Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Minggu, 19 Oktober 2008

Keraguan Orang-Orang yang Ingkar terhadap Wahyu (bag. 1)

10/19/2008 07:52:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Orang-orang jahiliah, baik yang kuno maupun modern, selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.

  1. Mereka mengira bahwa Alquran dari pribadi Muhammad, dengan menciptakan maknanya dan dia sendiri pula yang menyusun 'bentuk gaya bahasanya': Alquran bukanlah wahyu. Ini adalah sangkaan yang batil. Apabila Rasulullah saw. menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizaat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbahkan Alquran kepada dirinya sendiri, karena hal itu cukup mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya, sebab kenyataannya semua orang Arab dengan segala kefasihan dan retorikanya tidak juga mampu menjawab tantangan itu. Bahkan, mungkin ini lebih mendorong mereka untuk menerima kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan apa yang tidak mereka sanggupi.

    Tidak pula dapat dikatakan bahwa dengan menisbahkan Alquran kepada wahyu ilahi, ia menginginkan untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya, sebab dia juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya secara pribadi, yaitu yang dinamakan hadis nabawi yang juga wajib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikannya sebagai kalam Allah Taala.

    Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah saw. termasuk pemimpin yang menempuh cara-cara berdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu ditolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah saw. , kejujuran, dan keterpercayaannya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawan sendiri.

    Orang-orang munafik menuduh istrinya, Aisyah, dengan tuduhan berita bohong, padahal Aisyah seorang istri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung kehormatan dan kemuliannya. Sedang wahyu pun datang terlambat, Rasulullah dan para sahabat merasa sangat sedih. Beliau berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk meneliti dan memusyawarahkannya. Satu bulan pun telah berlalu, tetapi akhirnya ia hanya dapat mengatakan kepadanya yang artinya, "Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apabila engkau benar-benar bersih, Allah akan membersihkanmu. Apabila engkau telah berbuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada Allah."


    Keadaan berlangsung demikian hingga turunlah wahyu yang menyatakan kebersihan istrinya itu. Maka, apakah yang menghalanginya untuk mengatakan kata-kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Alquran kata-katanya sendiri. Tetapi, dia tidak mau berdusta kepada manusia dan juga tidak mau berdusta kepada Allah.

    "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami, tentulah Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian kami potong urat tali jantungnya. Maka, sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi Kami dari pemotongan urat nadi itu." (Al-Haqqah: 44-47).


     

    Ada sebagian orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan. Di antara merka terdapat orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka, turunlah wahyu Alquran mencela dan mempersalahkan tindakannya itu.

    "Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu alasan mereka) dan sebelum kau ketahui mana mereka yang benar dan mana yang berdusta?" (At-Taubah: 43).

    Seandainya teguran ini datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak akan diungkapkannya.

    Begitu pula teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan Perang Badar. "Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu. Dan Allah Maha Perkasa dan Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telaah terdahulu dari Allah, tentulah kamu akan ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil." (Al-Anfal: 67--68).


    Begitu juga adanya teguran karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum r.a. yang buta, karena menekuni salah seorang pembesar Quraisy untuk diajak masuk Islam. "Dia Muhammad bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran, sedang dia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran Tuhanmu itu adalah suatu peringatan." ('Abasa: 1--11).


    Yang dikenal dalam perikehidupan Rasulullah saw. adalah bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas dalam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia, ucapan yang benar, dan kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masayarakatnya sendiri pun telah menyaksikan itu semua ketika ia mengajak kepada mereka pada permulaan dakwah. Ia berkata kepada mereka, "Bagaimana pendapatmu sekiranya aku beri tahukan kepadamu bahwa pasukan berkuda berada di balik lembah ini akan menyerangmu, percayakah kamu kepadaku?" Mereka menjawab, "Ya, kami tidak pernah melihat engkau berdusta."


    Perikehidupannya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Dari Abdullah bin Sallam r.a., dia berkata, "Ketika Rasulullah saw. datang ke Madinah, orang-orang mengerumuninya. Mereka mengatakan, 'Rasulullah sudah datang, Rasulullah sudah datang!' Lalu aku datang ke dalam kerumunan orang banyak itu unuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasulullah saw, tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta." Orang yang memiliki sifat agung yang dihiasi oleh tanda-tanda kejujuran tidak pantas diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah yang membuat Alquran.

    "Katakanlah, 'Tidaklah patut bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali wahyu yang diwahyukn kepadaku." (Yunus: 15).


Bersambung ...!


(Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Qur'an, Manna Khalil al-Qattan)

Wisata Hati : “Rezeki Kagetan”

10/19/2008 07:41:00 PM Posted by Ady'S No comments



Kenapa manusia sulit berbagi? Mengapa manusia sulit bersedekah? Salah satu jawabannya, mungkin karena dia berpikir dengan matematika pengurangan. Maksudnya, kalau dia berbagi, maka miliknya bakal berkurang. Atau, barangkali dia selalu melihat kekurangannya. Dalam pengertian dia --diperkuat omongan orang lain-- diri sendiri saja masih kekurangan, bagaimana mau dibagikan pada orang lain?

Maka, banyak orang berpikir (menunggu harta cukup dulu) baru kemudian berjanji untuk berbagi. Faktanya malah tidak pernah kecukupan. Penyebabnya, karena tidak kunjung berbagi. Padahal, kata Allah, kalau mau dicukupkan rezeki, harus bersedia untuk berbagi. Dan, kenyataannya pula, banyak orang yang kehidupannya telah membaik, kekikirannya tetap saja melekat. Akhirnya kehidupan dia berubah lagi menjadi selalu diliputi kekurangan.

Pada sebagian dari Anda yang "merasa" sudah cukup berderma, cobalah perhatikan jumlahnya. Jangan-jangan apa yang Anda dermakan ketika jaya masih sama rupiahnya kala ekonomi belum membaik. Misal, dulu ketika memulai usaha punya satu anak asuh. Kemudian setelah jaya, jumlah anak asuh itu tidak bertambah. Ini pun akan berpengaruh pada kualitas keberkahan.

Tersebutlah seorang sopir yang menemui seorang ustad. Dia mengadukan tentang pendapatannya yang tidak pernah kunjung cukup. Dia kini memiliki lima anak, tapi penghasilannya dari dulu (sejak belum punya anak) hingga sekarang tidak beranjak. Kalaupun ada pertumbuhan, jumlahnya tidak seberapa.

"Gaji Bapak sekarang berapa?" tanya Ustad.
"Rp 800.000," jawab dia datar.
"Rp 800.000 itu sudah besar, lho, Pak." Ustad mengingatkan dengan ucapan, "Sudah bersyukur belum?"
"Sudah, Ustad. Ini juga kalau nggak bersyukur, nggak tahu, dah."

Sang sopir kemudian menceritakan bahwa selama ini dia selalu melihat "ke bawah". Dia bersyukur masih bisa bekerja, sedangkan banyak rekannya yang tidak memiliki pekerjaan lagi. Dia bekerja di ruangan ber-AC, setidaknya selama menyetiri mobil majikan. Sementara kawan-kawan lain tidak sedikit yang menjadi kuli bangunan. Kulit mereka hitam legam terpanggang panas matahari.

"Hati saya jadi adem, Ustad. Setidaknya saya cukup jauh dari mengeluh. Hanya kemari- mariin, saya bingung juga. Sebab akhirnya, biar bagaimana, gaji saya tetap tidak mencukupi. Padahal, anak bertambah besar, Ustad."

Menghadapi keluhan tersebut, Ustad pun menjelaskan bahwa jika bentuk rasa syukur itu tidak diwujudkan dalam sebuah aksi berbagi, maka, maaf, "Belum menghasilkan perubahan." Apa yang sudah dilakukan oleh si sopir dengan menata hati dan bisa mensyukuri hidup sudah tepat. Hasilnya adalah sebuah kedamaian hati. Ketenteraman. "Tapi, kalau mau lebih dahsyat, cobalah Bapak berbagi. Sebagai wujud syukur yang lain."

Wajah sopir itu berubah sedikit. Ustad itu memahami bahwa di balik benak orang yang ada di hadapannya --juga dimiliki orang banyak-- tidak sependapat dengan nasihat yang barusan disampaikan. Bagaimana mungkin dibagikan jika yang ada saja untuk kebutuhan sendiri masih kurang?

"Pak, Bapak kan belum jajal ikhtiar mencukupkan kebutuhan dengan jalan bersedekah? Coba dah di-jajal. Keluarkanlah sedekah. Insya Allah, Allah akan mencukupkan kebutuhan Bapak," ujar Ustad.

Urusan bantu-membantu orang, yang direfleksikan dengan bersedekah, menjadi sebuah keharusan. Artinya, siapa pun yang membutuhkan bantuan Allah, pertolongan Allah, dan kemudahan dari Allah, maka berbagi menjadi sebuah keharusan baginya. "Allah akan membantu hamba-Nya jika hamba-Nya ini mau membantu yang lain. Wallaahu fii 'awnil 'abdi, maa kaanal 'abdu fii 'awni akhiihi."

Sepulang dari kunjungan tersebut, sopir itu pun menyedekahkan uangnya seratus ribu rupiah. Dia mengurangi penghasilannya dengan berderma. Matematika yang terjadi, duit dia semakin kurang. Namun kenyataannya tidak demikian. Pada pekan depannya, sopir ini diajak majikannya ke luar kota untuk sebuah urusan bisnis. Upaya ini membuahkan hasil. Si sopir kebagian rezeki kagetan dari majikan sebesar Rp 1 juta.

Akhirnya, sopir ini memetik pelajaran dari bersedekah, sebagaimana kita juga --mudah-mudahan-- bisa menimba kisah tersebut. Bahwa kalau rezeki mau dicukupkan oleh Allah, kita harus mau berbagi. Dengan jalan berbagi, dengan cara bersedekah, inilah yang bakal membuat rezeki kita dicukupkan oleh Allah.

Sementara itu, pada saat yang sama, sebagian dari kita malah menempuh langkah tidak terpuji yang justru menambah hartanya makin berkurang. Misalnya dengan cara korupsi, mencuri, menipu, mengadali, dan mencari rezeki haram yang tidak diridoi Allah.

Tampaknya, sekali lagi, demi melihat kekurangan kita, kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan.

(Ustadz Yusuf Mansur)

Bisikan Setan

10/19/2008 05:17:00 PM Posted by Ady'S No comments

Setan menurut al-Qur'an surah al-An'am ayat 112 dan surah an-Naas dan juga menurut berbagai teks hadits adalah terdiri dari jin dan manusia. Keduanya aktif bekerja menjalankan misi mereka masing-masing. Salah satu tugas setan adalah membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, sebagaimana firman Allah di dalam surah an-Naas, yang artinya,

"Katakanlah, "Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilaah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia."

Di dalam ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan manusia agar beristi'adzah (memohon perlindungan kepadaNya) dari bisikan jahat setan jin dan setan manusia. Alwaswas adalah bisikan-bisikan setan yang halus sedang al-khannas terambil dari kata khanasa, yang berarti kembali mundur, melempem, bersembunyi serta timbul tenggelam. Maksudnya adalah setan kembali menggoda manusia pada saat manusia lengah dan melupakan Allah, kemudian dia mundur dan melempem pada saat manusia berdzikir mengingat Allah Ta'ala.

