit pun.

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, aku mendapat wahyu, tetapi sesungguhnya Ilah kamu adalah Ilah yang Maha Esa'." (Al-Kahfi: 110).

"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik manfaat untuk diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan, sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku hanyalah memberi peringatan dan membawa berita gembira'." (Al-A'raaf: 188).

Rasulullah saw. tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang berselisih yang datang menghadapnya untuk meminta keputusan, meskipun ia mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.

"Rasulullah saw. telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi di dekat pintu kamar beliau. Ia mendatangi mereka dan berkata, 'Aku hanyalah seorang manusia, sedang kamu meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu pihak dari kamu akan lebih baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya. Yang kuputuskan dengan memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang muslim itu adalah sepotong api neraka. Dia boleh mengambilnya dan boleh pula meninggalkannya'." (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah).

Dr. Muhammad Abdullah Daraz mengatakan, "Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang ateis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiah yang baru. Tetapi, hal itu sebenarnya tidaklah baru, itu adalah pendapat jahiliah yang kuno, tidak berbeda sedikit pun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka melukiskan Nabi saw. sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas dan perasaan yang dalam, maka dari itu beliau adalah seorang penyair.

Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang bicara kepadanya. Apa yang dilihat dan didengarnya itu tidak lain dari gambaran khayal dan perasaan sendirinya saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun, mereka tidak bisa berlama-lama mempertahankan alasan-alasan ini. Mereka terpaksa harus meninggalkan istilah "gerak hati"(al-wahyun an-nafsi) itu, ketika mereka melihat bahwa di dalam Alquran terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita masa yang akan datang. Mereka mengatakan, mungkin berita-berita itu diperoleh dari para ahli ketika ia pergi berdagang. Dengan demikian berarti dia diajar oleh seorang manusia. Jadi, manakah yang baru dalam pendapat ini semua? Bukankah hal itu hanyalah omongan biasa yang menyerupai omongan kaum Quraisy? Demikianlah, ateisme dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang kotor, bahkan amat kotor. Itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah "maju" di masa kini. Padahal, ia hanya sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh hati yang sudah membatu di masa jahiliah pertama. "... demikianlah orang-orang yang sebelum itu berkata, persis seperti perkataan mereka. Memang hati mereka itu serupa ...." (Al-Baqarah: 118).

Namun demikian, kalau ada orang yang merasa heran, yang lebih mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang menyebutkan bahwa dia (Muhammad) adalah orang yang jujur dan terpercaya, dan bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi, sebab mimpi-mimpinya yang kuat itu menyatakan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau menjadi saksi kecuali apa yang dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. "Sebenarnya mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (Al-An'am: 33).

Apabila ini alasan Rasulullah dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengarnya, apakah alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga tidak kaumnya sebelum itu, sedang menurut sangkaan mereka dia telah mendengarnya sebelumnya? Dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia mengada-ada, agar tuduhan mereka itu sempurna. Tetapi, mereka tidak mau menyatakan kata-kata itu, sebab mereka mendakwakan diri mereka sebagai orang yang objektif dan bijaksana. Ingatlah sebenarnya mereka telah mengatakannya tetapi tidak merasa.


Bersambung ...!

(Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Qur'an, Manna Khalil al-Qattan, Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Jumat, 04 September 2009

“I K H L A S H” (2)

9/04/2009 07:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Su`udzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi busuk karena apapun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berfikir, cara kita bersikap dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah bagi orang-orang yang bisa berkhusnudzon atau berbaik sangka.

Hikam:

"Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang diantara mu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang." (QS. Al-Hudzurot: 12)

"Aku ini bagaimana prasangka hambaku kalau ia berprasangka baik maka ia akan mendapat kebaikan, bila ia berprasangka buruk maka keburukan akan menimpanya."

Buruk sangka atau su`udzon dapat merusak hati kita, merusak kebahagiaan kita, merusak akhlak kita, juga merusak apa yang dijanjikan Allah kepada kita. Orang yang gemar berburuk sangka adalah sedusta-dustanya perkataan, dalam berbaik sangka atau husnudzon bukannya membenarkan kesalahan tapi minimal kita jadi tenang, kalau hati sudah tenang, pikiran jernih keputusan bisa kita ambil dengan sikap yang tepat. Tetapi husnudzon itu hanya kepada orang yang beriman karena jika husnudzon tidak menggunakan ilmu maka akan mendatangkan masalah buat kita.

