Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Jumat, 11 September 2009

“Pelajaran dari Umat-Umat Tedahulu”

9/11/2009 12:14:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Yusuf: 111)


 

"Maka, apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu." (Muhammad: 10).


 

Perjalanan hidup manusia sejak Nabi Adam a.s., yaitu manusia pertama sekaligus bapak seluruh umat manusia, hingga sekarang ini tenyata menoreh berbagai macam bekas berupa sejarah yang melukiskan perputaran roda kehidupan manusia dengan segala rona-ronanya, yang pada hakikatnya sejarah tiada pernah henti sampai pada ajal yang telah ditentukan oleh Allah mengenai akhir hayat manusia dan akhir dari alam semesta ini. Karena, Allah menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di antara keduanya adalah dengan ajal yang sudah ditentukan. Semua sejarah yang pernah berlalu itu harus kita mengerti dan kita pelajari agar bisa menapak tilas generasi-generasi rabbani, melihat apa yang didapat oleh kaum yang beriman kepada Allah, dan menyadari akibat dari orang-orang yang mengingkari seruan Ilahi. Itulah yang dititahkan di dalam Alquran kepada kita, umat akhir zaman, umat pilihan, umat nabi yang paling mulia: Nabi Muhammad saw. Allah menjadikan perjalanan umat-umat terdahulu itu sebagai ibrah bagi kita.

Kita harus menyadari bahwa umat-umat terdahulu diazab oleh Allah di dunia dengan azab yang dahsyat adalah karena mendurhakai, membangkang, dan mendustakan rasul yang diutus untuk mereka. Mereka mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh rasulnya padahal telah nyata bukti-bukti kebenaran di hadapan mereka. Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Rasulullah saw.

Adapun berkenaan dengan umat Rasulullah saw.--umat akhir zaman ini--ada keterangan darinya bahwa jika umat-umat terdahulu mendurhakai dan mendustakan nabinya, mereka segera diazab oleh Allah SWT. Akan tetapi, untuk umat Muhammad saw., apabila mereka mendustakannya, azabnya ditangguhkan sampai suatu masa. Meskipun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Allah akan menurunkan azab kepada umat ini seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Karena, Allah pernah mengabarkan bahwa tidak akan mengazab suatu kaum ketika Rasulullah saw. berada di antara mereka. Adapun saat ini beliau telah wafat. Maka, kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat kondisi mayoritas manusia dewasa ini telah jauh dari petunjuk, bahkan terang-terangan menentang aturan Allah dan Rasul-Nya. Lebih parah lagi, yang pertama kali menolak ditegakkannya syariat Islam di negeri ini justru dari tokoh agama. Bilamana ketika ada seruan penegakkan syariat Islam saja sudah menolak mentah-mentah, bagaimana mungkin mereka akan memperjuangkan kalimatullah itu. Na'udzubillah min dzalik.

Maka dari itu, marilah kita tengok sejarah umat-umat terdahulu agar kita menyadari betapa keras dan mengerikannya ancaman dan siksaan yang diberikan oleh Allah kepada umat yang durhaka, di dunia maupun di akhirat. Dan sebaliknya, betapa besar nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat yang menaati dan mengikuti petunjuk-Nya. Lebih dari itu, dengan mempelajari dan menghayati kisah-kisah orang terdahulu, baik yang beriman maupun yang durhaka, iman kita menjadi semakin subur dan rasa takut kita akan murka Allah semakin tinggi.

Yang pertama, kita melihat kaum Nabi Nuh a.s. yang mendustakannya. Tentang mereka, Allah berfirman, "Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, 'Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.' Maka dia mengadu kepada Rabnya, 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).' Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan
(menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan."
(Al-Qamar: 12).

Coba kita bayangkan, pintu-pintu langit dibuka sehingga turunlah hujan yang tercurah limpah dengan sangat deras, ditambah lagi Allah menjadikan seluruh permukaan bumi memancarkan air hingga tanah yang gersang sekalipun. Maka, air dari langit bertemu dengan air yang memancar dari bumi hingga akhirnya meninggi setinggi puncak gunung. Habislah apa yang di muka bumi, tenggelam semuanya. Apakah hukuman mereka hanya sebatas itu? Tidak! Allah berfirman, "Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah."
(Nuh: 25). Adapun Nabi Nuh a.s. dan orang-orang yang beriman bersama dengannya, mereka diselamatkan oleh Allah. "Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran."
(Al-Qamar: 13--14).

Itulah sejarah besar yang pernah berlalu di muka bumi ini yang harus kita ambil sebagai pelajaran. Tak ayal, ada sekelompok manusia di bumi ini, yang mungkin karena keingintahuannya terhadap bukti-bukti sejarah, berusaha mencari-cari bangkai kapal Nabi Nuh a.s.

Yang kedua, kaum 'Ad, yaitu kaum Nabi Hud a.s. Mereka adalah kaum yang mampu membangun bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun semisalnya. "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabmu berbuat terhadap kaum 'Aad. (Yaitu) Penduduk Iram yang mempunyai bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain." (Al-Fajr: 6--8). Tetapi, kelebihan yang ada pada mereka itu tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun kepada mereka ketika mereka mendustakan Nabi Hud a.s., yang kemudian diazab oleh Allah. "Kaum 'Ad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus-menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. Maka betapakah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku." (Al-Qamar: 18--21). Diterangkan pula dalam surah yang lain, "Adapun kaum 'Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haaqqah: 6-7). Padahal, azab mereka tidak cukup sebatas itu, bahkan azab yang akan mereka terima di akhirat lebih pedih.

Berikutnya adalah kaum nabi Luth a.s, kaum yang padanya terkumpul antara ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbuatan keji yang belum dilakukan oleh kaum yang sebelumnya. Yaitu, mereka menyukai sesama jenis dan meninggalkan istri-istrinya. Perbuatan itu disebut liwath (karena asalnya dari kaum Luth) dan pada zaman sekarang disebut homosek. Pebutan itu sangat terkutuk, suatu perbuatan yang mencerminkan rusaknya fitrah dan kacaunya perikemanusiaan serta hati nurani.

Pada zaman sekarang kaum perempuan ikut-ikutan seperti yang terjadi pada kaum lelaki pada zaman Nabi Luth a.s.: perempuan menyukai perempuan. Perempuan yang demikian disebut lesbian. Di salah satu negeri di Eropa keadan yang demikian sudah begitu membudayanya sehingga muncullah undang-undang yang mengesahkan pernikahan sesama jenis. Na'udzubillah min dzalik. Bukankah ini perbuatan yang sudah benar-benar melanggar aturan Allah dan melampaui batas yang dilakukan dengan terang-terangan?

Lalu, apa yang diganjarkan Allah kepada kaum Nabi Luth a.s. setelah keingkaran dan pembangkangan mereka itu? Sebelum itu, Nabi Luth a.s. tak henti-hentinya mengingatkan kepada mereka untuk bertauhid kepada Allah dan meninggalkan perbuatan kejinya. Tetapi, apakah jawaban mereka? "Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, 'Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih'." (An-Naml: 56). Kemudian, setelah itu Allah memberikan keputusan untuk mereka. Allah berfirman, "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (Hud: 82--83). Dan tentang tamu Nabi Ibrahim, Allah berfirman, "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth). Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Rabmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih." (Adz-Dzariyat: 31--37).

Kisah-kisah di atas, dan masih banyak kisah-kisah yang lain, seperti kaum Madyan, kaum Tsamud, Fir'aun, dan lain-lainnya, sangatlah penting untuk kita sebagai ambil pelajaran. Karena, semua itu berkaitan dengan masalah tauhid. Semua kisah tersebut bukanlah kisah yang dibuat-buat tetapi mengandung sesuatu yang sangat besar. Semua kisah tersebut berasal dari Alquran, yang seluruhnya berisi tentang penetapan terhadap tauhid, memurnikan peribadatan hanya untuk Allah semata, atau mengesakan Allah dalam beribadah. Kisah-kisah di atas semuanya bermuatan tauhid, yaitu ketika berbicara tentang umat yang mengingkari seruan tauhid, yang merupakan inti ajaran para rasul. Masalah tauhid, adalah masalah yang sangat asasi dan prinsip. Apabila seseorang keliru dalam masalah tersebut, berarti dia tergelincir ke jurang kesesatan dan kecelakaan yang berkepanjangan. Na'udzubillah min dzalik. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus dan tidak tergelincir seperti kebanyakan orang.

