Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Sabtu, 05 September 2009

“Ulama Su', Petaka Dan Fitnah”

9/05/2009 03:08:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir." (QS. Al-Baqarah : 44)

Rasulullah SAW bersabda :

"Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah SWT berfirman : 'Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi diriku, Aku bersumpah, Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya." (HR. Tirmidzi).


 

Namanya saja ulama su' (buruk), tentu pekerjaannya merusak, mangacau, dan menyesatkan. Disebut ulama karena baju dan lisannya seperti ulama, disebut su' karena perbuatan, ajakan, dan hatinya jahat. Karena itu, ulama su' termasuk jenis manusia yang berbulu domba namun berhati serigala.

Ulama su' sekarang ini adalah generasi penerus dari ulama su' zaman dahulu. Ulama su' mengajarkan tipu daya untuk mencari celah-celah hukum Allah, sehingga mereka bisa memakan harta secara batil seperti kisah orang-orang Bani Israil yang diharamkan mencari ikan pada hari Sabtu, namun mereka halalkan dengan tipu darya yang culup terkenal itu, atau menghalalkan bangkai dengan cara menccirkannya menjadi minyak lalu dijual dan dimakan harganya.

Ulama su' adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Ia adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada katlanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, pernghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga ang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka buni ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Diantara ulama su' ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan.

Karena itu, ibnul Qayyim berkata : "Ulama su' duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia : 'Kemarilah! Kemarilah!' Sedangkan perbuatan mereka berkata : Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu." (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

Diriwayatkan bahwa Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Dawud AS : "Wahai Dawud jangan engkau jadikan antara Aku dan antara dirimu seorang alim yang sudah tergoda oleh dunia, sehingga ia bisa menghalangimu dari jalan mahabbahku. Karena sesungguhnya mereka adalah para begal yang membegal jalannya hamba-hambaKu. Sesungguhnya hukuman terkecil yang Aku kenakan untuk mereka adalah Aku cabut kelezatan bermunajat dari hati mereka." (Jami' Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Bar, I/193).

Asy-Sya'bi berkata : "Akan ada sekelompok penduduk surga yang melongok, melihat sekelompok penduduk neraka. Lalu penduduk surga menyapa mereka dengan penuh keheranan, 'Apa yang membuat kalian masuk neraka, padahal kami masuk surga karena jasa didikan dan ajaranmu?' Mereka menjawab : Sesungguhnya kami memerintahkan kalian melakukan kebaikan namun kami sendiri melakukannya."

Allah SWT telah mencela orang-orang semacam ini sejak zaman Nabi Musa AS dan mengabadikan hinaan itu di dalam kitab suci sepanjang masa, seperti dalam QS. Al-Baqarah : 44, yang artinya :"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (Mukhtashar jami' Bayanul Ilmi, Ahmad bin Umar Al-Bairuti, hal. 163).


 

Contoh Nyata

Contohnya banyak sekali, seperti ulama yang dalam muktamar telah memutuskan keharaman musik, lalu setelah pulang ke pesantrennya ternyata di rumahnya terang-terangan memutas kaset-kaset nyanyian atau bahkan santrinya direstui membentuk group musik atau qasidah. Ada lagi ulama yang dengan manisnya mengatakan bahwa tugasnya adalah berdakwah demi kesejahteraan Islam, namun di waktu lain ia malah membolehkan bahkan mengajak untuk memilih orang-orang kafir sebagai pemimpin, dan lain sebagainya.

Satu lagi termasuk kelompok ulama su' yaitu ulama yang mengajak kepada kebaikan, tetapi dengan cara-cara kefasikan, seperti berdakwah dengan musik dan gendingan. Mulutnya mengajak ke surga sementara tangan dan kakinya mengajak orang lain untuk bergoyang mengikuti syetan. Atau berdakwah dengan menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh-contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin, pemirsa dan pendengar, dengan gelak tawa dan senyuman lebar sebanyak mungkin. Tema dan isi dakwah pun dipilih dan dikemas sesuai dengan selera para panitia dan pengunjung. Mulutnya mengajak kepada iman, namun lawakan dan kebanyolannya melupakan akhirat. Intinya adalah ia mencari "ridah manusia." Jenis ulama penghibur (pelawak dan pemusik) ini tidak mengikuti aturan dakwah dalam syariat Islam, tetapi mengikuti nafsu syetan demi mengejar ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah SAW : "Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia." (HR. Tirmidzi, no. 2419).

Alhasil ulama su' adalah perusak agama, pemadam sunnah, pelindung bid'ah, pelopor maksiat. Sesungguhnya tepat ungkapan ibnul Mubarak : "Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su', dan para rahibnya."

Hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya'). Jika mereka baik, manusia akan baik dan juka mereka rusak, pasti dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/462).

Umar berkata kepada Ziyad bin Hudair : "Apakah kamu mengerti apa yang merusak Islam?" Ziyad berkata : "Tidak." Umar berkata : "Tergelincirnya seorang alim, debatnya orang munafik -dengan ayat Al-Qur'an- dan (penetapan) hukumnya para imam yang menyesatkan." (Riwayat Ad-Darimi).

Ulama su' sejatinya adalah da'i-da'i neraka. Dalam hadits Hudzaifah ra, ketika dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Sesungguhnya kita dulu ada dalam kejahiliyahan lalu Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Beliau menjawab dalam ucapannya yang panjang sampai berkata : "ya, para da'i di ambang pintu Jahannam. Siapa yang mendatangi ajakannya pasti akan mereka lemparkan ke dalamnya." (HR. Al-Bukhari, 7084, dan lain-lain).

Ulama su' menjadi musuh Allah, mereka sebegitu buruknya karena memutar balikkan urusan, maka benar-benar terbalik. Mestinya salah seorang mereka bisa menjadi pengajak dan penyeru kepada jalan Allah, ternyata mereka sesat dan menyesatkan, mengajak kepada jalan syetan. (Dari ucapan Ali ra, Ad-Dakwatul Tammah, Abdullah Al-Hadrami. hal. 42).

Ulama su' adalah ulama fasik yang akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala, karena salahnya orang yang mengerti tidak sama dengan orang yang tidak mengerti. (Mukhtashar Jami' Bayanil Ilmi, 164).