Wanita dilarang oleh Allah sembarang menerima tamu laki-laki, karena itu akan membuat tidak aman dan akan mendatangkan fitnah bagi wanita tersebut. Oleh karena itu menerima tamu di depan rumah bagi wanita bukannya menghina tamu tapi demi keamanan dan menghindarkan fitnah dari orang lain. Jika kita berburuk sangka kepada orang dan orangnya sudah meninggal, maka yang kita lakukan adalah bertaubat dan minta ampun kepada Allah serta mendo`akan orang tersebut.

Mudah-mudahan kita bisa memiliki hati yang jernih dan akan mengakibatkan sikap kita pun menjadi jernih.

(m-Qolbu - KH Abdullah Gymnastiar)

“I K H L A S H”

9/04/2009 06:35:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!

Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahuakbar.***

(m-Qolbu - KH Abdullah Gymnastiar)

Kamis, 03 September 2009

“Dan Umar pun Menangis”

9/03/2009 12:16:00 PM Posted by Ady'S No comments

Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis?
Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa, sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.

Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?" Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera". Nabi berkata, "Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga. Sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir.

Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.

Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar.

Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur'an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, "Air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat".

Bersiaplah, untuk menyelam di "lautan akherat". Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita, dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.


 

(Sumber : Nadirsyah Hosen; Armidale; 10 September 1997 (Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta))

“Bumi Ini Milik Kita”

9/03/2009 12:08:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Al-anbiya: 105-107).

Dalam kitab tafsir disebutkan maksud dari kata hamba-hamba-Ku yang saleh adalah umat Islam. Sementara maksud dari kata peringatan bagi kaum yang menyembah Allah adalah para pengikut Rasulullah saw, seorang rasul yang diutus untuk seluruh alam, rahmatan lil 'alamin.

Dalam ayat di atas jelas bahwa yang berhak mewarisi bumi ini adalah umat Islam. Namun, upaya apa saja yang harus ditempuh agar umat Islam mewarisi bumi tersebut? Allah SWT telah menetapkan bahwa kepemilikan terhadap bumi tersebut sangatlah berkaitan dengan kebaikan, ibadah, dan ketaatan. Ini adalah sunah Allah.

Kalau kita melihat sejarah para salafus saleh, kita dapati mereka telah berhasil mewarisi bumi ini dengan kebaikan dan ketaatan yang mereka lakukan. Mereka beribadah kepada Allah dengan apa yang telah disyariatkan dan dicintai-Nya. Mereka lebih mementingkan ridha Allah ketimbang kemurkaan setan dan tangan-tangannya. Mereka berhasil menundukkan hawa nafsu. Mereka mendengarkan firman Allah dengan telinga penuh perhatian dan hati yang tunduk, sementara badannya sibuk dengan zikir dan beribadah kepada-Nya.

Mereka lebih takut kepada maksiat ketimbang kepada para musuh. Karena, maksiat menurut keyakinan mereka akan menghalangi dirinya dari taufik Allah. Mereka juga meyakini bahwa pertolongan itu ada di tangan Allah. Allah berfirman, "Dan tidaklah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah."(Ali-Imran: 126). Pertolongan adalah hadiah yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Marilah kita melihat pesan Umar al-Faruq yang disampaikan kepada Sa'ad bin Abi Waqqas, komandan pasukan muslim, "Saya memerintahkan kepadamu dan para tentaramu agar bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan. Karena, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan melawan musuh dan sekuat-kuat siasat dalam memeranginya. Saya memerintahkan kepadamu dan orang-orang bersamamu agar benar-benar lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat daripada musuh kalian. Karena, dosa tentara itu lebih mereka takuti daripada para musuhnya. Sesungguhnya kemenangan kaum muslimin diperoleh dari perbuatan maksiat musuh kalian. Kalau tidak karena itu, niscaya kita tidak memiliki kekuatan. Karena, jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah mereka dan persiapan kita tidaklah sebaik persiapan mereka. Maka, bila jumlah maksiat kita sama dengan jumlah maksiat yang diperbuat musuh, kekuatan mereka lebih dominan daripada kekuatan kita. Karena, kita tidak mengalahkan mereka dengan kelebihan dan kekuatan yang kita miliki. Maka, mintalah pertolongan kepada Allah terhadap diri kalian sebagaimana engkau meminta pertolongan atas musuh kalian."

