Rasakan... Kita di lingkaran... "...Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi..."

Rabu, 16 September 2009

“Makna Idul Fithri/Adha”

9/16/2009 06:08:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib (penceramah/muballigh) di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah "Kembali kepada Fitrah", yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.

Penjelasan mereka di atas, adalah batil baik ditinjau dari jurusan lughoh/bahasa ataupun Syara'/Agama. Kesalahan makna dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena memang para khatib tersebut (tidak semuanya) tidak punya bagian sama sekali dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta'ala.

Kami berkata : Pertama : "Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz "Fithru/ Ifthaar" artinya menurut bahasa : Berbuka (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Jadi Idul Fithri artinya "Hari Raya berbuka Puasa". Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa. Sedangkan "Fitrah" tulisannya sebagai berikut (Fa-Tha-Ra) dan (Ta marbuthoh) bukan (Fa-Tha-Ra)".

Kedua :    "Adapun kesalahan mereka menurut Syara' telah datang hadits yang menerangkan bahwa "Idul Fithri" itu ialah "Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa".

"Artinya : Dari Abi Hurairah (ia berkata) : Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda. "Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan". (Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan semua sanadnya di kitab saya "Riyadlul Jannah" No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi)

Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni : "Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka".

Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah : "Artinya : (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adlha pada hari kamu menyembelih hewan".

Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud : "Artinya : Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka, sedangkan (Idul) Adlha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan".

Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I'ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri artinya ! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka.

Bukan artinya bukan "kembali kepada fithrah", karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : "Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci". Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil Sunnah dan lughoh/bahasa.

Adapun makna sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adlha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin (berjama'ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini (1412H/1992M).

Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya : "Artinya : Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama'ah dan bersama-sama orang banyak".

Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat berjalan di atas manhaj dan aqidah Salafush Shalih. Amin! (Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M)


 

(Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1149&bagian=0)

Selasa, 15 September 2009

“Al Waliyyu”

9/15/2009 05:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Bismillahhirrahmaanirrahiim,

Semoga Allah yang Maha Menatap, mengkaruniakan kepada kita nikmatnya berlindung hanya kepada Allah, amannya berlindung hanya kepada Allah, karena yang membuat kita gelisah adalah ketika kita berlindung selain kepada Allah.

Al-Walliyyu makna dasarnya menurut Prof. Dr. Quraish Syihab yaitu dekat, kemudian muncul makna-makna baru yaitu pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai, yang lebih utama, dll.

Seperti tertera dalam Al-Qur'an "Allah pelindung orang yang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya iman".

Perlindungan Allah yang paling penting adalah diberi keteguhan iman. Perlindungan Allah yang paling besar adalah diberi kekuatan iman. Makin kuat iman, kita mau diapa-apakan tidak masalah. Jadi kalau ingin diberi perlindungan Allah yang paling kokoh adalah minta diberi kekuatan iman dan minta diteguhkan. Akal kita dicerdaskan juga dapat merupakan perlindungan Allah sehingga kita bisa bertemu dengan perlindungan Allah.

Perlindungan Allah itu bermacam-macam, contohnya pada Perang Badar, bukan hanya pasukan malaikat saja yang turun tetapi musuh juga jadi terlihat sedikit dimata kaum muslimin.

Musuh terbesar bagi kita adalah bukan makhluk, karena itu hanya alat, musuh besar kita adalah setan dan kawan-kawannya. Hal yang paling berbahaya bagi kita adalah bukan orang lain tetapi sikap kita sendiri. Sedangkan kalau tidak ada musuh tidak akan seru. Maka orang-orang yang berlindung kepada Allah pasti memuaskan dan nikmat, karena perlindungan Allah itu spektrumnya sangat luas, bisa terdeteksi bisa juga tidak terdeteksi oleh akal kita.

Tidak ada yang tidak masuk akal, tetapi akal kita yang tidak sampai. Titipkan istri atau suami masing-masing kepada Allah. Dengan mengamalkan doa "Hasbunallah wani'malwakil Ni'malmaula wani'mal nashir". Dengan mengamalkan doa ini dan meyakini bahwa semua makhluk itu milik Allah. Dengan Allah-lah urusan kita serahkan. Berdiri, duduk dan berbaring ingat kepada Allah karena semuanya milik Allah. Sesuai dengan kisah Nabi Muhammad SAW ketika diancam untuk dibunuh dengan pedang terhunus, kata yang keluar dari mulut Beliau adalah "Aku berlindung kepada Allah".

Ini adalah ilmu hati, berbeda lagi dengan ilmu akal dan ilmu fisik, karena nanti kita tidak bisa mati konyol karena hanya yakin. Ini adalah jalan syariat untuk tidak konyol.

Tidak boleh keyakinan melemahkan ikhtiar, tidak boleh kegigihan ikhtiar memperlemah keyakinan. Jadi lakukanlah ikhtiar; tubuh 100% bersimbah keringat terus berbuat all out, otak peras sesuai teknologi yang paling mutakhir saat ini. Kita tidak bisa konyol dengan hanya membawa panah melawan peluru. Ilmu hatinya sudah benar dengan keyakinan tetapi sunnatullahnya adalah kecepatan peluru lebih daripada panah, hal ini harus diakali. Berbeda dengan zaman Rasul atau sudah tidak ada peluang.

Sebuah kisah meriwayatkan ketika Rasulullah hijrah dan berdoa di goa Tur, sahabat Abu Bakar merasa gentar, jawaban Rasul adalah "Jangan sedih sesungguhnya Allah bersama kita".

Jadi kita sempurnakan syariat, tubuh harus dimaksimalkan, otak juga. Dua-duanya akan menjadi ibadah. Tidak masalah jika kita mati terbunuh. Tidak ada yang kalah kecuali orang yang kurang iman. Kemenangan dan kekalahan hanya dipergilirkan. Mudah-mudahan kejadian di Palestina dan Amerika membuat kita semakin mantap untuk meyakini kebenaran.

Walhamdulillahirobbil'alamiin.


 

(M-Qolbu; KH Abdullah Gymnastiar)

Senin, 14 September 2009

“Dialog Iblis vs Rasulullah SAW”

9/14/2009 06:55:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, "Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap
Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras."

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu. Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

"Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?" Maka jawab Nabi dengan marah, "Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?"

Taklimat Iblis, "Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya."

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, "Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu."

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.


 

Pertanyaan Nabi (1): "Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?"

Jawab Iblis: "Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini."


 

Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, "Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.

Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad/niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku."


 

Pertanyaan Nabi (2): "Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?"

Jawab Iblis: "Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.


 

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya.

Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat."


 

Pertanyaan Nabi (3): "Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?"

Jawab Iblis: "Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.


 

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid'ah dan carut-marut.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut."


 

Pertanyaan Nabi (4): "Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?"

Jawab Iblis: "Pertama sekali aku palingkan iktikad/niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku"


 

Pertanyaan Nabi (5): "Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?"

Jawab Iblis: "Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.


 

Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya - matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman."


 

Pertanyaan Nabi (6): "Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?"

Jawab Iblis: "Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya."


 

Pertanyaan Nabi (7): "Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?"

Jawab Iblis: "Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya."


 

Pertanyaan Nabi (8): "Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?"