Strategi Setan Memperdaya Manusia

Misi dan pekerjaan setan itu ada dua, pertama, menyuruh manusia melakukan dosa dan kejahatan, dan yang ke dua, menghalang-halangi manusia dari segala macam bentuk perbuatan baik yang diridlai Allah Ta'ala. Di dalam Sahih Muslim nomor ke 5109 bersumber dari 'Iyad bin Himar al-Mujasyi'i, disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (cenderung kepada kebenaran), lalu setan-setan mendatangi mereka, dan menyelewengkannya dari agama mereka dan (setan-setan itu) mengharamkan terhadap mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka dan menyuruh mereka mempersekutukan Aku…"

Berdasarkan hadits ini, dapat dikatakan, bahwa yang menyelewengkan manusia dari dien (Islam) adalah setan, termasuk menggelincirkan manusia kepada perbuatan syirik. Namun manusia yang dapat dikuasai setan, hanya mereka yang tak memperdulikan tuntunan Allah dan menjadikan setan itu sebagai pembimbing jalan hidupnya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengemukakan enam tahapan yang dilalui setan dalam menyesatkan dan mem-perdaya manusia.

Tahap pertama ialah pengafiran atau pemusyrikan manusia. Kalau yang diajak setan itu muslim, yang beriman teguh, yang tak dapat dikafirkan dan dimusyrikkan, setan akan melangkah ke tahapan dakwah kedua, yaitu pem-bid'ahan. Setan pada tahapan kedua ini berupaya menjadikan orang Muslim sebagai ahlul bid'ah. Kalau yang didakwahi setan itu kalangan Ahlus Sunnah, yang teguh dan istiqamah memegang Sunnah, setan melangkah pada tahap yang ketiga, yaitu menjebak orang Islam kepada kaba'ir (dosa-dosa besar). Kalau yang bersangkutan beriman teguh, sehingga tak mau melakukan dosa-dosa besar, setan tetap tidak berputus asa, untuk terus berupaya mencari taktik lain, dengan melangkah ke tahap yang keempat, yaitu menjebak manusia dengan dosa-dosa kecil.

Kalau tahap ke empat ini gagal juga, setan melangkah ke tahap kelima, yaitu menyibukkan manusia kepada masalah-masalah yang mubah (boleh), sehingga yang bersangkutan menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang mubah, yang dampaknya, lupa menunaikan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta'ala, yang berpahala, yang semua Muslim diperintahkan mengamalkannya. Kalau tahap ke lima ini gagal juga, setan melanjutkan strategi gandanya ke tahapan yang keenam, yaitu menyibukkan manusia dalam urusan-urusan kurang bermanfaat atau yang manfaatnya lebih kecil, sehingga dampak persoalan-persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik jadi tertinggalkan dan terabaikan. Misalnya, sibuk dengan amalan sunnah, sehingga amalan wajib tertinggalkan.

Adapun perangkap atau jerat-jerat yang dipasang setan tidak terhitung jenis dan jumlahnya, di antaranya ialah:

  1. Mengadu Domba Sesama Muslim dan Buruk Sangka

    Di dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhari, Rasulullah bersabda yang artinya, "Sesungguhnya iblis telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholeh, tetapi ia berusaha mengadu domba di antara mereka.".
    Caranya ialah menciptakan dan menyebarkan permusuhan, kebencian dan fitnah di antara mereka. Sikap buruk sangka (terhadap Allah maupun manusia) biasanya datang dari setan. Dalilnya antara lain ialah hadits Shafiyyah binti Huyay (istri Rasulullah) ia berkata yang artinya, "Ketika Rasulullah sedang beri'tikaf di masjid, saya mendatanginya pada suatu malam dan bercerita. Kemudian saya pulang diantar beliau. Ada dua orang Anshar berjalan dan ketika keduanya melihat Rasulullah, mereka mempercepat langkah. Rasulullah berkata, "Pelan-pelanlah. Dia adalah Shafiyah binti Huyay". Mereka berkata, "Subhanallah (Maha Suci Allah), Rasulullah!" Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya setan berjalan di tubuh manusia pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua , sehingga timbul prasangka yang buruk." (HR. Al-Bukhari 240, Muslim 2174-2175).

  2. Menganggap Baik dan Indah Kebid'ahan.

    Ibadah yang sudah baik dari Nabi, oleh setan dimodifikasi, antara lain dilakukan penambahan-penambahan di sana sini atau pun pengurangan-pengurangan. Apa yang tidak disunnahkan Nabi, dilakukan, sebaliknya yang disunnahkan Nabi justru ditinggalkan.

    Sebagian manusia dibisiki agar merekayasa hadits palsu yang disandar kan kepada Rasulullah sambil berdalih, "Kami memang berdusta mengarang hadits, namun bukan dengan niat menentang Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , melainkan membela beliau. Tak terhitung jumlah hadits yang direkayasa untuk menakut-nakuti manusia dari neraka, agar melakukan amal kebaikan atau pun menggambarkan surga dengan cara aneh pula.

  3. Membisikkan Bahwa Islam Hanyalah Muamalah.

    Terkadang setan membisikkan ke dalam hati manusia, "Dien (Islam) adalah muamalah (pergaulan/akhlak yang baik). Yang penting dalam beragama adalah cukup berbuat baik saja terhadap sesama manusia, jangan mendustai atau menipu mereka walaupun kamu tidak shalat. Bukankah Rasulullah mengatakan, bahwa agama adalah muamalah?" Sebagai hasilnya, banya orang yang berprinsip, tak shalat tak mengapa, asal tidak jahat terhadap sesama manusia. Kepada yang lain, dibisikinya pula, "Yang penting adalah hati dan niat baik, sepanjang engkau lalui waktu malammu tanpa menyimpan dengki dan kebencian terhadap manusia, cukuplah sudah". Akibatnya yang bersangkutan meninggalkan banyak amal shaleh, karena mencukupkan diri dengan niat baik saja!

    Kepada kalangan yang berkecimpung di politik, setan jin membisikkan, "Yang penting adalah kita harus mengenal keadaan riil kaum muslimin dan keadaan musuh-musuh mereka. Dengan demikian hal paling penting adalah masalah-masalah politik. Ibadah biarlah dilakukan kalangan ahli ibadah saja.

  4. Membisikkan bahwa Islam Hanya Mengatur Hubungan dengan Allah Saja.

    Kepada mereka, setan membisikkan, "Engkau zuhud dengan meninggalkan semua urusan dunia, termasuk urusan politik." Urusan pemerintahan, biarlah orang kafir saja yang mengatur, karena itu adalah masalah keduniaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama, sedang agama hanya mengatur hubungan dengan Allah saja.

  5. Membisikkan Bahwa yang Penting Bersatu.

    Datang pula kelompok lain dengan pendapat, "Yang paling penting adalah menyatukan barisan kaum muslimin. Kelompok ini menjadikan persatuan sebagai hal paling penting, walaupun dibandingkan masalah aqidah! Dasar mereka ialah musuh-musuh Allah sedang gencar ingin menghabisi Islam. Memang benar umat Islam harus bersatu, tetapi harus di atas dasar dien, bukan bersatu dalam kekacauan dan perbedaan aqidah.

  6. Menunda Kebaikan atau Melakukannya Secara Asal-Asalan.

    Salah satu bisikan jahat setan ialah agar umat Islam dalam melakukan kebaikan bersikap menunda-nunda atau sebaliknya melakukannya, namun dengan tergesa-gesa tanpa perhitungan. Sehingga akibatnya banyak kebaikan yang tidak terlaksana atau dilakukan namun secara serampangan dan asal-asalan, baik itu amal yang bersifat individual maupun kolektif

  7. Membisiki Manusia Sebagai Orang yang Terbaik

    Di sisi lain, setan membisikkan di dalam hati manusia, "Engkau lebih baik dari orang lain, engkau melakukan shalat, sementara orang lain banyak yang tidak shalat." Setan membisiki setiap orang yang beribadah agar memperhatikan kelakuan orang-orang yang berada di bawahnya dalam beramal shaleh, untuk mencegahnya dari beramal lebih baik. Padahal yang dituntut dari kita adalah sebaliknya yaitu merasa kurang di dalam kebaikan, misalnya kita perhatikan orang yang berpuasa sunah Senin dan Kamis ketika kita tidak melakukannya. Tetapi setan sangat jahat dan lihai, dengan berbagai cara, ia memperdayakan kita agar kita merasa sudah cukup, sudah hebat dan sempurna, sehingga kita merasa tak perlu belajar dari orang lain.

  8. Menjadikan Satu Kebaikan Sebagai Penghalang Kebaikan yang Lain

    Untuk menjauhkan kita dari tugas dakwah, setan terkadang membisiki hati kita, "Kamu harus tawadhu, siapa yang tawadhu karena Allah, niscaya akan ditinggikan-Nya. Bukan level kamu melibatkan diri dalam tugas da'wah! Urusan da'wah hanya untuk orang berilmu tinggi saja! Kalau kamu melibat-kan diri juga dalam tugas da'wah, kamu berarti sombong, tak tahu diri."
    Setan terus menekan kita sampai mencapai derajat di mana kita merasa tak berguna dan tak mampu memikul tugas da'wah'. Padahal kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kemampuan yang seharusnya kita pergunakan untuk tugas da'wah itu.

    Mudah-mudahan Allah senantiasa membantu kita mengalahkan musuh nyata kita, yaitu setan, baik setan jin maupun manusia. Akhirnya, marilah kita sama-sama berdo'a dengan do'a yang diajarkan Allah. Terapinya, membiasakan melakukan dzikir pagi dan sore, banyak-banyak membaca al-Qur'an, dan selalu berdzikir memohon perlindungan kepada Allah.


 

"Wahai Rabbku!, aku berlindung kepadaMu dari bisikan-bisikan jahat setan dan aku berlindung kepadamu Rabbku mereka mendatangiku…"
(Al-Mu'minun ayat 97-98). Wallaahu 'a'lam.

(Sumber : Muhammad Hanafi Maksum)

Pencetus Murka Allah Swt (Part 1)

10/19/2008 05:03:00 PM Posted by Ady'S No comments

Sekali lagi, hanya melihat, membaca, mendengar, apa yang ada di hadapanku di lingkar sekitarku. Setelah menuangkan tulisan ini nantinya aku hanya bisa berharap bahwa surat permohonan ampunku kepada-NYA Yang Maha Kuasa dapat diterima, walaupun terlalu naif aku berharap jika kubayangkan dosa-dosaku. Aku hanya ingin ikhlash. Ikhlash karena inilah kemampuan terbaikku.

Coba simak, semoga...

Aku tidak mengurutkan berdasarkan urutan waktu :

  1. Pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT)

    Memang bukan hal baru. Niat pemerintah sebenarnya patut diacungi jempol, walaupun banyak pihak yang masih meragukan keefektifan atau daya guna dari program ini.

    Namun dari niat baik dan "nilai yang sedikit" ini, terdapat beberapa hal yang membuat miris hati kita yang masih memiliki nurani:

    1. Tidak semua rakyat yang dikategorikan miskin di suatu wilayah (RT/RW/Keluarahan) terdata. Bahkan di lingkar sekitarku perbandingan masyarakat "kurang makan" yang tidak mendapatkan anugerah ini nyaris sama dengan masyarakat "cukup makan" yang menggantikan untuk menerima pendapatan gratis ini.
    2. Akupun hanya bisa mengurut dada dan meminta ampunan Allah Swt, karena dari "nilai yang sedikit" itupun masih dipotong (dengan alasan biaya ini dan itu) oleh mereka yang membagikan. Lihatlah banyaknya pemberitaan tentang ini melalui media massa kita.

    Jangan tutup mata!!! Dimana nurani kita!!!