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Hari ini tentara maksiat itu tengah menyerang umat Islam lebih keras daripada tentara musuh.

Allah SWT berfirman: "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun...." Maka, bila umat ini belum bisa meninggalkan maksiat sebagaimana telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, niscaya umat ini akan hancur.

Hari ini kemungkaran dan kemaksiatan telah menyebar di mana-mana. Zina, riba, wanita "telanjang", pembunuhan, khamr, judi, dan kemaksiatan lainnya adalah pemandangan yang bisa dengan mudah kita jumpai di tengah kehidupan kita. Tentunya hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Beliau bersabda, "Bagaimana (kondisi) kalian bila terjerumus ke dalam lima perkara yang aku berlindung kepada Allah SWT agar kalian tidak terjerumus di dalamnya. (Pertama), bila sebuah kaum telah melakukan zina secara terang-terangan, Allah akan menimpakan mereka penyakit pes dan rasa lapar yang belum pernah terjadi pada umat sebelumnya. (Kedua), bila sebuah kaum telah melarang zakat, Allah akan menahan air hujan dari langit. Dan kalaulah tidak karena binatang, niscaya Allah tidak akan menurunkannya. (Ketiga), tidaklah sebuah kaum mengurangi timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka musibah bertahun-tahun, bekal makanan yang sulit, dan penguasa yang zalim. (Keempat), seseorang yang menggunakan hukum selain Allah, niscaya mereka akan dikuasai para musuhnya dan mereka akan mengambil apa yang ada dalam tangannya. (Kelima), tidaklah (sebuah kaum) melenyapkan Kitab Allah dan sunah nabi-Nya kecuali Allah akan menimpakan di antara mereka (sesuatu) yang paling buruk. "

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah!

Barangkali kemaksiatan ini telah muncul di tengah-tengah umat kita hari ini. Marilah kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Wallahu A'lam


 

(Sumber : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)


 

Rabu, 02 September 2009

“RAMADHAN BULAN LATIHAN DIRI”

9/02/2009 03:36:00 PM Posted by Ady'S No comments

Bulan Ramadhan bisa diibaratkan sebagai lahan subur yang siap ditaburi benih-benih kebijakan. Siapa yang menabur, maka ia akan manuai hasil sesuai yg ditanam. Siapa yang melatih diri dalam bentuk menahan diri dengan berpuasa, niscaya ia akan sukses menghadapi segala tantangan ke depan.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci. Ia diibaratkan sebagai lahan yang subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang dipersilahkan menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannnya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna. Dari sini sangat penting memanfaatkan lahan itu dan penting pula memilih benih yang ditabur.

Salah satu yang terpenting dalam bulan ini adalah menahan diri dengan berpuasa. Ia merupakan cara yang paling efektif untuk melatih diri menghadapi segala tantangan yang merupakan syarat mutak untuk meraih kesenangan dan kesejahteraan. Ia dibutuhkan oleh setiap orang, baik  kaya atau miskin, muda atau tua, lelaki atau perempuan, sehat atau sakit, manusia modern yang hidup masa kini maupun manusia primitif yang hidup masa lalu.

Karena itu, cara yang paling efektif untuk menciptakan kemampuan itu adalah berpuasa. Itu pula sebabnya kenapa sejak dahulu hingga kini putera-puteri Adam berpuasa dengan berbagai tujuan. Bahkan, tidak jarang mereka sendiri yang mewajibkan atas dirinya, Agaknya, itu sebabnya al-Qur'an menggunakan kata "diwajibkan" pada firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa" (al-Baqarah: 183). Ayat ini tidak menyebut siapa yang mewajibkan untuk memberi isyarat tentang hal tersebut.

Ini berarti seandainya bukan Allah yang mewajibkan puasa, niscaya manusia sendiri yang mewajibkannya. Memang Rasulullah Saw. juga menegaskan bahwa "Seandainya manusia mengetahui keistimewaan bulan Ramadhan, niscaya mereka ingin agar sepanjang tahun adalah Ramadhan". Karena puasa dibutuhkan oleh setiap manusia kapan dan di manapun, maka tidak heran jika semua agama mengenalnya. Bukan hanya agama-agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam, tetapi selainnya pun demikian.

