Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Sabtu, 12 September 2009

“Zakat al-Fithr”

9/12/2009 02:25:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Sungguh Telah beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya dan orang-orang yang menyebut nama Tuhannya kemudian ia mengerjakan shalat." (QS. al-A'laa: 14)


 

Ayat ini menyatakan bahwa beruntunglah bagi siapa saja yang membersihkan dirinya dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, baik dengan zakat maupun amal soleh. Kemudian mengagungkan nama Tuhannya (berdzikir) dan mengerjakan shalat lima waktu. Menurut riwayat Ibnu 'Umar, Abu Sa'id al-Khudriy, Abu 'Āliyah dan Ibnu Khuzaimah ayat di atas diturunkan berkenaan dengan zakat fithri, takbir hari raya puasa dan shalat 'Iedul-Fithri.


 

Definisi

Zakāt al-Fithr disebut juga sebagai Shadaqah al-Fithr. Kata al-Fithr sama halnya dengan Ifthaar yang berarti berbuka puasa dan kata itu datang dari akar kata yang sama yaitu Futhuur yang berarti sarapan pagi. Disebut demikian karena orang yang berbuka adalah orang yang makan sejak pagi. Secara Istilah Zakāt al-Fithr berarti zakat yang dikeluarkan pada hari ketika kembali berbuka (akhir puasa Ramadhan).


 

Yang Wajib Mengeluarkan Zakāt al-Fithr

Zakāt al-Fithr adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim, baik Laki-laki ataupun Perempuan, anak kecil atau orang dewasa sepanjang dia mempunyai harta untuk melakukannya. Dalil yang menyebutkan bahwa Zakāt al-Fithr adalah pemberian yang wajib terdapat di dalam Sunnah melalui riwayat Ibn `Umar ; "Dari Ibnu 'Umar ra berkata; Rasulullah SAW mewajibkan Zakāt al-Fitr kepada setiap budak, orang merdeka, Laki-laki, wanita, dan setiap Muslim yang tua dan muda sebanyak satu Sha` biji korma kering atau satu Sha` gandum. Beliau menyuruh kami untuk melaksanakannya sebelum shalat 'Ied." [HR. Bukhare, Arabic/English, Jil.2, p. 339, no. 579]

Kepala rumah tangga boleh membayar jumlah yang diperlukan sebagai zakat untuk anggota keluarganya. Abu Sa'id al-Khudriy berkata, "Ketika Rasulullah Saw masih berada di tengah kami, kami mengeluarkan zakat fithrah itu untuk setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka ataupun budak dengan satu sha' makanan, satu sha' keju, satu sha' gandum, satu sha' kurma atau satu sha' anggur." [ HR. Muslim -Transl. jilid 2, p. 469, no. 2155]

Setiap muslim baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, budak ataupun orang merdeka wajib mengeluarkan zakat bila ia mempunyai kelebihan makanan atau uang (harta) lebih dari keperluannya selama sehari semalam. Sehingga yang dikenai taklif (perintah mengeluarkan zakat) adalah orang yang mempunyai persediaan makanan atau uang yang lebih dari keperluannya pada hari itu. Termasuk di dalamnya orang miskin yang mempunyai makanan untuk dua hari atau yang mempunyai uang lebih dari belanja atas keperluan pokoknya selama sehari. Demikianlah ijtihad para Imam Mujtahidin, yaitu Malik, asy-Syafi'ie, Ahmad dan Ishaq.


 

Pentingnya Zakāt al-Fithr

Peran penting yang dimainkan oleh Zakāt Māl dalam peredaran kekayaan bagi Masyarakat Islam adalah juga dimainkan oleh Zakāt al-Fitr. Bagaimanapun, di (dalam) kasus Shadaqah al-Fitr (Zakāt al-Fitr), masing-masing individu diminta untuk mengkalkulasi berapa banyak derma yang harus ia bayarkan untuk dirinya dan tanggungannya dan secara langsung mencari masyarakat yang berhak menerima zakat tersebut. Shadaqah al-Fitr memainkan suatu peran sangat penting dalam membangun solidaritas sosial. Yang kaya berhubungan langsung dengan yang miskin untuk membantunya. Sedangkan yang miskin membantu yang lebih miskin lagi darinya. Kontak yang terjadi antar berbagai tingkatan masyarakat ini membantu membangun ikatan persaudaraan yang riil dan cinta dalam Masyarakat Islam. Mereka yang mempunyai menjadi dermawan bagi mereka yang tidak punya. Sehingga kesenjangan sosial dapat dihindari sedini mungkin.


 

Tujuan Zakāt al-Fithr

Tujuan utama Zakāt al-Fithr adalah sebagai tebusan bagi mereka yang berpuasa untuk mensucikan kesalahan-kesalahannya selama menjalankan ibadah puasa. Zakāt al-Fithr juga diperuntukkan kepada mereka kaum fakir-miskin agar mereka dapat merayakan 'Iedul-Fithri bersama dengan kaum Muslimin yang lain.

Ibn 'Abbas meriwayatkan, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mewajibkan Zakāt al-Fitr untuk membersihkan mereka yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan pembicaraan kotor (yang dilakukan selama Ramadaan) dan untuk memberi makan fakir miskin. Siapapun yang memberinya sebelum shalat 'ied akan diterima sebagai Zakat, sedangkan yang memberinya setelah selesai shalat 'Ied maka ia diterima sebagai Shadaqah." [ HR. Abu Dawood- Eng. transl. jilid 2, p. 421, no. 1605- dinilai Shahih oleh Shaikh Naser Al-Albanee]

Tujuan Shadaqah al-Fitr adalah pengembangan rohani bagi orang-orang beriman. Dengan menyerahkan sebagian dari kekayaan mereka, Kaum Mu`min diajarkan karakteristik akhlak yang tinggi, yaitu kedermawanan, rasa kasihan (simpatik), dan rasa syukur kepada Allah. Islam juga tidak melalaikan keadilan bagi kebutuhan material bagi manusia, sehingga tujuan kedua dari Zakāt al-Fitr adalah terciptanya kesejahteraan ekonomi bagi anggota masyarakat yang lebih miskin.


 

Waktu Pelaksanaan Zakāt al-Fithri

Zakāt al-Fithr hanya Wajib untuk periode waktu tertentu. Jika orang luput/ kehilangan waktu tanpa suatu alasan yang jelas, ia telah berdosa dan tidak bisa diganti. Bentuk derma ini menjadi wajib semenjak matahari terbenam pada hari yang terakhir dari puasa sampai permulaan shalat 'Ied (yaitu tidak lama sesudah matahari terbit pada hari berikutnya). Bagaimanapun, zakat dapat dibayar sebelum periode yang tersebut di atas agar tidak terjadi keterlambatan pelaksanaannya, sebagaimana banyak dari Sahabat Rasulullah Sallallaahu ' alaihi wa sallam yang membayar Sadaqah al-Fitr beberapa hari sebelum shalat 'Ied.
Naafi' melaporkan bahwa salah seorang sahabat Nabi yaitu Ibn `Umar pernah memberikan zakat bagi mereka yang akan menerimanya [beberapa hari sebelum 'Ied] dan orang-orang (pada waktu itu) memberikan zakat satu atau dua hari sebelum `Ied. [HR. al-Bukhaaree- Arabic/English, Vol. 2, p.339, no. 579]

Ibn `Umar ra melaporkan bahwa Nabi Sallallaahu ' alaihi wa sallam berpesan bahwa Zakāt al-Fitr itu diberikan sebelum orang-orang pergi melaksanakan shalat 'Ied.

Ibn `Abbaas ra meriwayatkan bahwa Nabi sallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siapapun yang memberi zakāt fithri sebelum shalat 'Ied maka itu diterima sebagai zakat, sedangkan siapa saja yang memberikannya setelah shalat maka itu diterima sebagai derma biasa (sedekah)". Oleh karena itu, bagi orang yang lupa bayar Zakāt al-Fithr tepat pada waktunya perlu melakukannya secepat mungkin walaupun tidak terhitung sebagai Zakāt al-Fitr.