  2. Pembagian Zakat

    Juga bukan hal yang baru. Allaahu Akbar. Banyak yang meninggalkan dunia di akhir Ramadhan karena terjepit. Banyak yang tidak sempat lagi menyaksikan anak-anaknya mengenakan pakaian baru saat Lebaran karena terinjak-injak. Banyak yang telah kehabisan waktu untuk sekedar mencicipi sedikit makanan enak sebagai menu berbuka puasa saat takbir berkumandang karena kehabisan nafas akibat berdesak-desakan. Apakah tidak sebaiknya :

    1. Mereka yang memang "berlimpah rezeki" menjadi kurir langsung membawakan rezeki yang sudah mereka belah-belah itu kepada yang berhak. Masih tegakah kita melihat "orang-orang yang berhak" itu mempertontonkan kelemahan dan kekurangan mereka? Masih terlalu tebalkah kacamata kita menepis bayangan "orang-orang yang berhak" itu berdesak-desakan menghiba sedikit rezeki di akhir-akhir bulan suci itu? Tidak bisakah kita sedikit berpeluh air keringat keluar dari istana-istana kita membawakan rezeki ke gubuk mereka untuk membahagiakan "orang-orang yang berhak" itu yang hanya sekali setahun, sementara dalam 11 bulan yang lainnya "orang-orang yang berhak" itu telah pula bersimbah darah mengais rezeki. Bukankah Allah Swt menganugerahkan akhir bulan suci itu untuk sama-sama berbahagia? Taqobbalallaahu Minna Wa Minkum...
    2. Hanya "orang-orang yang berhak" yang berada dalam antrian pembagian itu. Meskipun saya sangat tidak pernah setuju dengan acara "Parade Pembagian Zakat" ini baik di mesjid-mesjid/musholla-musholla atau di tempat-tempat lain sebagaimana disebutkan di atas, dan menggantinya dengan "direct service" baik oleh panitia maupun pribadi, namun jika memang "terpaksa" untuk membuat antrian, cukuplah mereka-mereka yang berhak saja yang termasuk di dalamnya. Di lingkar tempat tinggalku dan di depan mata ini, terlihat antrian penerima di salah satu rumah "Orang Kaya" dan di sudut yang lain juga terlihat antrian puluhan sepeda motor mencari lokasi parkir yang aman. Bukan hanya satu atau dua orang yang ada di atas kendaraan itu, suami istri dan 2 sampai 3 orang anak turun dengan pakaian dan dandanan yang sangat baik, lalu ikut berdesak-desakan. Kenyataan inilah yang membuatku tidak mampu berbuat apapun kecuali memohon ampunan-NYA. Kenyataan bahwa kebiasaan "menggaruk" sesuatu yang bukan haknya telah mengakar. Kebiasaan "menghabisi" sandang pangan orang lain telah membudaya. Kebiasaan "menguliti" sesuatu yang bukan jatahnya telah dikembangbiakkan. Kebiasaan mengaku "kurang makan", padahal kenyataannya adalah "cukup makan" bahkan "berlebih".

Allah Swt tidak akan memberi kecuali apa yang telah kita niatkan dan kita minta.

Allah Swt Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kita.

Ampuni ya Allah...

“Berhati-hatilah Dengan Perbuatan Anda”

10/19/2008 04:40:00 PM Posted by Ady'S No comments

Setiap insan akan bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuat, dan barang siapa yang beriman dan berbuat baik maka ia masuk surga, dan barang siapa yang kufur kepada Allah SWT dan Rasul-Nya maka ia masuk neraka, Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman." (QS. An Nisaa: 56-57 )

Semua perbuatan baik hanya akan bermanfaat kepada pelakunya, Allah tidak membutuhkan perbuatan itu, begitu pula semua perbuatan buruk hanya akan membahayakan pelakunya, perbuatan buruk itu tidak akan membahayakan Allah sedikit pun, sebagaimana firman-Nya:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya)" (QS. Fushshilat: 46).

"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta." (QS. Al 'Ankabut: 6)

Allah swt. Maha Mulia akan melipatgandakan seluruh perbuatan baik, sebagaimana firman-Nya:

"Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbangdengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (QS. 6: 160)

Perbuatan-perbuatan baik seperti shalat, zakat, puasa, haji, memerintahkan kepada kebaikan, mencegah kemunkaran, berjihad, mambas Al Qur'an dan lain-lain yang termasuk syari'at Islam, semua perbuatan itu akan mendapat imbalan berupa surga, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An Nisaa: 124)

Perbuatan-perbuatan buruk seperti kedzaliman, syirik, membunuh, perusakan, takabbur dan lain-lainnya dari perbuatan maksiat, maka imbalan dari semua perbuatan maksiat ituadalah neraka jahannam, kecuali bagi orang-orang yang bertaubat, Allah berfirman:

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An Nisaa: 14)

Semua perbuatan dan perkataan yang baik maupun yang buruk, seluruhnya mempunyai ikatan dengan Allah sang Pencipta, firman-Nya:

"Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar.Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jatsiyah: 29)

Allah tidak akan menerima perbuatan baik kecuali jika dikerjakan dengan penuh ikhlash hanya karena Allah serta sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. sebagaimana firman-Nya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:

"Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya." (QS. Al Kahfi: 110)

Pada hari kiamat setiap manusia akan mendapat kitab yang berisi semua catatan seluruh amal perbuatannya di dunia, lalu dikatakan kepadanya.

"Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az Zalzalah: 4-8)

Pada hari kiamat nanti, setiap manusia akan diberikan kitab catatan amalnya, lalu dikatakan kepadanya: "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu." (QS. Al Isra: 14)

Maka barangsiapa yang beriman dan melakukan kebaikan ia akan mengambil kitab itu dengan tangan kanannya sambil bergembira dan masuk surga, dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya ia akan mengambil kitab itu dengan tangan kirinya atau dari belakang punggungnya dan akan masuk neraka jahannam, sebagaimana firman Allah:

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. Al Insyiqaq: 7- 12)

Sungguh, sangat jauh perbedaan antara iman dan jufur, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara penghuni surga dan penghuni neraka, firman Allah menyebutkan:

"Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir) Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya." (QS. As Sajdah: 18-20)

Allah telah menerangkan bahwa orang-orang mukmin adalah para pemenang dan orang-orang kafir adalah golongan yang merugi, sebagaimana firman Allah:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr: 1-3)

Ya Allah berilah kami rezeki berupa surga, selamatkanlah kami dari siksa neraka, dan kasihanilah kami dengan rahmat-Mu Wahai yang Maha Penyayang.

(Sumber: Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiry)


 

Awas, bahaya Syirik merenggut Anda

10/19/2008 04:28:00 PM Posted by Ady'S No comments

Ketika umat ditimpa berbagai macam krisis, baik krisis ekonomi, moral, akhlaq maupun aqidah, mulailah berbagai macam organisasi dakwah dan tokoh-tokoh para dai mencari solusi. Mereka berupaya untuk melepaskan umat dari berbagai macam krisis tersebut.

Sebagian mereka memulainya dengan memperbaiki dari sisi ekonomi. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak akan selesai krisis ini kecuali dengan memperbaiki akhlaq.

Bahkan sebagian yang lainnya mengatakan kita harus menyelamatkan umat dengan menguasai negara dan memperbaikinya dari sisi politik. Hampir tidak ada seorang pun di antara mereka yang berpendapat bahwa penyebab semua krisis itu adalah krisis tauhid dan menyebarnya berbagai bentuk kesyirikan-kesyirikan yang menimpa umat.

Oleh karena itu apabila ada sekelompok umat yang memulai dakwahnya dengan memperbaiki sisi tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya kesyirikan, mereka beramai-ramai menganggapnya sebagai orang yang tidak mengerti sikon (situasi dan kondisi), tidak paham fiqhul waqi' (kenyataan yang ada), tidak memiliki wawasan politik, tidak mengikuti zaman dan seabrek tuduhan lainnya. Padahal sesungguhnya bahaya kesyirikan lebih besar dari bahaya kelaparan dan kekeringan.

Hal itu karena apabila seseorang terjatuh dalam kesyirikan, maka akan runtuhlah keislamannya dan hilanglah makna kehidupan ini. Bukankah kita tercipta untuk beribadah kepada Allah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya?. Dengan tauhid dan keimanan yang benar, segala macam krisis akan dapat diatasi. Dengan ketaqwaan kaum muslimin kepada Allah, Allah akan bukakan barokah dari langit dan bumi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (al-A'raaf: 96)

Dengan ayat di atas Allah menjelaskan bahwa jika suatu kaum senantiasa beriman dan bertaqwa kepada-Nya maka Allah akan memberikan barakahNya. Tapi sebaliknya jika mereka mendustakan ajaran Allah, kafir, ingkar kepada Allah dan rasul-Nya, dengan berbuat kesyirikan dan kebid'ahan, maka barokah tersebut akan tercabut. Ini adalah bahaya kesyirikan di dunia. Adapun bahaya kesyirikan di akhirat lebih besar lagi. Allah tidak akan mengampuni pelakunya dan Allah pasti akan mengadzabnya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa': 48)

Karena itu pula seluruh para nabi memperingatkan umatnya dari kesyirikan. Nabi Ibrahim, bapak para nabi dan bapak tauhid pun berdoa meminta kepada Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari kesyirikan.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Ibrahim: 35)

Beliau menjelaskan alasan takutnya beliau dari kesyirikan yaitu karena peribadatan terhadap berhala telah banyak menyesatkan manusia.

Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ibrahim: 36)

Jika nabi yang mulia, bapak para Nabi, dan bapak Tauhid mengkhawatirkan dirinya dari kesyirikan maka tentunya seseorang yang bukan Nabi lebih dikhawatirkan untuk terjerumus ke dalam kesyirikan-kesyirikan. Berkata Ibrahim At-Taimi: "Siapakah yang merasa aman dari kesyirikan setelah Ibrahim?"

Rasulullah memperingatkan para shahabatnya dari bahaya kesyirikan dengan sabdanya: "Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para shahabat bertanya: "Apa itu syirik kecil?" Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menjawab: "Ar-Riya'". (HR. Ahmad dan Syaikh al-Albani menshahihkannya)

Dalam hadits di atas Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam mengkhawatirkan kesyirikan yang kecil terhadap para shahabat-shahabatnya yang besar kedudukannya.

Dari sini menunjukkan kalau pada diri shahabat yang mulia masih dikhawatirkan terjatuh dalam kesyirikan, tentunya terlebih lagi pada umat yang setelahnya. Karena orang yang setelah mereka jauh lebih rendah tingkat keimanan, ketaqwaan dan keilmuannya, sehingga sangat dikhawatirkan akan terjerumus dalam kesyirikan. Tidak hanya kesyirikan-kesyirikan kecil bahkan sangat mungkin terjerumus dalam syirik-syirik besar yang akan mengeluarkan mereka dari agamanya tanpa terasa.

Berarti kita harus lebih takut dan lebih berhati-hati dari bahaya kesyirikan yang mengancam manusia, karena tidak ada seorang pun yang dijamin aman oleh Allah dari bahaya tersebut.

Yang lebih mengharuskan kita takut adalah adanya kesyirikan yang sangat samar. Bagaikan semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

Kesyirikan itu lebih samar dari rayapan semut. Abu Bakar (terkejut) dan bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Wahai Rasulullah bukankah kesyirikan itu adalah hanya beribadah kepada selain Allah atau menyeru kepada selain Allah?" Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menjawab: "Engkau mengecewakan ibumu! Sungguh kesyirikan di antara kalian lebih samar dari rayapan semut." (HR. Abu Ya'la dan Ibnul Mundzir).

Maka kita harus ekstra hati-hati dan harus melindungi diri dari kesyirikan-kesyirikan tersebut dengan dua cara.

Pertama, kita harus selalu berdoa kepada Allah, berlindung dari kesyirikan-kesyirikan tersebut, di antaranya dengan doa: "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak ketahui". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih at-Targhib, 1/19)

Kedua, kita harus mencari ilmu dan belajar, khususnya tentang tauhid dan syirik. Dengan ilmu tersebut pandangan kita semakin tajam dan jeli. Dapat melihat kesyirikan sekecil apa pun. Sebaliknya tanpa ilmu sering manusia terjerumus ke dalam kesyirikan bahkan kesyirikan yang besar dalam keadaan tidak sadar dan merasa dirinya sedang berbuat baik.