Berkenaan dengan kisah-kisah seperti tersebut di atas, Syekh Utsaimin rhm. mengatakan, "Sesungguhnya, dalam menyikapi kisah-kisah tersebut dan semisalnya, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang mengetahui dan mengenal Allah beserta tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terjadi, kemudian mereka mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami orang-orang yang telah lalu, hingga mereka kembali kepada Allah, takut, sangat takut apabila mereka tertimpa apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu. 'Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.' (Muhammad: 10). Adapun kelompok kedua, kelompok yang jahil (bodoh) dan tidak mengenal Allah, hati mereka kosong dari keimanan dan keras karena kedurhakaan mereka. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kejadian-kejadian itu adalah alamiah.' Sehingga, mereka tidak memperhatikannya dan tidak melihat akibat yang datang dari Allah, yaitu akibat bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan para rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah dengan ayat-ayatnya, dan dengan asma-asma dan sifat-sifat-Nya, agar menjadikan kita sebagai orang yang mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan takut akan ancaman dan siksa-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita, sesungguhnya Dia Maha Pemberi."

Demikianlah, hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari uraian di atas, yang akan menambah rasa takut kepada Allah apabila ditimpakan kepada kita apa-apa yang telah ditimpakan terhadap umat-umat terdahulu, mengingat keadaan manusia dewasa ini yang sudah jauh melampaui batas. Dan, jangan sampai kita merasa aman dari makar Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan-Nya kepada kita. Amin.


 

(Sumber : Zen Muhammad Yusuf, Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Kamis, 10 September 2009

“Lailat Al-Qadar”

9/10/2009 10:30:00 PM Posted by Ady'S No comments

 
 

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita berbicara tentang surat Al-Qadar. Surat Al-Qadar adalah surat ke-97 menurut urutannya dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqra'. Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah Swt., dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar ini berbicara tentang turunnya Al-Quran, dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran "lebih baik dari seribu bulan."

Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu, atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

Yang pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran bahwa, "Ada suatu malam yang bernama Lailat Al-Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan."

"Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami." (QS Al-Dukhan [44]: 3-5).

 Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: l).

 Malam tersebut adalah malam mulia. Tidak mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal ini disyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu: "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (QS Al-Qadr [97]: 2)

 Tiga belas kali kalimat "ma adraka" terulang dalam Al-Quran, sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, seperti: "Ma adraka ma yaum al-fashl", dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Tiga kali "ma adraka" sisa dari angka tiga belas itu adalah: "Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?" (QS Al-Thariq [86]: 2)

"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?" (QS Al-Balad [90]: 12)

"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (QS Al-Qadr [97]: 2)

Pemakaian kata-kata "ma adraka" dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.

Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan "ma adraka" dan "ma yudrika" yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.

"Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya?" (QS Al-Ahzab [33]: 63)

"Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?" (QS Al-Syura [42]: 17).

"Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)?" (QS 'Abasa [80]: 3).

Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan "ma yudrika" menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. Ketiga hal tersebut tidak mungkin diketahui manusia.

Secara gamblang Al-Quran --demikian pula As-Sunnah-- menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini berarti bahwa "ma yudrika" digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang "wa ma adraka", walau berupa pertanyaan namun pada akhirnya Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau. Demikian perhedaan kedua kalimat tersebut.

Ini berarti bahwa persoalan Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di sanalah kita dapat memperoleh informasinya.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sini ditemukan berbagai jawaban.

Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti :

1.     Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia.

Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar, diartikan bahwa pada malam itu Allah Swt. mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.

2.     Kemuliaan.

Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: "Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat."

3.     Sempit.

Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara lain dalam surat Ar-Ra'd (13): 26: "Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)."

Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Namun demikian, sebelum kita melanjutkan bahasan tentang Laitat Al-Qadar, maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya adakah setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu?

Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran.

Pakar hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Lailat Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasululllah Saw. menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh Ramadhan.

Memang turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwa ketika itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri.

Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja "mudhari'" (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.

Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik-material, sedangkan riwayat-riwayat demikian, tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?

Demikian juga dengan Lailat Al-Qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul Saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat Al-Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).

Syaikh Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh memberi ilustrasi berikut:

Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadar, tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitas kebajikan bermula di masjid. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaan iman. Itu sebabnya ketika melaksanakan i'tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar itu, antara lain adalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walau sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

'Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka." (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut, tetapi hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketat terhadap hadis Nabi Saw.

Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut, "Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar."

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, "Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas."

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan karena itu kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan.

Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita.

 
 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan, Bandung)

“Aku Menangis Menuangkan Rasa Pedih…”

9/10/2009 02:46:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Tulisan "Rida terhadap Takdir Allah", kuanggap mewakili untuk di-share berkaitan dengan tanggal 9 September 2009 (999) yang baru saja beberapa jam berlalu.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Yaa Allaah…, saat menuanya dunia ini, keagungan dan kekuasaan-MU terus ditentang ciptaan-MU, manusia. Aku tak menutup mata bahwa di belahan bumi yang lain, "azab kecil" yang dihadirkan oleh ke-MahaKuasaan-MU pasti ada, tapi yang jelas disaksikan di lingkar hidupku kekuasaan manusia telah melebihi kekuasaan-MU.

Tidak banyak yang harus diungkap. Apa maksudnya ini semua? Kenapa harus dikaitkan dengan tanggal 9 September 2009 (999)?

999, tiga angka yang dianggap bertuah ini membuat manusia lupa akan keimanan. Iman kepada Ketetapan- ketetapan Allah. Dengan manusia tersenyum bahagia. Kebahagiaan dunia. Dan manusia-pun telah berkuasa.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Sesungguhnya ke-Agung-an, ke-MahaKuasa-an, ke-MahaSuci-an Allah, tidak Allah butuhkan untuk dielu-elukan manusia. Karena manusia-lah yang (seharusnya) membutuhkan untuk beribadah kepada-NYA dan memuji ke-Agungan-NYA.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Terutama untuk diriku yang selalu berdosa, aku menangis mengingatkan…

“Rida terhadap Takdir Allah”

9/10/2009 02:42:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Setiap kali ketentuan Allah berlaku, ada orang yang rida, ada yang benci, ada yang sabar, dan ada pula yang putus asa. Orang yang berfikir seharusnya berserah diri dan rida dengan ketentuan Allah itu, sehingga dia bisa mendapatkan pahala. Jika dia tidak rida dan benci terhadap ketentuan dari Allah, maka dia akan berakhir pada akhir yang tidak terpuji. Ini sebagaimana firman Allah, "Tidaklah seseorang ditimpa musibah, melainkan dengan izin Allah. Siapa saja yang beriman, maka Dia kan menunjuki hatinya," (QS At-Taghabun [64]: 11).

Alqamah berkata, "Jika seseorang ditimpa musibah, kemudian dia mengetahui itu datangnya dari Allah, maka dia seharusnya pasrah dan rida dengan musibah itu." Ali bin Abi Thalib suatu kali melihat Adi bin Hatim yang sedang berduka. "Adi, sayat meliha kamu sedang berduka dan bersedih," kata Ali. Adi menjawab, "Bagaimana saya tidak bersedih, kedua anak saya dibunuh dan kedua mata saya dicukil?" Ali berkata, "Siapa yang rida dengan ketentuan Allah yang berlaku atas dirinya, akan mendapat pahala. Siapa yang tidak rida terhadap qadha Allah yang berlaku atas dirinya, akan terhapus amalnya." 