Ya Allah, jadikanlah manfaat untuk kami apa yang telah engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah terus kepada kami apa yang bermanfaat untuk kami. (Abu Hamzah As-Sanuwi).

“Keraguan Orang-Orang yang Ingkar terhadap Wahyu” (2)

9/05/2009 10:00:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

  1. Orang-orang jahiliah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa Rasulullah saw. mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa, dan renunan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham (inspirasi), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Alquran itu tidak lain dari hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retorikanya.


 

Apakah yang sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran, dan perasaan di dalam Alquran itu?

Segi berita yang merupakan bagian terbesar dalam Alquran tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya didasarkan pada penerimaan dan pengajaran. Alquran telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu, golongan-golongan dan peristiwa sejarah dengan kejadiannya yang benar dan cemat, seperti halnya yang disebutkan oleh saksi mata, sekalipun masa yang dilampaui oleh sejarah itu amat jauh, bahkaaan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwa-peristiwa di atas dengan segala macam kurun waktunya, sehingga beliau dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu dan menyampaikan beritanya. Demikain pula, beliau tidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara terperinci dan kemudian menyampaikan beritanya.

"Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi sebelah barat lembah Tuwa ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi, kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul." (Al-Qashash: 44--45).

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak pula kaummu sebelum ini." (Hud: 49).

"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yusuf: 3).

"Padahal kamu tidak hadir beserta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam." (Ali Imran: 44).

Dan, di antaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angka hitungan yang tidak diketahui oleh orang yang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya.

"Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (Al-Ankabut: 14).

Hal ini sesuai apa yang terdapat dalam kitab kejadian di dalam Taurat. Dan, di dalam kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua), "Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi." (Al-Kahfi: 25).

Hitungan itu menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari. Sedang sembilan tahun yang disebutkan di atas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan tahun bulan. Dari manakah Muhammad memperolah angka-angka yang benar ini, seandainya bukan karena wahyu yang diberikan keapdanya, sebab dia adalah seorang buta huruf yang hidup di kalangan bangsa yang buta huruf pula, tidak tahu tulis-menulis dan berhitung. Orang-orang jahiliah lama lebih pintar dalam menentang Muhammad daripada orang-orang jahiliah modern. Sebab, orang jahiliah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapat berita ini dari kesadaran dirinya seperti dikatakan orang-orang jahiliah modern, tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad memperoleh berita ini dan kemudian dituliskan.

"Dan, mereka berkata, 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan-dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang'." (Al-Furqaan: 5).

Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun (akan kami jelaskan nanti), jadi dari manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika di waktu usianya telah empat puluh tahun?

"Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An-Najm: 4).

Itulah mengenai segi berita dalam Alquran, belum lagi ilmu-ilmu lain yang ada di dalamnya. Bagian akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terinci tentang permulaan makhluk dan kesudahannya, kehidupan akhirat dan apa yang ada di dalamnya, seperti surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala azabnya dan lain sebagainya, seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini semua tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.

"Dan, tidaklah Kami jadikan penjaga-penjaga neraka itu melainkan dari para malaikat, dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya ...." (Al-Muddatstsir: 31).

"Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat-buat selain Allah, akan tetapi Alquran itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah diterapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, diturunkan dari Rab semesta alam." (Yunus: 37).

Begitu pula ketentuan-ketentuan yang memberikan keputusan tentang berita-berita yang akan datang yang berlaku pada sunatullah yang bersifat sosial mengenai kekuatan dan kelemahan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat dalam Alquran.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku." (An-Nuur: 55).

"Allah pasti akan menolong orang yang membela agama-Nya, Allah benar-benar Maha Kuat Maha Perkasa. Yaitu, orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan." (Al-Hajj: 40--41).

"Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, kalau kaum itu tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Al-Anfaal: 53).

Dapat ditambahkan pula, bahwa Alquran Karim telah menceritakan tentang Rasulullah saw. bahwa dia hanyalah mengikuti wahyu.

"Dan, apabila kamu tidak membawa suatu ayat Alquran kepada mereka, mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Rabku kepadaku ...'."(Al-A'raaf: 203).

Dan, bahwa dia adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dan tidak pula berkuasa atas dirinya sedikit pun.

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, aku mendapat wahyu, tetapi sesungguhnya Ilah kamu adalah Ilah yang Maha Esa'." (Al-Kahfi: 110).

"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik manfaat untuk diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan, sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku hanyalah memberi peringatan dan membawa berita gembira'." (Al-A'raaf: 188).

Rasulullah saw. tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang berselisih yang datang menghadapnya untuk meminta keputusan, meskipun ia mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.

"Rasulullah saw. telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi di dekat pintu kamar beliau. Ia mendatangi mereka dan berkata, 'Aku hanyalah seorang manusia, sedang kamu meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu pihak dari kamu akan lebih baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya. Yang kuputuskan dengan memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang muslim itu adalah sepotong api neraka. Dia boleh mengambilnya dan boleh pula meninggalkannya'." (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah).

Dr. Muhammad Abdullah Daraz mengatakan, "Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang ateis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiah yang baru. Tetapi, hal itu sebenarnya tidaklah baru, itu adalah pendapat jahiliah yang kuno, tidak berbeda sedikit pun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka melukiskan Nabi saw. sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas dan perasaan yang dalam, maka dari itu beliau adalah seorang penyair.

Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang bicara kepadanya. Apa yang dilihat dan didengarnya itu tidak lain dari gambaran khayal dan perasaan sendirinya saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun, mereka tidak bisa berlama-lama mempertahankan alasan-alasan ini. Mereka terpaksa harus meninggalkan istilah "gerak hati"(al-wahyun an-nafsi) itu, ketika mereka melihat bahwa di dalam Alquran terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita masa yang akan datang. Mereka mengatakan, mungkin berita-berita itu diperoleh dari para ahli ketika ia pergi berdagang. Dengan demikian berarti dia diajar oleh seorang manusia. Jadi, manakah yang baru dalam pendapat ini semua? Bukankah hal itu hanyalah omongan biasa yang menyerupai omongan kaum Quraisy? Demikianlah, ateisme dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang kotor, bahkan amat kotor. Itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah "maju" di masa kini. Padahal, ia hanya sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh hati yang sudah membatu di masa jahiliah pertama. "... demikianlah orang-orang yang sebelum itu berkata, persis seperti perkataan mereka. Memang hati mereka itu serupa ...." (Al-Baqarah: 118).