Jawab Iblis: "Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa."


 

Pertanyaan Nabi (9): "Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?"

Jawab Iblis: "Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar - besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: "Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk."

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a'zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, "Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku", karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar 'Al-Faruq'.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, "Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid."

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar 'Ali Karamullahu Wajhahu' - dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga 'Harimau Allah' dan engkau sendiri berkata, "Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya." Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya."


 

Pertanyaan Nabi (10): "Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?"

Jawab Iblis: "Umatmu itu ada tiga macam.

Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, "Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat."

Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan.

Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat. Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur."


 

Pertanyaan Nabi (11): "Siapa yang serupa dengan engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam."


 

Pertanyaan Nabi (12): "Siapa yang mencahayakan muka engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji."


 

Pertanyaan Nabi (13): "Apakah rahasia engkau kepada umatku?"

Jawab Iblis: "Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari."


 

Pertanyaan Nabi (14): "Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?"

Jawab Iblis: "Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang."


 

Pertanyaan Nabi (15): "Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?"

Jawab Iblis: "Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu', maka padamlah marahnya."


 

Pertanyaan Nabi (16): "Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?"

Jawab Iblis: "Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu."


 

Pertanyaan Nabi (17): "Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang tidur meniarap/telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya', aku beratkan hatinya untuk sholat."


 

Pertanyaan Nabi (18): "Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam."


 

Pertanyaan Nabi (19): "Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya"


 

Pertanyaan Nabi (20): "Apa lagi yang memecahkan mata engkau?"

Jawab Iblis: "Orang yang taat kepada kedua ibubapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, 'Syurga itu di bawah tapak kaki ibu'"


 

(Anang Yusuf; http://www.republika.co.id)

“Keutamaan Tasbih”

9/14/2009 02:50:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Mukaddimah

Secara bahasa, kata Tasbîh berasal dari kata kerja Sabbaha; Yusabbihu yang maknanya menyucikan. Dan secara istilah, kata Tasbîh adalah ucapan Subhanallah. Ucapan ini merupakan dzikir kepada Allah yang merupakan ibadah yang agung.

Dalam hal ini, terdapat banyak kaidah di dalamnya dimana secara global dapat dikatakan bahwa setiap kaidah yang digunakan untuk menolak perbuatan bid'ah dan berbuat sesuatu yang baru di dalam agama, maka ia adalah kaidah yang cocok untuk diterapkan pula pada beberapa parsial (bagian) penyimpangan di dalam berdzikir dan berdoa, karena dzikir, demikian juga doa, adalah murni masalah 'ubudiyyah kepada Allah Ta'ala. Sedangkan kaidah dari semua kaidah di dalam hal tersebut adalah bahwa semua 'ibadah bersifat tawqîfiyyah, yang diformat dalam ungkapan, "Melakukan ibadah hanya sebatas nash dan sumbernya."

Kalimat tersebut direduksi dari nash-nash yang beragam, diantaranya hadits shahih yang menyatakan bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda,
"Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang baru di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya, maka ia tertolak."

Dan hadits shahih yang lainnya bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda,
"Setiap sesuatu yang baru (diada-adakan) maka ia adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan (tempat pelakunya) adalah di neraka."

Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati di dalam melakukan suatu bentuk ibadah dan harus selalu mengacu kepada dalil-dalil yang jelas dan shahih serta kuat yang terkait dengannya sebab bila tidak, maka dikhawatirkan amal yang dilakukan tersebut justeru menjerumuskan pelakunya ke dalam hal yang disebut dengan Bid'ah tersebut sekalipun dalam anggapannya hal tersebut adalah baik.

Tentunya, di dalam kita melakukan apapun bentuk ibadah, termasuk dalam hal ini, dzikir, harus mengikuti (mutaba'ah) kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sehingga kita tidak menyimpang dari manhaj yang telah digariskannya.


 

Perlu diketahui bahwa mutâba'ah tersebut tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari'at dalam enam perkara:

Pertama, sebab

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari'atkan, maka ibadah tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima (ditolak).

Contoh: ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi'raj Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam (dinaikkkan ke atas langit). Shalat tahajjud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid'ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari'at. Syarat ini – yaitu: ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam sebabnya- adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah namun sebenarnya adalah bid'ah.


 

Kedua, jenis

Artinya, ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima.

Contoh: seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari'at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan qurban yaitu onta, sapi dan kambing.


 

Ketiga, kadar (bilangan)

Kalau ada seseorang yang menambah bilangan raka'at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari'at dalam jumlah bilangan raka'atnya.
Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka'at, umpamanya, maka shalatnya tidak shah.


 

Keempat, kaifiyyah (cara)

Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhu'nya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari'at.


 

Kelima, waktu


Apabila ada orang menyembelih binatang qurban pada hari pertama bulan
Dzul hijjah, maka tidak shah karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

Misalnya, ada orang yang bertaqarrub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid'ah karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai qurban, denda haji dan 'aqiqah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan i'tikad mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam idul Adhha adalah bid'ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.


 

Keenam, tempat

Andaikata ada orang beri'tikaf di tempat selain masjid, maka tidak shah I'tikafnya. Sebab tempat I'tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, andaikata ada seorang wanita hendak beri'tikaf di dalam mushallla di rumahnya, maka tidak shah I'tikafnya karena tempat melakukannnya tidak sesuai dengan ketentuan syari'at.

Contoh lainnya: seseorang yang melakukan thawaf di luar Masjid Haram dengan alasan karena di dalam sudah penuh sesak, thawafnya tidak shah karena tempat melakukan thawaf adalah dalam baitullah tersebut, Allah berfiman: "dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf". (Q.S. al-Hajj: 26).

Terkait dengan kajian hadits kali ini, tema yang kami angkat adalah masalah keutamaan Tasbih, yaitu ucapan seperti yang disebutkan dalam hadits di bawah ini, dan lafazh semisalnya yang terdapat di dalam hadits-hadits yang lain.

Lafazh Tasbih dalam hadits kita kali ini, bukanlah satu-satunya lafazh yang memiliki nilai amal yang tinggi, ada lagi lafazh-lafazh yang lainnya yang bisa di dapat di dalam buku-buku tentang dzikir atau bab-bab tentang dzikir dalam kitab-kitab hadits.

Dzikir kita kali ini adalah dzikir yang terdapat di dalam hadits yang shahih dan telah disebutkan kapan waktunya, yaitu bisa dilakukan setiap hari namun tidak disebutkan lebih lanjut kapan tepatnya, sehingga dapat dikategorikan mengenai waktu yang tepatnya ini ke dalam dzikir yang mutlak alias kapan saja, di luar dzikir-dzikir yang telah ditentukan waktunya.

Semoga kita dapat memaknai, menghayati dan mengamalkannya sehingga tidak luput dari pahala yang sedemikian besar ini. Amin.