 

Kepada Siapa Zakat Fithri dibagikan ?

Yang berhak menerima zakat fithrah itu, sama halnya dengan yang berhak menerima zakat. Zakat Fithrah hendaklah dibagikan kepada delapan golongan sebagaimana yang tercantum dalam surat at-Taubah ayat 60.

Ash-Shan'aniy berkata: "Zakat Fithri diberikan kepada mereka yang diberikan kepadanya zakat maal (zakat harta). Sabda Nabi: "Zakat Fithri itu makanan bagi orang-orang miskin", dalam hadits Ibnu Abbas tidak berarti zakat fithri itu tidak boleh dibagi kepada delapan golongan.


 

Macam Zakat dan Kadarnya

Jumlah Zakat yang harus dibayarkan sama untuk setiap orang dengan mengabaikan pendapatan yang berbeda. Antara orang yang gajinya 100.000 per-bulan dengan yang gajinya 1.000.000 per-bulan tidak berbeda dalam jumlah zakat yang harus dikeluarkannya yaitu satu Sha` (3 ½ liter) makanan, padi/ beras atau buah-buahan yang kering untuk setiap anggota keluarga.

Perhitungan ini didasarkan pada riwayat Ibn Umar ra bahwa Nabi Sallallaahu 'alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithrah dengan 1 sha` kurma kering atau 1 sha` gandum.

Sahabat Abu Sa'ied al-Khudree berkata, Pada zaman Nabi, kita dulu memberi Zakāt al-Fitr dengan satu sha` makanan pokok, kurma kering, jewawut (gandum), kismis atau keju kering. [HR. al-Bukhari- Arabic/English vol. 2, p. 340, no. 582]


 

Dari hadits-hadits yang telah disebutkan, nyatalah bahwa yang dikeluarkan untuk zakat fithri adalah makanan yang mengenyangkan atau makanan pokok. Tidak dibolehkan selain dari makanan pokok. Hal ini karena objek tujuan zakat fithri adalah orang yang paling miskin (faqir), yang tidak mempunyai persediaan makanan untuk hari itu. Inilah ijtihad Imam Ahmad, Syafi'iy dan Imam Malik. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan makanan pokok itu diganti dengan uang atau benda bermanfa'at lainnya bila tidak ada orang faqir di wilayah kita. Hal ini berdasarkan Atsar Sahabat 'Umar bin Abdul Aziz yang mengganti gandum dengan kain-kain atau baju. Kata beliau, "Berikanlah kepadaku Khamies dan Labiis (dua macam pakaian) untuk pengganti gandum dan jagung. Khamis dan Labiis lebih mudah bagimu dan lebih bermanfa'at bagi Muhajirien dan Anshar di Madinah". (HR. Bukhari)


 

(Dr. Abu Ameenah Bilal Philips)

perpustakaan-islam.com

“Iman Bertambah dan Berkurang”

9/12/2009 02:02:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

A. ARTI IMAN

Anda tahu bahwa iman itu adalah suatu pembenaran dalam hati, dan pengucapan atau pengakuan lewat lisan, serta perwujudan dalam amal perbuatan. Dalam kaitannya dengan masalah kali ini, adalah perbuatan yang akan menjadi pembahasan kita, maksudnya perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh dalam rangka mewujudkan tuntutan iman. Ketika kita berikrar bahwa kita beriman maka ikrar kita tersebut menuntut suatu kewajiban sebagaimana telah diatur oleh agama. Jadi masalahnya jika perbuatan yang kita lakukan sesuai dengan tuntutan iman maka apa pengaruhnya terhadap iman itu sendiri?, dan sebaliknya jika perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan tuntutan iman apakah pengaruh yang akan kembali pada iman tadi?

Al-qodli Ibnu Abil 'Izz dalam syarah " Al 'aqidah at-Thahawiyah " mengatakan dalam kitab tersebut : "Adapun bertambahnya iman dengan perbuatan dan pembenaran yang menghasilkan amalan hati (pembenaran) dan amalan tubuh (perbuatan), maka ia lebih sempurna dari pada keyakinan hati (tashdiiq) tanpa disertai pengamalannya, karena ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya tentulah lebih sempurna dari pada ilmu yang tidak dipakai (tidak diamalkan) oleh pemiliknya, jadi kalau tidak ada pengamalan dalam bentuk perbuatan, maka hal ini menunjukkan lemahnya keyakinan (iman yang di hati) ."


 

B. DALIL TENTANG BERTAMBAHNYA IMAN

  1. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal." Q.S al-Anfaal : 2
  2. "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya." Q.S maryam : 76
  3. "dan supaya orang yang beriman bertambah imannya." Q.S al-Mudatstsir : 31
  4. "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Q.S al-Fath : 4

Adapun dalil dari Atsar ataupun perkataan-perkataan sahabat, maka banyak sekali di antaranya ; do'a Ibnu Mas'ud ra : "Ya Allah tambahkanlah kepada kami Iman, keyakinan, dan kefahaman (dalam masalah agama ini)"

Ibnu Mas'ud ra, pernah berkata pada seseorang : "Kemarilah duduk bersamaku untuk menambah iman barang sesaat !"

Abu Darda' ra berkata : "termasuk ilmu seseorang adalah dia harus selalu menjaga dan mengamati imannya dan apa yang kurang darinya (iman), dan termasuk ilmu seorang hamba adalah jika dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang."

Umar bin al-Kaththab ra berkata kepada sahabat-sahabatnya : "Mari kita tambah iman kita ! maka merekapun segera berzikir pada Allah."


 

C. PENGARUH AMAL TERHADAP IMAN

Jika kita telah tahu bahwa iman itu adalah pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pembuktian dalam amal perbuatan, maka jelas bagi kita bahwa iman tidak dapat lepas dari amal, karena itu amal sangat besar peranannya dalam iman.

Sebagai bukti ada baiknya kalau kita perhatikan nash-nash hadits yang menunjukkan bahwa perbuatan masuk dalam iman.

  1. "Rasulullah bersabda : "Iman itu ada lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan "tiada tuhan yang haq melainkan Allah", sedang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan." H.R. Muslim
  2. "Malu itu sebagian dari iman ." H.R. Muslim
  3. "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya." H.R. Abu Daud, at-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya.
  4. "Tidaklah berzina seseorang ketika sedang zina dan dia dalam keadaan mukmin, dan seorang pencuri ketika sedang mencuri bukanlah seorang mukmin, seorang pemabuk ketika sedang minum khamr bukanlah seorang mukmin." H.R. Bukhori dan Muslim dan lainnya.

Jika kita perhatikan dalil-dalil di atas jelaslah bagaimana hubungan amal dan iman.

D. DAMPAK MAKSIAT TERHADAP IMAN

Dalam poin di atas, kita mengetahui bagaimana pengaruh amal perbuatan terhadap keimanan seseorang. Kemudian kalau kita lihat amal perbuatan itu sendiri terbagi menjadi dua kategori; amal shalih (ketaatan) dan amal fasid (kemaksiatan), artinya amal shalih adalah amal yang berdampak positif terhadap iman, sedangkan amal fasid berdampak negatif. Dan dalam poin ini kita akan konsentrasi pada amal fasid yang dapat merugikan iman seseorang, karena mempertahankan kualitas iman sangatlah susah, maka kita memerlukan pengetahuan cukup yang meyakinkan agar bisa terhindar dari amalan yang merusak iman, berbeda dengan amal shalih yang begitu banyak jalan dan macamnya, sehingga akan memakan waktu yang lama dan tempat yang banyak untuk membahasnya secara rinci, karena itulah kita mengutamakan untuk mengetahui pengaruh amal fasid terhadap iman kita.

Maksiat (amal fasid) adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah (agama) maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui ada 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah mengucapkan "la ilaaha illa Allah" dan yang terendah menyingkirkan gangguan dari jalan. Artinya cabang-cabang ini tidaklah sama bobotnya, baik yang berupa mengerjakan kebaikan (amal shalih) maupun yang berupa meninggalkan larangan. Karena itu maksiat juga berbeda-beda.