Namun demikian, kalau ada orang yang merasa heran, yang lebih mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang menyebutkan bahwa dia (Muhammad) adalah orang yang jujur dan terpercaya, dan bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi, sebab mimpi-mimpinya yang kuat itu menyatakan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau menjadi saksi kecuali apa yang dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. "Sebenarnya mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (Al-An'am: 33).

Apabila ini alasan Rasulullah dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengarnya, apakah alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga tidak kaumnya sebelum itu, sedang menurut sangkaan mereka dia telah mendengarnya sebelumnya? Dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia mengada-ada, agar tuduhan mereka itu sempurna. Tetapi, mereka tidak mau menyatakan kata-kata itu, sebab mereka mendakwakan diri mereka sebagai orang yang objektif dan bijaksana. Ingatlah sebenarnya mereka telah mengatakannya tetapi tidak merasa.


Bersambung ...!

(Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Qur'an, Manna Khalil al-Qattan, Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Jumat, 04 September 2009

“I K H L A S H” (2)

9/04/2009 07:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Su`udzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi busuk karena apapun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berfikir, cara kita bersikap dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah bagi orang-orang yang bisa berkhusnudzon atau berbaik sangka.

Hikam:

"Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang diantara mu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang." (QS. Al-Hudzurot: 12)

"Aku ini bagaimana prasangka hambaku kalau ia berprasangka baik maka ia akan mendapat kebaikan, bila ia berprasangka buruk maka keburukan akan menimpanya."

Buruk sangka atau su`udzon dapat merusak hati kita, merusak kebahagiaan kita, merusak akhlak kita, juga merusak apa yang dijanjikan Allah kepada kita. Orang yang gemar berburuk sangka adalah sedusta-dustanya perkataan, dalam berbaik sangka atau husnudzon bukannya membenarkan kesalahan tapi minimal kita jadi tenang, kalau hati sudah tenang, pikiran jernih keputusan bisa kita ambil dengan sikap yang tepat. Tetapi husnudzon itu hanya kepada orang yang beriman karena jika husnudzon tidak menggunakan ilmu maka akan mendatangkan masalah buat kita.

Wanita dilarang oleh Allah sembarang menerima tamu laki-laki, karena itu akan membuat tidak aman dan akan mendatangkan fitnah bagi wanita tersebut. Oleh karena itu menerima tamu di depan rumah bagi wanita bukannya menghina tamu tapi demi keamanan dan menghindarkan fitnah dari orang lain. Jika kita berburuk sangka kepada orang dan orangnya sudah meninggal, maka yang kita lakukan adalah bertaubat dan minta ampun kepada Allah serta mendo`akan orang tersebut.

Mudah-mudahan kita bisa memiliki hati yang jernih dan akan mengakibatkan sikap kita pun menjadi jernih.

(m-Qolbu - KH Abdullah Gymnastiar)

“I K H L A S H”

9/04/2009 06:35:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!

Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahuakbar.***

(m-Qolbu - KH Abdullah Gymnastiar)

Kamis, 03 September 2009

“Dan Umar pun Menangis”

9/03/2009 12:16:00 PM Posted by Ady'S No comments

Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis?
Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa, sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.

Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?" Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera". Nabi berkata, "Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga. Sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir.

Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.

Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat anda mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda. Ketika anda sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar.

Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur'an. Delapan jam waktu tidur kita….mengapa tak kita buang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, "Air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat".

Bersiaplah, untuk menyelam di "lautan akherat". Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita, dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi.


 

(Sumber : Nadirsyah Hosen; Armidale; 10 September 1997 (Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta))

“Bumi Ini Milik Kita”

9/03/2009 12:08:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Al-anbiya: 105-107).

Dalam kitab tafsir disebutkan maksud dari kata hamba-hamba-Ku yang saleh adalah umat Islam. Sementara maksud dari kata peringatan bagi kaum yang menyembah Allah adalah para pengikut Rasulullah saw, seorang rasul yang diutus untuk seluruh alam, rahmatan lil 'alamin.

Dalam ayat di atas jelas bahwa yang berhak mewarisi bumi ini adalah umat Islam. Namun, upaya apa saja yang harus ditempuh agar umat Islam mewarisi bumi tersebut? Allah SWT telah menetapkan bahwa kepemilikan terhadap bumi tersebut sangatlah berkaitan dengan kebaikan, ibadah, dan ketaatan. Ini adalah sunah Allah.

Kalau kita melihat sejarah para salafus saleh, kita dapati mereka telah berhasil mewarisi bumi ini dengan kebaikan dan ketaatan yang mereka lakukan. Mereka beribadah kepada Allah dengan apa yang telah disyariatkan dan dicintai-Nya. Mereka lebih mementingkan ridha Allah ketimbang kemurkaan setan dan tangan-tangannya. Mereka berhasil menundukkan hawa nafsu. Mereka mendengarkan firman Allah dengan telinga penuh perhatian dan hati yang tunduk, sementara badannya sibuk dengan zikir dan beribadah kepada-Nya.

Mereka lebih takut kepada maksiat ketimbang kepada para musuh. Karena, maksiat menurut keyakinan mereka akan menghalangi dirinya dari taufik Allah. Mereka juga meyakini bahwa pertolongan itu ada di tangan Allah. Allah berfirman, "Dan tidaklah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah."(Ali-Imran: 126). Pertolongan adalah hadiah yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Marilah kita melihat pesan Umar al-Faruq yang disampaikan kepada Sa'ad bin Abi Waqqas, komandan pasukan muslim, "Saya memerintahkan kepadamu dan para tentaramu agar bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan. Karena, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan melawan musuh dan sekuat-kuat siasat dalam memeranginya. Saya memerintahkan kepadamu dan orang-orang bersamamu agar benar-benar lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat daripada musuh kalian. Karena, dosa tentara itu lebih mereka takuti daripada para musuhnya. Sesungguhnya kemenangan kaum muslimin diperoleh dari perbuatan maksiat musuh kalian. Kalau tidak karena itu, niscaya kita tidak memiliki kekuatan. Karena, jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah mereka dan persiapan kita tidaklah sebaik persiapan mereka. Maka, bila jumlah maksiat kita sama dengan jumlah maksiat yang diperbuat musuh, kekuatan mereka lebih dominan daripada kekuatan kita. Karena, kita tidak mengalahkan mereka dengan kelebihan dan kekuatan yang kita miliki. Maka, mintalah pertolongan kepada Allah terhadap diri kalian sebagaimana engkau meminta pertolongan atas musuh kalian."