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 103-105)

Tanpa ilmu tentang tauhid dan hal-hal yang merusaknya berupa kesyirikan-kesyirikan kadang manusia mengucapkan satu kalimat yang dianggap biasa (tidak ada apa-apanya) ternyata menjerumuskan dirinya ke dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dalam riwayat lain dikatakan tersungkur ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan satu kalimat, ternyata dengan kalimat itu ia tersungkur ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : Ini adalah kehendak Allah dan kehendakmu, maka Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menegurnya dengan keras dan bersabda: "Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Bahkan (katakan) hanya kehendak Allah semata". (HR. Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Nasa'i dan Ibnu Majah).

Kesyirikan sangatlah berbahaya, karena dapat mengakibatkan kejelekan-kejelekan di dunia dan di akhirat, diantaranya:

  1. Syirik merupakan kedurhakaan kepada Allah. Karena tidaklah manusia dan jin diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya semata. Tetapi kaum musyrikin justru beribadah kepada selain Allah yang menciptakannya. Ini adalah kedurhakaan yang besar.
  2. Kesyirikan merupakan penghinaan terhadap Allah. Karena seorang yang beribadah kepada selain Allah berarti dia menyamakan sesembahannya itu dengan Allah atau mendudukkan makhluk tersebut seperti kedudukan Allah. Sungguh sebuah penghinaan besar, menyamakan Allah yang menciptakan seluruh alam dengan ciptaan-Nya yang sangat lemah dan serba terbatas.
  3. Kesyirikan akan menggugurkan amalan. Jika sebuah amalan shalih diiringi dengan riya', maka akan gugurlah amalan-amalan tersebut dan tidak bernilai di sisi Allah. Dan jika seorang hamba melakukan syirik besar, maka akan gugur seluruh amalan-amalannya walaupun amalannya seperti amalan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Jika kamu mempersekutukan (Rabb-mu), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (az-Zumar: 65)

  4. Syirik menghalangi pelakunya untuk masuk ke dalam surga. Seseorang yang amalannya gugur dengan perbuaan syirik yang dia lakukan, maka Allah tidak memberikan balasan sedikitpun terhadap amalan shalihnya. Bahkan sebaliknya ia akan mendapatkan adzab dari Allah karena kedurhakaan dan penghinaan kepada Allah dengan kesyirikan yang dia lakukan. Maka pantaslah Allah mengharamkan mereka –para musyrikin - tersebut dari surga.

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (al-Maidah: 72)

  5. Dosa syirik tidak akan diampuni. Jika seseorang mati membawa dosa syirik dan ia belum bertaubat darinya, maka Allah tidak akan mengampuninya. Adapun bagi dosa selainnya, maka hal itu di bawah kehendak Allah yakni masih memungkinkan untuk diampuni oleh Allah.

    Sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (an-Nisaa': 48)


Disamping itu masih banyak lagi akibat-akibat jelek yang ditimbulkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan di dunia dan di akhirat yang telah dijelaskan oleh para ulama. Karena kesyirikan adalah sebesar-besar kemaksiatan, maka dampak jeleknya adalah paling besar seperti merusak hati, mengurangi keyakinan dan keimanan, mematikan hati, menyempitkan dada, menghilangkan ketenangan, menyebabkan hilangnya wibawa, terhina dan lain-lainnya.

Sebagaimana firman-Nya: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 124).

Wallahu a'lam


(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Bahaya Syirik".)


 


 

Kamis, 09 Oktober 2008

Kopi Pagi (Pikiran, Tangan dan Kaki) part.1

10/09/2008 07:18:00 AM Posted by Ady'S No comments
Membaca berita halaman muka pada salah satu harian terbitan kota ini, judulnya : “Dari Razia Rutin Tim Yustisi; Taktik Pura-pura Lumpuh Ali Berakhir”, apakah yang akan terpikirkan oleh kita?
Ali (25), adalah satu di antara pengemis yang memilih mempraktekkan taktik pura-pura lumpuh ini. Tapi sayang, tipu muslihatnya tak bertahan lama karena Senin (6/10) pagi, ia tertangkap Tim Yustisi Pemkot saat sedang mengemis di jembatan penyeberangan depan Ramayana Jalan Sudirman.
Ali awalnya bersikukuh kalau ia memang benar-benar lumpuh dan tidak bisa berjalan. Namun, setelah dipaksa petugas, lelaki ini bisa berjalan seperti biasa. “Saya memang sudah 3 tahun di sini, tapi baru sekali ini mengemis, bang. Saya kan kehabisan uang, jadi untuk ongkos pulang saya terpaksa mengemis,” katanya sambil mengeluarkan uang hasil mengemisnya senilai Rp 16.500.
Sebelum Ali, Tim Yustisi pada akhir September lalu juga menggaruk 8 pengemis dari hotel/wisma. Kenyataan itu terbilang unik, karena pengemis saja masih bisa menyewa wisma untuk menginap. Ketika itu, kota ini menjadi serbuan pengemis seiring datangnya bulan puasa.

Mencela orang seperti berita di atas bukan yang akan saya lakukan, karena tidak ada gunanya. Dengan paduan kata yang masih mentah dan sumbang pikiran yang masih hijau, semoga apa yang tertuang di sini membuat saya semakin memiliki rasa syukur atas apa yang telah Allah SWT berikan.
Menggurui juga bukan tujuan saya, karena saya masih “murid” yang terus menerus mencari “guru” hidup.
Saat hidup semakin terjepit, banyak orang tertutup mata hatinya. Nuansa berpikir terpinggirkan. Tidak lagi menghargai diri sendiri. Menutupi betapa berlimpahnya nikmat yang telah dianugerahkan oleh yang Maha Kuasa. Meminta sedekah tanpa sedikitpun ikhlash memberi. Sabar dan sholat musnah.
“ah…, kamu bisa mengatakan itu karena bukan kamu yang mengalami. Coba kalau kamu menjadi orang susah seperti mereka,” demikian kalimat yang akan disampaikan oleh sebagian orang yang membaca tulisan ini.
Ya, itulah pendapat mereka. Tidak salah juga memang. Tapi jika boleh saya mengatakan yang sejujurnya, saya dan sebagian anggota keluarga saya mungkin telah mengalami masa-masa sulit seperti itu sebelumnya.
Sedikit saja apa yang saya alami…
Walaupun telah menempuh pendidikan sampai ke jenjang S1 (yang sudah cukup tinggi kala itu), tidak serta merta memudahkan langkah saya memasuki dunia kerja. Bingung hendak kemana ijazah ini hendak dibawa. Sampai akhirnya, hanya tawakkal dan sabar yang harus terus dipupuk. Memuja kebesaran Allah, berdo’a memohon ridho-Nya, meminta restu almarhum kedua orang tua (“mohon ma, tolong pa…”) yang selalu meninjau dan memantau anak-anaknya di alam yang lain yang jauh lebih indah dan menyejukkan.
Segala macam pekerjaan hanya untuk sekedar mencicipi manisnya kopi di pagi hari saya kerjakan, bahkan di bidang yang sebenarnya tidak pernah saya pelajari sebelumnya. Bertukang ditemani palu, paku, gergaji dan sejenisnya memperbaiki beberapa bagian rumah seseorang yang rusak, memanjat tangga-tangga lapuk menaiki kayu-kayu reot untuk mengganti atap yang memang sudah semestinya diganti dengan yang baru, mengikis pagar-pagar besi dan dinding-dinding berlumut sebelum melumurinya kembali dengan cat yang baru, menuruni sudut-sudut licin sebuah sumur yang telah mengering untuk mencari sebuah mata air dan mengalirkannya lewat mesin ke pipa-pipa yang tersambung ke kamar mandi, membersihkan halaman rumah dan kebun-kebun di belakang rumah seseorang yang baik dari rumput-rumput pengganggu yang telah rimbun, membersihkan selokan, menahan ngeri untuk memperbaiki instalasi listrik di rumah seseorang yang lain, berkubang oli dan minyak untuk memperbaiki motor atau mesin-mesin yang tidak berfungsi lagi, menjajakan buku-buku ke sekolah-sekolah, begadang seorang diri hingga pagi hari untuk menyelesaikan spanduk yang akan dipajang untuk sebuah acara yang diadakan oleh salah satu perusahaan dimana seorang teman yang menjadi ketua panitianya, menjadi kurir surat-surat atau dokumen-dokumen, mengantarkan tiket ke pemesan pada sebuah tour & travel, menerima sedikit upah untuk sebuah ketikan dan editing, coba-coba mendandani elektronik yang rusak agar bisa berfungsi kembali, berdagang voucher isi ulang pulsa, ataupun juga memperbaiki telepon selular dan komputer yang rusak ringan.
Boleh untuk tidak percaya, boleh untuk mencemooh, boleh juga untuk menganggap ini mengada-ada, atau boleh juga bilang ini belum seberapa.
Pasti masih banyak orang sukses yang jauh lebih sulit “perjuangannya” dari yang saya ungkapkan itu. Namun, bagi saya perjuangan tetaplah harus dilakukan sampai kapanpun.
Tidak dalam satu waktu kegiatan di atas saya lakukan. Usai satu pekerjaan, cari lagi. Habis manisnya kopi pagi, bergerilya menemukan lagi “sedikit gula dan kopi” untuk esoknya. Begitu selalu, tak henti walau sempat ada rasa lelah. Dengan otak yang terus berputar, tangan dan kaki yang masih bergerak dan kesempatan yang terus ada.
Yang jelas, hargai diri sendiri. Allah tidak akan merubah nasib satu kaum kecuali kaum itu yang merubahnya. Bekerja dan bertawakkal. Perbanyaklah sedekah.
Ya, Allah telah memberi…
Pikiran, tangan dan kaki kita…
Banyak “jalan” untuk ditelusuri…
Banyak “ladang” yang bisa digarap…

Senin, 06 Oktober 2008

Bertaubat, Sebelum Terlambat

10/06/2008 06:03:00 PM Posted by Ady'S No comments

Manusia di manapun, baik mereka yang lebih dulu hadir ke dunia maupun yang akan datang kemudian, tidak pernah terlepas dari penyakit lalai (alpa). Bagai peristiwa sambung-menyambung, sifat alpa per-tama telah dilakukan oleh Nabiyullah Adam as dan Siti Hawa dengan memakan buah Khuldi. Maka tepatlah sebuah ung-kapan yang berkata: "insan ashluhu nisyan", asal kata insan adalah `an-nisyan (alpa). Ungkapan lain mengatakan: "insan mahallul khato wan nisyan", pada diri manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Akibat kealpaan itu, manusia dapat terperangkap melakukan kesalahan, pelanggaran, sampai kepada kejahatan.

Tingkat pelanggaran dalam Islam dikenal dengan istilah `maksiat'. Setiap orang dengan kealpaannya itu dapat setiap saat terperangkap pada jurang kemaksiatan. Hanya para Nabi dan Rasul saja yang terpelihara dari sifat tercela itu,lantaran mereka adalah utusan Allah yang dikenal memiliki sifat makshum (terpelihara dari kemaksiatan).

Satu hal yang juga fitrah dalam diri manusia adalah adanya kecenderungan mereka pada perasaan kebenaran (recht-gevoel). Istilah itu bisa pula berarti `perasaan hukum'. Manusia dalam keadaan bagaimanapun selalu diliputi oleh hukum dan berhajat kepada hukum. Mereka ingin menegakkannya, walaupun terkadang tuntutan hawa nafsu bersikeras menolaknya. Kalangan ahli hukum menyebut hal ini sebagai `hukum ada di mana-mana'.

Oleh karena perasaan ingin tegaknya hukum itulah, manusia berupaya untuk mewujudkan keamanan, ketenteraman, dan ketertiban untuk diri, keluarga, dan lingkungannya. Dengan demikian akan terwujud aturan main kehidupan yang dapat berbeda dengan binatang, di mana yang kuat dapat dengan sesuka hatinya menguasai dan memakan si lemah.