Maksiat berarti keluar dari jalan taat, jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa membatalkan iman (memurtadkan), artinya si pelakunya menjadi kafir. Tapi ada juga maksiat yang tidak sampai pada derajat ini, sehingga tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir, tetapi ia dapat memperburuk dan mengurangi iman. Sebagai contoh barang siapa yang berzina, minum arak, mencuri, membunuh, dan lainnya, tanpa meyakini bahwa hal-hal tersebut tadi halal, maka hilanglah rasa takut dan khusyu' dan cahaya iman yang ada dalam hatinya, walaupun secuil rasa iman yang merupakan pokok pembenaran (iman di hatinya) masih ada. Tapi jika ia bertobat dan melakukan amal shalih maka kembalilah rasa khusyu' dan cahaya iman tadi ke dalam hatinya. Dan apabila kemaksiatan tadi dilakukan terus menerus maka bertambahlah kotoran dan selimut hitam yang menutupi hatinya bahkan bisa sampai menutupinya (menguncinya) dari hidayah, sehingga hatinya mati, dan jika hati seseorang mati maka ia tidak akan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : "Seorang mukmin jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam dalam hatinya, apabila ia tobat meninggalkan (maksiat) dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah dosa maka bertambahlah titik hitamnya sampai menutupi hatinya. Itulah "rain" yang disebut Allah dalam al-Qur'an : "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang mereka upayakan itu menutup hati mereka" Q.S. Al-Muthaffifin : 14" H.R. Ahmad.

Di akhir pembahasan ini ada baiknya kalau kita perhatikan sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat terhadap iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiiq (kepercayaan dalam hati) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya ibarat amal perbuatan, dengan cabang-cabang itulah kelestarian hidupnya terjamin. Semakin banyak bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurnalah pohon itu, dan jika semakin berkurang maka tampak buruklah ia. Lalu jika berkurang terus sampai habis cabang dan batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akarnya tidak mengeluarkan batang dan cabang-cabang yang berdaun maka keringlah akar-akar itu dan akhirnya hancur menyatu dengan tanah.

Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dari kesempurnaan dan keindahan iman, sesuai dengan besar kecil dan banyak sedikitnya maksiat.


E. KESIMPULAN

Iman menurut pendapat ahlusunnah wal jama'ah bisa bertambah dan bisa berkurang, hal ini berdasarkan pada dalil-dalil yang kuat.

Iman bertambah dengan ibadah dan ketaatan pada Allah, dan berkurang dengan dosa dan maksiat.

Maksiat yang dilakukan terus menerus dapat menutupi iman di hati dan akhirnya dapat mematikannya. Tetapi jika ia bertaubat meninggalkan (dosa) dan beramal shalih maka hatinya akan kembali bersih. Wallahu a'lam


 

(Abu Yusuf M. Al – Faiz; Lima Menit Saja)

Jumat, 11 September 2009

“Petaka Akibat Dosa”

9/11/2009 06:59:00 PM Posted by Ady'S No comments


 


 

Maksiat dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap iman seseorang, yaitu dapat mengurangi kadar kekuatannya, dan jika maksiat terus menerus dilakukan, maka ia dapat menutupi dan mengka burkan iman, sehingga seakan-akan hilang sama sekali iman seseorang.

Maksiat adalah segala macam pelanggaran terhadap syari'at Allah, yang dalam bahasa kita dikenal dengan dosa. Ketika Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah hanya pada-Nya, lalu si hamba ternyata menyembah bintang, berhala, pepohonan, dan sema camnya, maka ini adalah suatu pembangkangan terhadap perintah Allah, inilah yang disebut maksiat atau dosa, ketika Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat, dan ternyata si hamba menolak untuk mendirikan shalat, ini juga maksiat, ketika Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada sesama makhluq, dan si hamaba malah melakukan pengrusakan terhadap ciptaan Allah seperti membakar hutan, membunuhi binatang tanpa sebab yang benar, menciptakan peperangan antar sesama manusia tanpa sebab yang ditentukan oleh syari'at, memfitnah sesama apalagi sesama muslim ,ini semua adalah pembangkangan atau maksiat. Dan jika kita perhatikan lagi ternyata dari sekian banyak dosa dan maksiat ini antara satu dengan lainnya tidaklah sama, artinya bobot pelanggaran, kadar, dan derajatnya tidak sama, ada dosa yang begitu berat yang dapat mencelakakan pelakunya, ada juga dosa yang terlihat ringan. Jadi dosa atau maksiat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu dosa besar dan dosa kecil.


 

Dosa Besar

Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had (sanksi hukuman yang telah diatur oleh syari'at, seperti hukum rajam, cambuk 100 kali, dan hukum qishash), atau semua dosa yang diancam oleh Allah dengan neraka jahannam, atau laknat dan murkaNya. Ada juga yang mengatakan bahwa dosa besar adalah maksiat yang dilakukan secara berani atau dengan terang-terangan serta meremehkan status dosanya.

Di antara contoh dosa besar adalah apa yang yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

"Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan!, para sahabat bertanya, 'Apakah 7 perkara itu wahai Rasul?' beliau mejawab, 'Syirik menyekutukan Allah dengan lain-Nya, perbuatan sihir, membunuh tanpa sebab yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan jihad, dan menuduh berzina wanita mukminah yang lalai dari kemaksiatan." Hr. al-Bukhari dan Muslim.


 

Dosa Kecil

Adalah segala maksiat yang tidak mempunyai had di dunia, juga tidak terkena ancaman khusus di akhirat. Contoh dosa kecil, diriwayatkan oleh Abu Hurairaha, bahwasanya Rasul bersabda:

"Telah dicatat atas anak manusia bagiannya dari zina, yang pasti dia akan mendapatkannya tidak boleh tidak, maka dua mata zinanya adalah melihat, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah ucapan, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya adalah menginginkan dan mendambakan, semua itu dibenarkan (ditindaklanjuti) oleh kemaluan atau didustakannya." (H.R. Muslim )


 

Dalil pembagian dosa menjadi dosa besar dan kecil

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kamu masukkan kamu ke tempat yang mulia(surga)". (Q.S. an-Nisa': 31)

"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunanNya". (Q.S. an-Najm: 32)

"tiada dosa besar dengan beristighfar, dan tiada dosa kecil (jika dilakukan) terus menerus."


 

Hukum Pelaku Dosa Besar

Dalam kaitannya dengan masalah Iman, bagaimana hukum pelaku dosa besar?
Terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini,

Pertama, ahlus Sunnah, berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar, seperti sihir, membunuh, tidaklah menjadi kafir jika ia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia masih tetap mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. Artinya jika Allah mau maka Dia akan mengampuninya, dan jika mau Dia akan menghukumnya karena dosanya dalam Neraka kemudian Allah akan mengeluarkannya dan tidak menjadi kannya kekal dalam Neraka.

Kedua, murji'ah, meyakini bahwa segala macam dosa tidaklah berbahaya dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap Iman, artinya pelaku dosa baik besar maupun kecil tidak menjadikannya kafir keluar dari Islam, bahkan ia tetap sebagai mukmin sejati.

Ketiga, mu'tazilah, mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah mukmin juga bukan kafir, tetapi ia berada pada manzilah (tempat/posisi) antara mukmin dan kafir. Dan jika ia mati sebelum bertaubat maka ia akan kekal dalam Neraka.

Keempat, khawarij, mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, telah keluar dari Islam, dan nanti di akhirat ia akan kekal dalam Neraka.


 

Mukmin Tapi Fasik

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat ." (Q.S. al-Hujuraat: 9 - 10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah masih tetap mengakui keimanan pelaku dosa peperangan yang tentunya di situ terjadi saling bunuh, sedangkan membunuh tanpa sebab yang dibenarkan syari'at adalah termasuk dosa besar dari orang mukmin, demikian juga pembangkang dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Allah menjadikan mereka sebagai saudara, dan Allah juga me meritahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan saudara mereka seiman.