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Hari ini tentara maksiat itu tengah menyerang umat Islam lebih keras daripada tentara musuh.

Allah SWT berfirman: "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun...." Maka, bila umat ini belum bisa meninggalkan maksiat sebagaimana telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, niscaya umat ini akan hancur.

Hari ini kemungkaran dan kemaksiatan telah menyebar di mana-mana. Zina, riba, wanita "telanjang", pembunuhan, khamr, judi, dan kemaksiatan lainnya adalah pemandangan yang bisa dengan mudah kita jumpai di tengah kehidupan kita. Tentunya hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Beliau bersabda, "Bagaimana (kondisi) kalian bila terjerumus ke dalam lima perkara yang aku berlindung kepada Allah SWT agar kalian tidak terjerumus di dalamnya. (Pertama), bila sebuah kaum telah melakukan zina secara terang-terangan, Allah akan menimpakan mereka penyakit pes dan rasa lapar yang belum pernah terjadi pada umat sebelumnya. (Kedua), bila sebuah kaum telah melarang zakat, Allah akan menahan air hujan dari langit. Dan kalaulah tidak karena binatang, niscaya Allah tidak akan menurunkannya. (Ketiga), tidaklah sebuah kaum mengurangi timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka musibah bertahun-tahun, bekal makanan yang sulit, dan penguasa yang zalim. (Keempat), seseorang yang menggunakan hukum selain Allah, niscaya mereka akan dikuasai para musuhnya dan mereka akan mengambil apa yang ada dalam tangannya. (Kelima), tidaklah (sebuah kaum) melenyapkan Kitab Allah dan sunah nabi-Nya kecuali Allah akan menimpakan di antara mereka (sesuatu) yang paling buruk. "

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah!

Barangkali kemaksiatan ini telah muncul di tengah-tengah umat kita hari ini. Marilah kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Wallahu A'lam


 

(Sumber : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)


 

Rabu, 02 September 2009

“RAMADHAN BULAN LATIHAN DIRI”

9/02/2009 03:36:00 PM Posted by Ady'S No comments

Bulan Ramadhan bisa diibaratkan sebagai lahan subur yang siap ditaburi benih-benih kebijakan. Siapa yang menabur, maka ia akan manuai hasil sesuai yg ditanam. Siapa yang melatih diri dalam bentuk menahan diri dengan berpuasa, niscaya ia akan sukses menghadapi segala tantangan ke depan.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci. Ia diibaratkan sebagai lahan yang subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang dipersilahkan menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannnya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna. Dari sini sangat penting memanfaatkan lahan itu dan penting pula memilih benih yang ditabur.

Salah satu yang terpenting dalam bulan ini adalah menahan diri dengan berpuasa. Ia merupakan cara yang paling efektif untuk melatih diri menghadapi segala tantangan yang merupakan syarat mutak untuk meraih kesenangan dan kesejahteraan. Ia dibutuhkan oleh setiap orang, baik  kaya atau miskin, muda atau tua, lelaki atau perempuan, sehat atau sakit, manusia modern yang hidup masa kini maupun manusia primitif yang hidup masa lalu.

Karena itu, cara yang paling efektif untuk menciptakan kemampuan itu adalah berpuasa. Itu pula sebabnya kenapa sejak dahulu hingga kini putera-puteri Adam berpuasa dengan berbagai tujuan. Bahkan, tidak jarang mereka sendiri yang mewajibkan atas dirinya, Agaknya, itu sebabnya al-Qur'an menggunakan kata "diwajibkan" pada firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa" (al-Baqarah: 183). Ayat ini tidak menyebut siapa yang mewajibkan untuk memberi isyarat tentang hal tersebut.

Ini berarti seandainya bukan Allah yang mewajibkan puasa, niscaya manusia sendiri yang mewajibkannya. Memang Rasulullah Saw. juga menegaskan bahwa "Seandainya manusia mengetahui keistimewaan bulan Ramadhan, niscaya mereka ingin agar sepanjang tahun adalah Ramadhan". Karena puasa dibutuhkan oleh setiap manusia kapan dan di manapun, maka tidak heran jika semua agama mengenalnya. Bukan hanya agama-agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam, tetapi selainnya pun demikian.

Pakar-pakar perbandingan agama menyebutkan bahwa orang-orang Mesir Kuno pun - sebelum mereka mengenal agama samawi --  telah mengenal puasa. Dari mereka praktek puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama-agama penyembah bintang. Ibnu an-Nadim dalam bukunya al-Fahrasat menyebutkan, agama para penyembah bintang berpuasa tiga puluh hari dalam setahun, ada pula puasa sunnah sebanyak 16 hari dan ada juga yang 27 hari. Puasa mereka sebagai penghormatan kepada bulan, juga kepada bintang Mars yang dipercaya sebagai bintang nasib, dan juga kepada matahari.

Walaupun inti dari setiap puasa adalah menahan diri, namun cara dan tujuan akhirnya berbeda-beda antara satu agama dengan agama lain, bahkan boleh jadi  antara seorang dengan orang lain. Dari sini diperlukan pengetahuan tentang tata cara puasa menurut tuntunan agama serta tujuan pokoknya, bahkan diperlukan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan kehadirannya dan benih-benih apa saja yang harus ditabur pada lahannya.