Kehadiran utusan Allah yakni para Nabi dan Rasul dengan dilengkapi kitab suci-Nya tidak lain adalah untuk menjelaskan kepada manusia agar tidak terjadi hal yang demikian itu. Manusia bukanlah hewan yang dengan seenaknya bisa saling memangsa satu sama lain.

Mereka menjelaskan jalan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh. Di sini agama memberi peringatan `amar makruf nahi munkar' dengan turunnya utusan-Nya itu. Kepada mereka yang melanggar, Allah Swt memberi sanksi hukum kepada mereka berupa dosa. Sedang kepada mereka yang berbuat kebaikan Allah akan diberi ganjaran pahala.

Dosa dan pahala

Tidak ada salahnya kita mengkaji ulang apa yang dimaksud dosa dan pahala. Ini bukan perkara sepele. Bukankah keduanya selalu berkaitan dengan kehidupan kita? Efek-efeknya senantiasa menyertai kita kapan dan di manapun juga? Akibat perbuatan dosa, kita menjadi murung, sedih, kecewa, atau terkadang kehilangan gairah hidup. Jumlah rupiah yang ada di dompet dan besarnya simpanan uang di bank, rumah yang indah, ladang yang luas, tidak membuat hidup kita berbahagia akibat dosa yang kita lakukan. Itulah efek dosa.

Sebaliknya, kita terkadang mendapati hidup yang penuh ketenteraman, bahagia —meskipun kata orang kita hanya `cukup hidup dengan nasi dan garam'—tetapi hal itu tidak mengurangi rasa senang, tenteram, dan bahagia yang ada di hati kita. Hidup pun penuh optimisme. Hal ini merupakan buah rasa syukur kita terhadap karunia Allah yang yang telah kita peroleh. Kemudian kita telah berupaya dengan sekuat tenaga menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Kita berjalan di atas jalan keridhaan-Nya.

Dampak-dampak dosa dan pahala sangat riil dalam hidup. Pahala dan dosa bukan sekadar kalimat berita, tapi hal yang sangat berkaitan dengan kehidupan kita, senang-susah, bahagia atau menderita.

Allah Swt berfirman: "Barang siapa mengerjakan perbuatan baik walapun sebesar zarrah, niscaya Ia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan perbuatan jahat meskipun seberat zarrah, niscaya Ia akan melihatnya". (QS Al-Zal-zalah:7-8)

Dalam keterangan salah satu hadits disebutkan bahwa raut wajah para pendosa akan diselimuti kabut hitam, sehingga pandangannya tidak bercahaya. Tak ada kesejukan manakala orang memandangnya.

Suatu saat dijumpai seorang yang dalam hidupnya melulu diwarnai kesenangan. Setiap hari tempat parkirnya di diskotik, minumannya arak, makanannya barang haram, teman-temannya para perampok, dan hiburannya wanita pelacur. Suatu saat ketika ajal akan datang menjemputnya, ia kembali ke kampung halaman. Masyarakat desa yang tidak tahu-menahu perilaku si Fulan ketika di negeri rantau, heran melihat tabiat mengenaskan si Fulan.

Di antara rasa sakitnya di pembaringan, ia menangis sejadi-jadinya sambil bersumpah-serapah. Puluhan orang yang melayat kewalahan memegangi tubuhnya yang meronta-ronta dengan hebat. Tangisnya melolong-lolong, diiringi teriakan minta ampun. Setelah dengan susah payah para pelayat memegangi dan menenangkan, akhirnya si Fulan berangkat ke alam baka dengan tatapan mata menyeramkan. Naudzubillah!

Pada saat yang lain, kita dapati si shalih dalam suasana yang berbeda. Detik-detik menjelang akhir hayatnya (mutadhor), dengan sabar dia mengikuti talkin yang dibacakan ke dalam telinganya. Raut mukanya cerah. Dari celah bibirnya selalu terucap kalimat istighfar dan kalimat tauhid, "La ilaha illah".

Pada saat-saat terakhir hidupnya ia rasakan akan tiba, segera dikumpulkan segenap anggota keluarga dan diwasiatkan untuk senantiasa mentaati perintah agama, tidak saling bermusuhan satu sama lain. Kemudian dengan damai ia kembali ke haribaan Illahi Rabbi dengan penuh ikhlas. Wajah jasad itupun tampak berseri-seri di tinggal roh yang selama ini bersemayam dalam dirinya. Ia pergi dengan khusnul khatimah.

Memohon ampun dan bertaubat

Selagi nafas kita masih ada, pintu ampunan Tuhan dibuka seluas langit dan bumi. Allah Swt berfirman,

"Bersegeralah memohon ampunan dari Tuhanmu, dan mohon surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang yang bertaqwa". (QS Ali Imran: 133)

"Kepunyaan Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, dan disiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Ali Imran: 129)

Memohon ampun dan bertaubat hendaknya tidak dilakukan dengan main-main atau setengah-setengah. Setengahnya insyaf, setengahnya lagi ingin kembali ke pekerjaan lamanya. Ini sama halnya dengan membiarkan benih penyakit jahat tumbuh kembali dalam diri. Bagi orang yang bertaubat mesti menanamkan niat yang kuat dalam dirinya untuk meninggalkan pekerjaan keliru sejauh-jauhnya. Tutup rapat-rapat lembaran hitam itu dan jangan coba membukanya kembali.

Taubatan nashuha (taubat yang baik) laksana seseorang membuang kotoran yang keluar dari perutnya sendiri. Kendati dia tahu persis asal muasal kotoran itu berasal dari makanan yang enak, tetapi setelah berbentuk kotoran ia tidak akan mau melihatnya lagi apalagi disuruh untuk (maaf) memeganginya. Ia bahkan berusaha menjauhi sejauh-jauhnya. Menengokpun tak sudi lagi.

Di samping itu, harus benar-benar bersih, ingin kembali ke jalan lurus yang diridhai Allah. Tidak terpengaruh unsur-unsur lingkungan atau fisik. Seorang pelacur yang sudah renta, kemampuan badaniahnya lemah, wajah tidak lagi menarik, yang ingin bertaubat tetapi dalam hatinya masih tertanam keinginan ke sana, taubat yang seperti ini masih dinodai oleh kotoran. Ibaratnya, kaki kanan ingin melangkah ke surga sedang kaki kirinya tetap berdiam di neraka. Taubat seperti ini adalah taubat yang menggantung, yang urusannya hanya Allah Yang Mahatahu.

Agar kita selamat, Rasululah menuntun kita untuk selalu mengoreksi diri dengan beristighfar setiap saat. Beliau saw mengajarkan, "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tak ada Tuhan kecuali Engkau yang telah menjadikan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku tidak punya kemampuan untuk melaksanakan janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan/kejahatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui kepada-Mu atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui pula terhadap dosa-dosaku. Maka ampunilah aku (ya Allah), sesungguhnya tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau". (HR Bukhari dari Syaddad bin Aus ra)

Syekh Imam Nawawi berkata," Siapa yang mengucapkan sayyidul istighfar ini di waktu siang dengan yakin, bila dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia adalah ahli surga. Siapa yang mengucapkannya di waktu malam sebelum waktu Shubuh, lalu meninggal dunia pada malam itu, maka dia adalah ahli surga."

Wallahu a'lam bish-shawab.


 

Sabtu, 04 Oktober 2008

Salamatus Sadr (Hati yang Selamat)

10/04/2008 05:02:00 AM Posted by Ady'S No comments
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Manusia manakah yang paling mulia?" Rasulullah saw. menjawab, "Setiap yang bersih hatinya dan benar lisannya." Mereka bertanya, "Kami sudah mengetahui lisan yang benar, lalu apakah hati yang bersih?" Rasulullah menjawab, "Yaitu orang yang bertakwa, yang bersih, yang tidak ada dosa, kezaliman, dendam, dan dengki di dalamnya." (HR Ibnu Majah).
Islam menekankan agar seorang muslim memiliki hati yang bersih (salamatus sadr). Yaitu, hati yang di dalamnya tidak ada rasa iri, dengki, dan dendam kepada muslimin lainnya. Hati yang bersih adalah nikmat yang diberikan Allah kepada penduduk surga. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipannya.". (Al-Hijr: 47). Antara penduduk surga yang satu dengan yang lainnya tidak ada rasa dendam dalam hati mereka.
Salamatus sadr juga merupakan akhlak dari orang yang berilmu. Para ulama menyebutkan akhlak orang berilmu itu di antaranya adalah tidak menjilat, tidak mencela, tidak sombong, tidak dengki, tidak iri, tidak dendam, tidak melaknat, dan menjauhkan diri dari berprasangka buruk kepada mukmin lainnya.
Mewujudkan salamatus sadr bukanlah perkara mudah. Hal yang mendukung ini adalah kisah sebagaimana dituturkan Anas bin Malik r.a., "Kami tengah duduk bersama Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda, 'Akan muncul di hadapan kalian seorang dari penduduk surga.' Setelah itu muncullah seorang lelaki Anshar sembari merapikan jenggotnya karena habis berwudhu’, sementara tangan kirinya membawa sandal."
Pada hari berikutnya, sebelum lelaki tersebut datang, Rasulullah bersabda dengan sabda yang serupa. Begitulah yang juga terjadi pada hari yang ketiga. Hal ini membuat Abdullah bin Amr bin Ash r.a. merasa penasaran, apa kiranya yang membuat lelaki tadi selama tiga hari berturut-turut dikatakan Rasulullah saw. sebagai penduduk surga. Abdullah bin Amr bin Ash r.a. kemudian meminta izin kepada lelaki tersebut untuk bermalam di rumahnya selama tiga hari. Beliau ingin melihat apakah yang dikerjakan lelaki tersebut sehingga mendapat predikat penduduk surga. Ia tidak melihat lelaki tersebut bangun malam kecuali apabila ia membalikkan tubuhnya ia berzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk melaksanakan sholat fajar. Abdullah r.a. berkata, "Saya tidak pernah mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."
Setelah tiga malam berlalu, Abdullah r.a. berkata, wahai hamba Allah .... selama tiga hari berturut-turut saya mendengar Rasullah bersabda tentang dirimu dengan mengatakan, "Akan muncul kepada kalian seorang dari penduduk surga." Karena itu, aku bermalam bersamamu selama tiga hari untuk melihat apa yang engkau lakukan, tetapi aku tidak melihatmu melakukan amal yang banyak, lalu apakah yang engkau lakukan sehingga disebut Rasulullah sebagai penduduk surga? Lelaki itu menjawab, "Tidaklah ia kecuali apa yang engkau lihat." Lalu ketika saya berpaling ia memanggilku, "Tidaklah ia kecuali yang engkau lihat, hanya saja aku tidak mempunyai rasa iri dengki kepada siapa pun dari orang muslim yang mendapatkan kebaikan dari Allah Taala”. Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata, "Sifat inilah yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang tinggi dan inilah yang sulit dilakukan orang-orang."
Salamatus sadr adalah unsur penting dalam membangun persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah). Dan, inilah yang telah dicontohkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagaiman Allah berfirman, "Dan mereka (orang-orang anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin)." (Al-Hasyr: 9).
Maksudnya, orang-orang Anshar tidak merasa hasad (dengki) kepada kaum Muhajirin yang mendapatkan keutamaan dari Allah dalam kemuliaan dan kedudukannya dibanding kaum Anshar. (Tafsir Ibnu Katsir 4/304). Wallaahu a'lam.