Abu Sa'id al-Khudriya bahwasanya Rasulullah bersabda: "Allah memasukkan penduduk syurga ke dalam syurga, memasukkan siapa yang dikehendaki dengan rahmat-Nya, dan memasukkan penduduk neraka ke dalam neraka. Kemudian Dia berkata (kepada para malaikat), 'Lihatlah orang-orang yang kalian dapatkan dalam hatinya ada iman (walau) seberat biji sawi lalu keluarkan mereka!, maka dikeluarkanlah mereka dari nereka dalam keadaan hangus terbakar, kemudian mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh dipinggir aliran air. Tidakkah kalian lihat bagaimana ia keluar berwarna kuning melingkar?" (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa nanti tidak kekal orang-orang yang berdosa besar dalam neraka, bahkan orang yang di dalam hatinya ada iman walau hanya sebesar biji sawi artinya iman yang paling rendah tingkatannyapun nati akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan dosa berkubang maksiat, dengan melakukan berbagai larangan agama serta meinggalkan kewajiban-kewajiban.

Setelah uraian diatas, insya Allah kita mengetahui bagaimana pengaruh dosa maksiat terhadap keimanan seseorang, dan sebagai penutup rubrik ini ada baiknya kita ulang kembali penuturan diatas dalam beberapa poin yaitu :

Pertama, maksiat dan dosa terbagi menjadi dua; dosa besar (kabirah) dan dosa kecil (shaghirah).

Kedua, iman adalah bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar banyaknya ketaatan dan kemaksiatan, semakin banyak taatnya maka iman berada pada tingkatan tinggi dan sebaliknya semakin banyak maksiat yang dilakukan maka iman akan sampai pasa tingkatan paling rendah.

Ketiga, dosa besar adalah dosa yang mewajibkan adanya had ( sanksi ) di dunia, juga ancaman dan laknat serta murka Allah di akhirat.

Keempat, pelaku dosa besar statusnya di dunia ia masih sebagi mukmin dengan keimanannya dan fasik karena maksiatnya. Dan kelak di akhirat di bawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak ia akan diampuni dan jika Allah berkehendak ia akan disiksa dalam api Neraka kemudian dikeluarkan darinya, dalam kata lain ia tidak kekal dalam Neraka.


 

(Abu Yusuf M. Al-Faiz)


 


 

“Pelajaran dari Umat-Umat Tedahulu”

9/11/2009 12:14:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Yusuf: 111)


 

"Maka, apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu." (Muhammad: 10).


 

Perjalanan hidup manusia sejak Nabi Adam a.s., yaitu manusia pertama sekaligus bapak seluruh umat manusia, hingga sekarang ini tenyata menoreh berbagai macam bekas berupa sejarah yang melukiskan perputaran roda kehidupan manusia dengan segala rona-ronanya, yang pada hakikatnya sejarah tiada pernah henti sampai pada ajal yang telah ditentukan oleh Allah mengenai akhir hayat manusia dan akhir dari alam semesta ini. Karena, Allah menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di antara keduanya adalah dengan ajal yang sudah ditentukan. Semua sejarah yang pernah berlalu itu harus kita mengerti dan kita pelajari agar bisa menapak tilas generasi-generasi rabbani, melihat apa yang didapat oleh kaum yang beriman kepada Allah, dan menyadari akibat dari orang-orang yang mengingkari seruan Ilahi. Itulah yang dititahkan di dalam Alquran kepada kita, umat akhir zaman, umat pilihan, umat nabi yang paling mulia: Nabi Muhammad saw. Allah menjadikan perjalanan umat-umat terdahulu itu sebagai ibrah bagi kita.

Kita harus menyadari bahwa umat-umat terdahulu diazab oleh Allah di dunia dengan azab yang dahsyat adalah karena mendurhakai, membangkang, dan mendustakan rasul yang diutus untuk mereka. Mereka mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh rasulnya padahal telah nyata bukti-bukti kebenaran di hadapan mereka. Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Rasulullah saw.

Adapun berkenaan dengan umat Rasulullah saw.--umat akhir zaman ini--ada keterangan darinya bahwa jika umat-umat terdahulu mendurhakai dan mendustakan nabinya, mereka segera diazab oleh Allah SWT. Akan tetapi, untuk umat Muhammad saw., apabila mereka mendustakannya, azabnya ditangguhkan sampai suatu masa. Meskipun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Allah akan menurunkan azab kepada umat ini seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Karena, Allah pernah mengabarkan bahwa tidak akan mengazab suatu kaum ketika Rasulullah saw. berada di antara mereka. Adapun saat ini beliau telah wafat. Maka, kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat kondisi mayoritas manusia dewasa ini telah jauh dari petunjuk, bahkan terang-terangan menentang aturan Allah dan Rasul-Nya. Lebih parah lagi, yang pertama kali menolak ditegakkannya syariat Islam di negeri ini justru dari tokoh agama. Bilamana ketika ada seruan penegakkan syariat Islam saja sudah menolak mentah-mentah, bagaimana mungkin mereka akan memperjuangkan kalimatullah itu. Na'udzubillah min dzalik.

Maka dari itu, marilah kita tengok sejarah umat-umat terdahulu agar kita menyadari betapa keras dan mengerikannya ancaman dan siksaan yang diberikan oleh Allah kepada umat yang durhaka, di dunia maupun di akhirat. Dan sebaliknya, betapa besar nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat yang menaati dan mengikuti petunjuk-Nya. Lebih dari itu, dengan mempelajari dan menghayati kisah-kisah orang terdahulu, baik yang beriman maupun yang durhaka, iman kita menjadi semakin subur dan rasa takut kita akan murka Allah semakin tinggi.

Yang pertama, kita melihat kaum Nabi Nuh a.s. yang mendustakannya. Tentang mereka, Allah berfirman, "Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, 'Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.' Maka dia mengadu kepada Rabnya, 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).' Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan
(menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan."
(Al-Qamar: 12).

Coba kita bayangkan, pintu-pintu langit dibuka sehingga turunlah hujan yang tercurah limpah dengan sangat deras, ditambah lagi Allah menjadikan seluruh permukaan bumi memancarkan air hingga tanah yang gersang sekalipun. Maka, air dari langit bertemu dengan air yang memancar dari bumi hingga akhirnya meninggi setinggi puncak gunung. Habislah apa yang di muka bumi, tenggelam semuanya. Apakah hukuman mereka hanya sebatas itu? Tidak! Allah berfirman, "Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah."
(Nuh: 25). Adapun Nabi Nuh a.s. dan orang-orang yang beriman bersama dengannya, mereka diselamatkan oleh Allah. "Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran."
(Al-Qamar: 13--14).

Itulah sejarah besar yang pernah berlalu di muka bumi ini yang harus kita ambil sebagai pelajaran. Tak ayal, ada sekelompok manusia di bumi ini, yang mungkin karena keingintahuannya terhadap bukti-bukti sejarah, berusaha mencari-cari bangkai kapal Nabi Nuh a.s.

Yang kedua, kaum 'Ad, yaitu kaum Nabi Hud a.s. Mereka adalah kaum yang mampu membangun bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun semisalnya. "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabmu berbuat terhadap kaum 'Aad. (Yaitu) Penduduk Iram yang mempunyai bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain." (Al-Fajr: 6--8). Tetapi, kelebihan yang ada pada mereka itu tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun kepada mereka ketika mereka mendustakan Nabi Hud a.s., yang kemudian diazab oleh Allah. "Kaum 'Ad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus-menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. Maka betapakah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku." (Al-Qamar: 18--21). Diterangkan pula dalam surah yang lain, "Adapun kaum 'Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haaqqah: 6-7). Padahal, azab mereka tidak cukup sebatas itu, bahkan azab yang akan mereka terima di akhirat lebih pedih.

Berikutnya adalah kaum nabi Luth a.s, kaum yang padanya terkumpul antara ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbuatan keji yang belum dilakukan oleh kaum yang sebelumnya. Yaitu, mereka menyukai sesama jenis dan meninggalkan istri-istrinya. Perbuatan itu disebut liwath (karena asalnya dari kaum Luth) dan pada zaman sekarang disebut homosek. Pebutan itu sangat terkutuk, suatu perbuatan yang mencerminkan rusaknya fitrah dan kacaunya perikemanusiaan serta hati nurani.