Pakar-pakar perbandingan agama menyebutkan bahwa orang-orang Mesir Kuno pun - sebelum mereka mengenal agama samawi --  telah mengenal puasa. Dari mereka praktek puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama-agama penyembah bintang. Ibnu an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat menyebutkan, agama para penyembah bintang berpuasa tiga puluh hari dalam setahun, ada pula puasa sunnah sebanyak 16 hari dan ada juga yang 27 hari. Puasa mereka sebagai penghormatan kepada bulan, juga kepada bintang Mars yang dipercaya sebagai bintang nasib, dan juga kepada matahari.

Walaupun inti dari setiap puasa adalah menahan diri, namun cara dan tujuan akhirnya berbeda-beda antara satu agama dengan agama lain, bahkan boleh jadi  antara seorang dengan orang lain. Dari sini diperlukan pengetahuan tentang tata cara puasa menurut tuntunan agama serta tujuan pokoknya, bahkan diperlukan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan kehadirannya dan benih-benih apa saja yang harus ditabur pada lahannya.

Satu hal yang ingin penulis garis bawahi menyangkut ciri ajaran Islam, dalam konteks pelaksanaan ritualitas puasa Ramadhan, yaitu kesatuannya dalam prinsip-prinsip pokok dan keragamannya dalam rincian ajaran. Ini karena rincian permasalahan yang lahir dari aktivitas manusia, sejak kehadiran Islam hingga kini, jauh melebihi teks-teks al-Quran dan Hadis yang menjadi sumber rujukan. Dari sini pakar-pakar hukum berupaya sekuat tenaga dan pikiran untuk menganalisis dan menalar berbagai teks tersebut guna menemukan ketetapan hukum menyangkut rincian permasalahan yang lahir itu.

Tidak jarang hasil penalaran mereka berbeda, bukan saja diakibatkan oleh perbedaan kondisi masyarakat dan perkembangan ilmu, tetapi juga karena perbedaan cara penalaran dan syarat-syaratnya, dan bahkan boleh jadi karena perbedaan rujukannya, di mana yang satu merujuk pada teks A sedangkan yang lain merujuk pada teks B.

Di sisi lain perlu diingat bahwa Rasullulah Saw. yang hidup di tengah umatnya sebagai nabi dan rasul selama lebih kurang 23 tahun, tidak jarang pula mengucapkan, memperagakan cara yang berbeda, atau membenarkan keragaman cara yang diperagakan para sahabat beliau. Sehingga, lahir apa yanng dikenal dengan istilah "tanawwu' al-'ibadah" (keragaman cara beribadah).

Berdasarkan faktor-faktor itu - dan masih banyak lainnya - maka seringkali ditemukan perbedaan dan keragaman dalam rincian, seperti penentuan awal Ramadhan dan jumlah raka'at taraweh misalnya. Namun, kiranya semua dapat diterima, walau berbeda, selama bersumber dari pemahaman yang bertanggung jawab terhadap teks-teks al-Quran dan Sunnah. Apa yang dikemukakan di atas - sedikit atau banyak - tercermin dalam tulisan ini.


Sumber : Disunting dari Sekapur Sirih M. Quraish Shihab dalam buku "Panduan Puasa bersama Quraish Shihab" yang diterbitkan oleh Penerbit Republika, cet. V, 2001.

Selasa, 01 September 2009

PUASA (2)

9/01/2009 03:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

d.     Wa 'alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha'amu miskin (Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184).

Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak ulama tafsir. Ada yang berpendapat bahwa pada mulanya Allah Swt. memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit, yakni bagi kedua kelompok ini terdapat dua kemungkinan: (1) musafir dan orang yang merasa berat untuk berpuasa, maka ketika itu dia harus berbuka; dan (2) ada juga di antara mereka, yang pada hakikatnya mampu berpuasa, tetapi enggan karena kurang sehat dan atau dalam perjalanan, maka bagi mereka diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.

Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan mayoritas ulama. Mayoritas memahami penggalan ini berbicara tentang orang-orang tua atau orang yang mempunyai pekerjaan yang sangat berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka dalam kondisi semacam ini mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian juga halnya terhadap orang yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam pesan penggalan ayat di atas adalah wanita-wanita hamil dan atau menyusui.

Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:

Wanita yang hamil dan menyusui wajib membayar fidyah dan mengganti puasanya di hari lain, seandainya yang mereka khawatirkan adalah janin atau anaknya yang sedang menyusui. Tetapi bila yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus membayar fidyah.

Fidyah dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama ia tidak berpuasa. Ada yang berpendapat sebanyak setengah sha' (gantang) atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu mud yakni sekitar lima perenam liter, dan ada lagi yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang berlaku pada setiap masyarakat.