 

Naskah Hadits

Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengucapkan 'Subhânallâhi Wa Bihamdihi' di dalam sehari sebanyak seratus kali, niscaya akan dihapus semua dosa-dosa (kecil)-nya sekalipun sebanyak buih di lautan." (HR.al-Bukhariy)


 

Faedah Hadits

  • Hadits di
    atas menyatakan keutamaan dzikir Subhânallâhi wa bihamdihi yang mengandung makna Tasbih (penyucian) terhadap Allah Ta'ala dan penyucian terhadap-Nya pula dari hal-hal yang tidak layak dan pantas bagi-Nya, seperti memiliki kekurangan-kekurangan, cacat-cela dan menyerupai semua makhluk-Nya.
  • Hadits tersebut juga mengandung penetapan segala pujian hanya kepada-Nya baik di dalam Asma` maupun shifat-Nya. Dia-lah Yang Maha Hidup sesempurna hidup; kehidupan yang tiada didahului ketiadaan (yakni bukan dalam arti; sebelumnya tidak ada kehidupan lalu kemudian ada) dan tiada pula kehidupan itu akan pernah hilang/sirna.
  • Barangsiapa yang bertasbih kepada Allah dan memuji-Nya sebanyak seratus kali di dalam sehari semalam, maka dia akan mendapatkan pahala yang maha besar ini. Yaitu, semua dosa-dosa (kecil)-nya dihapuskan dengan mendapatkan ma'af dan ampunan-Nya, sekalipun dosa-dosa tersebut sebanyak buih di lautan. Tentunya, ini merupakan anugerah dan pemberian yang demikian besar dari-Nya.
  • Para ulama mengaitkan hal ini dan semisalnya sebatas dosa-dosa kecil saja sedangkan dosa-dosa besar tidak ada yang dapat menghapus dan menebusnya selain Taubat Nashuh (taubat dengan sebenar-benarnya).
  • Imam an-Nawawiy berkata, "Sesungguhnya bila dia tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka semoga diharapkan dapat meringankan dosa-dosa besarnya."


 

Rujukan:

  • Kitab Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, karya Syaikh. 'Abdullah bin 'Abdurrahman al-Bassâm, Jld.VI, Hal.409)
  • Tashhîh ad-Du'â' karya Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal. 39
  • Kesempurnaan Islam Dan Bahaya Bid'ah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah


 

(Lima Menit Saja)

Minggu, 13 September 2009

“Al Qowiyyu”

9/13/2009 05:59:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

Alhamdulillahirobbil'alaimin,

Allah yang Maha Kuasa, yang benar-benar total sepenuhnya berkuasa atas segala hal, dan tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Allah Maha Adil, jadi apapun yang ditimpakan kepada kita pasti sempurna dan kita tidak layak kecewa. Kecewa dapat saja kita rasakan jika kita salah dalam menyikapinya. Yakinkanlah bahwa perhitungan Allah tidak semata-mata di dunia tetapi adalah persiapan menuju surga.
Tetap optimis dan selalu bersikap husnudzon kepada Allah akan membuat hidup kita nyaman. Hidup ini terlalu singkat jika harus disikapi dengan kecewa terhadap perbuatan Allah. Mudah-mudahan kita bisa memposisikan diri kita dengan tepat terhadap makna Al-Qowiyyu terhadap kita.

Rasulullah bersabda, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah walaupundalam keduanya ada kebaikan".

Dengan sigma kekuatan yang lebih banyak, antara lain kuat fisik, kuat dompet, kuat mental dan ruhiyah; kita akan lebih dicintai Allah. Membangun kekuatan adalah sarana menjadi mukmin yang baik dalam menggapai kedudukan disisi Allah. Dalam surat Al-Anfal diajurkan untuk memiliki kekuatan, bukan untuk menindas tetapi untuk menggentarkan kekuatan lawan. Makin kita kuat, makin kita membuat orang lain terselamatkan dari mendzolimi orang.

Islam mengajarkan kekuatan sebagai bagian dari kebaikan seorang mukmin, kedekatan dengan Allah, dan juga dapat digunakan menolong orang dari kemungkaran. Jadi hal ini penting sekali.

Hal yang membuat kita terpuruk seperti ini adalah karena kita lemah, antara lain ekonomi yang lemah yang membuat kita repot, ilmu yang lemah membuat kita mudah ditipu.

Maka yang harus menjadi tren sekarang ini adalah membangun kekuatan. Kekuatan yang harus dimiliki adalah bermacam-macam. Kita mulai dahulu dari yang paling mudah yaitu kekuatan fisik. Harus extra konsentrasi dalam membangun kekuatan fisik ini kalau perlu konsultasi dengan dokter yang ahli.

Kita akan terasa memiliki kekuatan extra jika kita berusaha memperbaiki diri, mulai dengan ritme makan, olahraga, jam istirahat yang diperbaiki kualitasnya. Walaupun kekuatan fisik bukan satu-satunya yang terpenting tetapi jelas bahkan jika fisik kita kuat akan sangat berguna. Sebagai ilustrasi pedang Imam Ali di Turki sangat besar, lebih besar lagi dan bahkan lebih panjang pedangnya Imam Jafar As-Shoddiq, logikanya kalau tidak memiliki tangan yang kuat maka tidak akan mampu menggunakannya.

Canangkanlah program memperkuat fisik. Kita harus lebih kuat karena kalau fisik kita lebih kuat dan sehat insya Allah akan bisa berbuat lebih banyak. Kita serahkan saja kepada Allah sekalipun kita diberi sakit itu urusan Allah yang penting tekadnya adalah ingin menjadi sehat dan kuat, ini akan menjadi tekad ibadah. Kalau ada seorang ibu-ibu yang membutuhkan bantuan dengan belanjaannya jika kita kuat fisik akan mudah menolongnya, ada orang yang didzolimi kita akan dapat menggetarkan lawan jika kita kuat.

Mudah-mudahan ini tidak dianggap remeh jika kita melakukan push-up, lari, senam akan menambah vitalitas akan lebih baik lagi jika kita lakukan sambil dzikir, ini akan menjadi jalan taqarrub kepada Allah.

Jika kita lebih sehat dan kuat maka lebih banyak yang dapat kita perbuat dan akan lebih baik lagi kualitas keimanan kita. Sujud dengan pusing itu berbeda dengan sujud dalam sehat, tahajud dalam keadaan fit akan lebih nikmat daripada tahajud dalam keadaan sakit. Maka memperbaiki gizi juga merupakan ibadah, jangan pelit untuk membeli makanan bergizi karena sekali saja kita sakit akan membutuhkan biaya yang lebih besar. Menjaga kesehatan akan membawa kebaikan.

Kekuatan yang kedua adalah kekuatan finansial, kekuatan ini juga akan membawa pada kebaikan. Contohnya pergi ke pengajian ini memerlukan biaya, bahkan semua episode hidup ini memerlukan biaya. Nabi Muhammad menikah pertama kali tidak dengan Siti Aisyah melainkan dengan Siti Khadijah yang memiliki pilar ekonomi yang kuat.

Hal ini penting bagi umat Islam, jangan menganggap orang kaya itu paling belakang masuk ke surga. Itu tidak penting, kita dicintai Allah di dunia dan akhiratlah yang kita cari. Golongan orang yang masuk surga tanpa hisab adalah ulama, orang kaya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, mujahadah yang mati syahid dan haji mabrur.