Satu hal yang ingin penulis garis bawahi menyangkut ciri ajaran Islam, dalam konteks pelaksanaan ritualitas puasa Ramadhan, yaitu kesatuannya dalam prinsip-prinsip pokok dan keragamannya dalam rincian ajaran. Ini karena rincian permasalahan yang lahir dari aktivitas manusia, sejak kehadiran Islam hingga kini, jauh melebihi teks-teks al-Quran dan Hadis yang menjadi sumber rujukan. Dari sini pakar-pakar hukum berupaya sekuat tenaga dan pikiran untuk menganalisis dan menalar berbagai teks tersebut guna menemukan ketetapan hukum menyangkut rincian permasalahan yang lahir itu.

Tidak jarang hasil penalaran mereka berbeda, bukan saja diakibatkan oleh perbedaan kondisi masyarakat dan perkembangan ilmu, tetapi juga karena perbedaan cara penalaran dan syarat-syaratnya, dan bahkan boleh jadi karena perbedaan rujukannya, di mana yang satu merujuk pada teks A sedangkan yang lain merujuk pada teks B.

Di sisi lain perlu diingat bahwa Rasullulah Saw. yang hidup di tengah umatnya sebagai nabi dan rasul selama lebih kurang 23 tahun, tidak jarang pula mengucapkan, memperagakan cara yang berbeda, atau membenarkan keragaman cara yang diperagakan para sahabat beliau. Sehingga, lahir apa yanng dikenal dengan istilah "tanawwu' al-'ibadah" (keragaman cara beribadah).

Berdasarkan faktor-faktor itu - dan masih banyak lainnya - maka seringkali ditemukan perbedaan dan keragaman dalam rincian, seperti penentuan awal Ramadhan dan jumlah raka'at taraweh misalnya. Namun, kiranya semua dapat diterima, walau berbeda, selama bersumber dari pemahaman yang bertanggung jawab terhadap teks-teks al-Quran dan Sunnah. Apa yang dikemukakan di atas - sedikit atau banyak - tercermin dalam tulisan ini.


Sumber : Disunting dari Sekapur Sirih M. Quraish Shihab dalam buku "Panduan Puasa bersama Quraish Shihab" yang diterbitkan oleh Penerbit Republika, cet. V, 2001.

Selasa, 01 September 2009

PUASA (2)

9/01/2009 03:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

d.     Wa 'alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha'amu miskin (Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184).

Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak ulama tafsir. Ada yang berpendapat bahwa pada mulanya Allah Swt. memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit, yakni bagi kedua kelompok ini terdapat dua kemungkinan: (1) musafir dan orang yang merasa berat untuk berpuasa, maka ketika itu dia harus berbuka; dan (2) ada juga di antara mereka, yang pada hakikatnya mampu berpuasa, tetapi enggan karena kurang sehat dan atau dalam perjalanan, maka bagi mereka diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.

Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan mayoritas ulama. Mayoritas memahami penggalan ini berbicara tentang orang-orang tua atau orang yang mempunyai pekerjaan yang sangat berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka dalam kondisi semacam ini mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian juga halnya terhadap orang yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam pesan penggalan ayat di atas adalah wanita-wanita hamil dan atau menyusui.

Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:

Wanita yang hamil dan menyusui wajib membayar fidyah dan mengganti puasanya di hari lain, seandainya yang mereka khawatirkan adalah janin atau anaknya yang sedang menyusui. Tetapi bila yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus membayar fidyah.

Fidyah dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama ia tidak berpuasa. Ada yang berpendapat sebanyak setengah sha' (gantang) atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu mud yakni sekitar lima perenam liter, dan ada lagi yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang berlaku pada setiap masyarakat.

 
 

e.     Uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila nisa'ikum (Dihalalkan kepada kamu pada malam Ramadhan bersebadan dengan istri-istrimu) (QS Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat ini membolehkan hubungan seks (bersebadan) di malam hari bulan Ramadhan, dan ini berarti bahwa di siang hari Ramadhan, hubungan seks tidak dibenarkan. Termasuk dalam pengertian hubungan seks adalah "mengeluarkan sperma" dengan cara apapun. Karena itu walaupun ayat ini tak melarang ciuman, atau pelukan antar suami-istri, namun para ulama mengingatkan bahwa hal tersebut bersifat makruh, khususnya bagi yang tidak dapat menahan diri, karena dapat mengakibatkan keluarnya sperma. Menurut istri Nabi, Aisyah r.a., Nabi Saw. pernah mencium istrinya saat berpuasa. Nah, bagi yang mencium atau apa pun selain berhubungan seks, kemudian ternyata "basah", maka puasanya batal; ia harus menggantinya pada hari lain. Tetapi mayoritas ulama tidak mewajibkan yang bersangkutan membayar kaffarat, kecuali jika ia melakukan hubungan seks (di siang hari), dan kaffaratnya dalam hal ini berdasarkan hadis Nabi adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka ia harus memerdekakan hamba. Jika tidak mampu juga, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.

Bagi yang melakukan hubungan seks di malam hari, tidak harus mandi sebelum terbitnya fajar. Ia hanya berkewajiban mandi sebelum terbitnya matahari --paling tidak dalam batas waktu yang memungkinkan ia shalat subuh dalam keadaan suci pada waktunya. Demikian pendapat mayoritas ulama.

 
 

f.     Wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr (Makan dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar).

Ayat ini membolehkan seseorang untuk makan dan minum (juga melakukan hubungan seks) sampai terbitnya fajar.

Pada zaman Nabi, beberapa saat sebelum fajar, Bilal mengumandangkan azan, namun beliau mengingatkan bahwa bukan itu yang dimaksud dengan fajar yang mengakibatkan larangan di atas. Imsak yang diadakan hanya sebagai peringatan dan persiapan untuk tidak lagi melakukan aktivitas yang terlarang. Namun bila dilakukan, maka dari segi hukum masih dapat dipertanggungjawabkan selama fajar (waktu subuh belum masuk).

Perlu dingatkan, bahwa hendaknya kita jangan terlalu mengandalkan azan, karena boleh jadi muazin mengumandangkan azannya setelah berlalu beberapa saat dari waktu subuh. Karena itu sangat beralasan untuk menghentikan aktivitas tersebut saat imsak.

 
 

g.     Tsumma atimmush shiyama ilal lail (Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam).