Beberapa waktu setelah anaknya meninggal, Ibn Al-Mubarak bertemu dengan seorang Majusi yang memberinya semangat. Orang Majusi itu berkata, "Seharusnya orang cerdas itu melakukan apa yang dilakukan oleh orang bodoh pada lima hari yang akan datang." Mendengar itu, Ibnu Mubarak berkata kepada orang yang ada di sekitarnya, "Camkan kata-kata bijak ini!"

Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Rida itu pintu bagi Allah Yang Maha Besar, surga dunia, dan tempat kedamaian bagi para hamba." Seorang Arab terbangun pada suatu pagi. Dia melihat unta miliknya banyak yang mati. Kemudian dia berkata: "Oh... tidak. Demi Tuhan, kalaulah bukan karena perasaan gembira musuh-musuh yang dendam, saya tentu tidak akan gembira dengan cobaan yang saya alami ini. Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah pasti terjadi." 

Allah tidak menakdirkan suatu musibah kepada seorang hamba untuk menghancurkan atau mengazabnya. Allah justru menakdirkan musibah terhadap seorang hamba untuk menguji kesabarannya, keridaannya; untuk mendengarkan kerendahan dirinya dan doanya; agar Dia melihat hamba mendatangi-Nya dengan hati yang remuk redam. Siapa saja yang sepakat dengan ketentuan Allah ini, akan beruntung. Siapa saja yang mencela ketentuan Allah ini, akan merugi.

Ini sebagaimana firman Allah Swt., "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Boleh jadi kamu mengasihi sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Umar bin Al-Khaththab berkata, "Saya tidak memedulikan terjadi itu sesuatu yang saya sukai atau tidak saya sukai. Karena saya tidak tahu apakah kebaikan itu pada apa yang saya sukai atau pada apa yang tidak saya sukai." Al-Hasan berkata, "Janganlah kamu membenci cobaan dan kesusahan yang terjadi. Barangkali perkara yang kamu benci itu justru terdapat keberuntunganmu, sementara sesuatu yang kamu sukai justru menjadi penyebab kehancuranmu." Seorang laki-laki melihat luka bernanah di kaki Muhammad bin Wasi', lalu dia berkata, "Saya merasa jijik kepadamu dengan luka bernanah ini." Muhammad bin Wasi' berkata, "Saya sangat bersyukur semenjak adanya luka ini, karena ia tidak keluar dari kedua mata saya." 

Salah satu syarat rida bukan tidak merasakan musibah sebagai sesuatu yang menyakitkan, tetapi syarat rida adalah tidak menentang ketetapan itu dan tidak pula membencinya. Seseorang perlu mengetahui bahwa ridanya terhadap apa pun akan menghasilkan keridaan Tuhan. Jika keridaannya sedikit terhadap rezeki, maka keridaan Tuhan juga akan sedikit terhadap amalnya. Kebencian adalah pangkal kesusahan, kesulitan, dan kesedihan. Kebencian juga menghancurkan hati dan melemahkan kesabaran. Kebencian akan membuat buruk keadaan dan menimbulkan prasangka buruk kepada Allah. Sebaliknya, rida akan membersihkan semua perasaan itu, dan membukakan pintu sarga dunia sebelum surga akhirat.

Keridaan terhadap ketentuan Allah akan melahirkan kedamaian yang tidak terpengaruh terhadap musibah. Apabila kedamaian telah tumbuh, maka dia akan istiqamah, kondisinya akan baik, dan kesabarannya pun akan baik pula. Kebencian akan menjauhkannya dari kedamaian, baik kebencian itu sedikit maupun banyak. 

Apabila kedamaian telah jauh darinya, maka kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan, kelapangan, dan kebaikan hidup pun akan jauh. Nikmat Allah yang paling besar terhadap hambanya adalah kedamaian dan ketentraman. Faktor yang menyebabkan munculnya rasa itu adalah keridaan dalam segala kondisi.

Pada suatu hari, Wahib bin Al-Wardi, Sufyan Ats-Tsauri, dan Yusuf bin Asbath berkumpul. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Dahulu, saya benci kematian tiba-tiba sebelum hari ini. Sekarang, saya menginginkan kematian." Yusuf pun bertanya, "Kenapa?" Sufyan Ats-Tsuri pun berkata, "Ketika itu saya takut akan ujian." Yusuf berkata, "Saya justru tidak pernah benci akan kematian." "Kenapa?" tanya Sufyan. Yusuf menjawab, "Saya berharap semoga tiba-tiba suatu hari saya bertobat dan beramal saleh." Lalu, Wahib ditanya, "Apa pendapat Anda soal ini?" Dia menjawab, "Saya tidak memilih apa pun. Saya mencintai apa yang dicintai Allah bagi saya." Kemudian Sufyan Ats-Tsauri mencium bagian di antara dua matanya, "Ini pasti berasal dari kedalaman hati," katanya.


 

(Sumber : KampusIslam.com; Cakrawala Ilmu Pengetahuan dan Dunia Islam)

Rabu, 09 September 2009

“Berlindung Dari Fitnah”

9/09/2009 06:00:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Berlindung kepada Allah, khususnya pada masa-masa fitnah sedang menyebar dan merajalela merupakan sebuah keharusan dan hal yang amat penting. Dan itu merupakan jalan yang paling tepat untuk terlepas dari kejahatan fitnah-fitnah itu, baik yang besar atau pun yang kecil.

Jika seseorang memperhatikan berbagai macam fitnah, seperti fitnah kehidupan dunia dengan iming-iming nafsu dan syahwatnya; Fitnah kematian, penghimpunan manusia di padang Mahsyar, serta huru-hara Akhirat; Fitnah kekacauan, pembunuhan dan peperangan; Fitnah tersumbatnya suara kebenaran dan merebaknya kebatilan; Fitnah ujub, besar kepala dan sebagainya, maka sungguh akan menggugah hati untuk menyelamatkan diri darinya dan mendorong untuk berlindung kepada Allah subhanahu wata'ala, minta keselamatan dan terbebas dari segala keburukannya.


 

Fitnah Dunia

Fitnah dunia beserta isinya, berupa permainan, kesenangan dan syahwat mengharuskan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari keburukannya. Merupakan fitnah dunia yang sangat besar bagi seorang laki-laki adalah fitnah (ujian/godaan) wanita. Oleh karena itu Nabi Yusuf 'alaihis salam tatkala khawatir terhadap fitnah wanita, beliau mengatakan, "Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". (QS. 12:33)

Harta benda juga merupakan fitnah yang harus dimintakan perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta perlindungan dari jahatnya fitnah kekayaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih tatkala berlindung dari berbagai fitnah dunia, salah satunya adalah, "Dan (aku berlindung) dari buruknya fitnah kekayaan." (HR. al-Bukhari, merupakan sebuah penggalan hadits)

Keluarga dan anak-anak juga merupakan fitnah dunia sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(QS. 64:14-15)

Oleh karena itu seorang hamba harus memohon kepada Allah agar menjadikan keluarga dan anak cucunya sebagai qurrata ain, penyejuk hati dan pembawa kebaikan. Seorang muslim sadar bahwa keluarga dan anak-anak adalah merupakan fitnah dan ujian hidup. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 25:74)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga mengajarkan do'a, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari (keburukan) fitnah hidup."