Dikisahkan ketika dipersilahkan masuk ke surga, haji mabrur terlebih dahulu tetapi dia menolak dengan alasan harus ulama dahulu karena ia mengetahui hukum-hukum haji dari gurunya yang seorang ulama. Begitu pula mujahid, ia tidak akan mengetahui keutamaan jihad kalau tidak ada ulama yang mengajarkannya. Tetapi ketika ulama dipersilahkan, ia malah mempersilahkan orang kaya karena ia menganggap jika tidak ada bangunan-bangunan islami yang dibiayai oleh orang kaya ia tidak mungkin dapat berdakwah.

Kita itu sebenarnya kaya tetapi jatahnya saja yang tidak diambil, kita itu jatahnya banyak lihat saja bumi Indonesia yang begitu kaya. Kita itu belum maksimal, tubuh belum all-out, otak belum diperas, doa belum maksimal. Kalau kita gabung kekuatan otak, fisik, doa bertemu dengan rezeki pasti barokah insya Allah.

Tetapi kita jangan mengumpulkan harta untuk bermewah-mewahan, kumpulkan harta untuk bangun kebajikan, tolong orang banyak. Kita tidak akan membawa harta ini sampai mati. Di sisi Allah catatannya akan bertambah jika kita nafkahkan di jalan Allah. Jangan pernah merasa puas dengan pendapatan yang ada, kerja lebih keras lagi. Bangunlah terus sampai kita mati, kalau kita mati meninggalkan perusahaan masih ada bawahan yang makan dari pendapatan perusahaan kita.

Cita-cita itu jangan muluk-muluk, di dunia juga kita harus berhasil. Jangan sampai hanya memfokuskan ke akhirat saja yang belum tentu sukses dan mengabaikan dunia, karena kita sekarang tinggal di dalamnya. Kita seharusnya hidup itu cukup bersahaja saja, tolong banyak orang, ini yang seharusnya menjadi gaya hidup kita. Peras lagi otak kita. Kalau pecinta dunia itu mencari dunia untuk kepuasan dirinya, pecinta Allah mencari dunia untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah. Pecinta dunia dengan pecinta Allah sama giatnya, kita bahkan lebih giat dari mereka karena kita pakai doa. Kita kejar dunia dengan bersimbah peluh berkuah keringat, kita peras otak buat perusahaan yang profesional. Tetapi kepuasan kita bukan ketika berkumpulnya uang, bukan punya perusahaanya, kepuasaan kita adalah ketika ada orang lapar yang bisa makan dengan bekerja pada perusahaan kita; ada seorang bapak yang terangkat martabatnya dengan bekerja; orang yang tidak berpakaian menjadi berpakaian; orang yang anaknya tidak sekolah jadi sekolah; inilah yang kita nikmati.

Kalau untuk kita secukupnya saja, wajar dan proporsional, selebihnya sedekahkan. Percayalah kita sudah punya rezekinya masing-masing. Terus evaluasi diri, bangun kekuatan diri; yang penting barokah. jangan sampai kita dapat harta haram yang akan menjadi racun bagi kita.

Kekuatan yang ketiga adalah kekuatan intelektual; kita harus meningkatkan kekuatan ini. Sebuah bangunan akan kokoh karena pondasinya yang kuat dan kokoh. Kita masih sering terfokus pada aksesoris bangunannya tetapi bukan itu yang terpenting, melainkan pondasinya. Kita masih sering terfokus pada harta, pangkat, jabatan, dan popularitas. Tetapi semua ini bencana kalau pondasi kita tidak kuat. Mengapa banyak pemimpin yang roboh? Mengapa banyak sekali orang yang ketika tidak punya uang sholeh, ketika punya uang roboh? Ada juga orang yang memiliki daya tahan yang tinggi tetapi ketika punya uang malah jadi maksiat ?

Maka ketika kita punya uang banyak, harus meningkat pula kekuatan keimanannya yang merupakan pondasi yaitu Keyakinan Kepada Allah. Iman itu pupuknya adalah ilmu. Ilmu akan mengokohkan pondasi kita, ketika mendapatkan uang tidak akan memperdayakan kita, ketika punya kedudukan kita biasa saja.

Oleh karena itu tidak cukup hanya di majelis taklim seperti ini saja, di rumah, di jalan harus terus dibangun kekuatan keilmuan kita. Tidak ada hari tanpa ilmu. Kemanapun pergi di saku harus ada buku, setiap ada kesempatan buka dan baca. Karena ilmu kita kuat, karena ilmu pula kita bisa menguatkan yang lain.

Mulai sekarang kita kuatkan ilmu kita untuk menguatkan keimanan kita. Terus saja cari supplier ilmu, cari terus akses ilmu agar semakin kuat iman kita yang merupakan buah dari ilmu dan wawasan kita.

Kuat mental yang merupakan buah dari kuat iman. Tiap hari kita harus latihan untuk tidak sakit hati, latihan kuat mental, latihan tidak tersinggung. Untuk kekuatan butuh latihan, tidak ada kekuatan tanpa latihan.

Tiap hari harus selalu dilatih untuk tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, tidak mudah tergelincir. Makin kuat membaja mental kita insya Allah ringan hidup ini. Kita harus seperti intan ditimpa batako, intannya tetap cemerlang.


 

Syairnya adalah:


 

Jagalah hati jangan kau kotori

Jagalah hati lentera hidup ini

Jagalah hati jangan kau nodai

Jagalah hati cahaya Ilahi


 

Bila hati kian lapang

hidup susah terasa senang

Walau kesulitan menghadang

dihadapi dengan tenang


 

Tapi bila hati sempit

segalanya jadi rumit

Seakan hidup terhimpit

lahir batin terasa sakit"


 

Tidak mungkin kita kuat kalau tidak latihan. Apapun yang terjadi harus menjadi latihan kekuatan iman kita. Nikmati sebagai latihan, setiap episode yang terjadi dalam hidup kita sehingga semakin kuat iman dan mental.

Yang terakhir adalah kekuatan ruhiah, karena kalau ruhiah kita sudah kuat kita akan menjadi sholeh luar biasa. Kalau kekuatan ruhiahnya sudah terpancar bagai cahaya matahari masuk ke relung-relung hati, menumbuhkan bibit-bibit, menerangi yang ada dalam kegelapan, menyegarkan yang layu. Andaikata kekuatan lainnya terbatas, kita bangun kekuatan ruhiah kita. Sekali bicara daya gugahnya akan terhunjam, daya rubahnya akan kuat. Perkataan yang sama, akan berbeda hasilnya kalau keluar dari orang yang kuat ruhiahnya dengan yang lemah ruhiahnya.

Saudaraku,

Rasulullah kalau marah semua orang menangis, kita marah selama satu jam malah akan menimbulkan kebencian. Oleh karena itu marilah kita bangun kekuataan ruhiah agar kita ini efektif menjadi manfaat bagi orang lain. Bagaimana caranya membangun kekuatan ruhiah? Jawabannya adalah "Sucikan diri". Amat sangat beruntung orang yang menjaga kebeningan hatinya.