 
 

e.     Uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila nisa'ikum (Dihalalkan kepada kamu pada malam Ramadhan bersebadan dengan istri-istrimu) (QS Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat ini membolehkan hubungan seks (bersebadan) di malam hari bulan Ramadhan, dan ini berarti bahwa di siang hari Ramadhan, hubungan seks tidak dibenarkan. Termasuk dalam pengertian hubungan seks adalah "mengeluarkan sperma" dengan cara apapun. Karena itu walaupun ayat ini tak melarang ciuman, atau pelukan antar suami-istri, namun para ulama mengingatkan bahwa hal tersebut bersifat makruh, khususnya bagi yang tidak dapat menahan diri, karena dapat mengakibatkan keluarnya sperma. Menurut istri Nabi, Aisyah r.a., Nabi Saw. pernah mencium istrinya saat berpuasa. Nah, bagi yang mencium atau apa pun selain berhubungan seks, kemudian ternyata "basah", maka puasanya batal; ia harus menggantinya pada hari lain. Tetapi mayoritas ulama tidak mewajibkan yang bersangkutan membayar kaffarat, kecuali jika ia melakukan hubungan seks (di siang hari), dan kaffaratnya dalam hal ini berdasarkan hadis Nabi adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka ia harus memerdekakan hamba. Jika tidak mampu juga, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.

Bagi yang melakukan hubungan seks di malam hari, tidak harus mandi sebelum terbitnya fajar. Ia hanya berkewajiban mandi sebelum terbitnya matahari --paling tidak dalam batas waktu yang memungkinkan ia shalat subuh dalam keadaan suci pada waktunya. Demikian pendapat mayoritas ulama.

 
 

f.     Wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr (Makan dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar).

Ayat ini membolehkan seseorang untuk makan dan minum (juga melakukan hubungan seks) sampai terbitnya fajar.

Pada zaman Nabi, beberapa saat sebelum fajar, Bilal mengumandangkan azan, namun beliau mengingatkan bahwa bukan itu yang dimaksud dengan fajar yang mengakibatkan larangan di atas. Imsak yang diadakan hanya sebagai peringatan dan persiapan untuk tidak lagi melakukan aktivitas yang terlarang. Namun bila dilakukan, maka dari segi hukum masih dapat dipertanggungjawabkan selama fajar (waktu subuh belum masuk).

Perlu dingatkan, bahwa hendaknya kita jangan terlalu mengandalkan azan, karena boleh jadi muazin mengumandangkan azannya setelah berlalu beberapa saat dari waktu subuh. Karena itu sangat beralasan untuk menghentikan aktivitas tersebut saat imsak.

 
 

g.     Tsumma atimmush shiyama ilal lail (Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam).

Penggalan ayat ini datang setelah ada izin untuk makan dan minum sampai dengan datangnya fajar. Puasa dimulai dengan terbitnya fajar, dan berakhir dengan datangnya malam. Persoalan yang juga diperbincangkan oleh para ulama adalah pengertian malam. Ada yang memahami kata malam dengan tenggelamnya matahari walaupun masih ada mega merah, dan ada juga yang memahami malam dengan hilangnya mega merah dan menyebarnya kegelapan. Pendapat pertama didukung oleh banyak hadis Nabi Saw., sedang pendapat kedua dikuatkan oleh pengertian kebahasaan dari lail yang diterjemahkan "malam". Kata lail berarti "sesuatu yang gelap" karenanya rambut yang berwarna hitam pun dinamai lail.

Pendapat pertama sejalan juga dengan anjuran Nabi Saw. Untuk mempercepat berbuka puasa, dan memperlambat sahur. Pendapat kedua sejalan dengan sikap kehatian-hatian karena khawatir magrib sebenarnya belum masuk.

Demikian sedikit dari banyak aspek hukum yang dicakup oleh ayat-ayat yang berbicara tentang puasa Ramadhan.

 
 


 

TUJUAN BERPUASA

Secara jelas Al-Quran menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan atau la'allakum tattaqun. Dalam rangka memahami tujuan tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw. misalnya, "Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu daripuasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga."

Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa "Allah menghendaki untuk kamu kemudahan bukan kesulitan."

Di sisi lain, dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, "Semua amal putra-putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya."