 

Fitnah Syetan

Syetan adalah fitnah bagi manusia. Dia selalu menghiasi keburukan sehingga tampak indah dan baik, agar manusia tertipu dan tersesat. Fitnah syetan termasuk sangat besar. Ia selalu menggoda manusia dan mendampingi semenjak lahir hingga menjelang kematiannya. Maka Allah subhanahu wata'ala menganjur kan agar kita berlindung kepada-Nya dari segala gangguan syetan, sebagaimana dalam firman-Nya, "Dan katakanlah,"Ya Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (QS. 23:97-98)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa do'a dan dzikir kepada Allah merupakan senjata ampuh bagi seorang muslim untuk menghadapi gangguan syetan. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya, "Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dan sore (doa), "Dengan menyebut Nama Allah, yang dengan menyebut-Nya maka tidak berbahaya segala sesuatu yang berada di bumi dan di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Dia ucapkan) sebanyak tiga kali maka tidak akan membahayakannya segala suatu apapun."
(HR.Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan sanadnya hasan)

Dan tatkala Abu Bakarradhiyallahu 'anhu, meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengajar kan sebuah kalimat (doa) yang diucapkan ketika pagi dan sore hari, maka di antara yang diajarkan beliau adalah berlindung kepada Allah dari syetan dan sekutunya. Beliau bersabda, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan kejahatan syetan beserta sekutunya."
(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim, dishahihkan oleh adz-Dzahabi)


Fitnah Akhirat

Fitnah akhirat dimulai sejak seseorang masuk ke alam kubur hingga datangnya hari Kiamat dengan kedahsyatannya. Semua itu harus dimohonkan perlindungan kepada Allah subhanahu wata'ala agar kita selamat dari malapetaka nya, dan dengan keutamaan serta rahmat-Nya kita dimasukkan ke dalam surga.

Termasuk fitnah akhirat yang besar adalah fitnah kubur, yaitu pertanyaan di kubur terhadap seorang hamba tentang siapa Rabbnya, apa agamanya, siapa Nabinya dan seterusnya. Jika dia seorang yang istiqamah di atas agama Allah maka akan selamat dan dapat berbicara serta menjawab sesuai yang diridhai Allah subhanahu wata'ala. Jika dia menyepelekan agama dan zhalim maka akan mendapatkan kerugian dan mengucapkan kalimat kekufuran, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Oleh karena itu dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berlindung dari adzab kubur.


Fitnah al-Masih ad-Dajjal

Fitnah dajjal adalah termasuk fitnah terbesar yang akan dialami manusia menjelang hari Kiamat, dan dia merupakan salah satu tanda akan terjadinya Kiamat Kubra (kiamat besar). Tentang kapan munculnya dajjal, maka tidak seorang pun mengetahuinya, yang penting adalah bahwa seseorang tidak akan dapat selamat dari fitnah dajjal kecuali atas perlindungan Allah subhanahu wata'ala. Sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta perlindungan kepada-Nya dari fitnah dajjal tersebut.

Dalam sebuah hadits shahih, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya, "Barang siapa yang membaca sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal." Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan, "Barang siapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal." (HR. Muslim)


 

Fitnah Jahannam

Merupakan salah satu fitnah akhirat adalah fitnah adzab Jahannam. Semoga Allah menjaga kita darinya. Oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala menganjurkan kepada kita untuk berlindung dari adzab Jahannam tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala tatkala menyebutkan di antara sifat hamba Allah, yang artinya "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman."
(QS. 25:65-66)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari adzab Jahannam.


 

Fitnah Orang Kafir

Salah satu fitnah yang dihadapi oleh orang mukmin di setiap tempat dan waktu adalah permusuhan orang-orang kafir. Oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala menyebutkan tentang orang-orang mukmin pengikut Thalut alaihissalam, tatkala menghadapi musuh mereka Jalut dan tentaranya maka mereka berlindung kepada Allah dengan berdoa, sebagaimana firman Allah, "Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdo'a, "Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokoh- kanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir". (QS. 2:250)

Allah subhanahu wata'ala berfirman tentang kaum Nabi Musa, artinya, "Berkata Musa, "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawa-kallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri". Lalu mereka berkata, "Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir".
(QS. 10:84-86)

Allah subhanahu wata'ala juga menyebutkan tentang Nabi Ibrahim dan kaumnya yang berd'oa kepada Allah, "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS. 60:5)

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Ketika terjadi perang Badar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ke arah kaum musyrikin yang berjumlah seribuan orang sedangkan shahabat beliau hanya tiga ratus tiga belas orang. Maka beliau menghadap kiblat lalu menengadahkan tangan berdoa kepada Rabbnya, "Ya Allah penuhilah untukku apa yang Kau janjikan, ya Allah datangkanlah kepadaku apa yang Kau janjikan. Ya Allah jika Kamu binasakan sekelompok ahlul Islam ini, maka Engkau tidak disembah di muka bumi."

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terus-menerus berdoa dengan menengadahkan tangan, menghadap ke kiblat sehingga kain yang ada di pundaknya terjatuh. Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang mengambil kain itu kemudian meletakkannya kembali di pundak beliau. Dia lalu mendekat dari arah belakang Nabi dan berkata, "Wahai Nabi Allah, telah cukup permohonanmu kepada Allah, sesungguhnya Dia akan memberikan untukmu apa yang Dia janjikan kepadamu." Maka Allah subhanahu wata'ala menurunkan ayat, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut". (QS. 8:9). (HR Muslim)

Amat banyak saudara kita di negeri Islam yang sedang menghadapi ujian dan cobaan dari orang kafir, berada dalam penindasan kaum salibis, zionis dan kapitalis. Maka kita hendaknya senantiasa memohon kepada Allah, agar segera mengentaskan musibah tersebut dengan secepatnya.


 

Fitnah Ujub dan Bangga Diri

Ujub, terpedaya dan bangga diri merupakan fitnah yang selayaknya dimintakan perlindungan kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
(QS. 17:37)

Fitnah ini hendaknya diwaspadai khusunya oleh para aktivis dakwah, penyebar ilmu, para pejuang dan orang semisal mereka yang banyak dibutuhkan olah umat Islam di zaman ini. Hendaklah mereka hati-hati dari fitnah ini, dengan banyak berlindung dan bersandar kepada Allah subhanahu wata'ala, agar jangan menjadikan amalnya sebagaimana amal yang Dia firmankan, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."
(QS. 25:23).


 

Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.


 

(Sumber: Kutaib, "Dharuratu alluju' ilallah 'inda hudutsil fitan," DR. Abdul Hamid bin Abdur Rahman al Suhaibani)

Selasa, 08 September 2009

“Balasan Kejujuran dan Amanah”

9/08/2009 06:33:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlak yang baik serta sifar terpuji. Barang siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang meninggalkan khianat dan menipu karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti hal tersebut dengan kebaikan yang banyak.

Dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, "Ada seorang laki-laki yang membeli tanah perkebunan dari orang lain. Tiba-tiba orang yang membeli tanah perkebunan tersebut menemukan sebuah guci yang di dalamnya terdapat emas. Maka, ia berkata kepada penjualnya, 'Ambillah emas itu dariku, sebab aku hanya membeli tanah perkebunan, tidak membeli emas.' Orang yang memiliki tanah itu pun menjawab, 'Aku menjual tanah itu berikut apa yang ada di dalamnya.' Lalu kedua orang itu meminta keputusan hukum kepada orang lain. Orang itu berkata, 'Apakah kalian berdua memiliki anak?' Salah seorang dari mereka berkata, 'Aku memiliki seorang anak laki-laki.' Yang lain berkata, 'Aku memiliki seorang anak perempuan.' Orang itu berkata, 'Nikahkanlah anak laki(mu) dengan putri(nya) dan nafkahkanlah kepada keduanya dari emas itu, dan bersedekahlah kalian dari padanya'." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israel yang meminta orang Bani Israel lainnya agar memberinya utang sebesar 1000 dinar. Lalu, orang yang mengutanginya berkata, "Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan (utangmu ini)." Ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku." Orang itu berkata, "Datangkanlah orang yang menjaminmu." Ia menjawab, "Cukuplah Allah yang menjaminku." Orang yang mengutanginya pun lalu berkata, "Engkau benar." Maka, uang itu diberikan kepadanya (untuk dibayar) pada waktu yang ditentukan. (Setelah lama) orang yang berhutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluan. Lalu, ia mencari kapal yang bisa mengantarkannya karena utangnya telah jatuh tempo, tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut. Maka, ia pun mengambil kayu yang kemudian ia lubangi, dan dimasukkannya uang 1000 dinar di dalamnya berikut surat kepada pemiliknya. Lalu, ia meratakan dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya, ia menuju ke laut seraya berkata, "Ya Allah, sungguh engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada si Fulan sebanyak 1000 dinar. Lalu, ia memintaku penjamin, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penjamin, dia pun rela dengannya. Ia juga meminta kepadaku saksi, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun rela dengannya. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal untuk mengirimkan kepadanya uang yang telah diberikan kepadaku, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepada-Mu." Lalu ia melemparkannya ke laut sehingga terapung-apung, lalu ia pulang.