Pandangan dijaga, omongan dijaga, telinga hanya mendengar sesuatu yang disukai Allah dan bermanfaat. Semua yang kita rasakan harus mendekatkan diri kita kepada Allah, juga riyadohnya harus lebih digencarkan. Malam harus tahajud meskipun hanya dua rakaat tetapi dengan kualitas yang tetap terjaga. Senin-Kamis usahakan shaum. Ketika punya uang latih untuk keluarkan sedekah. Mata dilatih untuk menunduk, mulut dilatih bicara hanya seperlunya saja, pendengaran yang tidak perlu dikurangi, lisan usahakan selalu berdzikir, sholat tepat waktu, jaga wudhu.

Makin kita latih terus mendekat kepada Allah nanti akan makin bercahaya hati kita, makin kokoh ruhiah kita. Kita nantinya dengan izin Allah akan sampai pada titik tertentu sehingga akan kelihatan rahasia dunia ini, kemudian lintasan rezeki akan terlihat yang membuat kita tidak panik. Kita akan mengerti hikmah dibalik musibah, akan mengerti akan episode-episode hidup. Dalilnya adalah "Dan tidak ada lagi di dunia ini selain kesenangan yang menipu". Nanti kita akan melihat dunia itu dari sudut yang lain.

Ketika kita berbuat sesuatu kita dapat mengetahui manfaat jauh sebelumnya. Oleh karena itu bukan kejadiannya yang kita nikmati, melainkan hikmah dibalik kejadian tersebut. "Kelezatan itu ketika kita tenggelam dalam samudra hikmah", sehingga kejadian bagaimanapun akan kita sikapi dengan biasa-biasa saja.

Jika kita punya sigma kekuatan fisik, finansial, intelektual, mental dan ruhiah, kita akan tampil menjadi manusia prima yang lebih baik dari yang lain dan lebih dicintai oleh Allah. Rindukanlah sepanjang hidup kita harus membangun terus kekuataan bukan untuk dzolim kepada orang lain, melainkan untuk mencegah kedzoliman.

Walhamdulillahirobbil'alamin


 

(M-Qolbu, KH Abdullah Gymnastiar)

Sabtu, 12 September 2009

“Zakat al-Fithr”

9/12/2009 02:25:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

"Sungguh Telah beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya dan orang-orang yang menyebut nama Tuhannya kemudian ia mengerjakan shalat." (QS. al-A'laa: 14)


 

Ayat ini menyatakan bahwa beruntunglah bagi siapa saja yang membersihkan dirinya dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, baik dengan zakat maupun amal soleh. Kemudian mengagungkan nama Tuhannya (berdzikir) dan mengerjakan shalat lima waktu. Menurut riwayat Ibnu 'Umar, Abu Sa'id al-Khudriy, Abu 'Āliyah dan Ibnu Khuzaimah ayat di atas diturunkan berkenaan dengan zakat fithri, takbir hari raya puasa dan shalat 'Iedul-Fithri.


 

Definisi

Zakāt al-Fithr disebut juga sebagai Shadaqah al-Fithr. Kata al-Fithr sama halnya dengan Ifthaar yang berarti berbuka puasa dan kata itu datang dari akar kata yang sama yaitu Futhuur yang berarti sarapan pagi. Disebut demikian karena orang yang berbuka adalah orang yang makan sejak pagi. Secara Istilah Zakāt al-Fithr berarti zakat yang dikeluarkan pada hari ketika kembali berbuka (akhir puasa Ramadhan).


 

Yang Wajib Mengeluarkan Zakāt al-Fithr

Zakāt al-Fithr adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim, baik Laki-laki ataupun Perempuan, anak kecil atau orang dewasa sepanjang dia mempunyai harta untuk melakukannya. Dalil yang menyebutkan bahwa Zakāt al-Fithr adalah pemberian yang wajib terdapat di dalam Sunnah melalui riwayat Ibn `Umar ; "Dari Ibnu 'Umar ra berkata; Rasulullah SAW mewajibkan Zakāt al-Fitr kepada setiap budak, orang merdeka, Laki-laki, wanita, dan setiap Muslim yang tua dan muda sebanyak satu Sha` biji korma kering atau satu Sha` gandum. Beliau menyuruh kami untuk melaksanakannya sebelum shalat 'Ied." [HR. Bukhare, Arabic/English, Jil.2, p. 339, no. 579]

Kepala rumah tangga boleh membayar jumlah yang diperlukan sebagai zakat untuk anggota keluarganya. Abu Sa'id al-Khudriy berkata, "Ketika Rasulullah Saw masih berada di tengah kami, kami mengeluarkan zakat fithrah itu untuk setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka ataupun budak dengan satu sha' makanan, satu sha' keju, satu sha' gandum, satu sha' kurma atau satu sha' anggur." [ HR. Muslim -Transl. jilid 2, p. 469, no. 2155]

Setiap muslim baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, budak ataupun orang merdeka wajib mengeluarkan zakat bila ia mempunyai kelebihan makanan atau uang (harta) lebih dari keperluannya selama sehari semalam. Sehingga yang dikenai taklif (perintah mengeluarkan zakat) adalah orang yang mempunyai persediaan makanan atau uang yang lebih dari keperluannya pada hari itu. Termasuk di dalamnya orang miskin yang mempunyai makanan untuk dua hari atau yang mempunyai uang lebih dari belanja atas keperluan pokoknya selama sehari. Demikianlah ijtihad para Imam Mujtahidin, yaitu Malik, asy-Syafi'ie, Ahmad dan Ishaq.


 

Pentingnya Zakāt al-Fithr

Peran penting yang dimainkan oleh Zakāt Māl dalam peredaran kekayaan bagi Masyarakat Islam adalah juga dimainkan oleh Zakāt al-Fitr. Bagaimanapun, di (dalam) kasus Shadaqah al-Fitr (Zakāt al-Fitr), masing-masing individu diminta untuk mengkalkulasi berapa banyak derma yang harus ia bayarkan untuk dirinya dan tanggungannya dan secara langsung mencari masyarakat yang berhak menerima zakat tersebut. Shadaqah al-Fitr memainkan suatu peran sangat penting dalam membangun solidaritas sosial. Yang kaya berhubungan langsung dengan yang miskin untuk membantunya. Sedangkan yang miskin membantu yang lebih miskin lagi darinya. Kontak yang terjadi antar berbagai tingkatan masyarakat ini membantu membangun ikatan persaudaraan yang riil dan cinta dalam Masyarakat Islam. Mereka yang mempunyai menjadi dermawan bagi mereka yang tidak punya. Sehingga kesenjangan sosial dapat dihindari sedini mungkin.


 

Tujuan Zakāt al-Fithr

Tujuan utama Zakāt al-Fithr adalah sebagai tebusan bagi mereka yang berpuasa untuk mensucikan kesalahan-kesalahannya selama menjalankan ibadah puasa. Zakāt al-Fithr juga diperuntukkan kepada mereka kaum fakir-miskin agar mereka dapat merayakan 'Iedul-Fithri bersama dengan kaum Muslimin yang lain.