Pada zaman sekarang kaum perempuan ikut-ikutan seperti yang terjadi pada kaum lelaki pada zaman Nabi Luth a.s.: perempuan menyukai perempuan. Perempuan yang demikian disebut lesbian. Di salah satu negeri di Eropa keadan yang demikian sudah begitu membudayanya sehingga muncullah undang-undang yang mengesahkan pernikahan sesama jenis. Na'udzubillah min dzalik. Bukankah ini perbuatan yang sudah benar-benar melanggar aturan Allah dan melampaui batas yang dilakukan dengan terang-terangan?

Lalu, apa yang diganjarkan Allah kepada kaum Nabi Luth a.s. setelah keingkaran dan pembangkangan mereka itu? Sebelum itu, Nabi Luth a.s. tak henti-hentinya mengingatkan kepada mereka untuk bertauhid kepada Allah dan meninggalkan perbuatan kejinya. Tetapi, apakah jawaban mereka? "Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, 'Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih'." (An-Naml: 56). Kemudian, setelah itu Allah memberikan keputusan untuk mereka. Allah berfirman, "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (Hud: 82--83). Dan tentang tamu Nabi Ibrahim, Allah berfirman, "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth). Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Rabmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih." (Adz-Dzariyat: 31--37).

Kisah-kisah di atas, dan masih banyak kisah-kisah yang lain, seperti kaum Madyan, kaum Tsamud, Fir'aun, dan lain-lainnya, sangatlah penting untuk kita sebagai ambil pelajaran. Karena, semua itu berkaitan dengan masalah tauhid. Semua kisah tersebut bukanlah kisah yang dibuat-buat tetapi mengandung sesuatu yang sangat besar. Semua kisah tersebut berasal dari Alquran, yang seluruhnya berisi tentang penetapan terhadap tauhid, memurnikan peribadatan hanya untuk Allah semata, atau mengesakan Allah dalam beribadah. Kisah-kisah di atas semuanya bermuatan tauhid, yaitu ketika berbicara tentang umat yang mengingkari seruan tauhid, yang merupakan inti ajaran para rasul. Masalah tauhid, adalah masalah yang sangat asasi dan prinsip. Apabila seseorang keliru dalam masalah tersebut, berarti dia tergelincir ke jurang kesesatan dan kecelakaan yang berkepanjangan. Na'udzubillah min dzalik. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus dan tidak tergelincir seperti kebanyakan orang.

Berkenaan dengan kisah-kisah seperti tersebut di atas, Syekh Utsaimin rhm. mengatakan, "Sesungguhnya, dalam menyikapi kisah-kisah tersebut dan semisalnya, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang mengetahui dan mengenal Allah beserta tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terjadi, kemudian mereka mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami orang-orang yang telah lalu, hingga mereka kembali kepada Allah, takut, sangat takut apabila mereka tertimpa apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu. 'Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.' (Muhammad: 10). Adapun kelompok kedua, kelompok yang jahil (bodoh) dan tidak mengenal Allah, hati mereka kosong dari keimanan dan keras karena kedurhakaan mereka. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kejadian-kejadian itu adalah alamiah.' Sehingga, mereka tidak memperhatikannya dan tidak melihat akibat yang datang dari Allah, yaitu akibat bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan para rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah dengan ayat-ayatnya, dan dengan asma-asma dan sifat-sifat-Nya, agar menjadikan kita sebagai orang yang mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan takut akan ancaman dan siksa-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita, sesungguhnya Dia Maha Pemberi."

Demikianlah, hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari uraian di atas, yang akan menambah rasa takut kepada Allah apabila ditimpakan kepada kita apa-apa yang telah ditimpakan terhadap umat-umat terdahulu, mengingat keadaan manusia dewasa ini yang sudah jauh melampaui batas. Dan, jangan sampai kita merasa aman dari makar Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan-Nya kepada kita. Amin.


 

(Sumber : Zen Muhammad Yusuf, Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

Kamis, 10 September 2009

“Lailat Al-Qadar”

9/10/2009 10:30:00 PM Posted by Ady'S No comments

 
 

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita berbicara tentang surat Al-Qadar. Surat Al-Qadar adalah surat ke-97 menurut urutannya dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqra'. Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah Swt., dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar ini berbicara tentang turunnya Al-Quran, dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran "lebih baik dari seribu bulan."

Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu, atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

Yang pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran bahwa, "Ada suatu malam yang bernama Lailat Al-Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan."

"Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami." (QS Al-Dukhan [44]: 3-5).

 Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: l).

 Malam tersebut adalah malam mulia. Tidak mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal ini disyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu: "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (QS Al-Qadr [97]: 2)

 Tiga belas kali kalimat "ma adraka" terulang dalam Al-Quran, sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, seperti: "Ma adraka ma yaum al-fashl", dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Tiga kali "ma adraka" sisa dari angka tiga belas itu adalah: "Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?" (QS Al-Thariq [86]: 2)

"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?" (QS Al-Balad [90]: 12)

"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (QS Al-Qadr [97]: 2)

Pemakaian kata-kata "ma adraka" dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.

Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan "ma adraka" dan "ma yudrika" yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.

"Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya?" (QS Al-Ahzab [33]: 63)

"Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?" (QS Al-Syura [42]: 17).

"Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)?" (QS 'Abasa [80]: 3).

Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan "ma yudrika" menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. Ketiga hal tersebut tidak mungkin diketahui manusia.

Secara gamblang Al-Quran --demikian pula As-Sunnah-- menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini berarti bahwa "ma yudrika" digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang "wa ma adraka", walau berupa pertanyaan namun pada akhirnya Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau. Demikian perhedaan kedua kalimat tersebut.

Ini berarti bahwa persoalan Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di sanalah kita dapat memperoleh informasinya.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sini ditemukan berbagai jawaban.

Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti :

1.     Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia.

Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar, diartikan bahwa pada malam itu Allah Swt. mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.

2.     Kemuliaan.

Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: "Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat."

3.     Sempit.

Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara lain dalam surat Ar-Ra'd (13): 26: "Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)."

Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Namun demikian, sebelum kita melanjutkan bahasan tentang Laitat Al-Qadar, maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya adakah setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu?

Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran.

Pakar hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Lailat Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasululllah Saw. menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh Ramadhan.

Memang turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwa ketika itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri.

Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja "mudhari'" (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.

Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik-material, sedangkan riwayat-riwayat demikian, tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?

Demikian juga dengan Lailat Al-Qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul Saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat Al-Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).

Syaikh Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh memberi ilustrasi berikut:

Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadar, tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitas kebajikan bermula di masjid. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaan iman. Itu sebabnya ketika melaksanakan i'tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar itu, antara lain adalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walau sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

'Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka." (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut, tetapi hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketat terhadap hadis Nabi Saw.

Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut, "Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar."

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, "Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas."

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan karena itu kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan.

Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita.

 
 

(WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Penerbit Mizan, Bandung)

“Aku Menangis Menuangkan Rasa Pedih…”

9/10/2009 02:46:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Tulisan "Rida terhadap Takdir Allah", kuanggap mewakili untuk di-share berkaitan dengan tanggal 9 September 2009 (999) yang baru saja beberapa jam berlalu.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Yaa Allaah…, saat menuanya dunia ini, keagungan dan kekuasaan-MU terus ditentang ciptaan-MU, manusia. Aku tak menutup mata bahwa di belahan bumi yang lain, "azab kecil" yang dihadirkan oleh ke-MahaKuasaan-MU pasti ada, tapi yang jelas disaksikan di lingkar hidupku kekuasaan manusia telah melebihi kekuasaan-MU.

Tidak banyak yang harus diungkap. Apa maksudnya ini semua? Kenapa harus dikaitkan dengan tanggal 9 September 2009 (999)?