Adapun orang yang memberi utang itu, maka ia mencari kapal yang datang ke negerinya. Maka, ia pun keluar rumah untuk melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uangnya. Tetapi, tiba-tiba ia menemukan kayu. Ia lalu mengambilnya sebagai kayu bakar untuk istrinya. Namun, ia membelah kayu tersebut, ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat. Setelah itu, datanglah orang yang berutang kepadanya. Ia membawa uang 1000 dinar seraya berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu dengan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang." Orang yang mengutanginya berkata, "Bukankah engkau telah mengirim uang tersebut dengan sesuatu?" Ia menjawab, "Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang?" Orang yang mengutangi mengabarkan, "Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu, bawalah uang 1000 dinarmu kembali dengan beruntung." (HR Bukhari dan Ahmad).


 

(Sumber : 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto, Penerbit CV Firdaus, Jakarta Pusat)

Senin, 07 September 2009

“Memakmurkan Masjid Dapat Menghapus Dosa”

9/07/2009 04:43:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Menjadi orang yang selalu berupaya memakmurkan Masjid adalah merupakan perbuatan yang sangat mulia di hadapan Allah SWT. Demikian mulianya perbuatan itu sampai Rasulullah SAW memberikan penghargaan besar kepada mereka. Tiap langkah mereka ke Masjid akan dihitung untuk menghapus dosa dan meningkatkan derajatnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : " Siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke Masjid untuk menunaikan shalat fardlu, maka semua langkahnya dihitung: yang pertama menghapuskan dosa dan yang kedua menaikkan derajat" (HR.Muslim).

Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkan mendirikan Masjid, tetapi juga memerintahkan untuk memakmurkan, membersihkan, merawat dan sebagainya.

Memakmurkan Masjid juga berarti memelihara, meramaikan, menghidupkan Masjid. Tiga pengertian ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidaklah dapat dikatakan Masjid itu makmur kalau Masjid itu tidak terpelihara atau amat jarang dikunjungi atau tak ada kegiatan apapun (selain shalat berjamaah).


 

Memelihara Masjid

Pemeliharaan Masjid merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan. Pemeliharaan itu meliputi mencegah kerusakan, menjaga kebersihan dan keindahan. Kewajiban setiap muslim lah untuk melakukan semua itu. Tidaklah pantas (baitullah) dibiarkan rusak, tempat wudhu nya kotor, wc-nya tidak terpelihara, halamannya penuh semak, lantainya berdebu dan sebagainya. Rasulullah Muhammad SAW pernah mengatakan adanya pahala bagi yang menjaga kebersihan Masjid dengan sabdanya : "Ditunjukkan kepadaku semua pahala umatku, sampai-sampai kepada satu kotoran yang dikeluarkan oleh seseorang dari Masjid " (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi).


 

Meramaikan Masjid

Memakmurkan Masjid juga berarti mengunjungi Masjid untuk beribadah, misalnya : mendengarkan ceramah, diskusi, baca Al Quran, dzikir, dan yang paling utama adalah shalat berjamaah. Jamaah Masjid yang tetap dapat dikatakan keluarga Masjid itu.

Dalam Hadits yang lain Rasulullah bersabda : " Sesungguhnya yang meramaikan rumah-rumah (Masjid-masjid) Allah, mereka itu adalah ahli (keluarga) Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Tabrani).


 

Menghidupkan Masjid

Memakmurkan Masjid juga berarti menghidupkan masjid dengan segala kegiatan yang sesuai dengan fungsinya. Biasanya orang akan tertarik berkunjung ke suatu tempat jika disana ia dapat menarik manfaat. Oleh karenanya Masjid harus dihidupkan dengan segala kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya agar umat Islam yang semula enggan datang ke Masjid akan tergerak untuk mengunjunginya.


 

Memakmurkan Masjid Dapat Mencegah Turunnya Adzab Allah SWT.

Allah berfirman dalam hadits Qudsi, " Demi kemuliaan dan keagungan-ku, Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku lihat penghuninya sedang memakmurkan rumah-rumah-ku (Masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istighfar (meminta ampun kepada-ku) diwaktu sahur, Aku palingkan siksaan itu dari mereka ".


 

Tak Semua Orang Bisa Menjadi Takmir Masjid.

Ternyata, menurut Allah SWT, tidak sembarang orang bisa menjadi pemakmur Masjid. Hal tersebut diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Quran surat At Taubah 18, yang artinya : "Sesungguhnya yang memakmurkan Masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepad Allah dan hari kemudian serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".

Kepada para pemakmur Masjid ini Allah SWT akan memberikan penghargaan berupa perlindungan di hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : " Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah SWT pada saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-nya yaitu :

  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang selalu beribadah kepada Allah SWT.
  3. Seseorang yang hatinya selalu terkait ke Masjid.
  4. Dua orang yang saling mencinta karena Allah, mereka bersatu dan berpisah karena Allah.
  5. Seseorang yang apabila dibujuk (untuk berbuat dosa) oleh wanita cantik yang mempunyai kedudukan, maka orang itu berkata, 'Saya takut kepada Allah'
  6. Seseorang bersedaqah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya.
  7. Seseorang yang mengingat Allah (dzikrullah) di tempat sepi sampai ia mencucurkan air matanya" (HR. Bukhari Muslim).


 

Orang Musyrik Tak Layak Memakmurkan Masjid

Allah SWT berfirman : "Tidaklah pantas orang-orang musrik itu memakmurkan Masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yand sia-sia pekerjaannya dan mereka kekal di dalam neraka." (QS. At Taubah 17).

Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tidak beragama Islam tidak layak dan tidak boleh memakmurkan Masjid.


 

(Sumber : Buletin Takmir Masjid Al-Hikmah Edisi Khusus)

Minggu, 06 September 2009

“Mencintai Kebersihan”

9/06/2009 10:11:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)

"Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan." (HR. Imam Turmuzi)

Kedudukan di sisi Allah dapat kita capai dengan cinta kita terhadap kebersihan. Nabi Muhammad Saw mencintai kebersihan. Rasulullah setelah wudhu selalu bersiwak atau menggosok giginya. Demikian pula sesudah makan dan menjelang tidur.

Rasul Saw paling lambat mengguntingkan kukunya seminggu sekali dan pada hari Jum`at. Sangat beruntung bagi orang yang terus-menerus mensucikan dirinya dan mensucikan dirinya dari barang-barang yang bukan miliknya. Yang paling penting barang yang kita punya harus lebih murah dari diri kita. Barang-barang yang mubajir dan tidak bermanfaat harus dia amalkan. Ini akan membuat lebih ringan hisabnya.

Ciri-ciri orang yang hidupnya kotor yaitu tidak merasa dirinya banyak dosa, zuhud ada nya pada orang yang kaya yang tidak terikat oleh kekayaan. Kemuliaan bagi orang yang tidak punya yaitu niatnya selalu dan ikhtiar yang selalu maksimal, kita terhina jika kita tidak punya uang.

Sederhana tidak identik dengan kemuliaan, kalau di dalam dirinya masih ada riya. Semoga di bulan ramadhan ini kita tidak terpikat oleh dunia yang mampir hanya sejenak.


 

(M-Qolbu)

“DO’A UNTUK ORANG TUA”

9/06/2009 10:10:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Ya Allah,

Rendahkanlah suaraku bagi mereka,

Perindahlah ucapanku di depan mereka.

Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan

Lembutkanlah hatiku untuk mereka.


 

Ya Allah,

Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya

Atas didikan mereka padaku dan

Pahala yang besar

Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,

Peliharalah mereka

Sebagaimana mereka memeliharaku.


 

Ya Allah,

Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,

atau kesusahan yang mereka derita karena aku,


 

atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,

jadikanlah itu semua

Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,

Meningginya kedudukan mereka dan

Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah

sebab hanya Engkaulah

yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda.


 

Ya Allah,

Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,

Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.

Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,

Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,


 

sehingga kami semua berkumpul

Bersama dengan santunan-Mu

di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta

rahmat-Mu.


 

Sesungguhnya Engkaulah

yang memiliki Karunia Maha Agung,

serta anugerah yang tak berakhir dan

Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.


 

****


 

Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita. Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita. Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.

Istighfar, istighfarlah

Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya. Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang memperdulikan dan mendoakannya. Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan di dunia ini.

Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.

Astaghfirullahal Adhiim

Astaghfirullahal Adhiim


 

(M-Qolbu)

“Ilmu-Ilmu Alquran : Pengertian, Pertumbuhan, dan Perkembangannya”

9/06/2009 09:49:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Alquran adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. untuk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah saw. menyampaikan Alquran kepada para sahabatnya, orang Arab asli, sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Bila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakannya kepada Rasulullah saw.

Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang berkata, "Ketika ayat yang artinya, "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman"
diturunkan, banyak orang yang merasa resah. Mereka kemudian menanyakannya kepada Rasulullah saw., "Ya Rasulullah saw. siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya?" Nabi menjawab, "Kezaliman di sini bukan seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba Allah yang shalih, "Sesungguhnya kemusyrikan adalah kedzaliman yang besar."
(Luqman: 13). Jadi yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah kemusyrikan."

Disamping itu, Rasulullah saw. juga menafsirkan untuk mereka beberapa ayat. Dalam riwayat Muslim dan yang lainnya dari Uqbah bin Amir berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar yang artinya, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi." (Al-Anfal: 60) Ingatlah bahwa kekuatan di sini adalah memanah."

Para sahabat sangat antusias untuk menerima Alquran dari Rasulullah saw., menghafal dan memahaminya. Ini merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Anas r.a. berkata, "Seseorang di antara kami bila telah membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran, orang itu menjadi besar dalam pandangan kami." Begitu pula mereka selalu berusha mengamalkan Alquran dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami yang mengatakan, "Mereka yang membacakan Alquran kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud serta yang lain menceritakan bahwa bila mereka belajar dari Nabi sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: "Kami mempelajari Alquran berikut ilmu dan amalnya sekaligus"

Rasulullah saw. tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dirinya selain Alquran, karena beliau khawatir akan tercampur dengan yang lain.

Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu tulis dari aku. Barang siapa menulis dari aku selain Alquran, hendaklah dihapus. Dan, ceritakan apa yang dariku, dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia menempati tempatnya di api neraka."

Sekalipun setelah itu Rasulullah saw. mengizinkan kepada sebagian sahabat untuk menulis hadis, tetapi hal yang berhubungan dengan Alquran tetap didasarkan pada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah saw. di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. dan keadaan menghendaki, seperti yang akan kami jelaskan nanti, untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana. Mushaf itu disebut mushaf imam. Salinan-salinan mushaf itu juga dikirimkan ke beberapa propinsi. Penulisan mushaf tersebut disebut Ar-Rasmu al-Utsmani yaitu dinisbatkan kepada Utsman. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasmil quran.

Kemudian datang masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. dan atas perintahnya, Abul Aswad ad-Du'ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku serta memberikan ketentuan-ketentuan harakat pada Alquran. Ini juga dianggap sebagai permulaan i'rabil quran.

Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Alquran dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda di antara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw. hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka yaitu para tabi'in.

Di antara para mufassir (ahli tafsir) yang termasyhur dari kalangan sahabat adalah empat orang khalifah, kemudian Ibnu Mas'ud, Ibn Abbas, Ubai bin Ka'ab, Abdurrahman bin Auf , Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asyari dan Abdullah bin Zubair.

Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin Abbas dan Ubai bin Ka'ab. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir Alquran yang sempurna, tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi'in, di antara mereka ada satu kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Di antara murid-murid Ibnu Abbas di Mekah yang terkenal ialah Sa'id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, bekas sahaya (maula) Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al-Yamani dan Atha' bin Abi Rabah.

Sementara di antara murid-murid Ubay bin Ka'ab yang terkenal di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka'ab al-Qurazi.

Diantara murid-murid Abdullah bin Mas'ud di Irak yang terkenal adalah al-Qamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya'bi, Hasan al-Basri, dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi.

Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun mengenai ilmu tafsir, orang yang paling tahu adalah penduduk Mekah, karena mereka sahabat Ibnu Abbas, seperti Mujahid, Atha' bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibnu Abbas lainnya seperti Thawus, Abusy-Sya'sa, Said bin Jubair dan lain-lainnya. Begitu pula penduduk Kufah dari sahabat Ibnu Mas'ud dan mereka itu mempunyai kelebihan dalam ilmu tafsir diantaranya adalah Zubair bin Aslam; Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb, mereka berguru kepadanya.

Dan yang diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu tafsir, ilmu gharibil quran, ilmu makki wal madani dan ilmu nasikh dan mansukh. Tetapi semua ini didasarkan pada riwayat dengan cara di diktekan.

Pada abad kedua hijriyah tiba masa pembukuan (tadwin) yang yang dimulai dengan pembukuan hadis dengan segala babnya yang bermacam-macam dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir quran yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para sahabat atau dari para tabi'in.

Di antara mereka itu, yang terkenal adalah Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117 H), Syu'bah bin Hajjaj (wafat 160 H), Waki' bin Jarrah (wafat 197H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198) dan Abdurrazaq bin Hammam wafat 112)

Mereka semua adalah para ahli hadits. Sedang tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ketangan kita.

Kemudian langkah mereka itu diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Alquran yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal di antara mereka ada Ibn Jarir at-Thabari (wafat 310 H)

Demikianlah, tafsir pada mulanya dinukil (dipindahkan) melalui penerimaan (dari mulut ke mulut) dari riwayat; kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis; selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran tafsir bil ma'tsur(tafsir berdasarkan riwayat), lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra'yi (tafsir berdasarkan penalaran)

Disamping ilmu tafsir, lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan Alquran, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufassir (ahli tafsir).

Ali bin al-Madini (wafat 234 H) yang merupakan guru Bukhari menyusun karangan tentang asbaabun-nuzuul. Abul Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224) menulis tentang naasikh wal mansuukh dan qira-at.

Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika quran (musykilaatul quraan). Mereka semua termasuk ulama abad ke tiga hijriah.

Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun al-Haawi wa uluumil quraan.

Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 751 H) juga menulis tentang ilmu-ilmu quran.

Abu Bakar as-Sijistani (wafat 330 H) menyusun Ghariibul quraan.

Muhammad bin Ali al-Adfawi (wafat 388 H) menyusun al-Istighna' fii 'uluumil quraan.

Mereka ini adalah ulama-ulama abad keempat hijri.

Dan, sesudah itu kegiatan karang-mengarang dalam ilmu quran terus berlangsung.

Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403 H) menyusun I'jaazul quraan, dan Ali Ibrahim bin Said al-Hufi (wafat 430 H) menulis mengenai i'rabul quraan. Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil tamsil dalam quran (amtsaalul quraan). Al Izz bin Abdussalam (wafat 660 H) tentang majaz dalam alquran. Alamudin as-Sakhawi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qiraat (cara membaca alquran), dan Aqsaamul quraan. Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu quran.