Ibn 'Abbas meriwayatkan, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mewajibkan Zakāt al-Fitr untuk membersihkan mereka yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan pembicaraan kotor (yang dilakukan selama Ramadaan) dan untuk memberi makan fakir miskin. Siapapun yang memberinya sebelum shalat 'ied akan diterima sebagai Zakat, sedangkan yang memberinya setelah selesai shalat 'Ied maka ia diterima sebagai Shadaqah." [ HR. Abu Dawood- Eng. transl. jilid 2, p. 421, no. 1605- dinilai Shahih oleh Shaikh Naser Al-Albanee]

Tujuan Shadaqah al-Fitr adalah pengembangan rohani bagi orang-orang beriman. Dengan menyerahkan sebagian dari kekayaan mereka, Kaum Mu`min diajarkan karakteristik akhlak yang tinggi, yaitu kedermawanan, rasa kasihan (simpatik), dan rasa syukur kepada Allah. Islam juga tidak melalaikan keadilan bagi kebutuhan material bagi manusia, sehingga tujuan kedua dari Zakāt al-Fitr adalah terciptanya kesejahteraan ekonomi bagi anggota masyarakat yang lebih miskin.


 

Waktu Pelaksanaan Zakāt al-Fithri

Zakāt al-Fithr hanya Wajib untuk periode waktu tertentu. Jika orang luput/ kehilangan waktu tanpa suatu alasan yang jelas, ia telah berdosa dan tidak bisa diganti. Bentuk derma ini menjadi wajib semenjak matahari terbenam pada hari yang terakhir dari puasa sampai permulaan shalat 'Ied (yaitu tidak lama sesudah matahari terbit pada hari berikutnya). Bagaimanapun, zakat dapat dibayar sebelum periode yang tersebut di atas agar tidak terjadi keterlambatan pelaksanaannya, sebagaimana banyak dari Sahabat Rasulullah Sallallaahu ' alaihi wa sallam yang membayar Sadaqah al-Fitr beberapa hari sebelum shalat 'Ied.
Naafi' melaporkan bahwa salah seorang sahabat Nabi yaitu Ibn `Umar pernah memberikan zakat bagi mereka yang akan menerimanya [beberapa hari sebelum 'Ied] dan orang-orang (pada waktu itu) memberikan zakat satu atau dua hari sebelum `Ied. [HR. al-Bukhaaree- Arabic/English, Vol. 2, p.339, no. 579]

Ibn `Umar ra melaporkan bahwa Nabi Sallallaahu ' alaihi wa sallam berpesan bahwa Zakāt al-Fitr itu diberikan sebelum orang-orang pergi melaksanakan shalat 'Ied.

Ibn `Abbaas ra meriwayatkan bahwa Nabi sallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siapapun yang memberi zakāt fithri sebelum shalat 'Ied maka itu diterima sebagai zakat, sedangkan siapa saja yang memberikannya setelah shalat maka itu diterima sebagai derma biasa (sedekah)". Oleh karena itu, bagi orang yang lupa bayar Zakāt al-Fithr tepat pada waktunya perlu melakukannya secepat mungkin walaupun tidak terhitung sebagai Zakāt al-Fitr.


 

Kepada Siapa Zakat Fithri dibagikan ?

Yang berhak menerima zakat fithrah itu, sama halnya dengan yang berhak menerima zakat. Zakat Fithrah hendaklah dibagikan kepada delapan golongan sebagaimana yang tercantum dalam surat at-Taubah ayat 60.

Ash-Shan'aniy berkata: "Zakat Fithri diberikan kepada mereka yang diberikan kepadanya zakat maal (zakat harta). Sabda Nabi: "Zakat Fithri itu makanan bagi orang-orang miskin", dalam hadits Ibnu Abbas tidak berarti zakat fithri itu tidak boleh dibagi kepada delapan golongan.


 

Macam Zakat dan Kadarnya

Jumlah Zakat yang harus dibayarkan sama untuk setiap orang dengan mengabaikan pendapatan yang berbeda. Antara orang yang gajinya 100.000 per-bulan dengan yang gajinya 1.000.000 per-bulan tidak berbeda dalam jumlah zakat yang harus dikeluarkannya yaitu satu Sha` (3 ½ liter) makanan, padi/ beras atau buah-buahan yang kering untuk setiap anggota keluarga.

Perhitungan ini didasarkan pada riwayat Ibn Umar ra bahwa Nabi Sallallaahu 'alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithrah dengan 1 sha` kurma kering atau 1 sha` gandum.

Sahabat Abu Sa'ied al-Khudree berkata, Pada zaman Nabi, kita dulu memberi Zakāt al-Fitr dengan satu sha` makanan pokok, kurma kering, jewawut (gandum), kismis atau keju kering. [HR. al-Bukhari- Arabic/English vol. 2, p. 340, no. 582]


 

Dari hadits-hadits yang telah disebutkan, nyatalah bahwa yang dikeluarkan untuk zakat fithri adalah makanan yang mengenyangkan atau makanan pokok. Tidak dibolehkan selain dari makanan pokok. Hal ini karena objek tujuan zakat fithri adalah orang yang paling miskin (faqir), yang tidak mempunyai persediaan makanan untuk hari itu. Inilah ijtihad Imam Ahmad, Syafi'iy dan Imam Malik. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan makanan pokok itu diganti dengan uang atau benda bermanfa'at lainnya bila tidak ada orang faqir di wilayah kita. Hal ini berdasarkan Atsar Sahabat 'Umar bin Abdul Aziz yang mengganti gandum dengan kain-kain atau baju. Kata beliau, "Berikanlah kepadaku Khamies dan Labiis (dua macam pakaian) untuk pengganti gandum dan jagung. Khamis dan Labiis lebih mudah bagimu dan lebih bermanfa'at bagi Muhajirien dan Anshar di Madinah". (HR. Bukhari)


 

(Dr. Abu Ameenah Bilal Philips)

perpustakaan-islam.com

“Iman Bertambah dan Berkurang”

9/12/2009 02:02:00 PM Posted by Ady'S No comments


 

A. ARTI IMAN

Anda tahu bahwa iman itu adalah suatu pembenaran dalam hati, dan pengucapan atau pengakuan lewat lisan, serta perwujudan dalam amal perbuatan. Dalam kaitannya dengan masalah kali ini, adalah perbuatan yang akan menjadi pembahasan kita, maksudnya perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh dalam rangka mewujudkan tuntutan iman. Ketika kita berikrar bahwa kita beriman maka ikrar kita tersebut menuntut suatu kewajiban sebagaimana telah diatur oleh agama. Jadi masalahnya jika perbuatan yang kita lakukan sesuai dengan tuntutan iman maka apa pengaruhnya terhadap iman itu sendiri?, dan sebaliknya jika perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan tuntutan iman apakah pengaruh yang akan kembali pada iman tadi?

Al-qodli Ibnu Abil 'Izz dalam syarah " Al 'aqidah at-Thahawiyah " mengatakan dalam kitab tersebut : "Adapun bertambahnya iman dengan perbuatan dan pembenaran yang menghasilkan amalan hati (pembenaran) dan amalan tubuh (perbuatan), maka ia lebih sempurna dari pada keyakinan hati (tashdiiq) tanpa disertai pengamalannya, karena ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya tentulah lebih sempurna dari pada ilmu yang tidak dipakai (tidak diamalkan) oleh pemiliknya, jadi kalau tidak ada pengamalan dalam bentuk perbuatan, maka hal ini menunjukkan lemahnya keyakinan (iman yang di hati) ."