999, tiga angka yang dianggap bertuah ini membuat manusia lupa akan keimanan. Iman kepada Ketetapan- ketetapan Allah. Dengan manusia tersenyum bahagia. Kebahagiaan dunia. Dan manusia-pun telah berkuasa.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Sesungguhnya ke-Agung-an, ke-MahaKuasa-an, ke-MahaSuci-an Allah, tidak Allah butuhkan untuk dielu-elukan manusia. Karena manusia-lah yang (seharusnya) membutuhkan untuk beribadah kepada-NYA dan memuji ke-Agungan-NYA.

Allaahu Akbar… Subhaanallaah… Aku menangis menuangkan rasa pedih…

Terutama untuk diriku yang selalu berdosa, aku menangis mengingatkan…

“Rida terhadap Takdir Allah”

9/10/2009 02:42:00 AM Posted by Ady'S No comments


 

Setiap kali ketentuan Allah berlaku, ada orang yang rida, ada yang benci, ada yang sabar, dan ada pula yang putus asa. Orang yang berfikir seharusnya berserah diri dan rida dengan ketentuan Allah itu, sehingga dia bisa mendapatkan pahala. Jika dia tidak rida dan benci terhadap ketentuan dari Allah, maka dia akan berakhir pada akhir yang tidak terpuji. Ini sebagaimana firman Allah, "Tidaklah seseorang ditimpa musibah, melainkan dengan izin Allah. Siapa saja yang beriman, maka Dia kan menunjuki hatinya," (QS At-Taghabun [64]: 11).

Alqamah berkata, "Jika seseorang ditimpa musibah, kemudian dia mengetahui itu datangnya dari Allah, maka dia seharusnya pasrah dan rida dengan musibah itu." Ali bin Abi Thalib suatu kali melihat Adi bin Hatim yang sedang berduka. "Adi, sayat meliha kamu sedang berduka dan bersedih," kata Ali. Adi menjawab, "Bagaimana saya tidak bersedih, kedua anak saya dibunuh dan kedua mata saya dicukil?" Ali berkata, "Siapa yang rida dengan ketentuan Allah yang berlaku atas dirinya, akan mendapat pahala. Siapa yang tidak rida terhadap qadha Allah yang berlaku atas dirinya, akan terhapus amalnya." 

Beberapa waktu setelah anaknya meninggal, Ibn Al-Mubarak bertemu dengan seorang Majusi yang memberinya semangat. Orang Majusi itu berkata, "Seharusnya orang cerdas itu melakukan apa yang dilakukan oleh orang bodoh pada lima hari yang akan datang." Mendengar itu, Ibnu Mubarak berkata kepada orang yang ada di sekitarnya, "Camkan kata-kata bijak ini!"

Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Rida itu pintu bagi Allah Yang Maha Besar, surga dunia, dan tempat kedamaian bagi para hamba." Seorang Arab terbangun pada suatu pagi. Dia melihat unta miliknya banyak yang mati. Kemudian dia berkata: "Oh... tidak. Demi Tuhan, kalaulah bukan karena perasaan gembira musuh-musuh yang dendam, saya tentu tidak akan gembira dengan cobaan yang saya alami ini. Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah pasti terjadi." 

Allah tidak menakdirkan suatu musibah kepada seorang hamba untuk menghancurkan atau mengazabnya. Allah justru menakdirkan musibah terhadap seorang hamba untuk menguji kesabarannya, keridaannya; untuk mendengarkan kerendahan dirinya dan doanya; agar Dia melihat hamba mendatangi-Nya dengan hati yang remuk redam. Siapa saja yang sepakat dengan ketentuan Allah ini, akan beruntung. Siapa saja yang mencela ketentuan Allah ini, akan merugi.

Ini sebagaimana firman Allah Swt., "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Boleh jadi kamu mengasihi sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Umar bin Al-Khaththab berkata, "Saya tidak memedulikan terjadi itu sesuatu yang saya sukai atau tidak saya sukai. Karena saya tidak tahu apakah kebaikan itu pada apa yang saya sukai atau pada apa yang tidak saya sukai." Al-Hasan berkata, "Janganlah kamu membenci cobaan dan kesusahan yang terjadi. Barangkali perkara yang kamu benci itu justru terdapat keberuntunganmu, sementara sesuatu yang kamu sukai justru menjadi penyebab kehancuranmu." Seorang laki-laki melihat luka bernanah di kaki Muhammad bin Wasi', lalu dia berkata, "Saya merasa jijik kepadamu dengan luka bernanah ini." Muhammad bin Wasi' berkata, "Saya sangat bersyukur semenjak adanya luka ini, karena ia tidak keluar dari kedua mata saya." 

Salah satu syarat rida bukan tidak merasakan musibah sebagai sesuatu yang menyakitkan, tetapi syarat rida adalah tidak menentang ketetapan itu dan tidak pula membencinya. Seseorang perlu mengetahui bahwa ridanya terhadap apa pun akan menghasilkan keridaan Tuhan. Jika keridaannya sedikit terhadap rezeki, maka keridaan Tuhan juga akan sedikit terhadap amalnya. Kebencian adalah pangkal kesusahan, kesulitan, dan kesedihan. Kebencian juga menghancurkan hati dan melemahkan kesabaran. Kebencian akan membuat buruk keadaan dan menimbulkan prasangka buruk kepada Allah. Sebaliknya, rida akan membersihkan semua perasaan itu, dan membukakan pintu sarga dunia sebelum surga akhirat.

Keridaan terhadap ketentuan Allah akan melahirkan kedamaian yang tidak terpengaruh terhadap musibah. Apabila kedamaian telah tumbuh, maka dia akan istiqamah, kondisinya akan baik, dan kesabarannya pun akan baik pula. Kebencian akan menjauhkannya dari kedamaian, baik kebencian itu sedikit maupun banyak. 

Apabila kedamaian telah jauh darinya, maka kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan, kelapangan, dan kebaikan hidup pun akan jauh. Nikmat Allah yang paling besar terhadap hambanya adalah kedamaian dan ketentraman. Faktor yang menyebabkan munculnya rasa itu adalah keridaan dalam segala kondisi.

Pada suatu hari, Wahib bin Al-Wardi, Sufyan Ats-Tsauri, dan Yusuf bin Asbath berkumpul. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Dahulu, saya benci kematian tiba-tiba sebelum hari ini. Sekarang, saya menginginkan kematian." Yusuf pun bertanya, "Kenapa?" Sufyan Ats-Tsuri pun berkata, "Ketika itu saya takut akan ujian." Yusuf berkata, "Saya justru tidak pernah benci akan kematian." "Kenapa?" tanya Sufyan. Yusuf menjawab, "Saya berharap semoga tiba-tiba suatu hari saya bertobat dan beramal saleh." Lalu, Wahib ditanya, "Apa pendapat Anda soal ini?" Dia menjawab, "Saya tidak memilih apa pun. Saya mencintai apa yang dicintai Allah bagi saya." Kemudian Sufyan Ats-Tsauri mencium bagian di antara dua matanya, "Ini pasti berasal dari kedalaman hati," katanya.


 

(Sumber : KampusIslam.com; Cakrawala Ilmu Pengetahuan dan Dunia Islam)

Rabu, 09 September 2009

“Berlindung Dari Fitnah”

9/09/2009 06:00:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Berlindung kepada Allah, khususnya pada masa-masa fitnah sedang menyebar dan merajalela merupakan sebuah keharusan dan hal yang amat penting. Dan itu merupakan jalan yang paling tepat untuk terlepas dari kejahatan fitnah-fitnah itu, baik yang besar atau pun yang kecil.

Jika seseorang memperhatikan berbagai macam fitnah, seperti fitnah kehidupan dunia dengan iming-iming nafsu dan syahwatnya; Fitnah kematian, penghimpunan manusia di padang Mahsyar, serta huru-hara Akhirat; Fitnah kekacauan, pembunuhan dan peperangan; Fitnah tersumbatnya suara kebenaran dan merebaknya kebatilan; Fitnah ujub, besar kepala dan sebagainya, maka sungguh akan menggugah hati untuk menyelamatkan diri darinya dan mendorong untuk berlindung kepada Allah subhanahu wata'ala, minta keselamatan dan terbebas dari segala keburukannya.