"Ummat Muslim yang dimuliakan Allah, Setiap Muslim berkewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Kesempatan kita saat ini untuk turut berdakwah adalah menyampaikan pesan ini kepada rekan, keluarga dan saudara kita yang belum mengetahuinya.
"


(sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Jumat, 03 Oktober 2008

IDUL FITRI 1429H

10/03/2008 09:47:00 AM Posted by Ady'S No comments
MOHON MAAF LAHIR BATHIN
SEMOGA AMAL IBADAH KITA SEMUA DIRIDHOI ALLAH SWT

SEGERALAH BERTOBAT "SAUDARA-SAUDARAKU"...
NIKMAT ALLAH SWT SANGAT MELIMPAH, UNTUK ITU AMBILLAH YANG BENAR-BENAR DIPERUNTUKKAN ALLAH SWT BAGI KITA, DAN TEPIKAN YANG MEMANG DIPERUNTUKKAN BAGI ORANG LAIN...

ALLAH SWT MAHA MENGETAHUI KEMANA TANGAN-TANGAN KITA MENGGAPAI!!!
ALLAH SWT MAHA MELIHAT DIMANA TANGAN-TANGAN KITA DISEMBUNYIKAN!!!

Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri

10/03/2008 09:46:00 AM Posted by Ady'S No comments

Kawan, ingatkah kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan malaikat Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghina Rasulullah dan para sahabat? Kala itu, Rasul membalas perlakuan masyarakat Thaif dengan memaafkan mereka. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain yang menunjukkan kemuliaan Rasulul dalam hal memaafkan adalah saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang Quraisy kala sakit, meski sebelumnya tak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.

Memaafkan, menjadi kata yang yang mudah diucapkan, namun teramat sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih sulit hilang juga. Sepertinya kehidupan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya karena saya berulang-ulang mengingat hal itu. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil pelajaran dan hikmahnya, juga menjalankan kehidupan saya sebagaimana mestinya.

Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, menuliskan bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita. Dengan memaafkan seseorang, bukan berarti kita menyetujui apa yang mereka lakukan, kita hanya menginginkan hidup kita berjalan terus. Hal yang sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw berabad-abad lalu. Dibalasnya orang yang meludahi beliau setiap hari dengan kunjungan dikala orang itu sakit. Sebuah kemuliaan sikap cerminan pribadi berjiwa besar.

Seorang dokter di Amerika, Gerald Jampolsky bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka dengan menggunakan satu metode tunggal, yaitu rela memaafkan. Upaya ini dilatarbelakangi pengetahuannya bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain.

Merenungi makna subhanallah, kita tahu bahwa hanya Allah Swt yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat salah dan alpa. Seorang bijak pernah berkata, kesempurnaan manusia adalah dengan ketidaksempurnaannya. Berkaitan dengan memaafkan, Allah Swt berfirman dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 134: "... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang". Dengan demikian, Allah Swt menyukai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain.

Memaafkan, bukan hanya merupakan sikap yang mulia sesuai dengan pesan Nabi Muhammad Saw, tapi juga baik bagi kesehatan dan memberikan ketenangan pada jiwa. Hidup kita mudah-mudahan akan berjalan dengan lebih baik karena kita tidak disibukkan dengan perasaan kecewa dan sakit hati atas perbuatan orang lain. Seperti yang dicontohkan Nabi, memaafkan seseorang tidak akan menurunkan derajat orang yang memaafkan di mata orang yang melakukan kesalahan. Memaafkan, baik bagi orang lain, terutama juga baik bagi diri sendiri.

Bila sedemikian pentingnya peran memaafkan ini, mengapa kita begitu sulit untuk memaafkan orang lain? Mudah-mudahan, kita diberi-Nya kelapangan hati untuk memaafkan orang lain.


 


 

(sumber : eramuslim)

Selasa, 16 September 2008

Ramadhan, Pemersatu Kultur dan Sosial Umat

9/16/2008 12:10:00 AM Posted by Ady'S No comments
Setiap tahun Ramadhan datang kepada kita, kita luapkan kegembiraan dengannya, kita tampakkan kesukaan dan kita sambut tamu yang agung ini. Dan, di setiap tahun kita hidupkan syiar puasa dan kita junjung tinggi sehingga tumbuh berkembanglah sisa-sisa ketakwaan pada jiwa kaum muslimin, apabila manusia masih menjunjung tinggi syiar ini.
Pada bulan Ramadhan tampak jelas kasih sayang Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Kita lihat mereka menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat, membaca Alquran dan berzikir, sedangkan siangnya mereka berpuasa dalam rangka memenuhi seruan Allah swt kepada mereka dalam firman-Nya,
“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah: 185).
Juga, dalam rangka mengikuti sunah Rasulullah saw. yang bersabda,
"Puasa dan Alquran, keduanya, akan memberi syafaat bagi seseorang di hari kiamat. Puasa berkata, 'Wahai Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan minum, maka biarkan aku memberi syafaat baginya.' Dan, Alquran pun berkata, 'Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka biarkan aku memberi syafaat baginya.' Beliau bersabda, 'Maka keduanya memberi syafa’at’." (HR Ahmad).
Adapun pada kesempatan ini kita tidak akan membahas tentang pentingnya puasa, atau tentang hukum-hukum seputar puasa, atau tentang keutamaan orang yang berpuasa yang menghidupkan malamnya, akan tetapi kita akan membahas dua sisi yang sangat penting dari segmen kehidupan kita. Yaitu, sisi kultur budaya dan sisi sosial yang ternyata Ramadhan mempunyai pengaruh yang sangat besar pada kedua sisi kehidupan tersebut. Atau dengan kata lain, Ramadhan mempunyai ketinggian kultur budaya dan sosial yang mengarahkan kita kepadanya sehingga umat terbentuk pula dengannya.
Pada bulan ini persatuan kebudayaan umat akan terlihat dengan ciri khusus. Pandangan dan pemikiran akan tertuju pada Alquran dengan versi lain daripada bulan-bulann yang lain, sehingga sekalipun orang yang selama setahun tidak pernah memegang mushaf (Alquran) tetap akan terketuk jiwanya, terharu dan tersentuh hatinya ketika menyaksikan fenomena bahwa di setiap sudut masjid, musalla, dan rumah-rumah banyak dibaca Alquran, bahkan sampai stasiun radio ataupun tv ikut menyiarkannya. Pada bulan ini jutaan kaum muslimin membaca Alquran, tidak seperti hari-hari yang lain; masjid-masjid dan musala-musala penuh, tidak seperti hari-hari sebelumnya, jadwal makan mereka sama bahkan meskipun dengan bermacam-macam tingkat kehidupan, etnis, dan adat-istiadat di berbagai daerah yang berbeda akan tetap ada kedekatan dan kesamaan.
Bulan yang mulia ini juga mampu membentuk masyarakat menjadi islami dan bulan ini juga menjadi masa diagungkannya satu syiar terbesar dari Islam, satu rukun dari rukun Islam yang lima. Dan, pada bulan ini tidak didapati suatu kelompok kaum muslimin yang menyebarkan pemikiran bidah, khurafat, dan syirik, melainkan suatu cahaya dalam budaya umum di masyarakat yaitu budaya Ramadhan. Bulan ini juga yang meningkat berkahnya dengan setiap perkataan luhur yang kita akan membiasakannya pada hari-hari setelahnya. Meskipun setiap individu umat Islam ini berbeda makanan dan minuman, bahasa, pemikiran, warna kulit, etnis, dan lain-lalinnya, akan tetapi Ramadhan mempunyai ciri khas dalam hal makan, berbicara, shalat, bahkan sampai hal membaca Alquran. Hal itu karena Ramadan mampu menyatukan urusan makan dan tata caranya untuk setiap penjuru di belahan dunia Islam, yang apabila setiap orang sibuk, lalu datanglah hidangan pada waktunya, kemudian mereka berkumpul bersama satu keluarga dalam suasana kebersamaan yang dipenuhi dengan kedamaian Ramadhan baik hidangannya mewah dan bermacam-macam ataupun hanya makanan yang sederhana, akan tetapi waktu dan cara melahapnya sama.
Dalam hal bertutur kata, maka Ramadhan memberikan jalan menuju kewibawaan, sedikit bicara dan banyak zikir. Hal itu merupakan faedah yang besar yang tercurah sesuai dengan tujuan dari bulan yang mulia ini untuk mendidik kita membudayakan banyak berbuat (amal) dan sedikit bicara. Ramadhan mengajari manusia untuk menyelesaikan amal (pekerjaan) dan untuk tidak bersenda gurau dengan perkataan yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Seperti yang diungkapkan oleh Malik bin Nabi,
"Sesungguhnya Ramadhan mengajari kita 'manthiq amali' (mengungkapkan sesuatu dengan perbuatan), sehingga kita mengupayakan perkataan yang sesuai Alquran dengan mengamalkan perkataan itu."
Adapun mengenai shalat, maka Ramadhan menambah aroma yang khas ketika sedikit orang yang shalat sendirian dan banyak yang berjamaah, dan orang-orang selalu giat mendatangi shalat jamaah subuh setelah mereka lalai untuk mengerjakannya sepanjang tahun. Begitu juga dengan shalat sunah, seakan mendapat perhatian. Malam-malam menjadi hidup, karena mereka menghidupkannya dengan shalat tarawih. Meskipun banyak juga kaum muslimin yang begadang pada malam bulan Ramadhan dengan main kartu dan hal-hal lain yang melalaikan, akan tetapi tidak diragukan bahwa banyak pula di antara mereka yang memperbarui hubungan mereka dengan masjid-masjid, shalat jamaah, qiyamul lail, dan mengerjakan sunnah lainnya.
Tentang Alquran, ia mendapat perhatian yang sangat besar, di sela-sela kesibukan manusia, kadang-kadang ada yang tidak sempat membaca Alquran selama setahun tetapi pada bulan ini, ia memperbarui hubungannya dengan kitab Allah swt ini. Bahkan, ada yang tidak memutuskan hubungannya dengan Alquran meskipun Ramadhan telah berlalu, dan dia tetap berinteraksi dengannya karena telah merasuk di dalam hatinya rasa cinta terhadap Alquran dan membacanya pada bulan Ramadhan.
Adapun dari segi adab, maka kultur budaya syar'i telah mendapat jalan yang membuat manusia secara umum berperilaku dengannya. Kita lihat seorang muslim yang berpuasa selalu berusaha menjauhi semua yang dilarang Allah, baik ucapan maupun perbuatan. Ia menjaga lisannya dari berkata dusta, ngerumpi, mengadu domba, mengejek, mencela, dan semua perkataan keji. Ia juga menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan. Ia juga menjaga telinganya dari mendengarkan hal-hal yang haram didengar. Menjaga perutnya dari pendapatan (rezeki) yang tidak halal. Dengan semua itu, berarti Ramadhan mewajibkan manusia untuk berperilaku baik, dalam hal berpakaian, makan, dan berbicara seperti yang telah kita jelaskan di atas. Sebagai penjagaan bagi orang yang berpuasa untuk tidak merusak keagungan Ramadhan, dan sebagai kehati-hatian agar tidak lenyap nilai puasanya, juga sebagai pengamalan sabda Rasulullah saw,
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka bagi Allah tidak ada artinya meskipun dia meninggalkan makan dan minum."
Rasulullah saw juga bersabda,
"Puasa adalah perisai, maka apabila seseorang berpuasa, janganlah ia berkata keji dan membuat gaduh. Dan, jika ada yang mencelanya, hendaknya dia berkata, 'Saya adalah orang yang berpuasa." (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, seorang muslim, anggota tubuhnya, akalnya, dan jiwanya bersatu tertuju kepada Allah SWT. Karena, ia selalu merasa diawasi lahir maupun batin, sadar dan takut apabila ia termasuk dari yang disabdakan Nabi saw.,
"Berapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi tidak mendapat sesuatu dari puasanya, kecuali hanya lapar dan haus." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Inilah sebagian sisi pemersatu kultur budaya yang ditancapkan oleh Ramadhan dalam jiwa setiap individu kaum muslimin, pemersatu tata cara bertutur kata, makan, melaksanakan kewajiban, dan juga pemersatu adab. Sehingga, bertambah tinggilah martabatnya yang terbentuk dalam setiap diri dan masyarakat. Jika Anda berkunjung ke beberapa daerah, seperti Arab Saudi, Kuwait, atau Malaysia, Indonesia, atau jika Anda datang ke Turki, Pakistan, atau Nigeria, atau jika Anda berpuasa di Afrika atau di Yaman, Anda bisa perhatikan persatuan dalam kultur budaya yang dapat dirasakan oleh manusia pada bulan yang mulia ini di belahan bumi mana pun yang dihuni kaum muslimin.
Dengan ini kita katakan bahwa persatuan umat telah tampak dalam aspek politik, ekonomi, dan dalam aspek yang lain. Tetapi, syiar Allah dan hari-harinya tampak dengan ketinggian dan kejelasan kultur budayanya atau dari kejelasannya dalam pemikiran, ilmiah, perilaku dan amaliah, atau dengan ungkapan Ibnu Nabi di atas. Persatuan masyarakat untuk umat pada bulan Ramadhan.
Telah tampak pula pada bulan Ramadhan persatuan antara kaum muslimin ketika perasaan bersatu dan saling bahu-membahu tumbuh di kalangan kaum muslimin. Orang yang berpuasa saling memberikan kasih sayang dan perasaannya kepada sesama manusia di sekelilingnya ketika mereka sama-sama berpuasa. Bahkan, mereka merasakan adanya suatu ikatan yang kuat dengan tetangga, saudara, sahabat, keluarga, dan orang yang ditanggungnya. Jika semuanya berpuasa, semuanya terhalang dari kenikmatan dunia dalam rangka memenuhi seruan Allah swt.
Sesungguhnya orang kaya dan orang miskin; pemimpin dan bawahan; perempuan dan laki-laki; orang Arab dan non-Arab; orang tua maupun kaum muda, mereka semua berpuasa atau tidak berpuasa tanpa ada keutamaan atau kelebihan kecuali dengan adanya uzur syar'i. Maka, tidak ada pengecualian dan tidak bisa keluar dari kewajiban ini dengan alasan kedudukan, jabatan, harta, atau hubungan kekerabatan. Di sini tampaklah ketinggian penyatuan rasa, ketika komitmen manusia kepadanya sama seluruhnya. Baik fakir maupun kaya semua berasal dari satu tanah. Tetapi, orang kaya juga merasakan apa yang diderita kaum miskin dalam masalah lapar sepanjang tahun ketika ia mencoba untuk menahan lapar beberapa hari. Tampak jelaslah standar Islam dalam memandang kemuliaan sesama manusia. Tidak atas dasar bentuk, warna kulit, etnis, tetapi atas dasar takwa dan amal salih, atas dasar apa yang diupayakan oleh setiap individu, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi dari kesungguhan beribadah. Itulah yang menjadi tolok ukur perbedaan dalam masyarakat. Adapun di sisi Allah swt,
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian."
Dan,
"Telah diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."
Itulah persatuan masyarakat dalam naungan peribadatan kepada Allah swt.
Dari sisi lain, bulan ini juga mampu mempertipis kesenjangan antara orang-orang miskin dan orang-orang kaya, ditinjau dari dua hal.
1. Banyak orang-orang kaya yang telah terbiasa dengan kehidupan yang elit dan mewah harus menanggung beban bagaimana rasanya ketika dilarang makan dan minum pada siang hari bulan Ramadhan. Hal ini akan menghantarkan mereka untuk menyadari akan nikmat Allah swt berupa kekayaan yang diberikan kepada mereka sepanjang tahun. Selain itu, membuat mereka mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang susah, orang-orang yang terlantar, kaum fakir dan miskin. Sehingga, mereka benar-benar mengetahui masalah dan derita yang dialami kaum fakir. Maka, setelah itu tentu mereka akan memperbarui hubungan dan mau memberikan sebagian karunia Allah swt yang diberikan bagi mereka kepada orang-orang fakir dan miskin. Yang kita saksikan bahwa pada bulan Ramadhan adalah sedekah, infak, dan pemberian orang kaya semakin meningkat. Ini merupakan suatu tujuan dari bulan yang agung ini, yang membuat kaum kaya bisa mengerti kekurangan dan kefakiran yang menimpa saudara-saudara mereka. Dari sini tampak pentingnya Ramadhan dalam rangka ikut mempersatukan masyarakat antara umat Islam.
2. Orang-orang fakir yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sepanjang tahun, maka dengan berkah Ramadhan, Allah swt berkenan membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan yang mampu memperkecil beban mereka dan mereka bisa lebih santai, bahkan ada dari mereka yang dijadikan kaya oleh Allah swt pada bulan ini. Kebanyakan dari mereka juga menyadari bahwa martabat umat ini akan terwujud dengan persatuan dan saling bahu-membahu antara kaum kaya dan miskin. Mereka juga bisa mengerti bahwa orang-orang kaya adalah saudara mereka, sehingga mereka tidak menaruh rasa iri atas karunia yang diberikan kepada orang kaya, sebagaimana firman Allah swt,
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah" (QS An-Nahl: 71).
Ayat Ini salah satu dasar Ukhuwah dan Persamaaan dalam Islam.
Pada bulan yang mulia ini kaum muslimin dalam berbagai macam kondisi mereka tampak adanya perhatian, kasih sayang, dan hubungan erat. Hal ini adalah yang kita pahami dari apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw.,
"Sekiranya umatku mengetahui apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh adalah bulan Ramadhan."
Atau, seperti yang beliau ucapkan. "Sesungguhnya Ramadhan mampu mendekatkan jarak antara kelompok-kelompok umat dan mampu mempersatukan mereka, sehingga tinggilah martabat persatuan masyarakat, dan syiar yang hampir mati bisa hidup kembali, manusia saling memenuhi kebutuhan sesama ketika mereka berkumpul dan saling merasakan apa yang dirasakan."
Alangkah agungnya engkau wahai Ramadhan, alangkah banyak berkahmu, alangkah manis rasanya puasa dan qiyamu lail. Engkau adalah bulan yang mulia, umat Muhammad berkumpul padamu, bersatu dalam ketinggian budaya ketika Alquran dibaca tidak seperti pada bulan-bulan yang lain, dan manusia saling memperhatikan, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Dengan ini Ramadhan mampu mempersatukan sosial masyarakat, dan yang paling utama adalah dalam hal pemahaman terhadap keutuhan persatuan, dan pemahaman terhadap perhatian dan kasih sayang. Wallahu a'lam.