Penggalan ayat ini datang setelah ada izin untuk makan dan minum sampai dengan datangnya fajar. Puasa dimulai dengan terbitnya fajar, dan berakhir dengan datangnya malam. Persoalan yang juga diperbincangkan oleh para ulama adalah pengertian malam. Ada yang memahami kata malam dengan tenggelamnya matahari walaupun masih ada mega merah, dan ada juga yang memahami malam dengan hilangnya mega merah dan menyebarnya kegelapan. Pendapat pertama didukung oleh banyak hadis Nabi Saw., sedang pendapat kedua dikuatkan oleh pengertian kebahasaan dari lail yang diterjemahkan "malam". Kata lail berarti "sesuatu yang gelap" karenanya rambut yang berwarna hitam pun dinamai lail.

Pendapat pertama sejalan juga dengan anjuran Nabi Saw. Untuk mempercepat berbuka puasa, dan memperlambat sahur. Pendapat kedua sejalan dengan sikap kehatian-hatian karena khawatir magrib sebenarnya belum masuk.

Demikian sedikit dari banyak aspek hukum yang dicakup oleh ayat-ayat yang berbicara tentang puasa Ramadhan.

 
 


 

TUJUAN BERPUASA

Secara jelas Al-Quran menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan atau la'allakum tattaqun. Dalam rangka memahami tujuan tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw. misalnya, "Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu daripuasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga."

Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa "Allah menghendaki untuk kamu kemudahan bukan kesulitan."

Di sisi lain, dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, "Semua amal putra-putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya."

Ini berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri. Bukankah manusia yang berpuasa dapat bersembunyi untuk minum dan makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan atau minum pada saat-saat tertentu dari siang hari puasa? Nah, kalau demikian, apa motivasinya menahan diri dan keinginan itu? Tentu bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian, dia dapat saja bersembunyi dari pandangan mereka. Di sini disimpulkan bahwa orang yang berpuasa, melakukannya demi karena Allah Swt. Demikian antara lain penjelasan sementara ulama tentang keunikan puasa dan makna hadis qudsi di atas.

Sementara pakar ada yang menegaskan bahwa puasa dilakukan manusia dengan berbagai motif, misalnya, protes, turut belasungkawa, penyucian diri, kesehatan, dan sebagai-nya. Tetapi seorang yang berpuasa Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata. Di sini Anda boleh bertanya, "Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada takwa?" Untuk menjawabnya terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan takwa.

 
 


 

PUASA DAN TAKWA

Takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, "Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah."

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada." Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam. 

a.     Siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya, "Makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit," "Tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana", atau "Api panas, dan membakar", dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

b.     Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa)."

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa. Puasa seperti yang dikemukakan di atas adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt.

 
 


 

PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT ALLAH

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Nabi Saw. memerintahkan, "Takhallaqu bi akhlaq Allah" (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu makan, minum, dan hubungan seks. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri: "Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?" (QS Al-An'am [6]: 101)

"Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak." (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Quran juga memerintahkan Nabi Saw. untuk menyampaikan, Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...? (QS Al-An'am [6]: 14).

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak 99 (sembilan puluh sembilan) sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk Ilahi. Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Saw. menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

 
 


 

PUASA UMAT TERDAHULU

Puasa telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Kama kutiba 'alal ladzina min qablikum (Sebagaimana diwajibkan atas (umat-umat) yang sebelum kamu). Dari segi ajaran agama, para ulama menyatakan bahwa semua agama samawi, sama dalam prinsip-prinsip pokok akidah, syariat, serta akhlaknya. Ini berarti bahwa semua agama samawi mengajarkan keesaan Allah, kenabian, dan keniscayaan hari kemudian. Shalat, puasa, zakat, dan berkunjung ke tempat tertentu sebagai pendekatan kepada Allah adalah prinsip-prinsip syariat yang dikenal dalam agama-agama samawi. Tentu saja cara dan kaifiatnya dapat berbeda, namun esensi dan tujuannya sama.

Kita dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat islam dan umat-umat terdahulu?

Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. Binatang --khususnya binatang-binatang tertentu-- tidak demikian. Nalurinya telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga --misalnya-- ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Manusia sekali lagi tidak demikian. Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok. Potensi dan daya manusia --betapa pun besarnya-- memiliki keterbatasan, sehingga apabila aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan faali misalnya-- maka arah yang lain, --mental spiritual-- akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Sebagaimana disinggung di atas, esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.

Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat. Tidak heran jika puasa telah dikenal oleh umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan oleh Al-Quran.

Dari penjelasan ini, kita dapat melangkah untuk menemukan salah satu jawaban tentang rahasia pemilihan bentuk redaksi pasif dalam menetapkan kewajiban puasa. Kutiba 'alaikumush shiyama (diwajibkan atas kamu puasa), tidak menyebut siapa yang mewajibkannya?

Bisa saja dikatakan bahwa pemilihan bentuk redaksi tersebut disebabkan karena yang mewajibkannya sedemikian jelas dalam hal ini adalah Allah Swt. Tetapi boleh jadi juga untuk mengisyaratkan bahwa seandainya pun bukan Allah yang mewajibkan puasa, maka manusia yang menyadari manfaat puasa, dan akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi berpuasa (tidak makan atau mengendalikan diri) yang selama ini dilakukan manusia, bukan semata-mata atas dorongan ajaran agama. Misalnya demi kesehatan, atau kecantikan tubuh, dan bukankah pula kepentingan pengendalian diri disadari oleh setiap makhluk yang berakal?

Di sisi lain bukankah Nabi Saw. bersabda, "Seandainya umatku mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh Ramadhan, niscaya mereka mengharap seluruh bulan menjadi Ramadhan."

 
 


 

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr."

Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar itu, yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Di sisi lain --sebagaimana disinggung pada awal uraian— bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung pesan tentang kedekatan Allah Swt. Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa siapa pun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadis-hadis Nabi diperoleh pula penjelasan tentang keistimewaan bulan suci ini. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia. (selesai)


 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan)

Senin, 31 Agustus 2009

“PUASA” (1)

8/31/2009 08:25:00 PM Posted by Ady'S No comments

MARHABAN YA RAMADHAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "marhaban" diartikan sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang)." Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan "selamat datang." Walaupun keduanya berarti "selamat datang" tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan "marhaban ya Ramadhan".