 

Fitnah Dunia

Fitnah dunia beserta isinya, berupa permainan, kesenangan dan syahwat mengharuskan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari keburukannya. Merupakan fitnah dunia yang sangat besar bagi seorang laki-laki adalah fitnah (ujian/godaan) wanita. Oleh karena itu Nabi Yusuf 'alaihis salam tatkala khawatir terhadap fitnah wanita, beliau mengatakan, "Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". (QS. 12:33)

Harta benda juga merupakan fitnah yang harus dimintakan perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta perlindungan dari jahatnya fitnah kekayaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih tatkala berlindung dari berbagai fitnah dunia, salah satunya adalah, "Dan (aku berlindung) dari buruknya fitnah kekayaan." (HR. al-Bukhari, merupakan sebuah penggalan hadits)

Keluarga dan anak-anak juga merupakan fitnah dunia sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(QS. 64:14-15)

Oleh karena itu seorang hamba harus memohon kepada Allah agar menjadikan keluarga dan anak cucunya sebagai qurrata ain, penyejuk hati dan pembawa kebaikan. Seorang muslim sadar bahwa keluarga dan anak-anak adalah merupakan fitnah dan ujian hidup. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 25:74)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga mengajarkan do'a, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari (keburukan) fitnah hidup."


 

Fitnah Syetan

Syetan adalah fitnah bagi manusia. Dia selalu menghiasi keburukan sehingga tampak indah dan baik, agar manusia tertipu dan tersesat. Fitnah syetan termasuk sangat besar. Ia selalu menggoda manusia dan mendampingi semenjak lahir hingga menjelang kematiannya. Maka Allah subhanahu wata'ala menganjur kan agar kita berlindung kepada-Nya dari segala gangguan syetan, sebagaimana dalam firman-Nya, "Dan katakanlah,"Ya Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (QS. 23:97-98)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa do'a dan dzikir kepada Allah merupakan senjata ampuh bagi seorang muslim untuk menghadapi gangguan syetan. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya, "Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dan sore (doa), "Dengan menyebut Nama Allah, yang dengan menyebut-Nya maka tidak berbahaya segala sesuatu yang berada di bumi dan di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Dia ucapkan) sebanyak tiga kali maka tidak akan membahayakannya segala suatu apapun."
(HR.Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan sanadnya hasan)

Dan tatkala Abu Bakarradhiyallahu 'anhu, meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengajar kan sebuah kalimat (doa) yang diucapkan ketika pagi dan sore hari, maka di antara yang diajarkan beliau adalah berlindung kepada Allah dari syetan dan sekutunya. Beliau bersabda, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan kejahatan syetan beserta sekutunya."
(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim, dishahihkan oleh adz-Dzahabi)


Fitnah Akhirat

Fitnah akhirat dimulai sejak seseorang masuk ke alam kubur hingga datangnya hari Kiamat dengan kedahsyatannya. Semua itu harus dimohonkan perlindungan kepada Allah subhanahu wata'ala agar kita selamat dari malapetaka nya, dan dengan keutamaan serta rahmat-Nya kita dimasukkan ke dalam surga.

Termasuk fitnah akhirat yang besar adalah fitnah kubur, yaitu pertanyaan di kubur terhadap seorang hamba tentang siapa Rabbnya, apa agamanya, siapa Nabinya dan seterusnya. Jika dia seorang yang istiqamah di atas agama Allah maka akan selamat dan dapat berbicara serta menjawab sesuai yang diridhai Allah subhanahu wata'ala. Jika dia menyepelekan agama dan zhalim maka akan mendapatkan kerugian dan mengucapkan kalimat kekufuran, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Oleh karena itu dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berlindung dari adzab kubur.


Fitnah al-Masih ad-Dajjal

Fitnah dajjal adalah termasuk fitnah terbesar yang akan dialami manusia menjelang hari Kiamat, dan dia merupakan salah satu tanda akan terjadinya Kiamat Kubra (kiamat besar). Tentang kapan munculnya dajjal, maka tidak seorang pun mengetahuinya, yang penting adalah bahwa seseorang tidak akan dapat selamat dari fitnah dajjal kecuali atas perlindungan Allah subhanahu wata'ala. Sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta perlindungan kepada-Nya dari fitnah dajjal tersebut.

Dalam sebuah hadits shahih, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya, "Barang siapa yang membaca sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal." Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan, "Barang siapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal." (HR. Muslim)


 

Fitnah Jahannam

Merupakan salah satu fitnah akhirat adalah fitnah adzab Jahannam. Semoga Allah menjaga kita darinya. Oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala menganjurkan kepada kita untuk berlindung dari adzab Jahannam tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala tatkala menyebutkan di antara sifat hamba Allah, yang artinya "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman."
(QS. 25:65-66)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari adzab Jahannam.


 

Fitnah Orang Kafir

Salah satu fitnah yang dihadapi oleh orang mukmin di setiap tempat dan waktu adalah permusuhan orang-orang kafir. Oleh karena itu Allah subhanahu wata'ala menyebutkan tentang orang-orang mukmin pengikut Thalut alaihissalam, tatkala menghadapi musuh mereka Jalut dan tentaranya maka mereka berlindung kepada Allah dengan berdoa, sebagaimana firman Allah, "Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdo'a, "Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokoh- kanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir". (QS. 2:250)

Allah subhanahu wata'ala berfirman tentang kaum Nabi Musa, artinya, "Berkata Musa, "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawa-kallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri". Lalu mereka berkata, "Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir".
(QS. 10:84-86)

Allah subhanahu wata'ala juga menyebutkan tentang Nabi Ibrahim dan kaumnya yang berd'oa kepada Allah, "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS. 60:5)

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Ketika terjadi perang Badar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ke arah kaum musyrikin yang berjumlah seribuan orang sedangkan shahabat beliau hanya tiga ratus tiga belas orang. Maka beliau menghadap kiblat lalu menengadahkan tangan berdoa kepada Rabbnya, "Ya Allah penuhilah untukku apa yang Kau janjikan, ya Allah datangkanlah kepadaku apa yang Kau janjikan. Ya Allah jika Kamu binasakan sekelompok ahlul Islam ini, maka Engkau tidak disembah di muka bumi."

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terus-menerus berdoa dengan menengadahkan tangan, menghadap ke kiblat sehingga kain yang ada di pundaknya terjatuh. Lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu datang mengambil kain itu kemudian meletakkannya kembali di pundak beliau. Dia lalu mendekat dari arah belakang Nabi dan berkata, "Wahai Nabi Allah, telah cukup permohonanmu kepada Allah, sesungguhnya Dia akan memberikan untukmu apa yang Dia janjikan kepadamu." Maka Allah subhanahu wata'ala menurunkan ayat, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut". (QS. 8:9). (HR Muslim)

Amat banyak saudara kita di negeri Islam yang sedang menghadapi ujian dan cobaan dari orang kafir, berada dalam penindasan kaum salibis, zionis dan kapitalis. Maka kita hendaknya senantiasa memohon kepada Allah, agar segera mengentaskan musibah tersebut dengan secepatnya.


 

Fitnah Ujub dan Bangga Diri

Ujub, terpedaya dan bangga diri merupakan fitnah yang selayaknya dimintakan perlindungan kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
(QS. 17:37)

Fitnah ini hendaknya diwaspadai khusunya oleh para aktivis dakwah, penyebar ilmu, para pejuang dan orang semisal mereka yang banyak dibutuhkan olah umat Islam di zaman ini. Hendaklah mereka hati-hati dari fitnah ini, dengan banyak berlindung dan bersandar kepada Allah subhanahu wata'ala, agar jangan menjadikan amalnya sebagaimana amal yang Dia firmankan, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."
(QS. 25:23).


 

Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.


 

(Sumber: Kutaib, "Dharuratu alluju' ilallah 'inda hudutsil fitan," DR. Abdul Hamid bin Abdur Rahman al Suhaibani)

Selasa, 08 September 2009

“Balasan Kejujuran dan Amanah”

9/08/2009 06:33:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlak yang baik serta sifar terpuji. Barang siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang meninggalkan khianat dan menipu karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti hal tersebut dengan kebaikan yang banyak.

Dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, "Ada seorang laki-laki yang membeli tanah perkebunan dari orang lain. Tiba-tiba orang yang membeli tanah perkebunan tersebut menemukan sebuah guci yang di dalamnya terdapat emas. Maka, ia berkata kepada penjualnya, 'Ambillah emas itu dariku, sebab aku hanya membeli tanah perkebunan, tidak membeli emas.' Orang yang memiliki tanah itu pun menjawab, 'Aku menjual tanah itu berikut apa yang ada di dalamnya.' Lalu kedua orang itu meminta keputusan hukum kepada orang lain. Orang itu berkata, 'Apakah kalian berdua memiliki anak?' Salah seorang dari mereka berkata, 'Aku memiliki seorang anak laki-laki.' Yang lain berkata, 'Aku memiliki seorang anak perempuan.' Orang itu berkata, 'Nikahkanlah anak laki(mu) dengan putri(nya) dan nafkahkanlah kepada keduanya dari emas itu, dan bersedekahlah kalian dari padanya'." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israel yang meminta orang Bani Israel lainnya agar memberinya utang sebesar 1000 dinar. Lalu, orang yang mengutanginya berkata, "Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan (utangmu ini)." Ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku." Orang itu berkata, "Datangkanlah orang yang menjaminmu." Ia menjawab, "Cukuplah Allah yang menjaminku." Orang yang mengutanginya pun lalu berkata, "Engkau benar." Maka, uang itu diberikan kepadanya (untuk dibayar) pada waktu yang ditentukan. (Setelah lama) orang yang berhutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluan. Lalu, ia mencari kapal yang bisa mengantarkannya karena utangnya telah jatuh tempo, tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut. Maka, ia pun mengambil kayu yang kemudian ia lubangi, dan dimasukkannya uang 1000 dinar di dalamnya berikut surat kepada pemiliknya. Lalu, ia meratakan dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya, ia menuju ke laut seraya berkata, "Ya Allah, sungguh engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada si Fulan sebanyak 1000 dinar. Lalu, ia memintaku penjamin, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penjamin, dia pun rela dengannya. Ia juga meminta kepadaku saksi, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun rela dengannya. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal untuk mengirimkan kepadanya uang yang telah diberikan kepadaku, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepada-Mu." Lalu ia melemparkannya ke laut sehingga terapung-apung, lalu ia pulang.

Adapun orang yang memberi utang itu, maka ia mencari kapal yang datang ke negerinya. Maka, ia pun keluar rumah untuk melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uangnya. Tetapi, tiba-tiba ia menemukan kayu. Ia lalu mengambilnya sebagai kayu bakar untuk istrinya. Namun, ia membelah kayu tersebut, ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat. Setelah itu, datanglah orang yang berutang kepadanya. Ia membawa uang 1000 dinar seraya berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu dengan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang." Orang yang mengutanginya berkata, "Bukankah engkau telah mengirim uang tersebut dengan sesuatu?" Ia menjawab, "Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang?" Orang yang mengutangi mengabarkan, "Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu, bawalah uang 1000 dinarmu kembali dengan beruntung." (HR Bukhari dan Ahmad).


 

(Sumber : 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto, Penerbit CV Firdaus, Jakarta Pusat)

Senin, 07 September 2009

“Memakmurkan Masjid Dapat Menghapus Dosa”

9/07/2009 04:43:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Menjadi orang yang selalu berupaya memakmurkan Masjid adalah merupakan perbuatan yang sangat mulia di hadapan Allah SWT. Demikian mulianya perbuatan itu sampai Rasulullah SAW memberikan penghargaan besar kepada mereka. Tiap langkah mereka ke Masjid akan dihitung untuk menghapus dosa dan meningkatkan derajatnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : " Siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke Masjid untuk menunaikan shalat fardlu, maka semua langkahnya dihitung: yang pertama menghapuskan dosa dan yang kedua menaikkan derajat" (HR.Muslim).

Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkan mendirikan Masjid, tetapi juga memerintahkan untuk memakmurkan, membersihkan, merawat dan sebagainya.

Memakmurkan Masjid juga berarti memelihara, meramaikan, menghidupkan Masjid. Tiga pengertian ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidaklah dapat dikatakan Masjid itu makmur kalau Masjid itu tidak terpelihara atau amat jarang dikunjungi atau tak ada kegiatan apapun (selain shalat berjamaah).


 

Memelihara Masjid

Pemeliharaan Masjid merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan. Pemeliharaan itu meliputi mencegah kerusakan, menjaga kebersihan dan keindahan. Kewajiban setiap muslim lah untuk melakukan semua itu. Tidaklah pantas (baitullah) dibiarkan rusak, tempat wudhu nya kotor, wc-nya tidak terpelihara, halamannya penuh semak, lantainya berdebu dan sebagainya. Rasulullah Muhammad SAW pernah mengatakan adanya pahala bagi yang menjaga kebersihan Masjid dengan sabdanya : "Ditunjukkan kepadaku semua pahala umatku, sampai-sampai kepada satu kotoran yang dikeluarkan oleh seseorang dari Masjid " (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi).


 

Meramaikan Masjid

Memakmurkan Masjid juga berarti mengunjungi Masjid untuk beribadah, misalnya : mendengarkan ceramah, diskusi, baca Al Quran, dzikir, dan yang paling utama adalah shalat berjamaah. Jamaah Masjid yang tetap dapat dikatakan keluarga Masjid itu.

Dalam Hadits yang lain Rasulullah bersabda : " Sesungguhnya yang meramaikan rumah-rumah (Masjid-masjid) Allah, mereka itu adalah ahli (keluarga) Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Tabrani).


 

Menghidupkan Masjid

Memakmurkan Masjid juga berarti menghidupkan masjid dengan segala kegiatan yang sesuai dengan fungsinya. Biasanya orang akan tertarik berkunjung ke suatu tempat jika disana ia dapat menarik manfaat. Oleh karenanya Masjid harus dihidupkan dengan segala kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya agar umat Islam yang semula enggan datang ke Masjid akan tergerak untuk mengunjunginya.


 

Memakmurkan Masjid Dapat Mencegah Turunnya Adzab Allah SWT.

Allah berfirman dalam hadits Qudsi, " Demi kemuliaan dan keagungan-ku, Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku lihat penghuninya sedang memakmurkan rumah-rumah-ku (Masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istighfar (meminta ampun kepada-ku) diwaktu sahur, Aku palingkan siksaan itu dari mereka ".


 

Tak Semua Orang Bisa Menjadi Takmir Masjid.

Ternyata, menurut Allah SWT, tidak sembarang orang bisa menjadi pemakmur Masjid. Hal tersebut diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Quran surat At Taubah 18, yang artinya : "Sesungguhnya yang memakmurkan Masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepad Allah dan hari kemudian serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".

Kepada para pemakmur Masjid ini Allah SWT akan memberikan penghargaan berupa perlindungan di hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : " Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah SWT pada saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-nya yaitu :

  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang selalu beribadah kepada Allah SWT.
  3. Seseorang yang hatinya selalu terkait ke Masjid.
  4. Dua orang yang saling mencinta karena Allah, mereka bersatu dan berpisah karena Allah.
  5. Seseorang yang apabila dibujuk (untuk berbuat dosa) oleh wanita cantik yang mempunyai kedudukan, maka orang itu berkata, 'Saya takut kepada Allah'
  6. Seseorang bersedaqah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya.
  7. Seseorang yang mengingat Allah (dzikrullah) di tempat sepi sampai ia mencucurkan air matanya" (HR. Bukhari Muslim).


 

Orang Musyrik Tak Layak Memakmurkan Masjid

Allah SWT berfirman : "Tidaklah pantas orang-orang musrik itu memakmurkan Masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yand sia-sia pekerjaannya dan mereka kekal di dalam neraka." (QS. At Taubah 17).

Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tidak beragama Islam tidak layak dan tidak boleh memakmurkan Masjid.


 

(Sumber : Buletin Takmir Masjid Al-Hikmah Edisi Khusus)

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.