Syaikh Muhammad Abdul Aziz az-Zarqani menyebutkan dalam kitabnya Manaahilul 'Irfaan fii Uluumil Quraan bahwa ia telah menemukan dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Said yang terkenal dengan Al-Hufi, judulnya al-Burhaan fii Uluumil Quraan yang terdiri dari tiga puluh jilid. Dari ketiga puluh jilid itu ada lima belas jilid yang tidak tersusun dan tidak baerurutan. Pengarang membicarakan ayat-ayat Alquran menurut tertib mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu Alquran yang terkandung ayat itu secara sendiri, masing-masing diberi judul sendiri pula, dan judul yang umum disebutkan dalam ayat, dengan menuliskan Alqaul fii qaulihi 'Azza wa Jalla (pendapat mengenai firman Allah ), lalu disebutnya ayat itu. Kemudian di bawah judul ini dicantumkan Alqaul fii al-Ii'rab (pendapat mengenai morfologi). Di bagian ini ia membicarakan ayat dari sisi nahwu dan bahasa. Selanjutnya Al-qaul fil ma'na wat tafsiir (pendapat mengenai makna dan tafsirnya). Di sini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat (hadis) dan penalaran. Setelah itu Al-qaul fil waqfi wal tamam (pendapat mengenai tanda berhenti dan tidak). Disini ia menjelaskan tentang waqaf yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Terkadang qira'at diletakkan dalam judul tersendiri, yang disebutnya dengan Al-qaul fil qira'at (pendapat mengenai qira'at). Kadang ia berbicara tentang hukum-hukum yang diambil dari ayat ketika ayat dibacakan.

Dengan metode seperti ini, al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan Ulumul Quran(ilmu-ilmu quran), meskipun pembukuannya memakai cara tertentu seperti disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 330 Hijriyah.

Kemudian Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikutinya dengan menulis sebuah kitab berjudul Fununul Afnan fi Ajaa'ibi Uluumil Quran.

Lalu tampil Badrudin az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis sebuah kitab dengan judul al-Burhan fi Uluumil Quran Jalaaludin al-Baqini (wafat 824 H) memberikan tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi'ul Uluum min Maawaqi'in Nujum, Jalaludin as-Suyuti (wafat 911 H) juga kemudian menyusun kitab yang terkenal al-Itqan fi Uluumil Quraan.

Kepustakaan ilmu-ilmu Quran pada masa kebangkitan modern tidaklah lebih kecil daripada nasib ilmu-ilmu yang lain. Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yang positif dalam membahas kandungan Quran dengan metode baru pula, seperti I'jaazul Quraan yang ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi'i, kitab at-Taswiirul Fanni fil Quran dan Masyaahidul Qiyamah fil Quran oleh Sayyid Qutb, Tarjamatul Quran oleh Syekh Mustafa al-Maraghi yang salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibuddin al-khatib, Mas'alatu Tarjaamatil Quran oleh Mustafa Sabri, an-Naba'ul Azim oleh Dr. Muhammad Abdullah Daraz dan Mukadimah Tafsir Mahasinut Ta'wil oleh Jalaaludin al-Qasimi.

Syekh Tahir al-Jazairi menyusun sebuah kitab dengan judul at-Tibyaan fii Uluumil Quran. Syekh Muhammad Ali Salamah menulis pula Manhaajul Furqaan fii Uluumil Quran; yang berisi pembahasan yang sudah ditentukan untuk fakultas ushuludin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan masyarakat. Kemudian hal itu juga diikkuti oleh muridnya, Muhammad Abdul Azim az-Zarqani yang menyusun Manaahilul 'Irfaan fi Uluumil Quran. Kemudian Syekh Ahmad Ali menyusun Muzakkirat Uluumil Quran yang disampaikan kepada para mahasiswanya di fakultas usuludin jurusan dakwah dan bimbingan masyarakat.

Akhirnya muncul Mabaahits fii Uluumil Quran oleh Dr. Subhi as-Shaleh. Juga ustadz Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah ma'idah dalam quran .

Pembahasan-pembahasan tersebut dikenal dengan sebutan uluumul quran dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.

Kata ulum jamak dari kata ilmu. Ilmu berarti al-fahmu wal idrak (paham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiyah.

Jadi, yang dimaksud dengan ulumul quran ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan quran dari segi asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya Quran), pengumpulan dan penertiban Quran, pengetahuan tentang surah-surah Makkah dan Madinah, an-Nasikh wal Mansukh, al-Muhkam wal Mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Alquran. Terkadang ilmu ini juga dinamakan usuulut tafsir (dasar-dasar tafsir), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan Alquran.

(Sumber: Mabaahits fii 'Uluumil Quraan, Manna' Khaliil al-Qattaan, (Buku Mabaahits fii 'Uluumil Quraan telah diterjemahkan dengan judul Studi Ilmu-Ilmu Quran oleh Drs. Mudzakkir AS dan diterbitkan oleh PT Pustaka Litera AntarNusa, Jakarta.)

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

“Ramadan dan Mukjizat Alquran”

9/06/2009 09:28:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Wahai kaum muslimin yang berbahagia!

Bertakwalah kalian kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah sebaik-baik yang kalian upayakan, dan sebaik-baik yang kalian simpan. Dengan takwa, amalan kalian bisa suci, dan derajat kalian bisa bertambah tinggi. Dan, ketahuilah bahwa nikmat yang paling agung adalah nikmat iman dan Alquran.

Iman adalah cahaya hati, dan penerang pandangan, dan merupakan jiwa, eksistensi, keutamaan, kewibawaan seorang manusia. Tidak ada kebaikan pada diri seseorang tanpa keimanan.

Alquran adalah petunjuk dan cahaya, penyeru kepada kebaikan, pencegah semua kejahatan, dan sebagai nutrisi bagi jiwa. Di dalamnya jelas diterangkan tentang yang halal dan yang haram, dan perundang-undangan hukum dunia maupun akhirat. Barang siapa berpegang teguh dengannya, maka Allah akan menunjukinya kepada jalan yang lurus, dan barang siapa yang mengabaikannya pasti dia akan binasa. Allah berfirman, "Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (Isra: 9).

"… lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan, barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaahaa: 123--124).

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Allah menjamin bagi orang yang mengamalkan Alquran, bahwa mereka tidak akan sesat di dunia, dan mereka tidak akan celaka di akhirat." (At-Thabari).

Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang tersisa dan yang kekal, yang relevan dan diperuntukkan bagi semua generasi sampai hari kiamat, sehingga akal manusia akan merasa puas dengan bukti-bukti yang banyak untuk menundukkan manusia sehingga dia akan berserah diri kepada Allah atau sebaliknya, akan berpaling dari kebenaran dalam keadaan ingkar dan sombong setelah dia mengetahui kebenaran itu. Tetapi, hujah sudah tegak bagi Allah dan tidak ada alasan lagi bagi manusia.

Alquran ini adalah mukjizat yang kekal, yang manusia dan jin tidak mampu untuk mendatangkan suatu kitab yang serupa dengannya pada waktu Alquran tersebut diturunkan. Bahkan, jika mereka semua berkumpul untuk membuat sesuatu yang serupa, niscaya mereka tidak akan mampu.

Allah berfirman, "Katakanlah, 'sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'." (Isra: 88).

Bahkan, Allah menantang manusia dan jin untuk membuat sepuluh surat saja yang serupa dengannya, mereka semua tidak mampu. Allah berfirman, "Bahkan mereka mengatakan, 'Muhammad telah membuat-buat Alquran itu.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggilah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar'." (Huud: 13).

Dan yang terakhir, Allah menyuruh mereka untuk mendatangkan satu surah saja kalau mereka masih ragu, tetapi mereka tetap tidak mampu. Allah berfirman, "Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Alquran yang telah Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka, jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 23--24).

Allah menurunkan Alquran sebagai mukjizat dan bukti kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengetahui bahwa Alquran ini adalah benar-benar kalam (firman) Allah, dan agar mereka mengerti bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dan Muhammad saw. adalah benar-benar utusannya. Dan Alquran telah memberitahukan kita tentang sifat-sifat Allah yang sempurna, dan Allah Maha Suci dan terhindar dari setiap sifat kekurangan yang tidak layak bagi ketinggian dan keagungan-Nya.