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti "keluarga", sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran rendah" karena mudah dilalui, tidak seperti "jalan mendaki". Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, "(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah." 

Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan "marhaban", terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan." Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat datang Ramadhan" mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara.

Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.

 
 

PUASA MENURUT AL-QURAN

Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sesekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara.

"Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun." (QS Maryam [19]: 26).

Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sha-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada "menahan" dan "berhenti atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim.

Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas –apapun aktivitas itu-- dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari".

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

Betapa pun, shiyam atau shaum --bagi manusia-- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

Hadits qudsi yang menyatakan antara lain bahwa, "Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."


 

Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Ada beberapa macam puasa dalam pengertian syariat/hukum sebagaimana disinggung di atas.

1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.

2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.

3. Puasa sunnah.

Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal yang berkisar pada puasa bulan Ramadhan.

 
 

PUASA RAMADHAN

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya'ban tahun kedua Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahNya, maka agaknya kewajiban berpuasapun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyamam ma'dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:

"Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya."

Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Quran, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalanpun.

Perhatikan surat Al-Baqarah (2): 185. Ia dimulai dengan panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa." Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, "sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu." Jika demikian, maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)."

Kemudian Al-Quran dalam surat Al-Baqarah (2): 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya "beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga "barangsiapa sakit atau dalam perjalanan," maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain. "Sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin."

Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa "berpuasa adalah baik."

Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur.

Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa "Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa."

Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa.

Berikut akan dikemukakan sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum maupun hikmahnya, dengan menggarisbawahi kata atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.


 

BEBERAPA ASPEK HUKUM BERKAITAN DENGAN PUASA

a. Faman kana minkum maridha (Siapa di antara kamu yang menderita sakit)

Maridh berarti sakit. Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa secara garis besar dapat dibagi dua :

1.     Penderita tidak dapat berpuasa; dalam hal ini ia wajib berbuka; dan

2.    Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat kesulitan atau keterlambatan penyembuhan, maka ia dianjurkan tidak berpuasa.

Sebagian ulama menyatakan bahwa penyakit apa pun yang diderita oleh seseorang, membolehkannya untuk berbuka. Ulama besar Ibnu Sirin, pernah ditemui makan di siang hari bulan Ramadhan, dengan alasan jari telunjuknya sakit. Betapa pun, harus dicatat, bahwa Al-Quran tidak merinci persolan ini. Teks ayat mencakup pemahaman Ibnu Sirin tersebut. Namun demikian agaknya kita dapat berkata bahwa Allah Swt. sengaja memilih redaksi demikian, guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing untuk menentukan sendiri apakah ia berpuasa atau tidak. Di sisi lain harus diingat bahwa orang yang tidak berpuasa dengan alasan sakit atau dalam perjalanan tetap harus menggantikan hari-hari ketika ia tidak berpuasa dalam kesempatan yang lain.


 

b. Aw'ala safarin (atau dalam perjalanan)

Ulama-ulama berbeda pendapat tentang bolehnya berbuka puasa bagi orang yang sedang musafir. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jarak perjalanan. Secara umum dapat dikatakan bahwa jarak perjalanan tersebut sekitar 90 kilometer, tetapi ada juga yang tidak menetapkan jarak tertentu, sehingga seberapapun jarak yang ditempuh selama dinamai safar atau perjalanan, maka hal itu merupakan izin untuk memperoleh kemudahan (rukhshah).

Perbedaan lain berkaitan dengan 'illat (sebab) izin ini. Apakah karena adanya unsur safar (perjalanan) atau unsur keletihan akibat perjalanan. Di sini, dipermasalahkan misalnya jarak antara Jakarta-Yogya yang ditempuh dengan pesawat kurang dari satu jam, serta tidak meletihkan, apakah ini dapat dijadikan alasan untuk berbuka atau meng-qashar shalat atau tidak. Ini antara lain berpulang kepada tinjauan sebab izin ini. Selanjutnya mereka juga memperselisihkan tujuan perjalanan yang membolehkan berbuka (demikian juga qashar dan menjamak shalat). Apakah perjalanan tersebut harus bertujuan dalam kerangka ketaatan kepada Allah, misalnya perjalanan haji, silaturahmi, belajar, atau termasuk juga perjalanan bisnis dan mubah (yang dibolehkan) seperti wisata dan sebagainya? Agaknya alasan yang memasukkan hal-hal di atas sebagai membolehkan berbuka, lebih kuat, kecuali jika perjalanan tersebut untuk perbuatan maksiat, maka tentu yang bersangkutan tidak memperoleh izin untuk berbuka dan atau menjamak shalatnya.

Bagaimana mungkin orang yang durhaka memperoleh rahmat kemudahan dari Allah Swt.? Juga diperselisihkan apakah yang lebih utama bagi seorang musafir, berpuasa atau berbuka? Imam Malik dan Imam Syafi'I menilai bahwa berpuasa lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu, tetapi sebagian besar ulama bermazhab Maliki dan Syafi'i menilai bahwa hal ini sebaiknya diserahkan kepada masing-masing pribadi, dalam arti apa pun pilihannya, maka itulah yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat dari imam Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik yang menyatakan bahwa, "Kami berada dalam perjalanan di bulan Ramadhan, ada yang berpuasa dan adapula yang tidak berpuasa. Nabi tidak mencela yang berpuasa, dan tidak juga (mereka) yang tidak berpuasa."

Memang ada juga ulama yang beranggapan bahwa berpuasa lebih baik bagi orang yang mampu. Tetapi, sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa berbuka lebih baik dengan alasan, ini adalah izin Allah. Tidak baik menolak izin dan seperti penegasan Al-Quran sendiri dalam konteks puasa, "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan."


 

Bahkan ulama-ulama Zhahiriyah dan Syi'ah mewajibkan berbuka, antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat di atas, yaitu:

 
 

c. Fa 'iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain).

Ulama keempat mazhab Sunnah menyisipkan kalimat untuk meluruskan redaksi di atas, sehingga terjemahannya lebih kurang berbunyi, "Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (dan ia tidak berpuasa), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

Kalimat "lalu ia tidak berpuasa" adalah sisipan yang oleh ulama perlu adanya, karena terdapat sekian banyak hadis yang membolehkan berpuasa dalam perjalanan, sehingga kewajiban mengganti itu, hanya ditujukan kepada para musafir dan orang yang sakit tetapi tidak berpuasa.