(sumber : Badran al-Hasan)

Senin, 08 September 2008

Hikmah dan Manfaat Puasa

9/08/2008 03:53:00 PM Posted by Ady'S No comments
Shaum atau puasa yang disyariatkan dan difardhukan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Diantaranya, puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya. Seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridho Rabb-nya dan keberuntungan di kampong kemuliaan (akhirat).
Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabb-nya daripada kesenangan-kesenangan pribadi. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.
Hikmah puasa yang lain bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat taqwa apabila seseorang melakukannya dengan sesungguhnya (sesuai dengan syarat). Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS Al Baqoroh : 183)
Orang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah SWT, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larngan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyariatkannya puasa. Jadi bukan hanya sekadar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.
Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni taqwa dan menghambakan diri kepada Allah SWT. Adapun taqwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman. Kata taqwa ketika dimutlakkan maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan.
Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Al Bukhari No.1903)
Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan dengan kuat terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban. Demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram untuk didengarkan, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.
Apabila seseorang m,engerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah SWT, maka akan memudahkannya kelak untuk istiqomah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.
Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya. Mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan, yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.
Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya. Bahkan, seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya.
Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Allah SWT dengan kekayaannya itu di mana Allah SWT telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Seperti makan, minum dan menikah, serta apa saja yang dibolehkan oleh Allah SWT secara syar’i. Allah SWT telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabb-nya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin, yang ternyata tidak dimudahkan untuk mendapatkannya. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.
Hikmah puasa juga melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.
Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak dikonsumsi akan membahayakan tubuh. Dan, masih banyak lagi, manfaat-manfaat serta hikmah-hikmah lainnya dari ibadah puasa.



(sumber : Tausiyah ustadz Jefri Al Bukhari yang dimuat di harian TP tgl. 2 Ramadhan 1429H/2 September 2008M)

Makna Ramadhan

9/08/2008 03:48:00 PM Posted by Ady'S No comments
Ramadhan pada awal sejarahnya disebut bulan “musim panas”, sebab pada masa pra-Islam kalender yang berlaku mengikuti sistem qamariah (perjalanan bulan), akan tetapi nama-nama bulannya mengikuti keadaan musim (peredaran matahari) dan kondisi yang terjadi di semenanjung Arabia. Sehingga setelah melewati kurun waktu tertentu, Ramadhan tidak jatuh pada titik musimnya lagi. Hikmahnya penduduk Muslim di berbagai belahan dunia mengalami puasa dengan pergiliran musim yang berbeda.
Ramadhan, secara harfiah berasal dari kata “ramadha”, artinya “membakar”. Dinamakan demikian, karena pada masa lalu cuaca di bulan itu sangatlah panasnya, sehingga apabila orang berjalan di tengah gurun pasir tanpa alas kaki, kakinya bisa hangus terbakar. Ramadhan dimaknai “membakar”, juga mengacu kepada pahala orang yang melaksanakan puasanya dengan benar, berarti telah membakar dosa-dosanya yang sudah lewat.
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan ihtisab, niscaya diampuni Allah segala dosa-dosanya yang terdahulu”. (HR. Muttafaq `alaih)

Makna Puasa dan Shaum
Puasa berasal dari bahasa Sansekerta “pasa”, artinya “pantang makan-minum”, yang kemudian masuk ke dalam bahasa Jawa menjadi “poso”. Dalam bahasa Melayu padanannya ialah “bertarak”. Sedangkan di dalam ajaran Islam “shaum”, secara etimologis artinya “menahan diri”. Menurut terminologis, shaum bermakna “menahan diri dari yang dilarang oleh syara`, seperti makan, minum dan hubungan suami istri, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari”.
Hujjatul Islam Al Ghazali membagi puasa ke dalam 3 (tiga) tingkatan :
1. Puasa Umum.
Puasa sekedar menahan lapar, haus dan hubungan seks di waktu yang terlarang oleh syara’.
2. Puasa Khusus.
Puasa disamping menahan lapar, haus dan hubungan seks; juga menahan diri dari dosa-dosa kecil, seperti: gosip, berbohong, bertengkar, bicara kotor dll.
3. Puasa Prima.
Selain menahan lapar, haus, seks dan dosa-dosa kecil; juga menjaga hati nurani dari segala dosa-dosa tersembunyi atau tersamar; seperti: iri, dengki, ambisi, dendam, stres dll.
Dari ketiga level puasa tersebut, level pertama relatif mudah dilalui. Level ke-2 cukup sulit ditempuh, karena itu jarang orang yang lulus. Apalagi level ke-3 paling berat sekali menjalaninya. Justru tingkatan yang terakhir itulah hakikat puasa sebenarnya, puasa para nabi, aulia dan orang-orang yang mendapat pencerahan (ulil albab).