Allah berfirman, "Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 252).

Barang siapa yang tidak yakin terhadap Alquran dan mukjizat yang terkandung di dalamnya, tidak akan bermanfaat baginya tanda-tanda dan kejadian-kejadian luar biasa.

Mukjizat Alquran terletak pada kesusastraannya, pada undang-undang hukumnya yang sangat adil dan bijaksana, pada bukti-bukti tentang alam semesta dan rahasia-rahasia alam yang diterangkannya, pada kesempurnaan ajarannya, dan pada kebenaran kabarnya baik tentang suatu yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, serta pada ketinggian maksud dan sasarannya. Selain itu, mukjizat Alquran juga terdapat pada bimbingan yang sempurna dan lengkap pada semua aspek kehidupan manusia. Alquran telah menghasilkan umat Islam untuk manusia, karena hanya dengan Alquran mereka bisa menjadi sebaik-baik umat. Sebagaimana firman Allah, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).

Oleh karena itu, engkau tidak mendapati dalam sejarah umat manusia, suatu umat yang lebih adil, lebih kasih, lebih lapang, dan lebih mulia dari pada umat Islam.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya kalian sangatlah butuh untuk berakhlak dengan sifat-sifat yang telah digariskan Alquran, yaitu dengan mengamalkan perintah-perintahnya, menjauhi apa-apa yang dilarangnya, mematuhinya dalam hal halal dan haram, dan harus mengamalkan hukumnya, dan mengimaninya secara keseluruhan. Alquran tidak akan ada faedahnya bagi kehidupan manusia, kecuali apabila jiwanya siap menerima, hatinya terbuka, dan seluruh anggota tubuhnya tunduk dan patuh terhadap janji, ancaman, dan kabar gembira yang ada di dalamnya. Seperti, firman Allah, "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu, Dia menunjuki siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang di sesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya." (Az-Zumar: 23).

Ramadan adalah saat yang tepat yang mampu memberikan pengaruh Alquran pada jiwa manusia, dan dapat menambah hidayah dan cahaya bagi seorang muslim. Ramadan adalah sebaik-baik waktu untuk membaca Alquran dan menghayatinya, karena Alquran adalah merupakan siraman rohani. Di bulan Ramadan, berlipat ganda pengendalian diri terhadap kejahatan, sehingga jiwa dan takwa meningkat dengan siraman gizi dari Alquran, dan seorang muslim bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari kalamullah tersebut, dan bersenang-senang dengan membaca Alquran karena ia merupakan konsumsi bagi jiwa dan kehidupannya. Alquran ibarat hujan yang bermanfaat, dan jiwa bagaikan bumi, sedang Ramadan seperti masa yang tepat untuk turunnya hujan sehingga akan tumbuh subur semua tanaman indah di muka bumi.

Dari Abu Musa al-Asy'ary, r.a. berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagaikan hujan yang menimpa bumi, ada bagian bumi yang baik, yang menampung air sehingga bisa menumbuhkan rerumputan yang lebat. Ada juga bagian bumi berupa tanah gundul (tidak bertumbuhan) tetapi mampu menampung air, sehingga Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia, mereka minum darinya, dan bercocok tanam. Dan ada bagian bumi yang lain lagi yaitu lembah, yang tidak mampu menampung air dan tidak dapat menumbuhkan rerumputan. Demikian itu adalah permisalan orang yang mendalami ilmu din, sehingga bisa bermanfaat baginya apa-apa yang Allah mengutusku dengannya, maka dia berilmu dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya, dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya'." (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah!

Manfaatkanlah sisa waktu Ramadan, perbanyaklah membaca Alquran dengan menghayati dan memahami maknanya, bahkan mengamalkannya. Pada bulan ini para ulama salaf mengonsentrasikan diri untuk membaca Alquran, mulut mereka basah dengan zikir kepada Allah. Di antara mereka ada yang khatam setiap tujuh hari sekali, ada yang setiap tiga hari sekali, dan ada yang khatam setiap malam.

Barang siapa beramal sesuai Alquran, berarti dia adalah ahli (golongan)nya meskipun tidak hafal. Dan barang siapa yang tidak beramal sesuai Alquran, berarti dia bukan ahlinya walaupun dia hafal. Dan barang siapa yang tidak hafal kecuali sebagian saja, hendaknya dia membaca yang dia hafal dan mengulang-ulangnya.

Bersegeralah untuk bertobat dari dosa-dosa dengan taubatan nashuha, karena tidak ada keberuntungan melainkan dengan tobat. Isilah waktu-waktu yang ada dengan amal-amal saleh, dan janganlah kalian memutus hubungan silaturahmi, karena hal itu adalah merupakan kejahatan, keputusasaan, dan dosa besar di sisi Allah.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Perbanyaklah beramal kebaikan di bulan yang mulia ini, berbuat baiklah kalian kepada para fakir miskin yang membutuhkan, demi mencontoh pribadi yang paling dermawan, yaitu Rasulullah saw.

Rajin-rajinlah kalian salat tarawih pada bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa berdiri salat bersama imam hingga selesai, dicatat baginya pahala salat semalam penuh." (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmizi, dan Nasai).

Dalam hadis lain beliau bersabda, "Barang siapa yang bangun salat pada bulan Ramadan dengan keimanan dan penuh pengharapan, diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah!

Salatlah kalian, salatlah! karena salat adalah tiang agama Islam, yang mencegah dari perbuatan keji dan dosa. Barang siapa yang menjaga salatnya, berarti dia menjaga agama dan jiwanya, dan barang siapa yang meremehkannya, dirinya akan merugi dan dia telah mencampakkan agamanya. Sesuatu yang ditanyakan kepada setiap hamba pertama kali di hari kiamat adalah salat. Apabila salat diterima, diterima pula seluruh amalnya, dan apabila salatnya ditolak, ditolak pula seluruh amalnya. Dan akan dikatakan kepada orang yang meninggalkan salat, masuklah kalian ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka. Dan, ketahuilah bahwa salat jamaah adalah kewajiban yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan, bayarlah zakat harta kalian sebelum diazab karenanya. Disebutkan dalam sebuah hadis, "Barang siapa dikaruniai harta oleh Allah tetapi tidak mau membayar zakatnya, niscaya pada hari kiamat nanti hartanya akan diwujudkan sebagai ular ganas yang memiliki dua taring bisa. Ular itu melilitnya dan mencabik-cabiknya dengan kedua mulutnya sambil berkata, 'Aku adalah hartamu, aku adalah perbendaharaanmu'." (HR Bukhari).

Tutuplah bulan Ramadan dengan sebaik-baik amal yang kamu mampu, karena sesungguhnya amal perbuatan itu dilihat akhirnya. Barang siapa yang baik pada awal-awal hari puasanya, hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan menjaganya terus-menerus. Barang siapa yang kurang baik, hendaknya ia bersungguh-sungguh agar bisa menutupi kekurangannya, dan hendaknya ia bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir. Jagalah puasa kalian dengan menundukkan pandangan, dan menjaga lesan. Allah berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'." (An-Nur: 30).

Selain itu, cegahlah kejahatan dan berbanyaklah kebaikan, sebagaimana yang diwajibkan oleh Allah. Perbanyaklah zikir, karena zikir adalah amalan yang paling mulia dan paling suci di sisi Allah.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Perbanyaklah doa pada siang maupun malam hari. Perbanyaklah doa untuk kaum muslimin, pemimpin, dan ulama mereka. Malapetaka turun bertubi-tubi atas kaum muslimin disebabkan banyaknya dosa, dan tidak ada yang mampu mengangkat bala, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari bencana dan kesusahan, melainkan hanya Allah. Oleh karena itu, segeralah menuju Allah, mohonlah kepada-Nya karena Dia Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa.

"Dan, bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Ali Imran: 133--136).


(sumber : Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.