Sisipan semacam ini ditolak oleh ulama Syi'ah dan Zhahiriyah, sehingga dengan demikian --buat mereka-- menjadi wajib bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan wajib pula menggantinya pada hari-hari yang lain seperti bunyi harfiah ayat di atas.

Apakah membayar puasa yang ditinggalkan itu harus berturut-turut? Ada sebuah hadis --tetapi dinilai lemah— yang menyatakan demikian. Tetapi ada riwayat lain melalui Aisyah r.a. yang menginformasikan bahwa memang awalnya ada kata pada ayat puasa yang berbunyi mutatabi'at, yang maksudnya memerintahkan penggantian (qadha') itu harus dilakukan bersinambung tanpa sehari pun berbuka sampai selesainya jumlah yang diwajibkan. Tetapi kata mutatabi'at dalam fa 'iddatun min ayyamin ukhar mutatabi'at yang berarti berurut atau bersinambung itu, kemudian dihapus oleh Allah Swt. Sehingga akhirnya ayat tersebut tanpa kata ini, sebagaimana yang tercantum dalam Mushaf sekarang.

Meng-qadha' (mengganti) puasa, apakah harus segera, dalam arti harus dilakukannya pada awal Syawal, ataukah dapat ditangguhkan sampai sebelum datangnya Ramadhan berikut? Hanya segelintir kecil ulama yang mengharuskan sesegera mungkin, namun umumnya tidak mengharuskan ketergesaan itu, walaupun diakui bahwa semakin cepat semakin baik. Nah, bagaimana kalau Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian kita tidak sempat menggantinya, apakah ada kaffarat akibat keterlambatan itu?

Imam Malik, Syafi'i, dan Ahmad, berpendapat bahwa di samping berpuasa, ia harus membayar kaffarat berupa memberi makan seorang miskin; sedangkan imam Abu Hanifah tidak mewajibkan kaffarat dengan alasan tidak dicakup oleh redaksi ayat di atas.


 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan)

“Gejolak Nafsu”

8/31/2009 06:40:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Puasa (shiyaam) secara bahasa adalah menahan (imsaak). Shiyaam berasal dari kata shaama yang artinya amsaka (menahan). Puasa secara istilah adalah menahan dari sesuatu yang khusus (misalnya menahan makan, minum, dan berhubungan badan) dan dilakukan dengan niat.

Jika seorang menahan diri dari berbicara, maka diapun dikatakan sebagai 'orang yang berpuasa' (shaim). Bacalah firman Allah, "jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari itu'." (QS 19:26)

Artinya, apabila Maryam melihat seseorang dan orang itu bertanya kepadanya tentang anak yang dilahirkan, maka diamlah dan jangan berbicara sama sekali. Ini adalah puasa secara bahasa.

Akan tetapi, puasa secara istilah sebagaimana telah kami katakan, adalah "Menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan." Puasa menurut orang-orang Nasrani adalah puasa dari makanan-makanan tertentu. Dengan demikian, ibadah puasa itu tidak berubah dengan perubahan zaman, hanya saja tata cara puasanya yang berubahn dengan perubahan zaman.

Tujuan mengerjakan ibadah puasa Ramadhan adalah agar kita mencapai derajat takwa. Dalam surat Al Baqoroh ayat 183, setelah perintah kepada kita untuk mengerjakan puasa, Allah menutup kalimat perintahNya di surat itu dengan, "Agar kamu bertakwa."

Takwa artinya wiqayah (melindungi diri). Kita bertakwa kepada Allah, artinya kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhkan apa yang dilarang. Apabila kita telah memasukkan nilai-nilai ketakwaan dalam diri kita dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya, maka kita telah melindungi diri kita dari api neraka.

Puasa itu sendiri dapat melindungi diri kita dari api neraka. Sebab, segala kemaksiatan itu timbul dari kejahatan hawa nafsu. Sedangkan puasa itu dapat melemahkan atau meminimalisir 'ruang gerak' hawa nafsu dalam diri manusia.

Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada para pemuda. "Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu di antara kalian untuk menikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa karena puasa itu dapat mengekang hawa nafsu." (HR Bukhori dan Muslim)

Artinya, puasa itu dapat mengekang gejolak hawa nafsu dalam diri remaja. Karena dengan sedikitnya mengonsumsi makanan, maka gejolak hawa nafsu dan keinginan untuk melakukan kemaksiatan dapat berkurang.

Puasa pada bulan Ramadhan melatih manusia untuk istiqomah selama satu bulan. Kemudian, setelah merasakan kenikmatan istiqomah, mereka akan melanjutkannya pada bulan-bulan berikutnya. Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk istiqomah selama bulan Ramadhan saja. Allah jadikan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk melatih diri agar orang yang istriqomah dapat terus melanjutkannya sepanjang hidup.

Begitulah, sesungguhnya Allah memilih waktu-waktu tertentu yang mulia atau tempat-tempat tertentu yang mulia atau juga manusia. Tidak hanya untuk mengistimewakan tempat, waktu, atau orang tersebut, melainkan Allah memilih seseorang menjadi Rasul agar manusia dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasul itu.

Begitu pula Allah memilih waktu-waktu tertentu, bukan untuk mengistimewakan waktu tersebut dari waktu-waktu yang lain. Akan tetapi, agar setiap orang dapat memanfaatkan waktu-waktu yang lain seperti pada waktu yang dipilih Allah.

Misalnya, dalam bulan Ramadhan Allah memerintahkan manusia untuk meningkatkan ibadah pada bulan itu dan berpuasa. Tujuannya agar pada bulan-bulan yang lain kita dapat melakukan ibadah seperti pada bulan Ramadhan.

Begitu pula Allah memilih tempat-tempat tertentu seperti Makkah dan Madinah, agar orang-orang berusaha meningkatkan ibadah di tempat-tempat lain, seperti halnya ketika dia beribadah di Makkah dan Madinah.


 

(sumber : Tausiyah ustadz Jefri Al Bukhari
yang dimuat di harian TP tgl. 3 Ramadhan 1430H/24 Agustus 2009M)

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.