Sejarah Perintah Puasa
Dalam sejarah Islam, perintah puasa turun pada bulan Sya’ban 2 H, realisasinya baru pada bulan berikutnya, yaitu Ramadhan 2 H. Kaum Muslimin di masa Rasulullah SAW menyambut Ramadhan yang pertama itu bukan saja sebagai bulan amal dan ibadah secara khusus, tetapi juga sebagai bulan jihad, yaitu perang Badar (17 Ramadhan 2 H) - perang fisik perdana dalam tarikh menghadapi kaum musyrik Quraisy yang dimenangkan kaum Muslimin - dan juga perang mental menghadapi godaan nafsu yang tidak pernah mengenal puas.
Nabi SAW semasa hidupnya mengalami sembilan kali Ramadhan, enam kali diantaranya berpuasa 29 hari, tiga kali lainnya 30 hari (Atsar Ibnu Mas'ud dan `Aisyah).
Dari sembilan kali Ramadhan itu atau sembilan kali Lebaran (2 H – 11 H), Nabi hanya sekali mengalami Idul Fitri jatuh bersamaan dengan hari Jum’at, 1 Syawwal 3 H (berarti berkumpulnya dua hari raya), sehingga beliau memberikan rukhshah (dispensasi) bagi kaum Muslimin yang sudah menunaikan sholat Id dan tinggalnya jauh dari lokasi mesjid, tidak usah lagi sholat Jum’at melainkan sholat Zhuhur sebagaimana hari biasa. Tetapi untuk beliau pribadi karena berkedudukan di mesjid Nabawi tetap memilih mendirikan ibadah Jum`at . (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah)
Fakta-fakta sejarah di atas dibuktikan dengan hisab astronomi oleh Teuku Djamaluddin, peneliti matahari dan lingkungan antariksa LAPAN, Bandung.

Dalil Wajib Puasa
Perintah wajib puasa di gariskan dalam Al Qur’an :
“Hai orang-orang beriman diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana yang telah diwajibkankan bagi generasi sebelummu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah 183)

Seiring dengan Rukun Islam yang keempat menurut Hadist Nabi :
“Islam ialah anda mengikrarkan dua kalimah syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke baitullah apabila anda mampu”. (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

Segitiga Puasa
I. Hukum Puasa Sekitar Musim Shiyam
1. Puasa sunnah.
Puasa Sya’ban (pra-Ramadhan) dan puasa Syawwal (pasca-Ramadhan).
2. Puasa wajib.
Puasa Ramadhan.
3. Puasa haram.
Puasa 1 Syawwal (Idul Fithri).

II. Musim Shiyam (Puasa) Sebetulnya Berlangsung Selama 3 Bulan, yaitu :
1. Pra-Ramadhan.
Sya’ban adalah bulan ‘pemanasan’ (warming up) puasa, sebagai persiapan dini menghadapi puasa sesungguhnya. Karena Rasulullah SAW pada bulan ini memperbanyak puasa sunnah (lihat hadist Al Bukhari – Muslim).
2. Ramadhan.
Ramadhan adalah bulan kewajiban puasa seutuhnya (grand fasting). Puasa yang baik dan benar merupakan wahana pembakaran dosa.
3. Pasca Ramadhan.
Syawal adalah bulan ‘pendinginan’ (cooling down) dengan melakukan puasa sunnah 6 hari, baik berturut-turut ataupun berseling. Syawwal arti harfiahnya “meningkat”. Insyaallah tubuh makin fit dan ibadah kian meningkat. Hakikatnya Syawwal merupakan bulan ‘peningkatan’ iman dan takwa setelah sebulan dibina lewat Ramadhan.

III. Meskipun Hadistnya Lemah, Bulan Ramadhan terdiri dari 3 Periode,
setiap periode adalah 10 hari :
1. 1 – 10 Ramadhan : Periode kasih sayang.
2. 11 – 20 Ramadhan : Periode pengampunan.
3. 21 – 30 Ramadhan : Periode pembebasan dari api neraka.

IV. Mengikuti Atsar Sayyidina ‘Ali r.a. tentang Manajemen Perut :
1. 1/3 berisi makanan.
2. 1/3 berisi air.
3. 1/3 berisi udara nafas.

Puasa secara Islami
Umat-umat terdahulu, baik Muslim maupun bukan Muslim (Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan lain-lain) sudah membudayakan puasa dengan berbagai cara serta tujuannya. Dalam ajaran Islam, niat puasa dalam rangka mencari keridhoan Allah semata dan menuju peningkatan kualitas ketakwaan kepada Nya. Karena itu ciri yang membedakan puasa antara orang-orang Muslim dengan non Muslim terletak pada niatnya, tidak menyiksa diri dan adanya sarana makan sahur (HR. Muslim dari `Amr bin `Ash).
“Sahurlah anda, karena pada makan sahur ada berkahnya”. (HR. Al Bukhari - Muslim dari Anas)

Ada juga orang berpuasa untuk pengobatan penyakit-penyakit tertentu dan dalam upaya menjalani program diet, tetapi hal itu hanyalah aspek dari puasa. Ahli kedokteran non Muslim dari Amerika Dr. Alexis Caeryl yang pernah memenangkan hadiah Nobel kedokteran, menyatakan “Aspek puasa sangat efektif untuk menjaga kesehatan fisik dan keseimbangan jiwa”.
“Puasalah niscaya anda sehat”, demikian kata Nabi.
Namun memang ada ekses puasa lantaran tidak ada asupan nutrisi, berkurangnya kalori dalam tubuh lalu berakibat lemahnya enerji, naiknya asam lambung menimbulkan nyeri (maag). Ekses lain dari berkurangnya suplai air ke dalam tubuh akan mengganggu kerja ginjal. Rasa tidak enak pada umumnya bagi orang berpuasa ialah bau mulut yang akan mempengaruhi penampilan para komunikator bagian receptionist, presenter, tenaga pengajar, pemandu wisata dan lain-lain. Itulah ujian fisik sebagai indikator keimanan seseorang yang menjalani puasa.
Berdasarkan hasil survei, kendala fisik demikian terjadi, pertama karena kurang mantapnya memasang niat atau motivasi puasa sebagai ibadah; kedua cara berpuasanya tidak sesuai dengan sunnah sebagaimana kiat Nabi SAW berpuasa. Kini industri farmasi telah mengeluarkan produk obat kumur yang tahan 14 jam mengatasi bau mulut, meskipun ada hadist yang menyebutkan :
“Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada parfum”.

Mengapa kewajiban puasa cuma ditujukan kepada orang-orang beriman? Karena tujuan hakiki puasa ialah agar orang-orang beriman itu menjadi insan yang takwa. Orang bertakwa insyaallah mendapat ridho Allah SWT. Takwa (taqwa), secara harfiah artinya “memelihara”, secara istilah “memelihara diri dengan konsekwensi logis melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya”, baik hukum-Nya yang tertulis (Al Qur’an), maupun hukum-Nya yang tak tertulis (kauniah) yang terbentang di alam raya ini.

Nilai Ibadah Puasa
Menurut Dr.Yusuf Al Qardhawi dalam bukunya Al `Ibadah fil Islam, ada 7 nilai ibadah puasa :
1. Menyatukan pendirian selalu berpihak kepada Allah semata.
2. Mengajarkan kesabaran.
3. Menuntun sifat santun.
4. Mengasah kepekaan sosial.
5. Menyehatkan jasmani.
6. Menguatkan ruhani.
7. Membangkitkan semangat juang.
Dunia modern melahirkan beberapa tokoh yang punya prinsip, keberanian dan kecerdasan berkat laku puasa yang sudah menjadi bagian (budaya) dari hidupnya. Contohnya : Mahatma Gandhi (pemimpin spiritual Hindu-India yang sangat menghormati Nabi Muhammad), Khomeini (pemimpin Revolusi Islam Iran), BJ Habibie (mantan Ketua ICMI dan Presiden RI, yang aktif puasa “Senin-Kamis”), kemudian Amien Rais (yang disebut-sebut sebagai Bapak “Reformasi” yang gemar puasa “Nabi Daud”). Sejarah juga membuktikan banyak peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin, justru terjadi di bulan Ramadhan; diantaranya perang Badar (2 H/ 623) dan pembebasan Makkah (9 H/630 M) yang dipimpin langsung Rasulullah SAW, didirikannya kota Jakarta (933 H/1527 M) oleh Fatahillah, proklamasi kemerdekaan RI (1364 H/ 1945 M) serta kemenangan Mesir merebut kembali Sinai dari tangan Israel (1393 H/ 1973 M). Berita terakhir, serangan gerilyawan Irak atas tentara pendudukan AS, justru tiga kali lebih gencar lagi efektif pada bulan Ramadhan (1424 H/2003 M).

Hasil Guna Puasa
Ramadhan tidak sebatas puasa di siang hari, tapi berkelindan dengan ibadah lainnya seperti qiyamu ramadhan (Tarawih), tadarrus Al Qur’an, i`tikaf di mesjid dan kepedulian sosial bagi kaum dhu`afa (ekonomi lemah) dan mustadh`afin (tertindas). Ramadhan bulan ampunan, bulan mengasah jatidiri dengan olah kebajikan, membelenggu perilaku setan. Maka untuk efektifitas puasa, di samping melaksanakan ibadah secara intensif dan meninggalkan semua perbuatan yang terang terlarang, juga menghindari segala kegemaran yang tersamar semisal main kartu, menonton film erotis, ngerumpi dan kebiasan yang dapat menurunkan nilai ibadah puasa. Dengan puasa kita bisa merasakan sebagian penderitaan orang lain.
Bersyukurlah bagi kita yang dapat menikmati puasa dalam kondisi normal, aman dan damai. Nilai tawakal kita patut acungkan kepada kaum Muslim yang keadaan musimnya sangat berbeda dengan negeri kita, di belahan utara atau selatan bumi; dimana siangnya jauh lebih panjang (sekitar 20 jam) daripada malamnya. Juga keberadaan ikhwan-ikhwan kita di daerah konflik, di Aceh, Afghanistan, Chesnia, Palestina dan Irak; betapa sulitnya mereka mengatur waktu dan mencari makan serta berpuasa ditengah medan peperangan demikian mencekam.
Kita bukan saja menghormati orang yang berpuasa, tetapi kita juga dididik untuk menghargai mereka yang tidak berpuasa lantaran kondisi-kondisi tertentu yang mungkin tidak kita rasa-rasakan, seperti para pekerja kasar pelabuhan, buruh bangunan/ proyek jalan raya, tukang beca, penarik gerobak dan lainnya. Mereka barangkali ingin berpuasa seperti saudara-saudara kita yang lainnya, tetapi kondisi lemah ekonomi dan juga lemah syari`ah membuat mereka “tertinggal”. Jangankan membayar hutang puasa, bahkan mereka tak mampu membayar fidyah, karena untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup. Adakah kita terpanggil untuk menyelamatkan ‘aqidah mereka?, agar kefakiran mereka tidak jatuh ke dalam kekafiran.
Kita juga pantas menghormati sopir-sopir bis antar kota/provinsi, karyawan shift malam dan para petugas jaga malam yang tidak sempat mengikuti sholat berjamaah tarawih dan i’tikaf. Akankah mereka kehilangan momentum Ramadhan, istimewanya Lailatul Qadar? Allahu a`lam bis shawwab !
Apabila kita menjalankan puasa dengan baik dan benar, insyaallah ibadah kita selamat bahkan meningkat. Demikian juga badan kita tetap sehat, sebelum, selama dan sesudah Ramadhan, bahkan makin kuat.
Selamat berpuasa, semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita sekalian agar dapat menunaikan ibadah Ramadhan 1425 H ini dengan berhasil guna menaikkan ketakwaan kita sehingga dapat dijelmakan ke dalam hari-hari panjang 11 bulan berikutnya!
Semoga kita dapat mengangkat puasa ritual ini menjadi puasa sosial yang meredam konflik horizontal di antara umat dan puasa aktual yang mempunyai nilai tambah kinerja kita.


(sumber: Lembar Masjid Hikmah El Bitrul, dengan rujukan :
Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim;
Al `Ibadah fil Islam, Dr. Yusuf Al Qardhawi;
Nilai-nilai Ibadah Puasa, KH.M.Yunan Nasution;
Almanak Alam Islami, Drs.Rahmat Taufiq Hidayat dkk)

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.