 

B. DALIL TENTANG BERTAMBAHNYA IMAN

  1. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal." Q.S al-Anfaal : 2
  2. "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya." Q.S maryam : 76
  3. "dan supaya orang yang beriman bertambah imannya." Q.S al-Mudatstsir : 31
  4. "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Q.S al-Fath : 4

Adapun dalil dari Atsar ataupun perkataan-perkataan sahabat, maka banyak sekali di antaranya ; do'a Ibnu Mas'ud ra : "Ya Allah tambahkanlah kepada kami Iman, keyakinan, dan kefahaman (dalam masalah agama ini)"

Ibnu Mas'ud ra, pernah berkata pada seseorang : "Kemarilah duduk bersamaku untuk menambah iman barang sesaat !"

Abu Darda' ra berkata : "termasuk ilmu seseorang adalah dia harus selalu menjaga dan mengamati imannya dan apa yang kurang darinya (iman), dan termasuk ilmu seorang hamba adalah jika dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang."

Umar bin al-Kaththab ra berkata kepada sahabat-sahabatnya : "Mari kita tambah iman kita ! maka merekapun segera berzikir pada Allah."


 

C. PENGARUH AMAL TERHADAP IMAN

Jika kita telah tahu bahwa iman itu adalah pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pembuktian dalam amal perbuatan, maka jelas bagi kita bahwa iman tidak dapat lepas dari amal, karena itu amal sangat besar peranannya dalam iman.

Sebagai bukti ada baiknya kalau kita perhatikan nash-nash hadits yang menunjukkan bahwa perbuatan masuk dalam iman.

  1. "Rasulullah bersabda : "Iman itu ada lebih dari 70 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan "tiada tuhan yang haq melainkan Allah", sedang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan." H.R. Muslim
  2. "Malu itu sebagian dari iman ." H.R. Muslim
  3. "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya." H.R. Abu Daud, at-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya.
  4. "Tidaklah berzina seseorang ketika sedang zina dan dia dalam keadaan mukmin, dan seorang pencuri ketika sedang mencuri bukanlah seorang mukmin, seorang pemabuk ketika sedang minum khamr bukanlah seorang mukmin." H.R. Bukhori dan Muslim dan lainnya.

Jika kita perhatikan dalil-dalil di atas jelaslah bagaimana hubungan amal dan iman.

D. DAMPAK MAKSIAT TERHADAP IMAN

Dalam poin di atas, kita mengetahui bagaimana pengaruh amal perbuatan terhadap keimanan seseorang. Kemudian kalau kita lihat amal perbuatan itu sendiri terbagi menjadi dua kategori; amal shalih (ketaatan) dan amal fasid (kemaksiatan), artinya amal shalih adalah amal yang berdampak positif terhadap iman, sedangkan amal fasid berdampak negatif. Dan dalam poin ini kita akan konsentrasi pada amal fasid yang dapat merugikan iman seseorang, karena mempertahankan kualitas iman sangatlah susah, maka kita memerlukan pengetahuan cukup yang meyakinkan agar bisa terhindar dari amalan yang merusak iman, berbeda dengan amal shalih yang begitu banyak jalan dan macamnya, sehingga akan memakan waktu yang lama dan tempat yang banyak untuk membahasnya secara rinci, karena itulah kita mengutamakan untuk mengetahui pengaruh amal fasid terhadap iman kita.

Maksiat (amal fasid) adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah (agama) maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui ada 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah mengucapkan "la ilaaha illa Allah" dan yang terendah menyingkirkan gangguan dari jalan. Artinya cabang-cabang ini tidaklah sama bobotnya, baik yang berupa mengerjakan kebaikan (amal shalih) maupun yang berupa meninggalkan larangan. Karena itu maksiat juga berbeda-beda.

Maksiat berarti keluar dari jalan taat, jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa membatalkan iman (memurtadkan), artinya si pelakunya menjadi kafir. Tapi ada juga maksiat yang tidak sampai pada derajat ini, sehingga tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir, tetapi ia dapat memperburuk dan mengurangi iman. Sebagai contoh barang siapa yang berzina, minum arak, mencuri, membunuh, dan lainnya, tanpa meyakini bahwa hal-hal tersebut tadi halal, maka hilanglah rasa takut dan khusyu' dan cahaya iman yang ada dalam hatinya, walaupun secuil rasa iman yang merupakan pokok pembenaran (iman di hatinya) masih ada. Tapi jika ia bertobat dan melakukan amal shalih maka kembalilah rasa khusyu' dan cahaya iman tadi ke dalam hatinya. Dan apabila kemaksiatan tadi dilakukan terus menerus maka bertambahlah kotoran dan selimut hitam yang menutupi hatinya bahkan bisa sampai menutupinya (menguncinya) dari hidayah, sehingga hatinya mati, dan jika hati seseorang mati maka ia tidak akan bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : "Seorang mukmin jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam dalam hatinya, apabila ia tobat meninggalkan (maksiat) dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah dosa maka bertambahlah titik hitamnya sampai menutupi hatinya. Itulah "rain" yang disebut Allah dalam al-Qur'an : "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang mereka upayakan itu menutup hati mereka" Q.S. Al-Muthaffifin : 14" H.R. Ahmad.

Di akhir pembahasan ini ada baiknya kalau kita perhatikan sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat terhadap iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiiq (kepercayaan dalam hati) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya ibarat amal perbuatan, dengan cabang-cabang itulah kelestarian hidupnya terjamin. Semakin banyak bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurnalah pohon itu, dan jika semakin berkurang maka tampak buruklah ia. Lalu jika berkurang terus sampai habis cabang dan batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akarnya tidak mengeluarkan batang dan cabang-cabang yang berdaun maka keringlah akar-akar itu dan akhirnya hancur menyatu dengan tanah.

Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dari kesempurnaan dan keindahan iman, sesuai dengan besar kecil dan banyak sedikitnya maksiat.


E. KESIMPULAN

Iman menurut pendapat ahlusunnah wal jama'ah bisa bertambah dan bisa berkurang, hal ini berdasarkan pada dalil-dalil yang kuat.

Iman bertambah dengan ibadah dan ketaatan pada Allah, dan berkurang dengan dosa dan maksiat.

Maksiat yang dilakukan terus menerus dapat menutupi iman di hati dan akhirnya dapat mematikannya. Tetapi jika ia bertaubat meninggalkan (dosa) dan beramal shalih maka hatinya akan kembali bersih. Wallahu a'lam


 

(Abu Yusuf M. Al – Faiz; Lima Menit Saja)

Jumat, 11 September 2009

“Petaka Akibat Dosa”

9/11/2009 06:59:00 PM Posted by Ady'S No comments


 


 

Maksiat dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap iman seseorang, yaitu dapat mengurangi kadar kekuatannya, dan jika maksiat terus menerus dilakukan, maka ia dapat menutupi dan mengka burkan iman, sehingga seakan-akan hilang sama sekali iman seseorang.