Ini berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri. Bukankah manusia yang berpuasa dapat bersembunyi untuk minum dan makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan atau minum pada saat-saat tertentu dari siang hari puasa? Nah, kalau demikian, apa motivasinya menahan diri dan keinginan itu? Tentu bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian, dia dapat saja bersembunyi dari pandangan mereka. Di sini disimpulkan bahwa orang yang berpuasa, melakukannya demi karena Allah Swt. Demikian antara lain penjelasan sementara ulama tentang keunikan puasa dan makna hadis qudsi di atas.

Sementara pakar ada yang menegaskan bahwa puasa dilakukan manusia dengan berbagai motif, misalnya, protes, turut belasungkawa, penyucian diri, kesehatan, dan sebagai-nya. Tetapi seorang yang berpuasa Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata. Di sini Anda boleh bertanya, "Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada takwa?" Untuk menjawabnya terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan takwa.

 
 


 

PUASA DAN TAKWA

Takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, "Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah."

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam. 

a.     Siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya, "Makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit," "Tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana", atau "Api panas, dan membakar", dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

b.     Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa)."

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa. Puasa seperti yang dikemukakan di atas adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt.

 
 


 

PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT ALLAH

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Nabi Saw. memerintahkan, "Takhallaqu bi akhlaq Allah" (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu makan, minum, dan hubungan seks. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: "Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?" (QS Al-An'am [6]: 101)

"Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak." (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Quran juga memerintahkan Nabi Saw. untuk menyampaikan, Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...? (QS Al-An'am [6]: 14).

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak 99 (sembilan puluh sembilan) sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk Ilahi. Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Saw. menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

 
 


 

PUASA UMAT TERDAHULU

Puasa telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Kama kutiba 'alal ladzina min qablikum (Sebagaimana diwajibkan atas (umat-umat) yang sebelum kamu). Dari segi ajaran agama, para ulama menyatakan bahwa semua agama samawi, sama dalam prinsip-prinsip pokok akidah, syariat, serta akhlaknya. Ini berarti bahwa semua agama samawi mengajarkan keesaan Allah, kenabian, dan keniscayaan hari kemudian. Shalat, puasa, zakat, dan berkunjung ke tempat tertentu sebagai pendekatan kepada Allah adalah prinsip-prinsip syariat yang dikenal dalam agama-agama samawi. Tentu saja cara dan kaifiatnya dapat berbeda, namun esensi dan tujuannya sama.

Kita dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat islam dan umat-umat terdahulu?

Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. Binatang --khususnya binatang-binatang tertentu-- tidak demikian. Nalurinya telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga --misalnya-- ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Manusia sekali lagi tidak demikian. Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia --betapa pun besarnya-- memiliki keterbatasan, sehingga apabila aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan faali misalnya-- maka arah yang lain, --mental spiritual-- akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Sebagaimana disinggung di atas, esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.

Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat. Tidak heran jika puasa telah dikenal oleh umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan oleh Al-Quran.

Dari penjelasan ini, kita dapat melangkah untuk menemukan salah satu jawaban tentang rahasia pemilihan bentuk redaksi pasif dalam menetapkan kewajiban puasa. Kutiba 'alaikumush shiyama (diwajibkan atas kamu puasa), tidak menyebut siapa yang mewajibkannya?

Bisa saja dikatakan bahwa pemilihan bentuk redaksi tersebut disebabkan karena yang mewajibkannya sedemikian jelas dalam hal ini adalah Allah Swt. Tetapi boleh jadi juga untuk mengisyaratkan bahwa seandainya pun bukan Allah yang mewajibkan puasa, maka manusia yang menyadari manfaat puasa, dan akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi berpuasa (tidak makan atau mengendalikan diri) yang selama ini dilakukan manusia, bukan semata-mata atas dorongan ajaran agama. Misalnya demi kesehatan, atau kecantikan tubuh, dan bukankah pula kepentingan pengendalian diri disadari oleh setiap makhluk yang berakal?

Di sisi lain bukankah Nabi Saw. bersabda, "Seandainya umatku mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh Ramadhan, niscaya mereka mengharap seluruh bulan menjadi Ramadhan."

 
 


 

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr."

Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar itu, yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Di sisi lain --sebagaimana disinggung pada awal uraian— bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung pesan tentang kedekatan Allah Swt. Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa siapa pun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadis-hadis Nabi diperoleh pula penjelasan tentang keistimewaan bulan suci ini. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia. (selesai)


 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan)

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.