Maksiat adalah segala macam pelanggaran terhadap syari'at Allah, yang dalam bahasa kita dikenal dengan dosa. Ketika Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah hanya pada-Nya, lalu si hamba ternyata menyembah bintang, berhala, pepohonan, dan sema camnya, maka ini adalah suatu pembangkangan terhadap perintah Allah, inilah yang disebut maksiat atau dosa, ketika Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat, dan ternyata si hamba menolak untuk mendirikan shalat, ini juga maksiat, ketika Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada sesama makhluq, dan si hamaba malah melakukan pengrusakan terhadap ciptaan Allah seperti membakar hutan, membunuhi binatang tanpa sebab yang benar, menciptakan peperangan antar sesama manusia tanpa sebab yang ditentukan oleh syari'at, memfitnah sesama apalagi sesama muslim ,ini semua adalah pembangkangan atau maksiat. Dan jika kita perhatikan lagi ternyata dari sekian banyak dosa dan maksiat ini antara satu dengan lainnya tidaklah sama, artinya bobot pelanggaran, kadar, dan derajatnya tidak sama, ada dosa yang begitu berat yang dapat mencelakakan pelakunya, ada juga dosa yang terlihat ringan. Jadi dosa atau maksiat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu dosa besar dan dosa kecil.


 

Dosa Besar

Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had (sanksi hukuman yang telah diatur oleh syari'at, seperti hukum rajam, cambuk 100 kali, dan hukum qishash), atau semua dosa yang diancam oleh Allah dengan neraka jahannam, atau laknat dan murkaNya. Ada juga yang mengatakan bahwa dosa besar adalah maksiat yang dilakukan secara berani atau dengan terang-terangan serta meremehkan status dosanya.

Di antara contoh dosa besar adalah apa yang yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

"Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan!, para sahabat bertanya, 'Apakah 7 perkara itu wahai Rasul?' beliau mejawab, 'Syirik menyekutukan Allah dengan lain-Nya, perbuatan sihir, membunuh tanpa sebab yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan jihad, dan menuduh berzina wanita mukminah yang lalai dari kemaksiatan." Hr. al-Bukhari dan Muslim.


 

Dosa Kecil

Adalah segala maksiat yang tidak mempunyai had di dunia, juga tidak terkena ancaman khusus di akhirat. Contoh dosa kecil, diriwayatkan oleh Abu Hurairaha, bahwasanya Rasul bersabda:

"Telah dicatat atas anak manusia bagiannya dari zina, yang pasti dia akan mendapatkannya tidak boleh tidak, maka dua mata zinanya adalah melihat, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah ucapan, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya adalah menginginkan dan mendambakan, semua itu dibenarkan (ditindaklanjuti) oleh kemaluan atau didustakannya." (H.R. Muslim )


 

Dalil pembagian dosa menjadi dosa besar dan kecil

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kamu masukkan kamu ke tempat yang mulia(surga)". (Q.S. an-Nisa': 31)

"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunanNya". (Q.S. an-Najm: 32)

"tiada dosa besar dengan beristighfar, dan tiada dosa kecil (jika dilakukan) terus menerus."


 

Hukum Pelaku Dosa Besar

Dalam kaitannya dengan masalah Iman, bagaimana hukum pelaku dosa besar?
Terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini,

Pertama, ahlus Sunnah, berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar, seperti sihir, membunuh, tidaklah menjadi kafir jika ia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia masih tetap mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. Artinya jika Allah mau maka Dia akan mengampuninya, dan jika mau Dia akan menghukumnya karena dosanya dalam Neraka kemudian Allah akan mengeluarkannya dan tidak menjadi kannya kekal dalam Neraka.

Kedua, murji'ah, meyakini bahwa segala macam dosa tidaklah berbahaya dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap Iman, artinya pelaku dosa baik besar maupun kecil tidak menjadikannya kafir keluar dari Islam, bahkan ia tetap sebagai mukmin sejati.

Ketiga, mu'tazilah, mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah mukmin juga bukan kafir, tetapi ia berada pada manzilah (tempat/posisi) antara mukmin dan kafir. Dan jika ia mati sebelum bertaubat maka ia akan kekal dalam Neraka.

Keempat, khawarij, mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, telah keluar dari Islam, dan nanti di akhirat ia akan kekal dalam Neraka.


 

Mukmin Tapi Fasik

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat ." (Q.S. al-Hujuraat: 9 - 10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah masih tetap mengakui keimanan pelaku dosa peperangan yang tentunya di situ terjadi saling bunuh, sedangkan membunuh tanpa sebab yang dibenarkan syari'at adalah termasuk dosa besar dari orang mukmin, demikian juga pembangkang dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Allah menjadikan mereka sebagai saudara, dan Allah juga me meritahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan saudara mereka seiman.

Abu Sa'id al-Khudriya bahwasanya Rasulullah bersabda: "Allah memasukkan penduduk syurga ke dalam syurga, memasukkan siapa yang dikehendaki dengan rahmat-Nya, dan memasukkan penduduk neraka ke dalam neraka. Kemudian Dia berkata (kepada para malaikat), 'Lihatlah orang-orang yang kalian dapatkan dalam hatinya ada iman (walau) seberat biji sawi lalu keluarkan mereka!, maka dikeluarkanlah mereka dari nereka dalam keadaan hangus terbakar, kemudian mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh dipinggir aliran air. Tidakkah kalian lihat bagaimana ia keluar berwarna kuning melingkar?" (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa nanti tidak kekal orang-orang yang berdosa besar dalam neraka, bahkan orang yang di dalam hatinya ada iman walau hanya sebesar biji sawi artinya iman yang paling rendah tingkatannyapun nati akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan dosa berkubang maksiat, dengan melakukan berbagai larangan agama serta meinggalkan kewajiban-kewajiban.

Setelah uraian diatas, insya Allah kita mengetahui bagaimana pengaruh dosa maksiat terhadap keimanan seseorang, dan sebagai penutup rubrik ini ada baiknya kita ulang kembali penuturan diatas dalam beberapa poin yaitu :

Pertama, maksiat dan dosa terbagi menjadi dua; dosa besar (kabirah) dan dosa kecil (shaghirah).

Kedua, iman adalah bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar banyaknya ketaatan dan kemaksiatan, semakin banyak taatnya maka iman berada pada tingkatan tinggi dan sebaliknya semakin banyak maksiat yang dilakukan maka iman akan sampai pasa tingkatan paling rendah.

Ketiga, dosa besar adalah dosa yang mewajibkan adanya had ( sanksi ) di dunia, juga ancaman dan laknat serta murka Allah di akhirat.

Keempat, pelaku dosa besar statusnya di dunia ia masih sebagi mukmin dengan keimanannya dan fasik karena maksiatnya. Dan kelak di akhirat di bawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak ia akan diampuni dan jika Allah berkehendak ia akan disiksa dalam api Neraka kemudian dikeluarkan darinya, dalam kata lain ia tidak kekal dalam Neraka.


 

(Abu Yusuf M. Al-Faiz)


 


 

About Me

Foto Saya
Ady'S
Berdiri di lingkaran, melihat, mendengar, merasakan, membaca, menulis, mencoba berbagi...
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.